Menikah Dengan Tuan Ares

Menikah Dengan Tuan Ares
Peluk Aku


__ADS_3

“ Kalau begitu ayo berkencan. Setelah kamu sembuh ayo kita pergi kencan ” tutur Ares tenang.


“ Aku mau istirahat ” balas Lyra berusaha tak menghiraukan ucapan Ares.


Lyra memejamkan matanya tenang karena dia mulai sedikit mengantuk yang kemungkinan efek obatnya.


“ Baiklah istirahatlah dan lekas sembuh ” Ares mencium lembut kening Lyra.


Lyra yang awalnya menutup matanya sontak melotot kaget dengan aksi Ares.


“ Tutup matamu ” Suara baritton Ares terdengar tepat di wajahnya.


Tak dapat berkata-kata anehnya Lyra segera menutup matanya sesuai perintah Ares.


Walaupun awalnya Lyra tidak bisa tidur dan masih sedikit tegang. Lambat laun napasnya mulai teratur dan dia tertidur lelap.


Ares mengambil ponselnya lalu memfoto Lyra yang sedang tidur.


“ Manis sekali ” gumannya tersenyum.


* * *


“ Tenanglah dulu! Kalo kau tidak bisa tenang kakak tidak izinkan masuk! ” tegas Ares pada Adhisti.


Saat itu mereka sedang berada di luar depan ruang rawat Lyra.


“ Hmm...hiks.. hiks..a-aku sudah-


“ Belum kalau kamu menangis begini Lyra bisa ikut sedih, Dokter bilang itu tidak baik untuknya ” Ares mencegah Adhisti masuk karena dia terus menangis.


Setelah dia kembali dari luar kota dan mendengar Lyra masuk rumah sakit. Adhisti sudah menangis sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.


Adhisti menarik napasnya berulang kali.


“ Aku tidak menangis lagi ” ucapnya dengan suara parau.


“ Keringkan wajahmu, matamu bahkan sampai memerah seperti itu ” Ares memberikan sapu tangannya pada Adhisti.


“ Ingat jangan menangis lagi! ”


“ Iya, Kak ” jawab Adhisti cepat setelah Ares memberi peringatan itu.


Lalu Ares membuka pintu dan masuk bersama Adhisti.


“ Adhisti? Kamu sudah pulang? ” tanya Lyra lalu meletakkan ponselnya karena sebelumnya dia sedang memainkan ponselnya.


Adhisti mendekat cepat ke arah Lyra.


“ Iya, kamu sudah baikan? Apa masih sakit? ” Ucap Adhisti dengan sendu.


“ Aku sudah lebih baik. Dokter bilang aku hanya perlu istirahat ekstra ”


“ Ba-baguslah ” Adhisti terbata-bata karena dia mulai kembali terisak. Dia menutupi wajahnya dengan tangannya dan menangis.


“ Astaga mulai lagi ” rutuk Ares karena Adhisti tidak mendengarkan perkataannya.


“ Isti jangan menangis aku baik-baik saja ” Lyra menarik lengan Adhisti mendudukkannya di sisi ranjang.


“ Berhenti menangis ya, aku jadi ikut sedih melihatmu seperti ini. Maaf aku membuatmu khawatir ” ucap Lyra memeluk Adhisti dan mengusap lembut punggungnya.


Adhisti menggelengkan pelan.


“ Isti bukankah sudah Kakak bilang tadi berhenti menangis. Kamu membuat Lyra ikut sedih ” ucap Ares marah.


“ Sudah jangan memarahinya ” tegur Lyra. Dia terus memeluk Adhisti, berbisik padanya agar tenang dan jangan menangis lagi.

__ADS_1


Perlahan Adhisti melepaskan pelukan Lyra setelah dia lebih tenang.


“ Minum dulu kamu pasti kelelahan ” Lyra memberikan segelas air pada Adhisti. Dan Adhisti segera meminumnya.


“ Kamu jadi jelek sekali. Matamu bengkak ” goda Lyra tertawa jahil sambil membersihkan wajah Adhisti dengan tisu.


“ Maaf aku cengeng sekali. Kakak tadi sudah memperingatkanku. Tapi aku tetap saja menangis ” ucap Adhisti parau.


“ Kamu tidak cengeng, ya sudah jangan menangis lagi ”


Adhisti mengangguk pelan.


Ares geleng-geleng kepala melihat tingkah dua wanita itu. Menurutnya mereka berdua terlalu sensitif.


“ Bagaimana perjalananmu? Apa liburannya menyenangkan? ” tanya Lyra begitu Adhisti sudah cukup tenang.


“ Iya itu sangat menyenangkan. Aku bertemu banyak teman yang menyenangkan di sana. Lain kali ayo pergi bersama ” cerita Adhisti.


“ Oke kita akan pergi kalau ada kesempatan ”


“ Oh ya, Ly. Tadi Shera menitip salam untukmu. Dia mengatakan cepat sembuh. Dia tidak bisa datang karena ada urusan. ”


“ Baiklah bilang terima kasih padanya. Aku juga akan menelponnya nanti memberitahu bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan ” tutur Lyra.


Adhisti memeluk Lyra lagi.


“ Cepatlah sembuh...” ucapnya manja.


