
“ Bukankah kau dendam padaku..maka sebaiknya lampiaskan saja padaku. Pukul aku sesukamu atau bunuh saja aku, tapi jangan pernah menyakitinya ”
“ Wah!! Akhirnya kau mau menundukkan diri hahahaha ” gelak Jack seakan puas dengan pemandangan Ares yang pasrah.
“ Tapi aku tidak merasa puas jika memukulmu bahkan membunuhmu tidak membuatku senang. Aku ingin kau juga merasakan depresi yang sama seperti Ratna. Ya depresi! Kau akan depresi karena istri dan anakmu juga adikmu itu! ”
“ Bajing*n!! ” pekik Ares untuk pertama kalinya air mata menetes, membayangkan dia harus kehilangan Lyra dan juga anak mereka. Tubuhnya serasa tidak berdaya sama sekali.
“ Hahahaha..benar itu yang aku maksud bukankah kau mulai merasa frustasi ”
“ Aku menangisi kebodohanmu sama seperti aku menangisi Ibuku. Kau sampai sejauh ini untuk membalasku, lalu mengapa saat itu kau tidak melakukan apa pun untuk menyelamatkan Ibuku. Kau hanya diam walaupun dia berharap kau datang untuk menyelamatkannya dari keterpurukan ”
“ Ratna berharap apa katamu? Coba ulangi lagi!!” pekik Jack.
“ Tuan!! ” teriak Gavrill begitu mereka tiba di sana dan melihat Ares berlutut.
“ Apa?! Ba-bagaimana bisa kalian selamat?! ” ungkap Jack tak percaya rencananya gagal.
Ares segera berdiri dia juga sama terkejutnya dengan Jack.
“ Kakak! ” Adhisti berlari menghampiri Ares.
Ares memperhatikan seluruh tubuh Adhisti, dia mengepal tangannya keras wajah Adhisti sangat pucat.
“ Gavrill bahwa Adhisti dari sini urusanku dengan pria ini belum selesai ” perintah Ares.
“ Tapi Tuan ”
“ Mengapa Gavrill harus membawaku? Ayo pulang bersama ”
“ Gavrill jangan lupa dengan yang kukatakan sejak awal. Utamakan keselamatan Adhisti ”
Gavrill menarik tangan Adhisti.
“ Jangan! Bagaimana dengan Kakak? Aku tidak mau pergi tanpa Kakak! ” Adhisti berontak.
“ Adhisti!! ” teriak Gavrill, untuk pertama kalinya dia memanggil Adhisti tanpa embel-embel nona.
“ Menurutlah kalau kau ingin kita semua selamat ” tegasnya, dia menarik tangan Adhisti untuk pergi dari sana.
“ Kalian pikir bisa pergi dengan selamat dari sini!!! Aku tidak akan membiarkan kalian pergi dari rumah ini dengan selamat!!! ” Jack melemparkan korek yang menyala ke arah pintu rumah itu.
Seketika seperti sebuah kilatan cepat api menyambar segera menyebar hingga seluruh pintu dan dinding rumah itu di selimuti api.
Gavrill langsung mendekap tubuh Adhisti menariknya dari kobaran api itu.
“ Apa kau benar-benar sudah dibutakan obsesimu itu?! ” Ares melayangkan tinjunya kepada Jack.
Jack menyeringai.
“ Istri dan anakmu pasti sudah meninggal sekarang, kalau rencanaku untuk membunuh adikmu gagal. Sebaiknya kita mati bersama di sini!!! ”
“ Kau gila!! Kami tidak akan mati! Kau saja yang mati sendiri!! ”
“ Seluruh rumah ini sudah di siram bensin, bahkan sampai ke atapnya. Bagaimana kau akan selamat ” Jack bangkit dan duduk dengan santai di sofa itu sementara api sudah berkobar di mana-mana seakan dia tidak peduli dengan nyawanya.
