
“ A-aku akan melahirkannya ”
“ Hah?! ” Shera tercengang mendengar ucapan Lyra.
“ Aku memutuskan tidak akan menggugurkan kandunganku ” ulang Lyra lagi.
“ Benarkah? Oh! untunglah Lyra aku benar-benar senang mendengarnya, kau tahu itu keputusan yang tepat ” seru Shera bahagia.
“ Terima kasih karena menolongku disaat yang tepat ”
“ Tentu saja, aku harap kau selalu dalam keadaan sehat ”
Lyra membalas dengan anggukan.
“ Apa kau masih merasa sakit? ” tanya Shera
“ Masih tapi tidak separah tadi, sekarang hanya sedikit kram saja ”
“ Kau harus menjaga kesehatanmu ”
“ Baiklah, tapi Shera kenapa kau tidak memberitahuku dari awal bahwa kau adalah Lusy? ”
“ Maaf sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakannya padamu, tapi kau sangat sulit didekati aku tidak punya keberanian untuk membahas hal itu denganmu ”
“ Tidak apa-apa, apa yang terjadi padamu setelah kau diadopsi? aku sangat ingin bertemu denganmu tapi semenjak adopsi kau tidak ada kabar ”
“ Orang tua angkatku baik, mereka adalah keluarga konglomerat jadi mudah bagi mereka untuk menutupi berita tentang keberadaanku. Semuanya baik-baik saja mereka juga sangat menyayangiku tapi setelah kelahiran anak kandung mereka, semuanya berubah. ”
“ Apa yang terjadi? ”
“ Hmmm mungkin ini dapat disebut sebagai peristiwa biasa, dimana saat sudah ada anak kandung, tentunya anak pungut akan tersingkir. Perhatian dan rasa sayang mereka berubah drastis. ”
“ kau pasti sangat kesulitan ”
“ Itu benar, ada saat dimana saat itu aku diperlakukan seperti ratu, lalu tiba-tiba diabaikan begitu saja. Mungkin karena hal itu aku seperti ini, karena ingin orang tuaku kembali memperhatikanku aku sering berulah, dan terjerumus ke dalam kesalahan itu. ” ucap Shera sendu.
“ Aku sangat menyayangi mereka, tapi aku juga tahu diri, aku yang adalah anak angkat malah mencoreng kehormatan keluarga. Jadi aku tidak terlalu mempermasalahkan saat mereka mengusirku. ” lanjut Shera
“ Tapi saat itu pasti berat untukmu ”
“ Keluargaku menolakku lalu mendapatkan penolakan dari lelaki itu. Benar-benar menyakitkan, sehingga aku melakukan tindakan bodoh. ”
“ Aku turut prihatin ” balas Lyra
“ Tidak perlu, mau bagaimana lagi aku yang bodoh. Tapi tidak sepenuhnya buruk, aku tidak perlu kesulitan menjalani apapun karena nama orang tua angkatku. ”
“ Maksudnya? ”
“ Ya orang-orang masih berpikir bahwa aku adalah anak tersayang mereka, sehingga mereka memperlakukan aku sama seperti golongan atas. Aku tidak pernah kesulitan untuk mencari pekerjaan atau pergi ke mana pun. Jadi aku dapat melanjutkan hidup. ”
“ Aku akan membenarkan ucapanmu ” ucap Lyra kembali terbayang bagaimana pengaruh kekuasan Ares di hidupnya.
Pintu ruangan terbuka, menampakkan sosok Eslin.
“ Kau sudah selesai dengan pasienmu? ” tanya Shera
“ Ya aku hanya memantau sedikit, kau mulai baikan? ”
“ Sudah lumayan ” jawab Lyra karena tahu pertanyaan itu ditujukan untuknya.
“ Apa aku sudah boleh pulang? ”
__ADS_1
“ Astaga, tentu saja tidak. Kau setidaknya harus di rawat inap ”
“ Ta-tapi aku tidak bisa menginap ”
“ Kenapa Lyra? ” tanya Shera
“ A-aku tidak ingin suamiku tahu ”
“ Kau masih berpikir untuk menggugurkan kandungan mu? ” sekarang giliran Eslin yang bertanya.
“ Tidak, hanya saja ada baiknya suamiku tidak tahu dulu, bisakah aku di rawat di rumah saja? ”
“ Aku senang mendengar kau tidak berpikir untuk mengaborsi, tapi itu masalah pribadimu dengan suamimu aku tidak bisa memaksakan. Kau boleh pulang tapi tunggulah kantong infus ini habis, baru kau pulang ”
“ Baiklah terima kasih ”
“ Ingat jaga kondisimu pendarahan bisa terjadi lagi, lebih parahnya kau bisa benar-benar keguguran. Jadi jangan terlalu kelelahan dan banyak pikiran. ”
Lyra mengganguk.
* * *
Sekarang Lyra berada di pekarangan apartemennya, dia baru saja turun dari taksi. Di taksi itu juga ada Shera, dia memaksakan harus mengantarkan Lyra sampai ke apartemen.
“ Terima kasih sudah mengantarku ”
“ Tidak perlu sungkan, jaga dirimu kalau ada apa-apa kau bisa menghubungiku ” balas Shera. Lalu dia pergi dengan taksi itu.
Lyra berjalan perlahan menuju apartemennya, sesampainya di sana dia segera membersihkan diri sebelum terlalu malam.
