
Lyra membuka matanya perlahan, di lihatnya sekeliling dan menyadari dia sedang berada di rumah sakit sekarang.
Mulai panik Lyra mengangkat tangannya perlahan meraba perutnya memastikan bahwa bayinya baik-baik saja.
“ Lyra! Kamu sudah bangun! ” seru Ares antusias segera menghampiri Lyra.
Lyra menatap sayu ke arah pria itu.
“ Bayinya.. ” ucapnya lemah
“ Dia baik-baik saja jangan khawatir ” balas Ares.
Lyra memalingkan wajahnya dari Ares, perlahan air matanya menetes begitu saja. Dia bersyukur janinnya selamat.
“ Kamu merasa sakit? Aku akan panggilkan dokter ” ucap Ares gelisah melihat Lyra menangis.
Lyra menggeleng pelan.
“ Ada apa, Ly? Lalu kenapa kamu menangis? ”
Lyra menggelengkan kepalanya lagi.
Aku tidak tahu apa semua perlakuan ini hanyalah kepalsuan, batin Lyra.
“ Aku mohon jangan menangis ” Ares mengusap air mata Lyra.
Lyra menepis tangan Ares dari wajahnya.
“ Kamu anggap aku apa? ” tanya Lyra lemah menatap pria itu.
“ Kamu itu adalah istriku, ibu dari anakku. Selalu akan seperti itu, Ly ” jawab Ares pasti.
Lyra tersenyum gentir mendengar itu.
“ Ya harusnya aku tahu itu ”
Aku yang tidak sadar posisiku bagimu hanyalah wanita yang berperan untuk melahirkan anakmu. Tidak akan pernah lebih. Aku yang bodoh mengharapkan sesuatu yang lebih. Yang ternyata hanya membuatku terluka lebih dalam lagi.
“ Terima kasih ” ucap Lyra.
“ Untuk apa sudah kewajibanku untuk menjaga dan merawat kalian. Maaf karena aku lalai ” tutur Ares.
Lyra menarik selimutnya lebih tinggi lalu berbalik membelakangi pria itu.
Terima kasih karena sudah memperjelas semuanya padaku, aku yang bodoh ini akan berusaha membuang semua perasaan yang tidak seharusnya ada, batin Lyra.
* * *
“ Lyra kamu baik-baik saja? ” ucap Eslin sambil mengusap lembut rambut Lyra.
Tadi dia mendapat telepon yang mengatakan Lyra masuk rumah sakit. Dia di telpon karena Lyra adalah pasiennya.
Lebih dari itu dia segera datang menjenguk Lyra karena dia adalah sahabatnya.
Merasakan sentuhan di kepalanya Lyra terbangun.
__ADS_1
“ Eslin..” ucapnya lemah.
“ Bagaimana bisa keadaanmu sampai seperti ini? ” tanya Eslin berkaca-kaca. Dia tidak sanggup melihat keadaan lemah sahabatnya itu.
Lyra hanya tersenyum lembut untuk menunjukkan pada Eslin bahwa dia baik-baik saja.
Eslin tidak dapat menahan air matanya lagi. Dia menangis sambil mengusap rambut Lyra.
“ Kamu harus kuat untuk bayinya ” guman Eslin.
Lyra membalas dengan anggukan. Eslin merasa cukup sedih walaupun awalnya Lyra hanyalah pasiennya tapi setelah mengenal lama wanita itu. Dia bersahabat dengannya dan dengan perbedaan usia dengan Lyra dia sudah menganggap Lyra sebagai adiknya sendiri.
Ares masuk ke ruangan Lyra mendapati Eslin di sana, tadi Ares mencari tahu siapa dokter yang biasa merawat Lyra. Setelah tahu bahwa ternyata dokter itu adalah Eslin wanita yang di temuinya bersama Lyra saat berada di tempat karaoke. Ares segera memerintahkan untuk menghubungi Eslin, bagaimana pun dia yang telah mengontrol kondisi Lyra selama ini.
Eslin menoleh ke arah Ares dengan marah.
“ Bisakah kita bicara? ” pintanya pada Ares.
“ Tentu ” jawab Ares.
“ Tunggu sebentar ya, Ly ”
Eslin berjalan ke luar dari ruangan itu memberi kode pada Ares untuk mengikutinya.
Setelah merasa bahwa pembicaraan mereka tidak akan terdengar lagi oleh Lyra, Eslin menghentikan langkahnya.
“ Ada apa? ” tanya Ares pertama pada wanita itu.
Eslin menyugar rambutnya.
“ Kau benar ini semua karena kelalaianku ” ucap Ares mengerti dengan kemarahan Eslin.
“ Ya ini terjadi karena kelalaianmu! tapi apa kau pernah berusaha memperbaikinya ”
“ Apa maksudmu? ”
“ Dengarkan aku baik-baik kau tahu apa yang kau lakukan pada Lyra? Kau adalah pria berengs*k yang telah merusak mentalnya! ”
Eslin membuang nafasnya kasar berusaha sedikit meredam emosinya.
“ Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan pernikahan kalian, tapi apa kau tahu Lyra adalah seorang wanita yang masih sangat muda tetapi harus terpukul akan fakta kehamilan yang tidak di inginkannya. Walau begitu dia memilih bertahan menerima keadaan itu ”
“ Seharusnya sekarang dia menikmati masa-masa emasnya, bersenang-senang, meraih impiannya tanpa ada yang mengekangnya! ” tegas Eslin.
Ares tak tahu harus menjawab apa dia hanya diam mendengarkan perkataan Eslin.
“ Menurutmu harus sebanyak apa lagi dia berkorban! ” Eslin mengusap air matanya yang menetes.
“ Setidaknya kau menghargai usahanya bagaimana dia mempertaruhkan nyawanya untuk kehamilan ini. Hidupnya di pertaruhkan di sini kau pikir itu lelucon! ”
“ Bisa-bisanya dia mengalami kontraksi karena stres berat! Oh shitt!! Itu alasan yang benar-benar tak bisa di terima! Bajing*n!!” maki Eslin.
Ares terkejut mendengar perkataan Eslin itu bagaikan sebuah pukulan untuknya.
“ Kau berniat membunuhnya?! Hah sesulit itu menahan diri setidaknya untuk tidak membebani dia! ” tegas Eslin.
__ADS_1
“ Apa pantas dia menangis untukmu? Tidak bisakah sedikit saja kau merasa kasihan padanya. Aku memohon padamu jangan membuatnya bersedih ” Eslin menyatukan kedua tangannya di depannya.
Ares mengacak-acak rambutnya frustasi mengetahui fakta Lyra harus menghadapi semua itu karenanya.
“ Asal kau tahu Lyra pantas bahagia. Jika kau tak layak untuk membahagiakannya. Lepaskan dia! ” tegas Eslin lalu dia meninggalkan Ares. Eslin langsung pergi dari rumah sakit itu dia tak sanggup lagi jika harus menemui Lyra dalam keadaan menangis seperti itu.
Ares terduduk lemas di kursi yang ada di sana. Dia mengingat semua perlakuannya pada Lyra. Wanita itu tidak pernah menangis di depannya, tapi Ares yang berperan besar menimbulkan penderitaan yang berat untuk Lyra.
Mencoba menenangkan diri Ares kembali ke ruangan Lyra.
“ Bagaimana dengan Eslin? ” tanya Lyra begitu melihat yang memasuki ruangan hanya Ares.
“ Tadi dia bilang harus segera pulang karena ada pasien ” ucap Ares berbohong. Ares menatap Lyra dan semua perkataan Eslin kembali tergiang di kepalanya.
Ares mengenggam tangan Lyra.
“ Apakah sesakit itu? ” tanyanya.
Lyra menggeleng, lalu menarik tangannya dari genggaman Ares tapi pria itu menahannya.
“ Biarkan seperti ini sebentar ” pinta Ares.
Lyra terdiam dan membiarkan pria itu menggenggam tangannya.
“ Kamu seharusnya tidak perlu mengalami ini, semuanya adalah kesalahanku ” guman Ares sambil menciumi punggung tangan Lyra lembut.
“ Maaf aku tidak tahu bahwa kamu bersedih ”
Lyra terkejut merasakan telapak tangannya basah.
Apa dia menangis?
“ Aku yang terburuk karena aku kamu harus mengalami kejadian ini ” ucap Ares terus menyalahkan dirinya.
Lyra dapat merasakan air mata Ares yang berjatuhan di tangannya, walaupun wajah pria itu menunduk.
“ Maaf...kamu bisa menghukumku semaumu, seharusnya aku yang menderita bukan kamu ”
Lyra tidak mengerti alasan Ares menangis seperti itu, entah mengapa hatinya terasa sakit melihat tangisan pria itu.
Perlahan Lyra mengangkat tangannya yang satu lagi. Dia berniat mengelus kepala Ares menenangkannya. Tapi dia mengurungkan niat itu.
“ Kamu bisa marah..tapi tolong jangan pernah meninggalkan aku..tidak pernah terpikirkan olehku harus kehilanganmu ” ucap Ares menciumi tangan Lyra seolah wanita itu akan pergi jauh.
“ Tolong jangan seperti ini, juga jangan mengatakan hal seperti itu lagi. Bisa saja aku salah mengartikan niat Anda ” ucap Lyra kaku lalu menarik tangannya dari genggaman Ares.
Dia dapat melihat tatapan sedih pria itu, tapi dia menyangkal hal itu karena bisa saja Lyra salah mengartikannya menganggap Ares memiliki perasaan yang sama dengannya.
“ Sebaiknya kita tetap pada batasan kita ” tutur Lyra.
"Merindukan seseorang adalah bagian dari mencintai mereka. Jika kamu tidak pernah berpisah, kamu tidak akan pernah benar-benar tahu seberapa kuat cintamu." - Gustave Flaubert.
From Author
**Menulis episode ini aku sampai menangis haru entahlah apa itu yang di sebut terbawa suasana. Tapi sampai sekarang membaca lagi episode ini hati rasanya sakit. Semoga perasaan ini juga sampai kepada teman-teman readers. Terima kasih ☺
__ADS_1
Mystorios_Writer 🌠🌠**