
“ Nyatanya kita perlu sedikit egois, dan mementingkan diri kita sendiri. Merelakan semua yang mungkin adalah takdir dan hanya cukup bahagia untuk diri sendiri ”
Lyra mengulang kembali apa yang pernah dikatakan Diandra pada Lyra, bahwa saat semuanya cukup sulit untuk Lyra tidak apa-apa untuk menjadi egois.
Perlahan Ares berdiri, mendekat ke arah Lyra berdiri tepat dihadapan wanita itu. Lyra mendongakkan kepalanya ketika menyadari keberadaan Ares di dekatnya.
Suasana berubah hening, Ares semakin mendekat ke arah Lyra, membuat Lyra sedikit mundur untuk menjauh.
Degg!!
Jantung Lyra terasa jatuh, ketika Ares meletakkan jemarinya di pipinya, dan dapat dirasakannya pria itu membelai pipinya. Dia memandang Ares dengan tatapan terkejut, tapi Ares tidak menghentikan tindakannya, menyentuh wajah Lyra dan menyisihkan anak-anak rambut yang terurai di sana.
“ Tuan a-ada apa? ” ucap Lyra terbata-bata berusaha mengendalikan situasi. Tapi Ares tak bergeming dia menatap Lyra seolah tatapannya terkunci pada wanita itu. Deru napas Lyra mungkin cukup terdengar dikarenakan gugupnya.
Lalu perlahan pandangan mata Ares turun ke perut datar Lyra, tanpa sadar dia membelai perut itu.
“ Tuan!! ” pekik Lyra dengan cepat dia menepis tangan Ares dari perutnya dan bergerak menjauh beberapa langkah dari pria itu.
Seakan semua logika kembali bekerja, begitu pula dengan Ares yang tersadar setelah mendengar teriakan Lyra dan melihat betapa ketakutannya gadis itu sekarang. Dada Lyra kembang kempis menatap Ares ketakutan.
“ Maaf Ly, astaga.. aku tidak tahu apa yang salah denganku. Aku tidak ingin melakukan hal buruk ” ucap Ares menyesal dan mendekat lagi ke arah Lyra. Lyra menggeleng keras, lalu kembali menjauh dari Ares.
“ Maaf Lyra, kurasa aku telah membuatmu ketakutan, tapi sungguh aku hanya ingin melakukan seperti kebanyakan calon orang tua lainnya. Aku ingin membelai dan kau tahu berkomunikasi dengan anak kita. Aku benar-benar minta maaf ini salahku ” dengan penuh penyesalan.
“ A-aku takut... ” guman Lyra
“ Baiklah tidak apa-apa, ini kesalahanku. Aku tidak ada melakukan hal itu lagi ” ucap Ares menenangkan Lyra.
Setelah sedikit tenang Lyra menatap Ares, dan mengetahui bahwa pria itu nampak menyesal.
Lalu Lyra mengangguk seakan memberi tahu pada Ares bahwa dia sudah membaik.
“ Tuan aku akan mengatakan ini, walaupun mungkin akan menyakiti Anda, aku tidak bisa memberikan hak Anda. Maksudku bukannya aku tidak ingin Anda menunjukkan kasih sayang dan berkomunikasi dengan bayinya. Tapi untuk menyentuh a-aku tidak bisa sungguh.. ” jelas Lyra
“ Aku paham tidak perlu merasa bersalah aku mengerti keadaan kita memang tidak baik ” tambah Ares.
“ Maaf... ” ucap Lyra lirih
“ Tidak apa-apa jangan terlalu dipikirkan, kalau begitu aku akan pulang ” Ares melangkah menjauh mengambil handphonenya yang terletak di atas meja, lalu berjalan ke arah pintu.
Lyra mengikuti dari belakang, walaupun tetap menjaga jarak dari Ares.
“ Aku pergi.. oh iya jangan lupa makan tepat waktu ” ucap Ares sebelum akhirnya ia menghilang dari balik pintu.
__ADS_1
Lyra terduduk lemas di sofa, menyugar rambutnya kasar. Bagaimana pun dia tetap merasa menyesal atas apa yang terjadi, tindakannya pasti mengecewakan dan menyakiti hati Ares. Tentunya setiap ayah ingin menyentuh, membelai dan berkomunikasi dengan bayinya saat dikandungan ibunya untuk merasakan perkembangan bayinya.
“ Maafkan mama, nak. Kamu pasti ingin dekat dengan ayahmu juga. Ta-tapi mama tidak bisa maafkan mama ” ucap Lyra tulus sambil mengelus pelan perutnya.
Aku tidak bisa mengendalikan rasa takutku, akibat trauma malam itu. Bagaimana ini?, rutuknya dalam hati.
* * *
Sudah sebulan sejak, Lyra bekerja. Semuanya berjalan lancar, ia menjadi asisten Arsitek perusahaan. Arsitek perusahaan itu bernama Robert, pria yang berumur 42 tahun dan nampak gagah dan berenergi.
“ Lyly! ” panggil Robert
“ Iya Pak ” jawab Lyra, pria itu terbiasa memanggil seseorang dengan nama panggilan yang dia ciptakan sendiri, seperti Lyra yang dipanggil Lyly.
