Menikah Dengan Tuan Ares

Menikah Dengan Tuan Ares
Mari Ikuti Permainanmu


__ADS_3

“ Tidak ku sangka masih ada yang mau bertamu..mengunjungi pria tua ini ” lirih pria itu lemah sesuai dengan usia dan penampilannya.


Ares dan Gavrill menatap tajam pria itu tak sekali pun mengendorkan pertahanan diri karena yang dihadapannya bukanlah pria tua yang patut untuk dikasihani.


“ Aku pikir kau sangat berniat untuk mendapatkan kunjungan dariku, walaupun aku tidak berharap memenuhi kunjungan itu ” ujar Ares membalas perkataan pria itu.


“ Karena sudah datang masuklah dulu ”


Ares melangkah pelan melalui pria itu.


“ Tunggu...siapa pria muda ini? ”


“ Gavrill..sebenarnya tidak perlu perkenalan diri ”


“ Hahahaha iya iya...tak di sangka sifat dingin yang sama. Masuklah ”


Gavrill masuk ke dalam rumah itu dengan sangat siaga.


Pria itu menutup pintu rumah itu sambil menyeringai jahat.


“ Selamat datang ” gumannya.


“ Wahh! Jack suasana didalam rumah ini begitu romantis sangat berbeda jika dilihat dari luar ” ucap Ares sembari mengelilingi ruangan itu dan menatap setiap foto yang terpajang di sana.


“ Romantis? Begitulah ” Jack tertawa kecil.


“ Sampai mana batas obsesi pria ini? Apa kegilaannya tidak ada batasnya? ” , batin Gavrill begitu melihat semua foto Ibu Ares yang terpajang di setiap sudut ruangan itu.


“ Kalau kau sudah mencintai Ibuku sejak lama mengapa tidak mengatakannya padanya? Atau kau hanya seorang pria yang tidak punya keberanian? ” Ares duduk berhadapan dengan Jack.


“ Aku mengenal Ratna sejak kami masih SMA, aku masih terlalu pemalu untuk mengatakan aku menyukainya saat itu.”


“ Bahkan sampai Ibuku menikah kau masih terlalu pemalu untuk mengungkapkannya ” cela Ares.


“ Ratna berada dibawah tipuan bajing*n itu....sungguh menyedihkan gadis sebaik dia harus menderita ”


“ Jika kau mencintainya seharusnya kau punya keberanian untuk menyelamatkannya, tapi semua tinggal penyesalan yang menjadi dendam tak beralasan ”


“ Bagaimana aku bisa mengatakan aku mencintainya saat dia selalu mendambakan bajing*n itu?! ” pekik Jack marah.


* * *


“ Nona ”

__ADS_1


Lyra terlonjak kaget mendengar panggilan itu.


“ Tara?! Kenapa kamu bisa ada di sini?! ” tanya Lyra tak percaya melihat keberadaan Tara, seharusnya gadis itu berada di panti. Bagaimana dia bisa masuk melewati semua penjaga yang ada di rumah itu?


“ Aku diberi perintah oleh Tuan Ares untuk datang menjaga Nona ” jawab Tara.


“ Benarkah? Harusnya itu tidak perlu disini juga sudah banyak pengawal kasihan anak-anak di tinggal ”


“ Tuan sepertinya takut Nona dalam bahaya, anak-anak panti di jaga oleh Feby. Aku akan berusaha menjaga Nona sesuai perintah Tuan ”


“ Apa keadaan memang seburuk itu? Ares sampai memberi perintah agar Tara menjagaku. Semoga semuanya baik-baik saja ” , batin Lyra.


* * *


Selama Ares berbicara dengan Jack, Gavrill tidak berhenti melakukan pengamatan dimana kiranya Adhisti disekap. Apakah benar sesuai dugaan Ares bahwa Adhisti pasti disekap dirumah ini atau di tempat lain.


“ Rumah ini sangat sederhana, tapi siapa yang bisa menduga andai saja setiap sudutnya di penuhi jebakan ”, Gavrill mengepal tangannya dia benar-benar tidak bisa tenang karena mereka sama sekali belum mengetahui keberadaan Adhisti.


“ Kenapa kamu sangat gelisah? ” tanya Jack pada Gavrill yang berdiri di belakang Ares.


Gavrill tertegun sejenak tidak menyangka pria itu ternyata memperhatikan gerak-geriknya.


“ Sebenarnya tidak ada yang bisa tenang jika berhadapan denganmu, langsung saja apa aku boleh tahu dimana kau menyekap adikku? ”


“ Aku sudah menunggu sejak tadi kapan kau akan menanyakan itu, apa kau nyakin adikmu masih hidup ini sudah hari ketiga bukan? ”


“ Aku rasa kau tidak akan terlalu terburu-buru sampai tidak menungguku ”


“ Hahahaha kau sangat mengenalku, aku selalu merasa kau cukup mahir hingga masih bisa duduk disini dengan tenang sementara aku menyandera adikmu. Jika orang lain pasti sudah menembak kepalaku ” ungkap Jack dengan tawa jahatnya.


