
Sudah beberapa hari berlalu semenjak kejadian yang terjadi antara Gavrill dan Adhisti, mereka berdua masih sama tetap canggung satu sama lain, bahkan cenderung lebih dingin tak berkomunikasi sama sekali.
Adhisti melangkah terlebih dahulu di depan Gavrill begitu mereka memasuki rumah.
Gavrill menghentikan langkahnya ketika ponselnya berdering. Adhisti juga mendengar dering ponsel Gavrill, sehingga dia menghentikan langkahnya dan bersembunyi di balik dinding di belakang Gavrill.
Dia berdiri diam disana menguping pembicaraan Gavrill.
“ Saya mencoba bersabar dengan Anda, sebenarnya apa kemauan Anda?! ” terdengar suara Gavrill yang sedikit meninggi.
“ Berapa kali harusku katakan jangan pernah mengganggu Ibuku!! ”
Adhisti terlonjak kaget mendengar suara bentakan Gavrill.
“ Benar aku anak gundik!! Lalu apa kau belum puas untuk semua itu!! Mengapa kau tetap mengusiknya!! ”
“ Bajing*n!! Sekali lagi aku katakan bawa dia kembali dari tempat itu!! Aku tidak akan mengampunimu lagi!! ” wajah Gavrill seketika berubah memerah karena kemarahannya.
“ Aku akan memberimu kematian!! ” napas Gavrill memburu begitu panggilan itu diputus sepihak.
Adhisti mengenggam tangannya gemetar mendengarkan percakapan Gavrill, sepertinya dia dapat menduga yang menelpon pastinya Gerry.
“ A-aku-
Adhisti terbata-bata saat Gavrill telah berdiri di hadapannya memergoki dia yang telah menguping pembicaraan pria itu.
Gavrill menatap Adhisti dengan penuh kemarahan.
“ Anda begitu penasaran denganku?! ” bentak Gavrill.
“ Ti-tidak Gav, a-aku tidak bermaksud ikut campur u-urusanmu ”
“ Nona tidak bermaksud ikut campur?! Lalu mengapa Anda berdiri menguping di sini?! ”
“ A-aku-
“ Anda begitu penasaran dengan yang dikatakan oleh pria itu tentang aku yang adalah seorang anak gundik!! ”
Adhisti terkejut mengetahui fakta bahwa Gavrill mengetahui pertemuannya dengan Gerry, Adhisti bertanya-tanya apa pria itu mengatakan hal itu pada Gavrill?
Gavrill meninggalkan Adhisti masih hanya terdiam di sana.
“ Bagaimana ini? Sebenarnya apa yang telah dikatakan pria itu padanya? ” guman Adhisti mengacak rambutnya asal.
* * *
“ Wow! Wow! Aku tidak menyangka Nona Adhisti Crimson datang menemuiku! ” seru Gerry dengan nada meremehkan.
Adhisti mengepal tangannya kuat menahan amarah.
__ADS_1
“ Benar sepertinya keberuntungan seumur hidupmu telah terpakai karena aku sendiri yang datang menemuimu ” Adhisti balas meremehkan Gerry menjatuhkan keangkuhannya.
“ Aku tidak menyangka kau bisa datang menemuiku! Berubah pikiran? ” Gerry tersenyum smirk.
“ Hal yang mudah bagiku untuk hanya sekadar datang dan menemui wakil direktur perusahaan ini ” Adhisti mengangkat papan nama yang tertera nama dan jabatan Gerry.
“ Aku penasaran seberapa lama lagi tanda ini ada di sini ” lanjut Adhisti.
“ Katakan apa maumu?! ” geram Gerry.
“ Omong kosong apa saja yang telah kau katakan pada Gavrill?! ”
“ Aku hanya mengatakan padanya majikannya sudah tahu dia anak gundik! ”
“ Hah?! Ternyata kau bermulut besar!! ”
“ Jangan menghinaku!! Kau juga sama sepertiku memandang dia seperti itu!! ”
“ Bagaimana aku memandangnya terserah padaku!! Dari pada itu yang sama dariku adalah ketika kau memandang Gavrill seperti itu, aku memandangmu lebih buruk dari itu!! ”
“ Wanita sombong!! Aku memang tidak bisa membunuhmu!! Tapi aku akan tunjukkan bagaimana aku menghabisi anak gundik itu hingga dia berakhir di rumah sakit jiwa seperti Ibunya!! ”
“ Rumah sakit jiwa?! ”
“ Ya!! Kau terkejut gundik itu sudah berada di tempat yang tepat untuknya!! Aku juga akan mengirim dia ke tempat yang sama dengan Ibunya!! Jadi dari pada kau mengoceh di sini sebaiknya kau ingatkan bocah sial*n itu!! ”
“ Bukankah sudah aku ingatkan jangan membuat masalah untuk dirimu sendiri?! Cara rendahan yang kau lakukan ini benar-benar membuatku jijik!! ”
“ Tutup mulutmu!! ”
“ Kau yang harus tutup mulut busukmu itu!! Aku akan membuat Gavrill merebut semua ini darimu!! Jika kau pikir aku akan menyuruhnya mundur kau salah besar aku akan memberinya dukungan!! Posisi ini akan jadi miliknya!! ”
“ Sial*n!! Itu tidak akan pernah terjadi!! ”
Adhisti melangkah cepat tak mempedulikan amukan pria itu.
