
“ Euggg... hmm.. ” Lyra berusaha sekuat mungkin untuk membuat suara yang mungkin dapat di dengar oleh seseorang yang mencarinya.
Tapi itu seakan sia-sia, mulutnya di ikat kuat dengan sebuah kain, begitu juga tangan dan kakinya yang terikat pada sebuah kursi.
Semenjak dia tersadar setelah pingsan, dia sudah dalam posisi itu. Saat di halte tiba-tiba pria yang duduk di kursi itu menarik tangannya kasar, dan ketika dia ingin menjauh. Satu pukulan keras mengenai belakang lehernya yang membuat kesadarannya hilang.
Saat ini dia di tinggal sendiri oleh para pria itu, setelah dia berbicara di telpon tadi. Sesuai tebakannya itu Aslan.
Tuan tolong aku... apa kalian tidak mencariku. Aku takut mengapa tidak ada yang datang mencariku?, ucap Lyra dalam hati, dia benar-benar mulai putus asa, sudah cukup lama dia terikat di sini, seluruh badannya sakit, dan juga dia kelaparan dan kehausan. Para penculik itu benar-benar menyiksanya dia tidak diberi makan maupun minum.
Bahkan mulutnya terasa kering sangking hausnya, tapi bajunya basah kuyup setelah di siram dengan kasar oleh seorang pria tadi untuk menyadarkan Lyra yang lemas.
* * *
“ Tuan nomor teleponnya sudah terlacak! ” seru Gavrill seakan mengajak Ares untuk ikut melihat lokasi yang telah di temukan.
Dengan cepat Ares mendekat ke arah Gavrill.
“ Segera berangkat ke sana, bahwa sebanyak mungkin orang kita. Tapi usahakan gerakan kita tak terbaca oleh para penculik itu ” perintah Ares.
Tanpa menjawab Gavrill melakukan semua perintah Ares, dia juga memberitahukan hal itu pada Aslan setidaknya mereka dapat saling memberi kabar terbaru.
“ Kakak! ” tiba-tiba ada suara yang memanggil Ares.
“ Adhisti! Mengapa kau ada di sini? ” tanya Ares terkejut melihat keberadaan Adhisti di sana.
“ Aku juga ingin tahu apa yang terjadi pada Lyra kak. Apa dia sudah di temukan? ” ucap Adhisti risau.
“ Kami akan segera mencarinya, sebaiknya kau tetap di sini. Lebih berbahaya jika kau ikut ” bantah Ares.
“ Gavrill pastikan dia tinggal di sini, suruh anak buah kita menjaganya agar tidak pergi dari sini ” ucap Ares cepat karena dia ingin secepatnya menuju lokasi Lyra.
“ Kakak! ” panggil Adhisti lagi, tapi tak di hiraukan oleh Ares.
“ Nona mengertilah situasinya berbahaya, tetaplah di sini itu akan lebih baik ” ucap Gavrill menyakinkan Adhisti.
“ Aku khawatir pada Lyra hiks hiks ” tangis Adhisti tanpa sadar berhambur memeluk Gavrill. Bahkan Gavrill cukup terkejut.
“ Hiks bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi pada Lyra dan bayinya hiks hiks ” isaknya.
“ Semoga tidak terjadi apa-apa pada Nona Lyra ” jawab Gavrill
__ADS_1
“ Berjanjilah kalian harus menyelamatkan Lyra ”
“ Tentu Nona, kalau begitu saya harus segera pergi Tuan Ares pasti sudah menunggu ” ucap Gavrill sambil melepaskan pelukan Adhisti dan meninggalkan gadis itu.
* * *
Setelah menerima kabar itu dari Gavrill, Aslan juga secepatnya memerintahkan anak buahnya ikut mencari Lyra.
“ Hei! aku tahu kita terburu-buru tapi pikirkan juga nyawamu. Kalau kau mati kecelakaan di sini, siapa yang menyelamatkan Lyra ” ucap Robert pada Aslan yang mengendarai mobil dengan mengebut, padahal jalanan yang mereka lewati cukup curam dan sekelilingnya adalah hutan.
Tapi Aslan tak mendengarkan dia tetap melaju secepat mungkin.
Di lain tempat Ares yang juga dalam perjalanan menuju lokasi penculik itu, dia sudah siap akan segala kemungkinan. Setelah melalui perjalanan yang sulit karena melewati tebing-tebing dan daerah hutan di mana jalanan cukup rusak. Mereka tiba di sebuah area yang terdiri dari beberapa bangunan gedung yang nampaknya tak terpakai lagi.
“ Kita akan berhenti di sini Tuan, sebelum lebih jauh kita harus memeriksa terlebih dahulu ” ucap Gavrill menghentikan laju mobilnya.
Ares turun dari mobil dia ikut mengintai ke arah gedung itu.
“ Nampaknya banyak bangunan terpisah, kita harus segera tahu di mana Lyra ditahan ” tukas Ares.
