
Benarkah? Aku berpikir momen pernikahan itu tpenting baginya dan membiarkannya berlalu begitu saja. Tidak ku sangka dia bahkan memajang salah satu foto pernikahan kami, ucap Lyra dalam hati.
“ Kenapa memajang nya di sini? ” tanya Lyra masih sangat penasaran.
“ Ada apa? Kamu tidak suka? Aku memilih foto itu karena tidak memperlihatkan wajahmu. Aku ingin kamu tidak jadi sorotan para pencari berita. Oleh karena itu aku tidak menyebarkan foto pernikahan kita ”
“ Benarkah? Aku tidak menyangka Anda mengabadikan momen itu ” ujar Lyra sedikit terharu.
“ Tentu saja itu adalah momen yang tidak akan terulang lagi ” ucap Ares pasti.
“ Ma-maksudnya sejak awal Anda ingin mempertahankan pernikahan ini? ”
“ Seandainya hubungan kita tetap tidak membaik dapat aku pastikan aku tidak akan pernah menikahi wanita lain setelah menikah denganmu. Bagiku menikah itu sekali seumur hidup ” ungkap Ares.
“ Anda berpikir begitu walaupun saat itu Tuan menikahiku dengan terpaksa ”
“ Saat itu memang aku tidak mengenalmu dan juga terpaksa menikahimu, tapi walaupun begitu aku tidak berpikir untuk berpisah. Bagiku istriku hanya satu dan itu kamu ”
Lyra merasakan perasaan aneh yang menjalar di hatinya mendengar perkataan terang-terangan dari Ares. Dia benar bertanya benarkah pria akan selalu seperti ini? Dia akan terus menganggap Lyra sebagai satu-satunya wanita yang dia sebut istri.
“ Aku berpikir Tuan hanya menganggap pernikahan ini sebagai sebuah perjanjian saja ” tutur Lyra.
“ Aku berkata sejujurnya tidak sekalipun aku menganggap pernikahan ini hanya sebatas perjanjian ”
“ Tapi Anda membuat perjanjian itu ”
“ Karena saat itu aku butuh sesuatu untuk mengikatmu dan perlu kamu tahu tidak satupun di perjanjian itu tertulis aku akan menceraikanmu ” tegas Ares.
“ Tuan mengikatku dengan perjanjian itu, lalu saat Anda merasa perjanjian itu sudah tidak di butuhkan lagi. Karena secara terpaksa aku sudah terikat pada Tuan atas kehamilan ini ” ucap Lyra kecewa.
“ Tidak walaupun saat ini kamu tidak hamil, tapi aku nyakin ada yang lebih efektif daripada perjanjian atau kehamilan untuk membuatmu tetap terikat padaku ”
“ Apa? ” tanya Lyra cepat.
“ Perasaan, aku tahu kamu dan aku sudah terikat dengan satu perasaan. Walaupun terkadang aku takut dan meragukannya ”
Lyra menutup mulutnya tidak percaya dengan ucapan Ares, apa pria itu sedang membicarakan soal perasaan cinta atau Lyra yang salah mengartikan.
Ares melangkah mendekati Lyra.
“ Kemari aku akan katakan padamu ” ucapnya sembari membawa Lyra ke arah sofa. Setelah Ares duduk dia menarik Lyra hingga wanita itu terduduk di pangkuannya.
“ Tuan! ” kejut Lyra.
“ Sebentar saja, tetaplah seperti ini ” pinta Ares, tak punya pilihan Lyra tetap diam.
__ADS_1
“ Dengar, Ly. Surat perjanjian itu ada karena kita berada di situasi yang rumit, lalu begitu juga dengan keberadaan anak kita di perutmu ” Ares memegang perut Lyra.
“ Dia ada sebagai penghubung di antara kita. Tetapi lebih dari semua itu yang aku tahu kita sudah terikat. Aku terikat padamu ” Ares meraih tangan Lyra dan meletakkannya di dadanya.
“ Aku tidak tahu harus menyebutnya apa, tapi jantungku tidak bisa berhenti berdebar saat di dekatmu. Kamu dapat merasakannya ” Lyra seketika tersipu malu merasakan debaran jantung Ares di telapak tangannya.
“ Aku sangat gelisah dan kacau memikirkannya apakah kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku atau apakah ini juga terjadi padamu. Aku bertanya-tanya, Ly. Rasanya aku seperti kehilangan sesuatu di dalam diriku jika kamu jauh ” tutur Ares cepat.
Ares menyematkan kembali anak rambut Lyra ke telinganya.
“ Aku berharap setidaknya kamu dapat merasakan ketulusanku ” ucap Ares mengecup pucuk kepala Lyra.
Lyra merasa dadanya hampir meledak menerima semua pengakuan terang-terangan dari Ares.
“ Ly ”
“ I-iya ” jawab Lyra gugup.
“ Aku akan kembali bekerja ” ucap Ares.
