
“ Aku tidak tahu bagaimana aku menghadapinya, aku takut kalau dia akan menyakitiku lagi. Aku tidak mau terus di tindas. ” rutuk Lyra menyugar rambutnya kasar, bahkan sampai larut malam dia tidak bisa terlelap, bayangan bagaimana Ares melakukan hal itu padanya terus muncul dan menyiksanya. Setelah subuh tiba baru dia tertidur.
* * *
Pagi itu Lyra tiba di kampus, dia sedang duduk sendiri di bangku taman.
“ Hei! aku mencarimu di kelas ternyata kau disini ” ucap Shera menepuk bahu Lyra.
Lyra yang melihat kedatangan Shera menggeser duduknya untuk memberikan tempat untuk Shera. Sesaat mereka berdua hanya terdiam, Lyra juga sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
“ Ada masalah yang mengganggumu? ” tanya Shera memecah keheningan.
“ aku harus apa kemarin dia datang menemuiku ” jawab Lyra lirih.
“ Yang kau maksud suamimu? ”
“ Hmmm ”
“ Kau mengobrol dengannya ”
“ Tidak, aku tidak punya keberanian bertemu dengannya. Aku hanya lari ”
“ Ly, sebaiknya kau bicarakan semua dengan suamimu, tidak baik kau terus menghindar ”
“ Kau tahu pernikahanku tidak normal seperti pernikahan lainnya, setelah melakukan itu padaku bahkan baru kemarin dia datang. Aku harus bagaimana menanggapinya ”
“ Tapi sampai kapan kau bisa menyembunyikan fakta ini, ini memang kesalahan tapi bayi itu juga anaknya ”
“ Itu yang paling aku takutkan, kalau dia tahu perihal bayi ini, akan seperti apa reaksinya? ”
Lyra mengusap pelan wajahnya.
“ Bagaimana kalau dia tidak menginginkan anak ini? aku tidak percaya padanya ”
“ Ly, jangan langsung berprasangka buruk. ” ucap Shera menenangkan Lyra sambil mengusap bahunya pelan.
“ Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa ”
“ Tenangkan dirimu, begini saja jika suamimu datang menemuimu cobalah berbicara dengannya, setelah dia mengutarakan niatnya, kau bisa menilai dan memutuskan memberitahunya atau tidak ”
Dengan berat Lyra mengangguk.
“ Siang ini kau ada jadwal cek up kan? ” tanya Shera ketika dilihatnya Lyra sudah sedikit tenang.
“ Iya ”
“ Maaf ya sepertinya aku tidak bisa menemanimu. Hari ini aku ada suatu urusan ”
“ Tidak apa-apa, aku akan membatalkan jadwal cek up ku. Aku takut mereka mengawasiku ”
“ Jangan, Ly dengar ya ini demi kebaikan bayimu jadi kau harus pergi. ”
“ Ta-tapi...
“ Kau harus cek up, kau tahu bagaimana kecewanya Eslin nanti kalau kau tidak datang ”
Akhirnya Lyra diam tak membalas, bagi Shera itu tandanya Lyra akan pergi, walaupun dia ragu saat ini.
“ Kalau begitu ayo ke kelas, sebentar lagi kita akan masuk ” ajak Shera.
Mereka berlalu pergi dari sana.
* * *
Setelah pulang dari kampus Lyra langsung menuju rumah sakit untuk menemui Eslin. Sekarang dia tengah duduk menunggu gilirannya di panggil.
__ADS_1
“ Ohh kesulitan sekali jika harus pergi pemeriksaan tanpa bantuan suamikan, aku saja kerepotan dari tadi ” kelu seorang wanita hamil yang duduk di samping Lyra. Lyra menanggapi ucapan wanita itu dengan tersenyum.
“ Suamiku mengatakan dia sangat sibuk, tapi apa dia tidak tahu bagaimana kesulitan ku benarkan? lalu Nona suamimu datang menemanimu? ”
“ Hmmm aku memutuskan pergi sendiri ” balas Lyra tersenyum canggung.
“ Ehhh jangan seperti itu, saat perutku masih sepertimu aku juga menolak untuk pergi dengan suamiku. Hingga sekarang dia yang menolak pergi denganku. Dan kau tahu Nona saat perut kita mulai membesar sangat sulit untuk bergerak hahhha ” tawa wanita itu.
Lyra juga ikut tertawa mendengar penuturan wanita itu.