“ Kau akan masih sama. Kau tetaplah pecundang yang hanya bisa diam tanpa melakukan apa pun. Harusnya Ibuku tidak menganggapmu sebagai sahabatnya dan berharap agar satu-satunya orang yang dianggap sahabatnya itu datang untuk memberi dia semangat ”
“ Apa maksudmu?! Mengapa kau selalu mengatakan omong kosong tentang Ratna!! ”
“ Itu bukan omong kosong sekarang aku merasa jijik setelah membaca tulisan Ibuku tentangmu, dia menuliskan kalau kau adalah orang yang akan selalu menyelamatkannya tapi kau hanya diam menonton dia menderita. Semua yang Ibuku tulis di buku hariannya tentangmu membuatku muak!! ” Ares melemparkan buku harian Ibunya itu pada Jack.
Kemudian Ares beranjak meninggalkan pria itu berusaha menyelamatkan diri dari rumah itu.
* * *
“ Aku hanya bisa mengantarkan Anda sampai ke rumah itu. Dia pasti membunuhku setelah ini ” ungkap Tara tanpa menatap Lyra dan tetap fokus mengemudi.
“ Maksudmu Jack? Dia yang memerintahmu...setelah semuanya selesai aku akan menjelaskan semuanya pada Ares. Tenang saja aku akan pastikan kamu terbebas dari kekangan pria itu ”
“ Aku berharap kalian selamat, masalah aku dengan Jack biar aku yang mengurusnya ”
Lyra memilih diam saat ini dia sudah sangat bersyukur, mengingat kembali akhirnya Tara mau menyelamatkannya.
Entah mengapa Lyra tahu Tara itu gadis yang baik, buktinya dia mengurus anak-anak panti kalau dia jahat tidak mungkin semua anak-anak bisa sangat menyayanginya. Saat Tara menangkapnya dikamar Lyra tahu dia tidak memakai kekerasan sama sekali sampai Lyra berkesempatan untuk menusuknya.
Apalagi setelah Tara memilih menyelamatkannya dari pada melakukan perintah Jack, tapi dia tidak nyakin mengapa gadis itu mengikuti perintah Jack apakah karena dia terpaksa?
“ Kita sudah sampai. Turunlah Nona sekarang kita hanya harus berjalan sebentar lagi menuju rumah itu ”
“ I-iya terima kasih ” Lyra meraih tangan Tara ragu-ragu.
Tara menuntun Lyra dengan hati-hati.
“ A-apa ini?! ” pekik Lyra tak percaya menyaksikan rumah itu terbakar dengan api yang berkobar-kobar.
“ Mas Ares!! Tara ada apa ini?! Kau bilang mereka ada disini!! Mas Ares!! ”
Tara menahan tubuh Lyra kuat karena dia ingin berlari menuju kobaran api itu.
“ Lepaskan aku!! Aku harus menyelamatkan dia!! ” rintih Lyra.
“ Nona! Nona tenanglah kalau Anda berlari ke sana, bagaimana dengan anak Anda bukankah Nona mengatakan ingin melahirkannya dengan selamat?! ”
“ Akhhh!!! Hiks....hikss....hiks...”
Tubuh Lyra beringsut dia terduduk lemas.
“ Mas Ares...hiks...hiks..su-suamiku ada didalam sana Tara ” tangisnya histeris.
* * *
“ Sebanyak apa bensin yang dituang ke rumah ini sampai api bisa menyebar secepat ini!! ” pekik Gavrill sembari dia berusaha mendobrak pintu yang diselimuti api itu.
“ Uhuk! Uhuk! Gav...” lirih Adhisti terbatuk-batuk, dia merasa tidak sanggup lagi.
“ Tutupi hidungmu dengan tangan!! Jangan menghirup asapnya!! Tahan sebentar lagi!! ” teriak Gavrill walaupun dia juga tidak nyakin apa mereka bisa selamat.
__ADS_1
Adhisti berusaha tidak menghirup asap itu, tapi itu tidak mudah. Tubuhnya terasa terbakar karena mereka berada di tengah-tengah api.
“ Ayo terbuka!!! ”
Akhirnya pintu itu bisa terbuka. Gavrill segera menarik tangan Adhisti.
Mereka berdua sampai di luar rumah itu dengan selamat.
“ Bagaimana dengan Kakak?! Kakak masih didalam!! ” pekik Adhisti menangis.
“ Aku akan menyelamatkannya! Sekarang menjauhlah dari sini! ”
“ Kau bisa mati jika masuk lagi!! ” Adhisti menahan tangan Gavrill.
