Menikah Dengan Tuan Ares

Menikah Dengan Tuan Ares
Hubungan Memburuk


__ADS_3

“ Hoek hoek hwuek hwuek.... ”


“ Lyra! Kenapa? kamu mual? ” Ares terkejut melihat Lyra, dan segera menghampirinya.


Lyra dengan cepat menepis tubuh Ares, lalu segera berlari ke arah wastafel di dapur.


Ares tidak mempermasalahkan Lyra yang mendorongnya, melainkan dengan cepat dia segera menyusulnya. Ia di suguhkan pemandangan Lyra yang sedang muntah.


“ Pelan-pelan.. sudah lebih baik ” ucap Ares ketika dia memijat pelan tengkuk Lyra.


Setelah beberapa saat, Lyra sudah berhenti muntah, tapi dia nampak sangat lelah dan kesulitan untuk mengatur kembali pernapasannya.


“ Bukankah kau bilang waktu itu tidak pernah mengalami muntah? ” Ares ingin tahu, karena sebelumnya ketika dia menanyai Lyra, dia bilang tidak pernah mengalami morning sickness. Ares ingin tahu apa waktu itu Lyra berbohong.


“ Hufft aku tidak tahu, sebelumnya sama sekali aku tidak pernah mual. Tapi hari ini sampai muntah. Yang pernah terjadi aku hanya mengalami kram perut ”


“ Sebaiknya kita pergi ke dokter ”


Ares mengambil segelas air minum, lalu memberikannya pada Lyra. Dengan cepat Lyra menegak habis air itu.


“ Ini menyakitkan.... mengalami muntah ketika makan itu tidak menyenangkan..” kelu Lyra, dia menutup wajahnya dengan tangan.


Dia mulai terisak.


“ Maaf karena tidak bisa membantu apapun, tenanglah pasti tidak akan terjadi apa-apa ” Ares berusaha menenangkan Lyra dan mengelus pundaknya.


“ Kalau aku tahu sesakit ini, harusnya waktu itu aku menggugurkan-


“ Hentikan Ly, apa yang kau pikirkan? jangan pernah berkata seperti itu ” timpal Ares menghentikan Lyra melanjutkan perkataannya.


“ Hiks.. hikss bayinya pasti menderita karena memiliki ibu yang lemah sepertiku... kalau.. kalau saja bukan rahimku dia pasti bisa dilahirkan di lingkungan yang mengharapkannya ”


“ Kita mengharapkannya, kau.. aku bahkan Adhisti menunggu kelahirannya. Bagaimana kau bisa berpikir tidak ada yang mengharapkannya? ”


“ Anda terpaksa menerimanya, begitu juga Adhisti. Aku juga tidak pernah mengharapkannya, setelah kejadian itu aku selalu berdoa agar tidak pernah mengalami ini ” Lyra mengusap kasar wajahnya yang basah oleh air mata.


“ Lalu apa? kau akan berusaha untuk membunuhnya lagi?! aku tidak habis pikir ternyata kau memiliki pikiran sedangkal ini! ” bentak Ares yang mulai frustasi mendengar perkataan Lyra.

__ADS_1


“ Benar! seharusnya aku memang menggugurkan bayi ini. Jadi aku tidak perlu mengalami semua ini! ”


“ DIAM!! Tutup mulutmu! berhenti mengucapkan kata-kata terkutuk itu ” Ares meremas kuat bahu Lyra.


“ Jangan pernah melewati batas kesabaranku! kau pikir aku akan tinggal diam ketika kau ingin membunuh anakku. Camkan ini aku akan membuat kau menjadi orang paling menderita di dunia ini ketika kau melakukannya! ” ucap Ares penuh penekanan tepat di depan wajah Lyra.


Ares lalu berjalan cepat meninggalkan Lyra sendiri di rumah itu, jika dia tetap di sana maka bisa saja dia tidak dapat menahan amarahnya.


“ Hiks.. hiks apa yang dia tahu tentang aku. Hanya aku yang menderita karena perbuatan mereka, dia tidak tahu seberapa menderitanya aku.. ” Lyra terduduk lemas, dia juga tidak tahu apa yang terjadi padanya, tapi semua pengendalian emosinya benar-benar hancur saat itu.


* * *


Brakk!


Suara keras pintu mobil yang di banting Ares. Dia segera melajukan mobilnya.


“ Sial! ” makinya sambil memukul setir yang dipegangnya.


“ Bukannya membaik hubungan ini malah bertambah buruk, bisa-bisanya seorang ibu bahkan tidak menyayangi bayinya ”


Suasana kantor yang mulai santai beberapa hari yang lalu, tiba-tiba berubah menegangkan setelah kedatangan Ares. Dimana semua orang di perusahaan itu sudah tahu bahwa sang pemilik sedang keadaan marah.