“ Jadi jangan pernah membiarkan suamimu tenang di rumah, atau kau akan menyesal sepertiku ” celutuk wanita itu.
“ Nona Lyra, silakan masuk sekarang giliran Anda ” panggil perawat.
Lyra lalu masuk menemui Eslin.
“ Halo calon ibu ” sapa Eslin riang begitu melihat Lyra masuk. Lyra membalas sapaan Eslin dengan senyuman.
“ Sekarang kita akan melihat seberapa jauh perkembangannya saat ini, berbaringlah ” ucap Eslin lembut.
Dengan cekatan Eslin menggerakkan alat itu menelusuri perut Lyra.
“ Coba lihat buah plum kecil ini ” seru Eslin dia memberi nama janin buah plum untuk bayi Lyra.
Lyra tersenyum haru melihat janin kecil itu, jelas terlihat baginya bayinya sehat, ukurannya bertambah dari sebelumnya.
“ Dia sehatkan? ” tanya Lyra memastikan.
“ Tentu saja, dia dalam posisi yang baik, pertumbuhannya juga normal ” balas Eslin.
Suasana hati Lyra senantiasa berubah tenang ketika melihat janinnya. Lyra menyelesaikan semua pemeriksaannya, Eslin memberi beberapa suplemen dan suntikan vitamin B, karena Lyra masih anemia. Setelah selesai di keluar dari sana, dan ingin segera pulang.
Lyra berjalan tenang menuju pintu keluar.
Seseorang tiba-tiba menabrak Lyra, sehingga tanpa sengaja tas tangan Lyra jatuh berserakan.
“ Maaf aku benar-benar minta maaf apa Anda baik-baik saja ” ucap orang itu.
“ Iya tidak apa-apa ” jawab Lyra tanpa memerhatikan orang itu dia tengah sibuk memasukkan kembali isi tasnya yang terjatuh tadi.
“ Lyra! ”
“ Maaf Ly, aku tidak memperhatikan tadi ”
Lyra seketika membeku melihat orang itu yang ikut membantunya. Setelah tersadar dia segera meraih tasnya kasar dari orang itu.
“ Ly! maaf ”
“ aku akan pergi ” ucap Lyra tergesa-gesa.
“ Lyra! apa kau sakit? sedang apa di sini? ”
“ Tidak ”
Dengan langkah cepat Lyra segera keluar dari sana.
Adhisti berdiri tercengang tak mengerti melihat Lyra yang seperti kesetanan bertemu dengannya.
Flashback On
Hari itu Adhisti tidak pergi kuliah, karena dari tadi perutnya sakit. Segera setelah dia dibawa ke rumah sakit, ternyata dia mengalami radang perut.
Setelah di rawat dari pagi, siang ini dia sudah di izinkan pulang. Dengan tergesa-gesa dia berjalan keluar sehingga tanpa sengaja menabrak seseorang, memperhatikan sesaat Adhisti baru sadar ternyata dia adalah Lyra.
Flashback End
__ADS_1
Adhisti akhirnya memilih pergi dari sana, menurutnya Lyra seperti itu karena dia masih marah padanya. Ketika dia akan melangkahkan kakinya, dia berhenti ketika hampir menginjak sebuah amplop putih yang tergeletak di lantai.
Adhisti segera memungut amplop itu, setelah melihat ada nama Lyra tertera di sana.
Ya ampun ini pasti terjatuh tadi. aku harus segera memberikannya padanya.
Adhisti dengan cepat berlalu, matanya sibuk mencari sosok Lyra tapi nampaknya dia sudah tidak ada di sana.
“ Bagaimana ini? mungkin saja amplop ini penting ” guman Adhisti. Dia kembali memperhatikan amplop itu dan membuka amplop itu untuk memastikan isinya.
“ APA?! ”
* * *
Begitu keluar dari rumah sakit, Lyra segera naik ke taksi. Tubuhnya bergetar hebat saat ini, pertemuannya tadi dengan Adhisti benar-benar mengejutkan baginya. Lyra khawatir Adhisti mengetahui alasan Lyra ada di sana.
Selama perjalanan dia memandang keluar jendela taksi, tanpa sadar bulir-bulir bening jatuh di pipinya. Dengan cepat dia mengusapnya kasar tidak ingin orang menyadari itu. Sesampainya di apartemen Lyra berjalan cepat. Tapi sekali lagi dia harus dibuat terkejut melihat sosok Ares yang jelas berdiri menunggu di depan pintu apartemennya.