Lyra beranjak tergesa-gesa saat melihat Adhisti dan Gavrill.
“ Gavrill!! Adhisti!! ” panggilnya keras.
“ Lyra! ” sontak Adhisti.
Gavrill segera menarik Adhisti menuju Lyra sebelum Lyra juga mendekat ke sana.
“ Ares dimana?! Mengapa kalian hanya berdua?! ” tanya Lyra panik.
Gavrill dan Adhisti tidak bisa berkata apa-apa, Adhisti hanya terus menangis.
Lyra semakin nyakin bahwa Ares masih terjebak di rumah itu.
“ Mas Ares!! ” teriak Lyra, Gavrill segera menahan Lyra.
Menurutnya itu tindakan yang benar Ares pasti juga tidak menginginkan Lyra membahayakan hidupnya.
“ A-apakah Jack juga didalam sana? ” tanya Tara gemetar.
“ Pria gila itu berniat bunuh diri dan mati bersama! Benar-benar tidak waras!! ”
Tara membungkam mulutnya dengan tangan untuk menutupi keterkejutannya.
“ Aku tidak bisa membiarkan dia mati!! Aku harus menolongnya!! ” pekik Tara.
“ Tara! Tara dengarkan aku untuk apa kau menolongnya! Dia bedebah yang merencanakan semua ini! Dia pantas mati! ” rutuk Lyra.
Tara segera menepis tangan Lyra.
“ Dia memang tidak pantas dimaafkan begitu juga aku. Untuk semua kejahatannya. Tapi aku tidak ingin dia mati..tidak pernah berniat membiarkan dia mati ”
“ Kenapa Tara? ” tanya Lyra tak percaya.
“ Hanya dia satu-satunya orang didunia ini yang peduli padaku. A-aku sangat mencintainya ” Tara segera berlari masuk ke dalam rumah itu.
“ Tara!! Tara!! Tara!! ” panggil Lyra tapi sama sekali tak dipedulikan gadis itu.
“ Jangan membuat rencana. Buatlah pilihan.” - Jennifer Aniston
Mystorios_Writer🍧🍧
“ Bukankah kau dendam padaku..maka sebaiknya lampiaskan saja padaku. Pukul aku sesukamu atau bunuh saja aku, tapi jangan pernah menyakitinya ”
“ Wah!! Akhirnya kau mau menundukkan diri hahahaha ” gelak Jack seakan puas dengan pemandangan Ares yang pasrah.
“ Tapi aku tidak merasa puas jika memukulmu bahkan membunuhmu tidak membuatku senang. Aku ingin kau juga merasakan depresi yang sama seperti Ratna. Ya depresi! Kau akan depresi karena istri dan anakmu juga adikmu itu! ”
“ Bajing*n!! ” pekik Ares untuk pertama kalinya air mata menetes, membayangkan dia harus kehilangan Lyra dan juga anak mereka. Tubuhnya serasa tidak berdaya sama sekali.
“ Hahahaha..benar itu yang aku maksud bukankah kau mulai merasa frustasi ”
“ Aku menangisi kebodohanmu sama seperti aku menangisi Ibuku. Kau sampai sejauh ini untuk membalasku, lalu mengapa saat itu kau tidak melakukan apa pun untuk menyelamatkan Ibuku. Kau hanya diam walaupun dia berharap kau datang untuk menyelamatkannya dari keterpurukan ”
“ Ratna berharap apa katamu? Coba ulangi lagi!!” pekik Jack.
“ Tuan!! ” teriak Gavrill begitu mereka tiba di sana dan melihat Ares berlutut.
“ Apa?! Ba-bagaimana bisa kalian selamat?! ” ungkap Jack tak percaya rencananya gagal.
Ares segera berdiri dia juga sama terkejutnya dengan Jack.
“ Kakak! ” Adhisti berlari menghampiri Ares.
Ares memperhatikan seluruh tubuh Adhisti, dia mengepal tangannya keras wajah Adhisti sangat pucat.
“ Gavrill bahwa Adhisti dari sini urusanku dengan pria ini belum selesai ” perintah Ares.
