
Ares mengeratkan gandengan tangannya di pinggang Lyra, sembari mereka berjalan melalui anak tangga itu. Pasangan itu nampak tersenyum bahagia berbeda dengan Adhisti dia berjalan perlahan di belakang mereka, dia meremas tas tangannya kuat menahan rasa cemas dan gugupnya.
“ Isti kemari kenapa kamu nampak bingung begitu? ” Lyra meraih tangan Adhisti mendekat ke arahnya karena sedari mereka tiba di pesta itu Adhisti nampak selalu menyembunyikan dirinya.
“ Oh...tidak, Ly. Aku hanya kurang nyaman, seharusnya aku tidak usah ikut tadi ” lirih Adhisti dengan wajah gelisah yang tidak bisa ditutup-tutupi.
“ Kalau kamu tidak ikut bagaimana nanti tanggapan Gavrill, inikan pesta perayaan pengangkatannya. Diakan pernah menjagamu ”
Adhisti meremas tangannya kuat.
“ Justru karena ini pesta Gavrill, apa pendapatnya nanti saat aku muncul untuk pertama kali di pesta perayaan karena dia berhasil menjadi CEO. Bukankah sama saja membuktikan bahwa aku ini wanita yang gila harta ”, batin Adhisti.
Adhisti hanya berdiri diam di samping Lyra, menyaksikan pasangan suami istri itu bercengkrama mesra.
Sampai akhirnya MC memanggil nama CEO baru perusahaan itu dengan keras, di iringi suara riuh tepuk tangan para tamu.
Walaupun berusaha tidak melihat tak dapat di lawannya Adhisti akhirnya menatap Gavrill yang berdiri gagah di tengah-tengah ruangan. Adhisti terpesona dengan penampakan Gavrill yang jelas berbeda, saat jadi sekretaris Kakaknya biasanya pria itu selalu menggunakan kaos hitam polos dan sesekali di lapisi jas yang casual dan satu hal yang tidak pernah lepas berbagai alat komunikasi yang selalu menempel di telinganya. Tapi hari ini Gavrill tampil dengan setelan kemeja dan jas tanpa alat komunikasi yang merepotkan, benar-benar sesuai dengan posisinya sekarang sebagai CEO.
“ Bagaimana bisa aku lebih menyukai saat kamu berpakaian seperti dulu dari pada sekarang. Saat itu rasanya kamu milikku ” Adhisti terus menatap Gavrill hingga akhirnya tatapan mata mereka bertemu dan dengan cepat Adhisti menunduk.
Jantungnya serasa mencelos mendapatkan tatapan tajam dari pria itu.
Seperti yang sering dikatakan orang semakin engkau menghindar maka semakin sering bertemu. Demikian yang terjadi saat ini, Gavrill berjalan dengan santainya ke arah Adhisti.
“ Tuan saya benar-benar merasa terhormat Anda hadir di sini ” ucap Gavrill sambil membungkuk kepada Ares.
Adhisti menghembuskan napasnya kuat karena ternyata Gavrill berbicara pada Ares.
“ Jangan membungkuk begitu lagi, sekarang kita berada di jajaran yang sama. Aku akan lebih merasa terhormat jika kau menjabat tanganku ” Ares menegakkan tubuh Gavrill dan menjabat tangannya sambil tersenyum bangga.
“ Kamu sudah berhasil. Walaupun sedikit terlambat dari yang kamu janjikan ” lanjut Ares.
“ Ternyata tidak semudah yang aku bayangkan Tuan ” balas Gavrill, baginya Ares masih sama tetaplah sosok yang diidolakan dan akan selalu di hormatinya.
Gavrill mengingat kembali saat dia mengutarakan niatnya mengundurkan diri, selama itu dia menyangka Ares tidak mengetahui latar belakangnya. Ternyata Ares sudah tahu sejak lama semua tentang Gavrill dan asal usul keluarganya.
__ADS_1
Tapi tidak sedikit pun Ares mempermasalahkan hal itu, bahkan dengan pasti Ares menanyakan padanya apa saja yang ingin dicapainya dengan mulai bergabung di bisnis Ayahnya. Gavrill yang saat itu masih bimbang tak bisa menjawab dengan pasti.
Namun dengan tegas Ares mengatakan setelah dia keluar, Gavrill harus berhasil menjadi CEO dari perusahaan Ayahnya dan membuat Gavrill mengucapkan janji.
Dan inilah dia sekarang yang berhasil menjadi CEO.
“ Kamu hebat, Gav. ” tutur Lyra memberi selamat pada Gavrill.
Hingga akhirnya Gavrill berhadapan langsung dengan Adhisti, berbeda dengan Adhisti yang nampak gelisah Gavrill nampak sangat santai.
“ Bagaimana kabar Anda Nona? ” tanya Gavrill tenang.
“ Baik, kamu tidak perlu memanggilku Nona ” jawab Adhisti berusaha senormal mungkin.
