
Ares menatap Jack yang masih fokus membaca buku harian itu.
“ Lupakan itu!! Keluar dari sini! Kau mau mati!! ” Ares menarik tangan Jack untuk beranjak dari sofa itu.
Jack menepis tangan Ares tanpa mempedulikan perkataan Ares sama sekali.
“ Kau benar-benar mau mati!! ”
Ares tidak punya pilihan lain dia juga tidak berniat mati terbakar di dalam rumah itu. Ares berusaha keluar dari rumah itu melewati api yang berkobar dan juga bagian atap rumah yang mulai berjatuhan.
“ Ratna...” lirih Jack bergetar, dia menangis membaca setiap kata yang tertulis di sana.
*Hi...
Hari ini aku menunggu sahabat terbaikku, Jack. Rasanya aku sangat membutuhkannya keadaanku semakin hari semakin buruk.
Tapi sepertinya Jack tidak akan datang...
Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku terlalu mencintai suamiku sampai-sampai aku menjadi seperti ini.
Tadi Ares datang mengajakku untuk masuk ke dalam rumah. Bisa-bisanya aku sama sekali tak mengenali anak itu. Semua ingatanku tentang Ares menghilang saat itu juga. Saat aku tersadar Ares sudah menangis.
Aku merasa sangat buruk sepertinya kesehatan ku benar-benar sudah memburuk. Aku melupakan anakku sendiri. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Jika aku masih memiliki kesempatan aku ingin meminta bantuan Jack.
Jack jika suatu waktu aku benar-benar sudah melupakan segalanya bisakah aku menitipkan kedua anakku padamu. Aku percaya kamu adalah orang yang tepat untuk merawat mereka.
Aku titipkan Ares dan Adhisti padamu*...
( ***Isi buku harian Ratna***)
Jack memeluk buku itu menangis sejadi-jadinya.
“ Ratna...kamu mempercayai aku untuk merawat mereka...ta-tapi yang aku lakukan selalu berniat membunuh mereka ”
“ Bagaimana aku bisa menemuimu? A-aku membuat mereka menderita...”
* * *
Ares meringis kesakitan saat sebuah reruntuhan yang terbakar tiba-tiba terjatuh ke lengannya. Dia berusaha melanjutkan langkahnya dengan terseok-seok, Ares kesulitan bernapas di panasnya kobaran api dan juga asap.
“ Aku mohon aku harus selamat keluar dari sini ” pinta Ares.
Dia menyingkirkan tiang rumah yang telah tumbang karena terbakar dan menghalangi jalan. Saat Ares mulai berhasil menggeser tiang itu tiba-tiba reruntuhan atap jatuh.
Ares melotot tak percaya runtuhan itu terjatuh begitu cepat dan....
“ Huftt...huftt...” napas Ares tersengal matanya terbuka lebar menyadari dia masih bernyawa.
“ Ke-kenapa kau melakukan itu? ” Ares tak percaya yang menyelamatkannya dari runtuhan itu adalah Jack.
Ares tercengang melihat punggung Jack yang tertimpa runtuhan yang masih menyala itu.
“ Pegang tanganku aku akan membantumu berdiri!! ”
__ADS_1
“ Tinggalkan aku, pergilah secepatnya dari sini selamatkan dirimu ” balas Jack tersenyum menatap Ares.
Ares tak mengerti apa yang terjadi dengan pria itu.
“ Pergilah....aku tidak pantas mengatakan ini, tapi aku minta maaf untuk segalanya. Kau benar aku hanyalah seorang pecundang yang hanya bisa menonton Ratna menderita. Tidak sama sekali berusaha membantunya ”
“ Bicarakan itu lain kali!! Ayo pergi dari sini!! ” pekik Ares dengan mata memerah.
“ Ratna ternyata selama ini mengharapkan kehadiranku...aku memang bodoh, dia mempercayakan aku untuk menjaga kalian. Tapi aku malah berniat menghabisi kalian. Jadi tolong untuk kali ini pergilah dari sini dengan selamat ”
“ Ikut denganku kita keluar bersama!! ” Ares menarik Jack sampai dia berdiri.
Jack tersenyum penuh arti padanya dan dengan kekuatan penuh mendorong Ares menjauh dari sana, dan sesaat kemudian runtuhan lain jatuh di sana tepat menimpa Jack.
“ Tidak!!! ” teriak Ares.
“ Pe-pergilah tidak perlu merasa menyesal...aku memang pantas mati..aku biadab yang telah merebut semuanya darimu. Maafkan aku...Pergilah ”
Ares tidak punya pilihan lain selain meninggalkan Jack karena mereka dipisahkan jarak dan juga kobaran api.
“ Terima kasih telah menyelamatkanku tadi ” ucap Ares lalu berlari dari sana.
Jack tersenyum senang melihat kepergian Ares.
Ares menarik napas panjang ketika dia berhasil keluar dari rumah itu.
“ Apa yang mau kau lakukan?! ” Ares mencegat tangan Tara cepat begitu dia ingin memasuki rumah itu.