“ Tapi Tuan ”
“ Mengapa Gavrill harus membawaku? Ayo pulang bersama ”
“ Gavrill jangan lupa dengan yang kukatakan sejak awal. Utamakan keselamatan Adhisti ”
Gavrill menarik tangan Adhisti.
“ Jangan! Bagaimana dengan Kakak? Aku tidak mau pergi tanpa Kakak! ” Adhisti berontak.
“ Adhisti!! ” teriak Gavrill, untuk pertama kalinya dia memanggil Adhisti tanpa embel-embel nona.
“ Menurutlah kalau kau ingin kita semua selamat ” tegasnya, dia menarik tangan Adhisti untuk pergi dari sana.
“ Kalian pikir bisa pergi dengan selamat dari sini!!! Aku tidak akan membiarkan kalian pergi dari rumah ini dengan selamat!!! ” Jack melemparkan korek yang menyala ke arah pintu rumah itu.
Seketika seperti sebuah kilatan cepat api menyambar segera menyebar hingga seluruh pintu dan dinding rumah itu di selimuti api.
Gavrill langsung mendekap tubuh Adhisti menariknya dari kobaran api itu.
“ Apa kau benar-benar sudah dibutakan obsesimu itu?! ” Ares melayangkan tinjunya kepada Jack.
Jack menyeringai.
“ Istri dan anakmu pasti sudah meninggal sekarang, kalau rencanaku untuk membunuh adikmu gagal. Sebaiknya kita mati bersama di sini!!! ”
__ADS_1
“ Kau gila!! Kami tidak akan mati! Kau saja yang mati sendiri!! ”
“ Seluruh rumah ini sudah di siram bensin, bahkan sampai ke atapnya. Bagaimana kau akan selamat ” Jack bangkit dan duduk dengan santai di sofa itu sementara api sudah berkobar di mana-mana seakan dia tidak peduli dengan nyawanya.
“ Kau akan masih sama. Kau tetaplah pecundang yang hanya bisa diam tanpa melakukan apa pun. Harusnya Ibuku tidak menganggapmu sebagai sahabatnya dan berharap agar satu-satunya orang yang dianggap sahabatnya itu datang untuk memberi dia semangat ”
“ Apa maksudmu?! Mengapa kau selalu mengatakan omong kosong tentang Ratna!! ”
“ Itu bukan omong kosong sekarang aku merasa jijik setelah membaca tulisan Ibuku tentangmu, dia menuliskan kalau kau adalah orang yang akan selalu menyelamatkannya tapi kau hanya diam menonton dia menderita. Semua yang Ibuku tulis di buku hariannya tentangmu membuatku muak!! ” Ares melemparkan buku harian Ibunya itu pada Jack.
Kemudian Ares beranjak meninggalkan pria itu berusaha menyelamatkan diri dari rumah itu.
* * *
“ Aku hanya bisa mengantarkan Anda sampai ke rumah itu. Dia pasti membunuhku setelah ini ” ungkap Tara tanpa menatap Lyra dan tetap fokus mengemudi.
“ Maksudmu Jack? Dia yang memerintahmu...setelah semuanya selesai aku akan menjelaskan semuanya pada Ares. Tenang saja aku akan pastikan kamu terbebas dari kekangan pria itu ”
“ Aku berharap kalian selamat, masalah aku dengan Jack biar aku yang mengurusnya ”
Lyra memilih diam saat ini dia sudah sangat bersyukur, mengingat kembali akhirnya Tara mau menyelamatkannya.
Entah mengapa Lyra tahu Tara itu gadis yang baik, buktinya dia mengurus anak-anak panti kalau dia jahat tidak mungkin semua anak-anak bisa sangat menyayanginya. Saat Tara menangkapnya dikamar Lyra tahu dia tidak memakai kekerasan sama sekali sampai Lyra berkesempatan untuk menusuknya.
Apalagi setelah Tara memilih menyelamatkannya dari pada melakukan perintah Jack, tapi dia tidak nyakin mengapa gadis itu mengikuti perintah Jack apakah karena dia terpaksa?
“ Kita sudah sampai. Turunlah Nona sekarang kita hanya harus berjalan sebentar lagi menuju rumah itu ”
“ I-iya terima kasih ” Lyra meraih tangan Tara ragu-ragu.
Tara menuntun Lyra dengan hati-hati.