“ Semuanya tidak mengubah cara pandangku bagiku Tuan Ares adalah orang yang paling ku hormati begitu juga dengan Anda Nona ” ungkap Gavrill.
Hati Adhisti serasa tertohok saat Gavrill menekankan kata tidak mengubah cara pandangnya, yang secara tidak langsung Adhisti tahu itu sindiran untuknya.
“ Ternyata kamu di sini aku sudah menunggu dari tadi ” ucap seorang perempuan tiba-tiba datang dan langsung menggandeng mesra tangan Gavrill.
“ Halo, Gavrill banyak menceritakan tentang kalian. Untunglah bisa bertemu sekarang ”
Ares mengangkat gelasnya pertanda menerima perkenalan wanita itu, Lyra membalas uluran tangan Bella.
“ Senang bertemu denganmu, kalian sangat serasi ” ucap Lyra tersenyum.
“ Terima kasih senang mendengarnya ” balas Bella.
“ Ayo temani aku berdansa kamu sudah janji ” pinta Bella bergelayut manja pada Gavrill.
“ Kalau begitu aku permisi dulu, semoga Kalian menikmati pestanya ” ucap Gavrill sambil berlalu dari sana.
“ Tidak seharusnya kita berdiam diri di sini ” Ares meraih tangan Lyra dengan gestur mengajak berdansa.
“ Wanita hamil tidak berdansa dengan baik ” balas Lyra malu-malu.
__ADS_1
“ Walaupun kamu tanpa sengaja menginjak kakiku, kamu sudah mendapatkan izin ” Ares tidak menunggu lama hingga Lyra menolak ajakannya. Dia segera mengiring Lyra menuju lantai dansa.
Adhisti tersenyum getir menatap pemandangan Ares dan Lyra yang berdansa dengan mesra dan juga Gavrill bersama wanita yang baru pertama kali Adhisti temui itu.
Adhisti meneguk minumannya pelan berusaha menutupi rasa terguncangnya. Melihat Gavrill bermesraan dengan wanita lain, terutama saat Gavrill tidak menyangkal sama sekali ketika Lyra mengatakan mereka adalah pasangan.
Hati Adhisti benar-benar terluka, tapi apa yang bisa disesalinya. Tentu saja Gavrill membencinya setelah perbuatannya sebelumnya. Menunjukkan kepada Adhisti dia bisa menemukan wanita lain yang lebih baik dari Adhisti merupakan pembalasan yang tepat.
“ Bagaimana rasanya menatap pria yang dulu kau bela habis-habisan akhirnya memilih wanita lain? ”
Adhisti terlonjak kaget. Dia menatap geram ke arah pria yang barusan berbisik padanya. Siapa lagi kalau bukan Gerry.
“ Maaf kau terkejut? Sebelumnya aku sudah ingatkan dengan baik bahwa bocah itu adalah munafik yang hanya ingin memanfaatkanmu ”
Adhisti hanya dapat menahan diri mendengar ocehan pria itu.
“ Lihat dia betapa sombongnya dia bermesraan dengan wanita lain. Padahal dia memanfaatkan mu untuk mendapatkan dukungan dari Kakakmu hingga dia bisa jadi CEO. Seharusnya dia punya sedikit rasa malu ”
Adhisti mendekati Gerry secara perlahan. Di rabanya bahu pria itu pelan. Dia meraih dasinya dan bertingkah seakan membenarkan posisi dasi itu.
“ Kamu mengingat sudah memberi peringatan padaku, tapi bagaimana kamu bisa lupa dengan peringatanku? ” ucap Adhisti remeh.
“ Kalau saja kamu mengingat peringatanku, maka pesta ini pasti milikmu ” lanjut Adhisti sambil mengeratkan dasi Gerry dan menggenggam kerah jasnya.
“ Tapi kamu lupa sampai akhirnya kamu harus berdiri dihadapanku sekarang karena kamu hanyalah seorang manager, dan dia CEO-nya ” Adhisti menunjuk ke arah Gavrill.
Lalu menepuk-nepuk bahu Gerry seolah menyeka debu yang ada di sana.
“ Jangan lupa lagi atau kamu juga sudah bosan jadi manager ” ucap Adhisti lalu mengibas-ngibaskan tangannya seolah ingin menghilang jejak setelah menyentuh pria itu.
Adhisti menaikkan sudut bibirnya tersenyum sinis, lalu meninggalkan Gerry di sana yang terdiam tak bisa berkata-kata.
Adhisti yang sudah merasa cukup sedih malah di buat tambah marah oleh Gerry. Hingga akhirnya dia tidak bisa menahan diri lagi. Adhisti segera pergi ke toilet dan menangis sendiri di sana.
“ **Aku ingin berjuang bersamamu tetapi kamu meninggalkan aku ”-Anonim
__ADS_1
Mystorios_Writer🌋🌋**