“ Maaf Tuan...aku bersalah, walaupun terlambat tapi aku membawa Nona Lyra dengan selamat. Maaf dan terima kasih untuk semuanya ” ucap Tara dengan air mata yang terus mengalir, dia berusaha melepaskan genggaman Ares.
“ Jangan bodoh kenapa kau ingin masuk ke sana?! ”
“ Tara!! ”
“ Hei!! Tara!! ” teriak Ares memanggil Tara.
“ Aku tidak bisa membiarkan dia menderita sendirian disana...dialah satu-satunya keluarga yang aku miliki. Hanya dia yang ada untukku selama ini. Aku mencintainya..walaupun semua orang akan menganggap itu gila..begitu juga dia tapi aku sangat mencintainya...sangat ”, batin Tara kuat sembari menerjang kobaran api yang membakar kulitnya, tidak sekali pun dia berhenti.
“ Jack!!! Jack!! Kau dimana!! Jack!! ” panggil Tara kuat.
Jack bergerak lemah hampir seluruh kakinya telah tertimpa reruntuhan.
“ Jack!! Jack!!! ”
Jack tersadar mendengar suara yang memanggilnya.
“ Gadis bodoh itu...” lirihnya pilu.
“ Jack!!! ” seru Tara dan segera menghampiri Jack.
“ Keluar dari sini...mengapa kau? Keluarlah kau masih punya waktu yang panjang ”
Tara menggeleng cepat, dia mengangkat tubuh lemah Jack dan mendekapnya.
“ Aku tidak akan meninggalkanmu ”
__ADS_1
“ Keluarlah...kau bisa memulai hidup yang baru tanpa harus terkekang dengan perintahku lagi ”
“ Diamlah...jangan memerintahkan aku untuk pergi. Karena aku tidak akan pergi dari sini. Tidak akan pernah ”
Jack terdiam tak bisa berkata apa-apa, perlahan air matanya jatuh sama seperti gadis yang sedang mendekapnya.
“ Kau memang bodoh...” lirihnya.
“ Semua orang bisa memandangmu sebagai monster, tapi bagiku kau tetaplah malaikat satu-satunya yang mau merawat dan menemani aku. Aku sangat mencintaimu...kau adalah hidupku...” Tara mendekap dan mengecup pucuk kepala Jack di sela tangisannya.
“ Bagaimana kau bisa memiliki perasaan seperti itu padaku? Sedangkan kau..tahu-
“ Cukup tidak perlu bicara lagi...jika dikehidupan ini kau dan aku tidak bersatu...a-aku harap ada kehidupan lain dimana semua keadaan berubah dan kita bisa bersama. Hanya itu doaku ”
Jack tersenyum, dia membalas pelukan gadis itu.
“ Peluk aku agar tidak terlalu panas ” ucapnya.
Tara mengeratkan pelukannya.
“ Kita harus berakhir seperti ini...tapi rasanya sangat nyaman saat bersamamu ”, batin Tara.
* * *
Air mata Ares bercucuran sepanjang dia berjalan, dia tidak tahu harus bagaimana hatinya sangat senang ketika Tara mengatakan Lyra baik-baik saja. Tapi hatinya pilu mengetahui nasib Jack dan Tara, bagaimana gadis itu mencari kematiannya sendiri.
“ Lyra...” lirih Ares dari jauh saat melihat Lyra.
“ Mas!! Mas Ares!! ” panggil Lyra tak sabaran melihat pria yang berjalan mendekat ke arahnya.
“ Kakak!! Astaga kakak...kakak ” Adhisti menangis terharu melihat Ares selamat.
“ Aku merindukanmu ” ucap Ares begitu dia memeluk Lyra.
Lyra menangis dalam pelukan Ares.
“ Mas...Tara gadis itu pergi..dia berlari ke dalam rumah ” isak Lyra.
“ Aku tahu...tapi aku juga tidak bisa mencegahnya ” balas Ares, dia juga cukup menyesali hal itu.
Sesaat tempat itu segera ramai oleh mobil polisi dan beberapa mobil pemadam kebakaran. Setelah berhasil keluar Gavrill segera menelpon polisi dan pemadam kebakaran itu.
“ Hufftt..” Adhisti menjatuhkan terduduk lemah dirinya di hamparan rumput itu, dia akhirnya bisa bernapas lega setelah sebelumnya dipenuhi rasa khawatir.
Gavrill menatap Adhisti, dia tahu tubuh Adhisti pasti sangat lemah. Dia telah disekap selama tiga hari. Tapi dia memilih membiarkan Adhisti lebih tenang.
“ Awww!! ” ringis Lyra kuat memegangi perutnya.
“ Ada apa?! ” tanya Ares panik.
Adhisti dan Gavrill juga seketika terkejut dan panik.
“ Mas..aww..pe-perutku sakit sekali ” rintih Lyra.
"**Sukses adalah kemampuan untuk melangkah dari kegagalan tanpa hilang antusiasme." –Sir Winston Churchill.
__ADS_1
Mampir ke novel yang satu lagi ya 😄
Mystorios_Writer🧊🧊**