“ A-apa ini?! ” pekik Lyra tak percaya menyaksikan rumah itu terbakar dengan api yang berkobar-kobar.
“ Mas Ares!! Tara ada apa ini?! Kau bilang mereka ada disini!! Mas Ares!! ”
Tara menahan tubuh Lyra kuat karena dia ingin berlari menuju kobaran api itu.
“ Lepaskan aku!! Aku harus menyelamatkan dia!! ” rintih Lyra.
“ Nona! Nona tenanglah kalau Anda berlari ke sana, bagaimana dengan anak Anda bukankah Nona mengatakan ingin melahirkannya dengan selamat?! ”
“ Akhhh!!! Hiks....hikss....hiks...”
Tubuh Lyra beringsut dia terduduk lemas.
“ Mas Ares...hiks...hiks..su-suamiku ada didalam sana Tara ” tangisnya histeris.
* * *
“ Sebanyak apa bensin yang dituang ke rumah ini sampai api bisa menyebar secepat ini!! ” pekik Gavrill sembari dia berusaha mendobrak pintu yang diselimuti api itu.
“ Uhuk! Uhuk! Gav...” lirih Adhisti terbatuk-batuk, dia merasa tidak sanggup lagi.
“ Tutupi hidungmu dengan tangan!! Jangan menghirup asapnya!! Tahan sebentar lagi!! ” teriak Gavrill walaupun dia juga tidak nyakin apa mereka bisa selamat.
Adhisti berusaha tidak menghirup asap itu, tapi itu tidak mudah. Tubuhnya terasa terbakar karena mereka berada di tengah-tengah api.
“ Ayo terbuka!!! ”
Akhirnya pintu itu bisa terbuka. Gavrill segera menarik tangan Adhisti.
Mereka berdua sampai di luar rumah itu dengan selamat.
“ Bagaimana dengan Kakak?! Kakak masih didalam!! ” pekik Adhisti menangis.
“ Aku akan menyelamatkannya! Sekarang menjauhlah dari sini! ”
“ Kau bisa mati jika masuk lagi!! ” Adhisti menahan tangan Gavrill.
Lyra beranjak tergesa-gesa saat melihat Adhisti dan Gavrill.
“ Gavrill!! Adhisti!! ” panggilnya keras.
“ Lyra! ” sontak Adhisti.
Gavrill segera menarik Adhisti menuju Lyra sebelum Lyra juga mendekat ke sana.
“ Ares dimana?! Mengapa kalian hanya berdua?! ” tanya Lyra panik.
Gavrill dan Adhisti tidak bisa berkata apa-apa, Adhisti hanya terus menangis.
Lyra semakin nyakin bahwa Ares masih terjebak di rumah itu.
“ Mas Ares!! ” teriak Lyra, Gavrill segera menahan Lyra.
Menurutnya itu tindakan yang benar Ares pasti juga tidak menginginkan Lyra membahayakan hidupnya.
“ A-apakah Jack juga didalam sana? ” tanya Tara gemetar.
“ Pria gila itu berniat bunuh diri dan mati bersama! Benar-benar tidak waras!! ”
Tara membungkam mulutnya dengan tangan untuk menutupi keterkejutannya.
“ Aku tidak bisa membiarkan dia mati!! Aku harus menolongnya!! ” pekik Tara.
“ Tara! Tara dengarkan aku untuk apa kau menolongnya! Dia bedebah yang merencanakan semua ini! Dia pantas mati! ” rutuk Lyra.
Tara segera menepis tangan Lyra.
“ Dia memang tidak pantas dimaafkan begitu juga aku. Untuk semua kejahatannya. Tapi aku tidak ingin dia mati..tidak pernah berniat membiarkan dia mati ”
“ Kenapa Tara? ” tanya Lyra tak percaya.
“ Hanya dia satu-satunya orang didunia ini yang peduli padaku. A-aku sangat mencintainya ” Tara segera berlari masuk ke dalam rumah itu.
“ Tara!! Tara!! Tara!! ” panggil Lyra tapi sama sekali tak dipedulikan gadis itu.
__ADS_1
“ Jangan membuat rencana. Buatlah pilihan.” - Jennifer Aniston
Mystorios_Writer🍧🍧