Lyra dengan cepat mengangguk. Lalu Ares diam sesaat seakan menanti reaksi Lyra.
“ Ly, aku akan kembali bekerja ” ucap Ares lagi.
Lyra kembali mengangguk dengan malu-malu.
“ Benar ” ucap Lyra cepat dan segera berdiri dia meremas jemarinya.
Lalu Ares segera kembali duduk di depan meja kerjanya dan fokus pada berkas yang ada di sana.
Lyra terduduk lemas persendiannya serasa melemah.
“ Dia tidak menanyakan perasaanku? Bisa-bisanya setelah mengatakan itu dia kembali fokus pada pekerjaannya?! ” rutuk Lyra pelan dan tak terdengar oleh Ares.
Lyra mengipasi wajahnya yang terasa memanas dengan tangannya. Dia merasa kesal saat Ares sama sekali tidak ingin tahu perasaan Lyra dan kembali fokus bekerja.
“ Kamu merasa panas? Duduklah di kursi di sampingku ACnya akan lebih terasa ” ucap Ares yang berpikir Lyra sedang kepanasan.
“ Tidak mau ” tolak Lyra cepat. Lalu dia membaringkan dirinya di sofa itu hingga Ares tidak dapat melihatnya.
“ Haiiis jantung bodoh! Tenanglah kau tidak lihat betapa pria itu hanya pandai membual! Sia-sia aku terbawa perasaan tadi ” rutuk Lyra lagi sambil memegangi dadanya berusaha meredam detak jantungnya.
* * * *
Lyra keluar dari kamarnya pagi itu dan menemui Ares yang masih berada di meja makan menikmati sarapannya.
__ADS_1
“ Kamu sudah mandi. Kenapa tidak bersiap-siap? ” tanya Ares saat Lyra keluar tetap memakai kaos rumahannya.
“ Aku tidak akan pergi kemana-mana hari ini ” Lyra meraih roti yang di sediakan di sana.
“ Kenapa? Kita akan pergi ke kantorku ”
“ Aku tidak ikut. Aku akan tetap di sini lagian para pelayan juga sudah ada. Jadi aku tidak akan kebosanan lagi ” ucap Lyra.
“ Ikutlah ke kantor ” ucap Ares sedikit tegas.
“ Tidak mau, di sana aku juga merasa bosan hanya berada di ruangan Anda seharian ” sebenar Lyra berbohong walaupun hanya memandangi Ares bekerja sejujurnya dia tidak merasa bosan. Hanya saja dia malas jika Ares membahas masalah perasaan seperti kemarin.
“ Kalau bosan di ruanganku, kamu bisa berkeliling di sana ”
“ Tapi-
“ Sudahlah habiskan sarapanmu dan segera bersiap, kalau kamu tidak mau ganti baju juga tidak apa-apa ”
“ Ahh...baiklah aku akan ganti baju sebentar ” Lyra beranjak dari sana dan menuju kamarnya.
“ Sia-sia aku ucapkan alasan apa pun padanya. Akhirnya keputusannya tidak bisa di ubah ” sungut Lyra.
Begitu mereka tiba di kantor Ares, Lyra sudah minta izin agar dia bisa berkeliling di perusahaan itu supaya tidak bosan. Walaupun hanya sekadar alasan agar dia tidak perlu terlalu lama berdua dengan Ares.
Lyra berjalan menyusuri kantor itu dan karena dia cukup penasaran dengan kantin perusahaan dia memutuskan untuk pergi ke sana.
“ Aku tidak menyangka ada wanita yang sangat tidak tahu malu seperti itu. Bisa-bisanya dia terus menempel pada Tuan Ares ” ucap seorang wanita saat mereka berada di antrian. Sepertinya mereka tidak menyadari keberadaan Lyra di sana dan juga mendengar pembicaraan mereka.
“ Aku juga heran, benar-benar ****** yang tidak tahu diri bahkan menghambat pergerakan Tuan Ares seperti itu ”
Lyra serasa tertohok mendengar itu.
“ Kalau begitu aku juga ingin hamil agar bisa di nikahi Tuan Ares, tapi sayangnya aku tidak mau menjual tubuhku ” seorang wanita kembali melontarkan perkataan kasarnya.
Lyra merasa akan meledak saat itu juga hatinya sakit mendengarkan hinaan itu. Matanya serasa memanas menahan air matanya. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari kantin itu secepatnya dan kembali ke ruangan Ares. Dia tidak berniat membuat keributan di sana.
Saat memasuki ruangan Ares wajahnya sudah di penuhi air mata.
Ares yang melihat Lyra masuk dengan tergesa-gesa ke ruangannya segera menoleh dan melihat Lyra.
“ Lyra ada apa? ” tanya cepat menghampiri Lyra.
Bukan menjawab Lyra malah semakin terisak.
“ **Kata-kata itu ibaratkan sebuah pedang bermata dua ”-Anonim
__ADS_1
Mystorios_Writer 🔥🔥**