
Bab ini mengandung unsur 21+
Sebaiknya di baca setelah berbuka puasa ya teman-teman. Semangat puasanya ๐ฅฐ
โ Kenapa Nona tidak menelpon? โ tanya Gavrill cepat karena dia harus tergesa-gesa datang ke rumah memeriksa keberadaan Adhisti. Ternyata gadis itu sedang bersantai di kolam renang.
โ Astaga maaf aku lupa โ jawab Adhisti tenang.
Gavrill menghela napas kesal.
โ Anda tidak tahu betapa saya harus tergesa-gesa datang kemari โ
โ Maaf aku lupa โ balas Adhisti sambil mendekat ke tepi kolam, menyandarkan tangannya di tepi kolam.
โ Tidak ada satu pun pelayan ada di rumah โ
โ Oh tenang saja seorang pelayan hari ini melahirkan, jadi semuanya pergi memberi selamat dan sekaligus mengadakan pesta syukuran โ jelas Adhisti bersemangat.
โ Bagaimana mereka bisa lalai, harusnya mereka tetap melakukan tugasnya. Jika para pelayan dan pengawal pergi maka keamanan rumah tidak terjamin. Apalagi Anda sedang ada di rumah โ Gavrill jelas sekali sedang marah.
Adhisti akhirnya keluar dari kolam renang dan berdiri dihadapan Gavrill.
โ Gav, mereka sedang berbahagia karena salah satu rekan kerja mereka berhasil melahirkan bayinya dengan selamat. Aku bahagia untuk itu, bukankah seharusnya juga begitu? Kamu terlalu kaku โ
โ Tetap saja Nona sudah menjadi tugas mereka untuk tetap berada disini melayani Anda dan menjaga keamanan Anda โ
โ Benarkah? Berarti ini semua kesalahanku karena aku yang memerintahkan mereka untuk pergi. Aku juga ingin pergi tapi karena memikirkan kamu tidak akan mengizinkan aku tetap di sini โ
โ Harusnya Nona memikirkan terlebih dahulu sebelum bertindak โ
โ Oke aku memang selalu melakukan hal yang salah. โ Adhisti berjalan meninggalkan Gavrill setelah meraih kimono mandinya, menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan pakaian renang.
Gavrill hanya diam menatap kepergian Adhisti.
โ Nona โ panggil Gavrill kepada Adhisti yang berdiri di depan jendela yang menghadap ke arah taman.
โ Untuk para pelayan itu untuk hari ini baiklah aku tidak akan memaksa mereka kembali โ lanjut Gavrill karena Adhisti hanya diam tak menjawab panggilannya.
โ Terserah padamu โ jawab Adhisti acuh.
โ Maaf karena aku terlalu lancang tadi โ sesal Gavrill.
__ADS_1
โ Tidak masalah kalian selalu begitu Kakak dan kamu juga sama saja โ sinis Adhisti tanpa menoleh pada Gavrill.
Keberanian dari mana Gavrill dengan cepat menarik Adhisti ke dalam pelukannya.
Adhisti melotot tak percaya napasnya serasa tercekat saat merasakan kedua tangan kekar Gavrill melingkar di pinggangnya.
โ Ma-maaf Nona โ ucap Gavrill gugup melepaskan pelukannya dari Adhisti.
Adhisti tidak bisa berkata-kata wajahnya serasa panas. Dia segera mundur menjauh dari Gavrill, lalu Adhisti segera berjalan cepat berniat meninggalkan Gavrill.
Namun, belum beberapa langkah dia terpeleset karena lantai basah dari air yang berjatuhan dari rambutnya.
โ Nona! โ pekik Gavrill berusaha menangkap Adhisti.
Gavrill berhasil menangkap pinggang Adhisti, tapi karena posisi kakinya yang tidak kuat. Akhirnya Adhisti tertarik ke arahnya.
Degg!!
Jantung Gavrill berdetak kencang saat tubuh Adhisti jatuh di atas tubuhnya. Bahkan rasa sakit karena terjatuh ke lantai tidak terasa sama sekali baginya.
โ Awhh!! โ ringis Adhisti memegangi kepalanya yang terasa nyeri setelah bertabrakan dengan dada Gavrill.
Gavrill merasa tersiksa saat tubuh Adhisti menggeliat di atasnya, rambut Adhisti yang masih basah menyentuh lehernya.
โ Nona jangan bergerak โ Gavrill menahan bahu Adhisti.
Adhisti menatap Gavrill yang berada di bawahnya tiba-tiba tubuhnya menegang menyadari posisi mereka, dan juga merasakan sesuatu yang menegang di bawah sana. Membuatnya terlonjak.
Napas mereka beradu cepat, anehnya tidak satu pun dari mereka yang memutuskan untuk beranjak dari posisi itu.
Tangan Gavrill bergerak pelan menyelipkan rambut Adhisti yang menutupi wajahnya. Lalu membelai pipi Adhisti lembut. Adhisti terus mengikuti tatapan Gavrill padanya.