“ Iya ” jawab Lyra balas memeluk Adhisti.


“ Kalau begitu aku rasa sudah cukup bersua rindunya ” ucap Ares.


“ Kakak!! ” rutuk Adhisti.


“ Oh Ya ampun. Benar Gavrill! Astaga aku lupa. Lyra sepertinya aku harus pergi ” pamit Adhisti heboh.


“ Iya pergilah Gavrill pasti sudah lama menunggu ”


“ Hmmm....kalau begitu aku pergi ” Adhisti meraih tasnya, setelah melambai kepada Lyra. Dengan sedikit berlari dia segera pergi menemui Gavrill.


“ Ma-maaf...maaf Gav. Aku lama..sekali ” napas Adhisti tersengal-sengal karena berlari.


“ Tentu saja Nona Anda lambat sekali. Hampir saja aku mengering di sini. Entah apa sebenarnya posisiku sekretaris atau ternyata supir ” sungut Gavrill.


“ Maaf, kita bisa pergi sekarang ”


“ Hemm ” Gavrill menjawab dengan berdehem.


Lalu membukakan pintu mobil untuk Adhisti, setelah Adhisti masuk baru kemudian dia duduk di kursi kemudi.


“ Nona pakai seatbelt Anda ” pinta Gavrill.


Adhisti berusaha memasang seatbelt nya tapi tak berhasil.


“ Tasnya di letakkan dulu. Terlebih kuku Anda terlalu panjang makanya jadi kesusahan ” celoteh Gavrill sambil memasangkan seatbelt Adhisti.


“ I-ini nail art kamu saja yang tidak mengerti ” Adhisti menahan napas karena wajah Gavrill begitu dekat dengan wajahnya.


“ Terima kasih ” ucapnya gugup setelah Gavrill telah selesai memasang seatbelt itu dan kembali ke posisinya.


“ Anda habis menangis? ”


“ Hah?! Dari mana kamu tahu? ”


“ Mata sebengkak itu dan hidung berair siapa yang tidak bisa menebaknya. Nona nampak kacau ” tawa Gavrill mengejek.

__ADS_1


“ Awas ya kamu! Malah mengejek seperti itu ” Cepat-cepat Adhisti mengambil cermin kecil di tasnya.


“ Astaga!! Tidak mungkin aku pergi dengan wajah seperti ini!! ” rutuknya kesal setelah melihat pantulan dirinya di cermin.


Gavrill hanya tertawa bahagia mendengar itu.


* * *


Lyra berubah siaga begitu Ares duduk di sisi ranjang, menghadap padanya.


“ Ada apa? ” tanyanya gugup.


“ Kemarilah ” jawab Ares melebarkan tangannya.


“ Anda sedang apa? ”


“ Ayo kemari ”


“ Apa ini? Anda sedang menakut-nakuti aku ”


Ares menurunkan tangannya lemas.


“ Aku mengajakmu berpelukan ” desah Ares.


“ Ya?! Anda semakin aneh saja, aku sampai merinding ” Lyra bergidik ngeri.


“ Aneh? Kamu memeluk Adhisti saat dia sedih. Aku juga mau pelukan ”


Lyra menggelengkan kepalanya cepat menolak permintaan Ares.


“ Kenapa? Aku juga sedih, Ly. Di sini sakit sekali ” Ares memegangi dadanya seperti sedang kesakitan.


“ Beri aku pelukan ” ucapnya manja.


Lyra semakin merinding mendengar nada suara Ares yang seperti itu. Ares tidak pernah seperti ini sebelumnya.


“ Anda mabuk? Salah minum obat? Atau apa? ” Lyra mengendus aroma tubuh Ares untuk memastikan, lalu memegang dahi Ares dengan telapak tangannya.


“ Tidak bau alkohol, suhu tubuh Anda juga normal. Apa Tuan memakan sesuatu tadi? ” tanyanya cepat.


“ Aku baik-baik saja, aku bilang aku mau pelukan seperti Adhisti ” ucap Ares lagi.


“ iiii....Anda pasti sedang bermasalah ” Lyra semakin merasa geli.


“ Ayo, Ly. Satu pelukan saja. Kamu bisa memeluk Adhisti kenapa aku tidak bisa? ”


Lyra tercengang mendengar itu.


“ Tapi Anda dan Adhisti itu berbeda ” tolak Lyra.


“ Berbeda kenapa? Seharusnya aku yang lebih berhak mendapat pelukan dari pada Adhisti. ”


“ Ohh astaga. Aku tidak paham mengapa Anda seperti ini ” Lyra memegangi dahinya.


“ Aku hanya mau pelukanmu ” Dengan cepat Ares menarik Lyra ke arahnya memeluk gadis itu.


Lyra menegang dia menyanggakan tangannya di depan dada untuk menciptakan jarak dengan pria itu.


Ares menarik tangan Lyra dari dadanya, meletakkan tangan itu di pinggangnya.


“ Peluk aku ” pintanya dengan kepala yang menelusup ke leher Lyra.


"**Mau berkelana denganku? Menelusuri semesta, mencari rupa bahagia atau mencari pulang yang hilang pada waktu kita, berdua."-Anonim.


Mystorios_Writer☕☕**

__ADS_1


__ADS_2