“ Sejujurnya aku tidak cukup bodoh untuk tidak tahu julukanmu sebagai manusia tak bernyawa. Melawan dengan kekerasan sepertinya tidak cocok denganmu ”


“ Cukup pengertian..julukan itu hanya dilebih-lebihkan. Aku pasti mati jika ditembak langsung, tapi aku memang tidak punya cukup tenaga lagi untuk bertarung dengan fisik ”


“ Kalau begitu mari ikuti sesuai permainan mu, dimana Adhisti? ” Ares kembali menegaskan pertanyaannya.


“ Dia berada diruang bawah tanah, aku mengizinkan kalian mencarinya sesuka kalian. Tapi aku peringatkan tidak mudah untuk sampai disana ”


“ Peringatan yang bagus ” Ares memberi kode pada Gavrill, dengan cepat Gavrill melangkah mencari ruang bawah tanah yang di maksud pria itu. Dia melangkah dengan hati-hati mengingat perkataan Jack yang menegaskan bahwa pasti ada jebakan tak terduga di sana.


“ Kau tidak akan ikut mencari adikmu? ” tanya Jack pada Ares yang masih duduk tenang di hadapannya.


“ Ada pepatah yang mengatakan jika ingin selamat jangan pernah lupakan rajanya.” balas Ares.

__ADS_1


Jack menghisap cerutunya dalam menatap sinis ke arah Ares.


Gavrill mengacak rambutnya dia mulai merasa frustasi setelah menelusuri setiap sudut rumah itu, tapi tidak satupun ada jalan atau celah yang menunjukkan jalan ke ruang bawah tanah rumah itu. Atau tepatnya pintu masuk ruang bawah tanah itu tidak terlihat sama sekali.


Gavrill memutar otaknya mencoba mengingat-ingat kembali ruangan mana yang mungkin merupakan jalan menuju ruang bawah tanah.


“ Hanya ada 2 kamar kosong lalu lorong rumah. Jika tombol tersembunyi ada di lorong aku pasti sudah menemukannya sejak tadi. Berarti kemungkinan jalannya ada di antara kedua kamar itu ” Gavrill segera berjalan perlahan memasuki kamar yang sebelumnya dia datangi.


Gavrill mengetuk satu persatu ubin lantai kamar itu mencoba mencari yang mana kira-kira yang nampak kosong itu berarti jalan menuju ruang bawah tanah.


“ Tidak ada satu pun, apa mungkin ada di dinding? ” Gavrill menelusuri setiap sudut dinding kamar itu, matanya tertuju pada sebuah susunan warna yang berbeda dari warna dinding lainnya.


“ Ini terkesan terlalu mencolok untuk sebuah tombol rahasia ” dengan ragu Gavrill menekan dinding itu, dan benar itu sebuah tombol.


Seketika tombol itu ditekan, dinding kamar itu berderit.


“ Sialan!! ” pekik Gavrill, beruntung dengan cepat dia tiarap karena dengan cepat dari dinding kamar terlempar pisau.


Gavrill masih tiarap dan berusaha tidak bergerak selama puluhan pisau itu satu persatu menancap di dinding.


“ Apa dia gila?! Kalau saja aku tidak segera tiarap tadi. Bisa mati aku! ” napas Gavrill memburu, setelah memastikan tidak ada lagi pisau yang akan meluncur ke arahnya, dia pun bangkit berdiri.


“ Ini yang pertama, mari kita lihat yang lainnya ” ucapnya sambil mencabut satu pisau yang ada di dinding membawanya sebagai persenjataan.


“ Hahahahaha ” Jack tertawa karena keributan itu jelas terdengar.


“ Aku rasa kau harus menyusulnya, dia mungkin sudah terkapar di sana ”


Ares mengepal tangannya kuat, tubuhnya menegang mendengar semua keributan itu.


“ Dia tidak akan berakhir semudah itu ” ujar Ares dengan tenang.


“ Kau memilih percaya bahwa dia selamat. Tapi sampai berapa lama kau akan tahan tetap duduk di sini berharap sementara dia sudah mati dan tidak akan pernah sampai di ruang bawah tanah itu ” ledek Jack.


“ Aku tahu Gavrill pasti bisa melalui itu. Aku percaya padanya. Aku tidak akan lengah sampai meninggalkanmu disini. Lalu kau bisa mengakhiri kami semua di rumah ini. Tidak akan! Semua tidak akan sesuai rencanamu! ”, ucap Ares dalam hati.


“**Kamu tidak akan pernah menjadi pecundang sampai kamu berhenti mencoba." - Mike Ditka


Mampir juga ke novel baru Author 🥰🥰


Mystorios_Writer 🍏🍏**


a

__ADS_1



__ADS_2