Dengan satu tangan yang telah menelusup ke dalam rambut Adhisti, Gavrill menarik pelan kepala Adhisti dan menyentuhkan bibirnya lembut ke bibir Adhisti.
Adhisti hanya dapat menutup matanya merasakan rasa hangat bibir Gavrill. Merasakan lidah Gavrill menelusurinya dan membelai membujuknya untuk membalas ciuman itu.
Adhisti menumpukan tangannya di dada Gavrill, sementara pria itu dengan lihainya terus mencum.buinya.
Gavrill menurunkan tangannya ke arah pengait kimono Adhisti, menariknya dan melepaskan kimono itu hingga tubuh Adhisti yang hanya mengenakan pakaian renang itu terpampang jelas di atasnya.
Tanpa melepaskan ciumannya, tangan Gavrill bergerak meraba punggung Adhisti. Meraih pengait baju renang Adhisti hingga menurunkan baju itu hingga menampakkan setengah payu.dara Adhisti.
__ADS_1
Dengan panik Adhisti melepaskan ciumannya meraih kembali kimononya dan segera berlari meninggalkan Gavrill.
Gavrill terdiam membeku di sana, memandang gadis itu berlari seolah ketakutan.
Adhisti mengunci pintu kamarnya cepat. Dia mengaitkan kembali kimononya dengan gemetar.
โ Astaga....apa yang telah aku lakukan? โ dia menggusar rambutnya kasar.
Adhisti mengigit bibir bawahnya gugup, rasa kebas akibat ciuman Gavrill masih jelas terasa di sana.
โ Bagaimana aku bisa berhadapan dengannya? Kenapa aku melakukan tindakan bodoh?! โ Adhisti membaringkan dirinya frustasi di atas ranjang.
Sementara Gavrill hanya dapat terduduk diam menghadap jendela itu. Menyesali semua yang terjadi, dia yang memulai semuanya. Bagaimana dia akan menjelaskannya pada Adhisti? Mengapa dia berbuat demikian? Lalu bagaimana nanti reaksi Ares setelah mengetahui orang kepercayaannya telah melakukan hal itu kepada adiknya? Lebih dari semua itu entah mengapa Gavrill merasa hatinya terasa sakit saat andai saja Adhisti meninggalkannya begitu saja karena dia hanyalah seorang bawahan.
* * *
Adhisti hanya terdiam saat Gavrill datang menjemputnya pulang dari kampus. Saat berangkat tadi pagi dia diantarkan orang lain dan juga tidak bertemu dengan Gavrill.
Bahkan selama di perjalanan mereka berdua hanya diam, Adhisti juga berharap Gavrill tidak mengatakan apa pun padanya oleh karena itu dia memalingkan tatapannya ke arah jendela mobil.
โ Nona..untuk kejadian-
โ Lupakan saja, mari tidak pernah mengungkit atau membicarakan hal itu โ ucap Adhisti cepat tidak menunggu Gavrill menyelesaikan perkataannya.
Gavrill kembali menatap ke depan mengikuti perkataan Adhisti untuk tidak membicarakan hal itu. Hanya saja dia merasa sangat kecewa, apakah hal itu merupakan sesuatu yang sangat memalukan bagi Adhisti karena harus berciuman dengan Gavrill yang adalah bawahan Kakaknya. Mengingat kembali kehidupan Adhisti yang selalu bergelimang harta, Gavrill dapat mengerti tidak mungkin Adhisti mau terlibat dengan seorang yang lebih rendah darinya.
โ Silakan Nona โ ucap Gavrill membukakan pintu untuk Adhisti.
Adhisti melewati Gavrill dengan diam.
Setelah memberikan beberapa perintah kepada para pengawal yang ada di rumah itu. Gavrill lalu kembali pergi menuju kantor Ares karena keberadaannya di butuhkan di sana.
Adhisti terus memperhatikan Gavrill dari jendela kamarnya, mengintai dari celah-celah gorden agar Gavrill tidak menyadarinya. Terus mengawasi Gavrill bahkan sampai pria itu pergi keluar dari gerbang rumah.
โ Ini tindakan yang benar Adhisti, sebaiknya kamu mengendalikan diri dan tetap menjaga jarak. Gavrill pasti tidak ingin Kakak kecewa kepadanya. โ guman Adhisti kepada dirinya sendiri.
Jika dapat diungkapkan dia ingin membahas kejadian kemarin dengan Gavrill, menanyakan pria itu bagaimana perasaannya yang sebenarnya pada Adhisti. Tapi dia menahan diri mengerti bahwa Gavrill tidak ingin menjalin hubungan dengannya karena dia adalah seorang yang ditugaskan Kakaknya untuk menjaga Adhisti.
โ **Satu lagi kelopaknya jatuh lalu dengan cepat arus membawanya menjauh โ-Anonim
Mystorios_Writer ๐๐**
__ADS_1