
“ Aku cemburu ” ucap Ares cepat.
“ Astaga berhenti bicara aneh! Anda tahu itu tidak lucu! ” tegas Lyra.
“ Aku tidak sedang melucu tapi sedang marah karena istriku lebih suka membicarakan pria lain ”
“ Ahhh aku menyerah terserah Anda saja ” Lyra membenarkan posisi tidurnya dan menaikkan selimut ke tubuhnya.
“ Aku akan tidur. Mendengarkan Anda lebih lama lagi bisa membuatku stres ” ucapnya.
“ Kamu itu gadis yang sulit sekali di tembus ”
Apa? Gadis? Bodoh! Kau tidak bisa melihat perutku yang membesar karenamu. Sulit ditembus apanya, kesal Lyra dalam hati.
“ Baiklah tidurlah ” balas Ares.
“ Anda tidak tidur? Sudah berapa hari ini aku lihat Anda tidur dengan posisi duduk. Itu pasti melelahkan, sebaiknya Tuan pulang saja ke rumah.” saran Lyra melihat pria itu yang nampaknya akan tidur di kursi lagi.
“ Aku tidak mungkin meninggalkanmu ”
“ Tidak apa-apa pulang saja, kalau aku butuh sesuatu aku bisa minta bantuan perawat. Pasti tidak nyaman tidur di kursi ”
“ Kamu tidak perlu khawatir, tidurlah ”
“ Pulanglah Tuan, Anda bisa datang lagi besok pagi memangnya apa yang bisa terjadi. Aku tidak tega melihat Anda harus tidur di kursi seperti ini ” tutur Lyra.
“ Kalau kamu tidak tega aku tidur di kursi. Apa... ” Ares mendekat ke arah Lyra.
“ Apa sebaiknya aku tidur di ranjang ini bersamamu ” Ares menunjuk ranjang Lyra.
“ Tidur di sini? Berdua? Anda mulai gila! ” ujar Lyra tak percaya mendengar ide Ares.
“ Kenapa? Tadi katanya tidak tega ”
“ Ya sudah terserah Anda saja mau tidur di kursi juga tidak masalah bagiku. Aku hanya menyarankan ” Lyra segera berbalik membelakangi Ares. Tidak mungkin dia menyetujui tidur berdua bersama pria itu di ranjang yang tidak terlalu lebar itu. Bisa-bisa lain ceritanya.
Ares tertawa melihat wanita itu salah tingkah. Dia hanya berusaha membuat Lyra tidak menyuruhnya pulang lagi.
* * *
“ Pelan-pelan saja jalannya ” perintah Ares sambil memapah Lyra memasuki rumah.
“ Tuan bisakah Anda melepaskan aku tidak perlu sampai di papah seperti ini. Aku masih bisa berjalan normal ” Lyra melepaskan tangan Ares dari bahunya.
Bahkan saat akan keluar rumah sakit tadi Ares bahkan senantiasa menempel pada Lyra seakan-akan wanita itu tidak dapat berjalan sendiri.
“ Kamu bisa terjatuh ” seru Ares ketika Lyra melangkah menjauh darinya.
“ Terjatuh apanya? Dokter sudah mengizinkan aku pulang hari ini. Setelah di rawat lima hari di rumah sakit tidak mungkin aku belum sembuh ”
“ Tapi Dokter jelas mengatakan kamu harus berhati-hati ” Ares memegang tangan Lyra menuntunnya untuk duduk di sofa.
“ Berhati-hati bukan berarti tidak bisa melakukan apapun. Anda terlalu berlebihan ” protes Lyra.
“ Aku tidak mendengar penolakan. Yang penting kamu harus benar-benar mengikuti saran Dokter. Perhatikan langkahmu saat berjalan jangan sampai berlari atau bahkan sampai terjatuh. Itu bisa sangat berbahaya kamu bisa terbentur. Saat mau bangun dari posisi tidur atau duduk usahakan bangun dengan perlahan, supaya kamu kepalamu tidak terasa pusing ”
Lyra menganga mendengar semua ocehan Ares itu.
__ADS_1
“ Jangan memakan makanan yang dilarang, juga jangan pernah membebani dirimu dengan masalah yang bisa Membuatmu stres. Perkembangan emosi ibu juga berdampak terhadap perkembangan otak bayi. Kamu harus mengingat itu ”
“ Baiklah...baiklah...Anda bisa berhenti sekarang. Aku juga tidak mungkin melakukan hal-hal yang berbahaya ” ucap Lyra geleng-geleng.
“ Yang penting kamu harus benar-benar menjaga keselamatanmu dan juga anak kita-
“ Astaga! Anda benar-benar cerewet. Sekarang kami sudah baik-baik saja. Coba periksa sendiri! ” Lyra meraih tangan Ares dan meletakkannya di atas perutnya.