“ Gavrill keruanganku sekarang! ” perintah Ares begitu dia melalui meja kerja sekretarisnya itu.


“ Baik Tuan ” jawab Gavrill cepat dan segera mengikuti Ares.


Bahaya! hawa-hawanya pak bos marah besar, ucap Gavrill dalam hati.


Begitu Ares duduk di kursinya, dia segera memerintahkan Gavrill untuk menunjukkan semua laporan proyek. Sesuai dugaan Ares sangat marah ketika melihat beberapa proyek yang tidak sesuai keinginannya, dan meminta penanggung jawab setiap proyek untuk menemuinya.


Kapan siksaan ini akan berakhir?, rintih Gavrill dalam hati.


* * *


“ Aku yang terburuk.. ” ucap Lyra frustasi


“ Jangan terlalu dipikirkan perubahan emosi biasa terjadi pada ibu hamil, yang terjadi padamu juga merupakan hal biasa. Bahkan dulu seorang pasienku ada yang sampai menuntut agar diceraikan suaminya hahahha coba bayangkan itu ” jelas Eslin berusaha menghibur Lyra.

__ADS_1


Tapi nampaknya itu tidak berhasil Lyra masih tetap menangis.


“ Itu tidak membantu ya ” ucap Eslin dia juga bingung harus bagaimana lagi.


Setelah merasa sedikit tenang, akibat perdebatannya dengan Ares, Lyra memutuskan untuk memeriksakan diri. Oleh karena itu dia menemui Eslin.


“ Hufftt ” Lyra menghela nafas, dia mengipasi wajahnya dengan tangan, berniat menghentikan tangisannya.


“ Aku takut sekali...” lirihnya.


Melihat itu Eslin mendekat dan mengusap punggung Lyra lembut.


“ Tidak apa-apa semua baik-baik saja ”


“ Aku takut ketika tiba-tiba mengalami gejala yang belum pernah.. kau tahu aku takut kehilangan bayiku, betapa tidak becusnya aku kalau sampai kehilangannya. Aku hanya ingin bayiku baik-baik saja ”


“ Kau bisa tenang sekarang, bayinya sangat sehat. Walaupun sesekali mengalami morning sickness, jangan takut itu hal yang lumrah. Aku cukup tahu ini pasti berat untukmu karena baru pertama kali mengalaminya ”


“ Bagaimana jika ternyata perubahan sikap mereka hanya untuk memanfaatkanku? Aku tidak bisa percaya pada mereka. Kalau ternyata semua tindakan mereka hanya tipuan semata, agar bisa mengambil bayiku. Aku tidak sanggup apa lagi yang aku punya ” tutur Lyra


Eslin begitu kasihan melihat keadaan Lyra saat ini, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Dalam sudut pandang Lyra, semua perubahan sikap lembut yang ditunjukkan Ares maupun Adhisti. Tidak dapat sepenuhnya ia percayai, setelah semua perbuatan mereka yang menyakitkan untuknya. Timbul rasa ingin mempertahankan miliknya.


* * *


Malam hari Lyra sudah berbaring di ranjangnya, dia mengusap lembut perutnya, walaupun masih belum terlihat tetapi sebagai seorang ibu dia dapat merasakan nyawa bayinya yang hidup didalam dirinya.


“ Maafkan aku karena sudah mengatakan hal buruk, aku ketakutan setengah mati ketika merasa dunia seakan berputar, dan takut kamu meninggalkan aku. Aku mohon jangan pergi dariku, mari kita berjuang ” ucapnya.


Sementara di lain tempat Ares menghabiskan waktunya di ruang kerjanya, tak berniat kembali ke rumahnya ataupun rumah Lyra. Bayangan Lyra yang berkata ingin menggugurkan bayi mereka, terus muncul di pikirannya. Besar keinginannya agar menahan atau mengurung Lyra di suatu tempat agar dia tidak berbuat yang bukan-bukan. Tapi setelah memikirkan lagi dengan kepala dingin, Ares memutuskan untuk memberi sedikit waktu pada Lyra, mungkin masing-masing dari mereka butuh waktu untuk intropeksi diri.


“ Mengertilah sedikit, aku tidak ingin kita saling menyakiti dan membenci lagi. Apakah begitu sulit untuk mencoba menerima keadaan dan menghadapinya bersama. ” ucap Ares pada sebuah foto dimana nampak sosok Lyra di depan sebuah rumah sakit, yang di dapatnya dari suruhannya yang mengawasi Lyra. Ares tahu Lyra mengunjungi rumah sakit hari ini, dan dia sangat bersyukur ketika mengetahui bahwa Lyra memeriksakan kandungannya.


“ **Cinta seperti penyair berdarah dingin yang pandai menorehkan luka. Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.” - Joko Pinurbo


Mystorios_Writer🌧**

__ADS_1


__ADS_2