Tanpa pikir panjang Lyra segera berbalik pergi dari sana.
“ Lyra! Lyra tunggu jangan seperti ini. Kita harus menyelesaikan masalah ini ”
Melihat Lyra pergi, Ares segera berlari menyusulnya. Dia mencegat Lyra pergi dari sana.
“ Aku mohon izinkan aku meluruskan masalah ini ” ucap Ares begitu dia menghentikan Lyra.
Lyra segera menepis tangan Ares yang mencegatnya dan dia dengan cepat pergi dari sana.
“ Bagaimana mungkin masalah ini selesai jika kau terus menghindar! Aku mohon cobalah mengerti aku berusaha mencari jalan keluar! ” ucap Ares dengan nada tinggi, dia mulai frustasi melihat penolakan Lyra.
Sejenak langkah Lyra terhenti mendengar perkataan Ares tadi. Entah kenapa tiba-tiba ucapan Shera terlintas di pikirannya, yang mengatakan dia harus memberanikan diri bicara dengan Ares untuk mengetahui niat pria itu.
Melihat Lyra yang terdiam disana, Ares segera mengambil kesempatan untuk mendekat ke arah gadis itu, namun dia tetap menjaga jarak karena dia tidak ingin membuat Lyra ketakutan.
“ Lyra a-aku minta maaf, sungguh aku menyesal. Walaupun aku tahu kata maaf ini tidak akan mengembalikan keadaan tapi aku tetap aku ingin minta maaf padamu ”
Lyra masih terdiam, dia tidak bergeming hanya air mata yang mengalir membanjiri wajahnya.
“ Maaf karena keegoisanku kau harus mengalami semua ini, aku tidak tahu cara untuk mendapatkan pengampunanmu. Tapi aku berjanji aku akan membebaskanmu dari semua ini ” jelas Ares dengan penuh sesal.
Sedikit demi sedikit isakan Lyra mulai terdengar walaupun dengan sebisanya di tahan olehnya. Ares tidak tahu harus berbuat apa untuk menenangkan gadis itu.
“ Jalan keluar apa yang Anda maksud? ” ucap Lyra sinis.
“ Aku akan membebaskanmu dari pernikahan ini. Aku akan menceraikanmu kau tidak perlu khawatir mengenai surat perjanjian itu lagi ”
Dia adalah seorang ber*ngs*k tak tahu malu, setelah dia merebut semuanya dariku, mengabaikanku lalu membuangku seperti sampah. Aku tahu sejak awal bahwa dia pasti melakukan ini, batin Lyra.
“ Menurutmu aku akan senang dan dengan segera mengucapkan terima kasih pada Anda setelah mengatakan ini, bagaimana denganku?! apa yang tersisa dariku sekarang?! masa depan seperti apa yang akan ku miliki sekarang?! ” pekik Lyra amarahnya memuncak sekarang.
“ Aku minta maaf, ini memang tidak bisa mengembalikan sesuatu yang berharga yang telah ku rebut darimu, tapi aku akan menjamin kau dapat menjalani kehidupanmu dengan baik di masa depan. Kau tidak perlu khawatir aku akan tetap membiayai panti dan semua keperluanmu ”
“ Arghh UANG! UANG! UANG! Lagi-lagi kalian menganggap semua akan selesai dengan uang! aku muak! aku tidak butuh semua itu! ” teriak Lyra dia menyugar kasar rambutnya bentuk pemberontakannya terhadap tindakan Ares yang sedari tadi menurutnya bukan seperti permintaan maaf tapi hanya penghinaan.
“ Tidak aku tidak bermaksud seperti itu ” sangkal Ares. Dia benar-benar bingung harus berbuat apa, hatinya begitu sakit melihat tangisan frustasi gadis itu.
Lyra mundur perlahan, tangisnya mulai pecah. Dia tidak sanggup menerima bahwa setelah semua ini, dia hanya akan di anggap sebagai sesuatu yang dapat di buang begitu saja, setelah mereka tidak tertarik lagi dengannya.
“ Ini ”
“ Kau?! BAJ*NG*N!!”
"**Siapapun yang bisa membuatmu marah, bisa mengendalikanmu." - Lamine Pearl Heart.
Mystorios_Writer🌼**
__ADS_1