“ Bilang pada Papamu untuk berhenti! Dia benar-benar cerewet sampai-sampai telinga Mama panas mendengarnya! ” tutur Lyra seakan bicara pada anaknya.
Ares baru pertama kali merasa salah tingkah bahkan pipinya terasa memanas.
“ Papa aku baik-baik saja, jadi berhenti mengomel pada Mama! ” ucap Lyra menirukan seakan bayinya yang bicara pada Ares.
“ Sudah dengar Anda masih terus Menggerutu lagi ” lanjutnya menatap Ares dengan tatapan jengah.
Ares terduduk lemas di samping Lyra, nampaknya dia begitu terkejut dengan suasana ini.
“ Lihat bayinya juga tidak suka mendengar nasihat panjang lebar dari Anda ” ucap Lyra bangga pada Ares seakan dia mendapat pembelaan untuk melawan Ares.
“ Aku bukan maksudnya...tidak cerewet ” balas Ares gugup.
“ Baguslah kalau begitu jadi aku bisa tenang ” Lyra tersenyum sumringah.
Ares merasakan jantungnya berdebar kencang melihat manisnya senyum wanita itu.
Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa sangat gugup?, batin Ares bertanya-tanya.
“ Adhisti pergi kuliah? ” tanya Lyra.
“ Hei! Anda tidak mendengarkan! ” tegur Lyra kuat karena Ares tak menjawabnya.
“ A-apa kamu...bertanya apa? ” ucap Ares bingung karena dia tak mendengarkan wanita itu bicara tapi hanya fokus memandangi wajah Lyra.
“ Benarkan Tuan bahkan tidak menghiraukanku, aku sudah bertanya dua kali tadi ” rutuk Lyra.
“ Maaf kamu bertanya apa? ”
“ Aku tanya Adhisti pergi kemana? Dia pergi kuliah? ” ulang Lyra.
“ Ahhh iya dia pergi kuliah ” jawab Ares.
“ Baiklah..”
Suasana berubah hening, Lyra juga hanya diam begitu juga Ares tetap diam hanya menatap Lyra.
Lyra mulai sedikit risih dan gugup. Dia memandang tangan Ares yang ada di perutnya.
Kenapa dia terus menatapku? Apa ada yang salah?
Lyra menyentuh wajahnya mencari tahu apa ada sesuatu di wajahnya, sehingga pria itu terus menatapnya.
Lyra menggaruk lehernya yang tidak gatal.
“ Apa ada sesuatu di wajahku? ” tanyanya kemudian.
“ Tidak ” jawab pria itu singkat.
__ADS_1
“ Lalu kenapa Anda terus menatapku? ” ucap Lyra risih.
“ Karena ingin saja ”
“ Aku risih tahu di tatap seperti itu rasanya aneh ”
“ Kenapa? Aku hanya tidak bisa puas bahkan untuk terus menatapmu ”
“ Hentikan sebelum aku bisa muntah. Anda tahu itu seperti kata-kata bualan dari pria hidung belang ” ucap Lyra.
“ Jangan muntah. Kasihan sekali nanti anakku harus ikut mual juga ” Ares mengusap perut Lyra.
“ Kalau begitu berhenti bicara begitu ” sungut Lyra.
“ Baiklah....menggemaskan sekali ” seru Ares bahagia.
“ Siapa? ” tanya Lyra.
“ Tentu saja bayinya ” ujar Ares pasti.
“ Bayinya? Seperti Anda melihatnya saja ” protes Lyra.
“ Habisnya kalau bilang Mamanya menggemaskan tidak boleh ” goda Ares.
“ Benar-benar.... ” desah Lyra pasrah.
Ares tertawa kecil.
“ Kamu suka tinggal disini? ” tanya Ares.
“ Iya aku suka tinggal di sini. Kenapa bertanya begitu? ” Lyra balik bertanya.
“ Kenapa kamu suka tinggal di sini? ”
“ Anda malah bertanya lagi ” protes Lyra.
“ Jawab dulu..”
“ Aku suka rumah ini sederhana dan cukup nyaman. Seperti sebelumnya Tuan bilang jarak dari kampus juga dekat. Jadi lebih memudahkan aku ” jelas Lyra.
“ Oo begitu..” guman Ares.
“ Kenapa menanyakan itu? ”
“ Aku hanya ingin tahu kamu mau pindah dari sini atau tidak ” ucap Ares.
“ Pindah? Lagi? Kali ini aku akan dipaksa tinggal dimana ” Lyra mulai kesal mendengar itu.
“ Jangan marah dulu makanya aku bertanya padamu. Kamu mau pindah? ” tanya Ares lembut.
“ Tidak aku suka di sini. Lagian akan pindah kemana? ” rutuk Lyra.
“ Rumahku, ayo tinggal serumah ” jawab Ares.
“ **Bagaimana dengan sedikit menarik napas untuk memberi sedikit ruang dalam berpikir ”-Mystorios_Writer
Mystorios_Writer🌇🌇**
__ADS_1