* * *
Adhisti menyakinkan dirinya sekali lagi bahwa ini langkah yang tepat untuk dilakukan, dia bergerak mondar-mandir di ruang tamu menunggu kedatangan Gavrill.
Tak lama terdengar suara langkah kaki yang menuju ke arah Adhisti, setelah berbalik Adhisti langsung bertatapan dengan Gavrill.
Tak memedulikan tatapan Adhisti, Gavrill segera melanjutkan langkahnya.
“ Aku ingin bicara denganmu ” pinta Adhisti dengan tegas.
Gavrill menghentikan langkahnya dan bergerak dengan sopan mendekat kepada Adhisti, sangat kaku.
“ Aku ingin membicarakan kejadian yang waktu itu ” ucap Adhisti dengan nada yang dibuat sedingin mungkin.
__ADS_1
“ Bukankah Anda memutuskan untuk tidak membicarakan hal itu? ”
“ Benar dan untuk itu aku ingin mengatakan lagi padamu jangan pernah mengatakan kejadian itu pada orang lain ”
“ Apa itu sangat memalukan bagi Nona? ”
Adhisti terdiam mendengar pertanyaan Gavrill itu yang lebih terdengar seperti pernyataan.
“ Nona tidak perlu khawatir aku tidak akan pernah membocorkan atau berniat membiarkan orang lain mengetahui hal itu ” lanjut Gavrill dengan penuh penekanan.
“ Kau benar itu memalukan, kau tidak layak melakukan hal seperti itu kepadaku ” bibir Adhisti terasa kelu mengeluarkan kata-kata jahat itu.
“ Mana yang memalukan untuk Anda? Fakta bahwa aku hanya bawahan atau karena aku anak gundik?! ”
“ Keduanya!! Harusnya kau tahu batasanmu! ”
Dada Gavrill serasa di tusuk mendengar hal itu.
“ Hahaha ” Gavrill tertawa getir.
“ Bodoh sekali aku berpikir Anda akan berbeda dari orang lain! Ternyata Anda sama saja!! Anda tetaplah orang yang memandang seseorang dari statusnya!! Apa orang sepertiku memang tak layak untuk Anda?! ” Gavrill membentak Adhisti meluapkan amarahnya.
“ Kau memang tak layak!! Buat dirimu layak!! Jangan hanya jadi bawahan Kakakku!! Juga buktikan dirimu bukan anak gundik!! Baru kau akan layak!! ” Adhisti menahan semua perasaan bersalahnya.
Gavrill terdiam menatap Adhisti intens, matanya memancarkan aura kemarahan yang besar melihat tak sedikit pun rasa bersalah pada Adhisti setelah melontarkan kata-kata itu padanya.
“ Terima kasih karena telah mengatakan semua fakta itu padaku Nona. Sekarang aku sangat sadar dimana posisiku! ” Gavrill melangkah cepat meninggalkan Adhisti.
Sementara Adhisti setelah pria itu benar-benar telah pergi dari sana tubuhnya beringsut lemah. Dia menangis tersedu-sedu dengan semua perasaan bersalahnya, tentu saja Gavrill akan marah dan sakit hati karena perkataannya.
* * *
“ Kamu sudah tahu mulai hari ini Gavrill tidak akan mengawasimu lagi, akan ada pengawal baru untukmu ” ucap Ares berbicara dengan di telpon dengan Adhisti.
Adhisti berbaring lemah di ranjangnya dengan mata sembab.
“ Benarkah...baiklah ” jawab Adhisti lirih.
“ Gavrill memutuskan untuk tidak bekerja untuk Kakak lagi, aku harap kamu dapat menghargai keputusannya ” jelas Ares lagi dengan sedikit heran karena Adhisti sangat menurut dan tidak bertanya padanya.
“ Baiklah ” jawab Adhisti dan mengakhiri panggilan itu.
Air matanya kembali mengalir, hatinya terasa sakit mengingat kembali perkataannya pada Gavrill. Menyesali karena pria itu sekarang akan pergi jauh darinya.
“ Jangan egois...ini juga untuknya, biarkan dia merebut kembali apa yang menjadi haknya. Aku harap suatu hari kamu tahu bahwa semua yang aku katakan itu bohong. Aku berharap ambisi karena ingin menunjukkan keberhasilanmu padaku memberikan dorongan lebih padamu ” Adhisti mengulangi hal itu berulang kali pada dirinya sendiri.
“ **Terkadang pengorbanan dibutuhkan bukan hanya untuk diri sendiri tetapi juga orang lain ”-Anonim
Mystorios_Writer🏅🏅**
__ADS_1