“ Ini buruk, kamu tahu masalah yang aku katakan kemarin ” ucapnya.
“ Apakah mengenai wilayah pembangunan sektor 3 lagi Pak? ” tanya Lyra mencoba menebak
“ Benar, para preman yang di usir dari bangunan tua di sektor itu menolak pergi, dan parahnya mereka malah mengacau dilokasi ” geram Robert.
“ Astaga ini buruk sekali Pak ” tutur Lyra.
“ Masalah ini tidak boleh dibiarkan berlarut terlalu lama, aku ingin kamu melaporkan hal ini pada King ” perintah Robert.
“ Baik Pak ” jawab Lyra cepat, lalu segera menuju ruangan Aslan. Jangan heran yang dimaksud King oleh Robert adalah Aslan, kalian tahu The King Aslan. Nama panggilan lainnya.
“ Ada apa Lyra? ” tanya Aslan santai.
“ Saya ingin melaporkan masalah yang terjadi di area pembangunan Pak ” jawab Lyra.
“ Masalah? baiklah lanjutkan ”
“ Area pembangunan sektor 3 dikacaukan oleh para preman yang tidak ingin pergi dari bangunan tua yang ada di sana, menolak agar bangunan itu tidak dihancurkan ” jelas Lyra.
“ Aku tidak menyangka akan jadi rumit seperti ini, baiklah aku akan meninjau sendiri ke sana. Ajak Robert kita akan pergi ”
“ Baik Pak ” lalu Lyra keluar dari ruangan itu.
Setelah memberi tahu Robert melalui telepon, sekarang Lyra dan Aslan sedang menunggu kedatangan pria itu di depan kantor.
“ Ayo pergi! ” ajak Robert dengan semangat begitu dia menghampiri mereka. Mereka berjalan ke arah mobil.
“ Kau mulai melambat Robert ” ucap Aslan sebagai ejekan pada Robert begitu mereka masuk ke dalam mobil. Lyra duduk dibelakang bersama Aslan, dan Robert di samping supir.
__ADS_1
“ Kau akan tahu rasanya saat berada di usia empat puluhan King ” rutuk Robert menanggapi ejekan Aslan.
“ Aku tidak akan lemah walaupun sudah seusiamu nanti ” ledek Aslan lagi.
Begitulah selama perjalanan diisi dengan bercandaan Robert dan Aslan, dan sesekali diikuti oleh tawa Lyra karena lelucon mereka. Sampai akhirnya mereka tiba di area pembangunan tersebut.
“ Hati-hati Robert, biasanya di usia senja seseorang akan gegabah. Aku takut kau tertimpa bangunan runtuh ” kembali Aslan memulai ajang saling mengejek mereka
“ Aku lebih takut melihatmu yang belum berpengalaman di area seperti ini, mungkin kau akan terjatuh ke salah satu lubang penggalian hahhahah benarkan Lyra? ” balas Robert sembari menanyakan pendapat Lyra.
Yang hanya mendapat tawa dari Lyra dan wajah merenggut Aslan.
Mereka berkeliling area itu, nampak bahan-bahan bangunan yang berantakan dan beberapa rusak. Sudah tentu ulah para preman itu.
“ Para kunyuk itu berusaha menggertak dengan cara kekanak-kanakan ” rutuk Robert.
“ Apakah sebaiknya kita lapor ke pihak berwajib Pak? ” tanya Lyra.
“ Aku rasa tidak perlu, mereka hanya segerombolan preman tak bernyali yang beraninya mengertak, dan lihatlah mereka hanya berani mengganggu dengan merusak bahan-bahan ” tukas Aslan santai.
“ Tapi bagaimana jika mereka terus mengacau Pak ” ucap Lyra risau.
“ Mereka tidak akan berani lagi ” jawab Aslan, yang tak kala membuat Lyra bingung dengan sikap tenangnya.
“ Suruh anggota kita membereskan para kunyuk itu ” ucap Robert.
Lalu ketika kedua orang itu saling bertatapan mereka tertawa puas.
Ada yang salah dengan mereka. Apa yang lucu disini?, ucap Lyra dalam hati tak mengerti maksud Aslan dan Robert.
“ Dia adalah orangnya pemilik perusahaan itu Bos ” bisik seorang pria yang berada di bangunan yang jauh dari keberadaan Aslan dan Lyra.
“ Benarkah? Lalu siapa wanita yang bersamanya itu? ” tanya pria yang dipanggil Bos tadi.
“ Tidak tahu Bos, tapi nampaknya mereka dekat ”
“ Oke sekarang kita mendapatkan mangsa yang besar ” ucapnya dengan seringai jahatnya mengawasi ke arah Lyra dan Aslan.
From Author,
Hi teman-teman readers terbaik, mohon dukungannya untuk novel ini dan bantuannya untuk merekomendasikan novel ini, bila teman-teman suka.
Terima kasih banyak😊
__ADS_1
“ **Go easy on me baby, I was still a child ”-Adele
Mystorios_Writer 🌦🌦🌦**