Aku sudah memutuskan, maka aku akan menjalaninya. Tidak peduli berapa sulit nantinya itu aku harap kau juga dapat bertahan bersamaku, batin Lyra.
* * *
Hari ini adalah akhir pekan, jadi Lyra memutuskan pergi ke sebuah supermarket untuk membeli kebutuhannya. Beberapa hari terakhir dia seperti terobsesi dengan buah anggur dan selalu ingin mengkonsumsi buah itu.
Lyra berjalan cepat menuju estalanse buah, dilihatnya lemari pendingin yang jelas memajang berbagai jenis anggur, lama dia berdiri memandangi setiap buah anggur itu.
“ Anda bisa mengambil anggur Kyoho ini Nona, rasanya manis dan asam yang khas ” ucap seseorang tiba-tiba tepat di sebelah Lyra.
Merasa ketenangannya terganggu Lyra mengambil satu persatu setiap jenis anggur di sana tanpa menoleh pada orang yang berbicara padanya.
“ Terima kasih atas sarannya ” ucapnya sembari berlalu pergi.
Pria itu tercengang melihat tindakan Lyra itu, dia pun berlari kecil menyusul Lyra.
“ Kenapa berdiri lama di sana? kalau ternyata Anda memutuskan untuk mengambil semua ”
Lyra lalu menghentikan langkahnya, dan berbalik menghadap orang itu.
“ Anda?! Anda pria yang waktu itukan? ” tanya Lyra kaget ternyata orang itu adalah pria yang membantunya di hotel saat itu.
“ Ternyata Anda masih ingat. Iya itu saya. Perkenalkan namaku Aslan. ” ucap pria itu sambil menyodorkan tangannya.
Dengan enggan Lyra membalas
“ Lyra ” balasnya singkat.
“ kau belum menjawab pertanyaanku tadi ”
“ Oh?! itu karena saya suka melihat jajaran buah anggur itu saja, oleh karena itu saya berdiri lama di sana. ”
__ADS_1
“ Benarkah? lalu buah anggur sebanyak ini untuk apa? ”
“ Di makan ”
Aslan kembali tercengang mendengar perkataan Lyra, Siapa yang akan menghabiskan buah anggur sebanyak itu.
“ Sebelumnya terima kasih untuk waktu itu, Anda sudah membantuku. Dan maaf sepertinya aku tidak bisa mengembalikan kemeja Anda ”
“ Tidak masalah, untuk kemejanya tidak perlu dipikirkan ”
“ Baiklah kalau begitu saya akan pergi ”
Lyra lalu menggerakkan trolinya menuju kasir, dan membayar belanjaannya. Aslan menatap kepergian Lyra.
Aku berharap bisa bertemu dengannya lagi, pikir Aslan.
* * *
Keesokan harinya Lyra bersiap-siap akan pergi kuliah, selama ini Lyra tidak pernah mengalami morning sickness. Jadi kehamilannya tidak pernah menghambat kegiatannya, terkadang saja moodnya naik turun tak menentu.
“ Shera ” sapa Lyra begitu dia tiba dikelasnya, semenjak hari itu hubungannya dengan Shera menjadi dekat.
“ Baguslah kau datang, kau sudah dengar bahwa dosen akan mengadakan kuis hari ini ”
“ Benarkah? aku harap setidaknya bisa menjawab satu pertanyaan saja ”
“ Aku juga berpikir begitu ” ucap Shera tersenyum.
“ Ly-Lyra ” pangil Adhisti ragu-ragu.
Lyra dan Shera sontak menoleh ke arah Adhisti.
“ Ada apa? ” balas Lyra juga akhirnya dia selalu berusaha menghindari Adhisti tapi gadis itu sudah berapa kali berusaha bicara dengannya tapi tidak pernah di tanggapi oleh Lyra.
“ Kau baik-baik saja? ” tanya Adhisti.
“ A-aku baik ” jawab Lyra.
“ Baguslah ”
Adhisti lalu pergi dan duduk di kursi yang agak jauh dari Lyra dan Shera.
Seluruh mata kuliah Lyra akhirnya selesai, dia berjalan keluar dari gerbang kampus itu menuju halte.
Setelah sampai di halte Lyra duduk menunggu di sana.
* * *
Dari kejauhan Ares memandang Lyra yang duduk di halte itu. Pagi tadi dia sudah kembali dari Singapura, hingga siang ini dia memutuskan untuk menemui Lyra. Tapi tidak sesuai perkiraannya dia tidak sanggup menemui Lyra.
“ Bagaimana dalam waktu sebulan ini dia jadi kurus begitu ” guman Ares ketika dilihatnya Lyra.
Bus berhenti di halte itu, dapat Ares lihat Lyra sudah naik ke sana. Setelah kepergian Lyra dia melajukan mobilnya kembali ke kantor.
“ Tuan Anda dari mana saja? Aku sudah menelpon ” ucap Gavrill begitu melihat bosnya itu masuk ke ruangannya.
“ Mungkin aku tidak mendengar hpku bunyi tadi ” jawab Ares lalu dia duduk di kursi itu dan memijit pelipisnya.
Nampaknya suasana hati Tuan tidak baik saat ini, batin Gavrill.
"**Sejak pertemuan pertama, aku sudah tertarik padamu. Apakah kau juga merasakan hal itu?"-Anonim
__ADS_1
Mystorios_Writer 💮**