“ Benar Tuan ”
“ Perintahkan mereka untuk masuk dan memeriksa terlebih dahulu, jangan sampai ketahuan ” perintah Ares lagi.
Setelah beberapa menit seorang anak buahnya menghampiri Ares dan Gavrill.
“ Tuan tidak ada siapa-siapa di dalam setiap bangunan, kami telah memeriksa sepertinya mereka telah pergi. Kami hanya menemukan bekas tali, ponsel, dan tas yang sepertinya milik Nona Muda ” lapornya.
“ Ahhh!! Sial*n! ” rutuk Ares dia segera menuju bangunan itu, dan memang tidak ada siapa pun di sana.
“ Siapa yang telah ceroboh membiarkan para penculik itu tahu b*rengs*k!! ” maki Ares begitu menyadari dia sudah kehilangan para penculik itu.
* * *
“ Kurang ajar!! Berani sekali mereka mengejar kemari!! Aku akan buat si Aslan bodoh itu menyesal, berani sekali dia melanggar perjanjian itu! Ayo segera pergi dari sini sebelum mereka tiba di sini ” bentak Pria itu, begitu dia mendapatkan laporan bahwa anak buah Aslan bergerak menuju tempat persembunyian mereka.
Aslan memang melakukan tindakan ceroboh tanpa persiapan membuat gerakan mereka terbaca oleh para penculik itu.
Lyra di bawah lagi oleh para penculik itu setelah berkendara dengan mobil mereka berhenti di sebuah rumah tua. Dia kembali di ikat oleh anak buah penculik itu.
Lyra berpura-pura pingsan agar para pencuri itu meninggalkannya. Karena nampaknya yang mengikat tangannya sedikit ceroboh, ikatan itu tidak terlalu kuat.
__ADS_1
Benar saja Lyra di tinggalkan sendiri di ruangan itu, dengan cepat dia berusaha melepaskan tali itu. Setelah tangannya terlepas, dia membuka ikatan mulut dan kakinya.
Deru napas Lyra tak karuan, dia takut para penculik itu datang sebelum dia berhasil kabur. Perlahan dia berjalan ke arah jendela, setelah mengintip ke luar nampaknya tidak ada yang menjaga di luar jendela.
“ Aku harus segera pergi dari sini ” ucapnya pelan.
Dengan perlahan dia berhasil melompat keluar dari jendela itu, dia melangkahkan kakinya pelan agar tak bersuara. Lyra mulai sedikit berlari, namun naasnya seseorang menyadari kepergiannya. Dapat di dengarnya teriakan dari para penculik yang berlari tak jauh di belakangnya berusaha menangkapnya.
Aku tidak boleh tertangkap, terus lari aku harus terus berlari
Dengan sisa tenaganya Lyra terus berlari, walaupun nampaknya dia pasti segera tertangkap karena para penculik itu tak kalah cepat.
“ Ahhh!! ” teriak Lyra ketika tanpa sengaja kakinya tersandung akar pohon yang membuat dia berguling jatuh.
“ Sakit sekali.. aww.. ” ringis Lyra dia merasakan pahanya seperti tertusuk sesuatu. Dia berusaha sekuat tenaga berdiri, Lyra memegangi pahanya yang banyak mengeluarkan darah. Lama-lama kecepatan Lyra menurun sedangkan para penculik itu terus mengejarnya.
“ Tolong... siapa pun tolong aku.. ” ucap Lyra terputus-putus nampaknya dia tidak sanggup melangkah lagi.
Tanpa sadar tubuh Lyra akhirnya ambruk tergeletak di tanah, dengan kesadaran yang tinggal sedikit.
“ To-tolong... selamatkan aku.. ku mohon ” ucapnya terputus-putus.
Samar-samar di lihatnya sosok seorang pria mendekat ke arahnya.
Apa aku ini memang akhir untukku...pria ini adalah salah satu dari mereka.., batin Lyra yang sudah tak mampu berkata-kata.
“ Lyra! Lyra! Lyra! ” suara teriakan yang meneriakkan namanya.
Tunggu aku seperti mengenal suara ini... aku mohon ini bukan hanya ilusi..
“ Lyra! Lyra! ”
Seseorang yang memanggil namaku... Satu-satunya yang berbeda dengan orang lain..ketika dia memanggil namaku itu terdengar bukan seperti Lyra.. ta-tapi Leira..
Mata Lyra benar-benar terpejam sekarang, dia tersenyum sedikit
Aku merasa aman...
Akhirnya dia benar-benar pingsan
“Orang yang bersyukur selalu menghiasi wajah mereka dengan senyuman.”-Anonim
__ADS_1
**Author sangat bersyukur atas pencapaian 10 K popularitas novel ini, oleh karena itu aku kasih double up☺ Terima kasih teman-teman readers atas dukungannya 😄
Mystorios_Writer☘️☘️**