Menikah Dengan Tuan Ares

Menikah Dengan Tuan Ares
Rasa Takut Kehilangan


__ADS_3

Dia menatap pria yang sedang menuju ke arahnya itu dengan mata berkaca-kaca.


Tubuhnya terdiam membeku padahal sebelumnya dia benar-benar berpikir akan segera berlari menghampiri pria itu ketika datang.


“ Dia pulang! ” , batin Lyra.


Ares Sekarang tepat berdiri di hadapan Lyra.


Lyra menutup wajahnya dan tangisnya pecah, dia benar-benar tidak bisa menahan air matanya lagi.


Ares memberi kode dengan tangannya dan segera para pengawal itu keluar meninggalkan mereka berdua di sana.


Ares segera memeluk Lyra untuk menenangkannya.


“ Semua baik-baik saja sekarang ” ucap Ares.


“ Kalau hiks semuanya baik mengapa Anda kembali dalam keadaan seperti ini hiks ” isak Lyra.


“ Aku baik-baik saja jangan khawatir ”


“ Bagaimana aku tidak khawatir? Aku menunggu dengan cemas di sini dengan semua kemungkinan yang dapat terjadi. Aku tidak akan bisa tenang. Sebenarnya ada apa dengan semua ini? ” keluh Lyra melepaskan pelukan Ares dan mengusap air mata di wajahnya.


“ Jangan dipikirkan, tidak ada yang serius hanya semacam kecelakaan kecil saja ” elak Ares.


“ Hanya kecelakaan kecil? Atau orang-orang itu berniat membunuh Anda? ” tanya Lyra penuh penekanan.


Ares hanya diam tak berniat menjawab Lyra.


“ Aku akan obati luka Anda ” ucap Lyra dengan helaan napas pasrah.


“ Aku akan mengobatinya sendiri ” tolak Ares lagi.


“ Aku mohon ” pinta Lyra dan memaksa Ares duduk di sofa.


“ Lepaskan jas Anda ” perintah Lyra.


“ Serius Ly, biar aku yang mengobatinya sendiri. Kamu sebaiknya tidak melihat luka ini ” tegas Ares.


Tetapi dengan keras kepala Lyra mengenggam kerah jas Ares dan menurunkan jas itu dari bahu Ares. Akhirnya dengan pasrah Ares menurut saat Lyra membuka jasnya.


Mata Lyra membulat sempurna setelah melihat kemeja yang berlumuran darah setelah jas itu di buka.


“ Kamu keras kepala sekali ” ucap Ares setelah tahu wanita itu pasti akan sangat terkejut dan ngeri dengan luka itu.

__ADS_1


Mengabaikan itu, Lyra membuka satu persatu kancing kemeja Ares dan melepas kemeja itu dari tubuh Ares.


Dia menarik lengan Ares ke arahnya. Lyra sedikit meringis melihat luka itu. Lalu dengan cepat Lyra beranjak untuk mengambil kotak obat.


Lyra kembali dengan kotak obat di tangannya dan segera mengambil kapas juga alkohol untuk membersihkan luka Ares.


Ares menahan tangan Lyra saat akan menyentuh lukanya.


“ Berikan padaku ” pinta Ares, Lyra melepaskan genggaman Ares dan melanjutkan tindakannya.


“ Ini pasti terasa perih ” ucap Lyra memperingatkan Ares. Lyra mengucapkan kapas yang telah diberi alkohol itu di luka Ares. Dia meniup-meniup sedikit luka itu untuk mengurangi rasa perih yang di rasakan Ares, tapi pria itu tidak beraksi apa pun saat Lyra membersihkan lukanya.


Sampai semua darah yang mengenai tubuh Ares selesai di bersihkan, Lyra hanya tinggal memberi obat luka dan membalut luka Ares dengan perban.


“ Apa tidak terasa sakit sama sekali? ” tanya Lyra saat dia memberi obat kepada luka Ares.


“ Tidak ” jawab Ares santai.


“ Anda sangat hebat untuk menahannya, seharusnya saat ini Tuan meringis kesakitan ” ujar Lyra.


“ Dan kamu cukup berani untuk menangani luka ini ” balas Ares.


Lyra fokus membalutkan perban di lengan Ares, setelah selesai dia membereskan kotak obat itu kembali.


Ares memandang kepergian Lyra, setelah dia menyimpan kotak obat itu. Lyra segera masuk ke kamarnya.


Ares memandang lengannya yang tertutup perban dan mengingat kembali ucapan Lyra. Dapat dipastikan betapa khawatir dan paniknya wanita itu.


* * *


Ares masuk ke kamar Lyra untuk memastikan apakah wanita itu sudah tidur. Karena sekarang sudah menjelang subuh. Kejadian malam tadi memang benar-benar membuat Lyra tidak dapat tertidur dan terus menunggu Ares pulang.


Ketika pintu kamarnya terbuka secepat kilat Lyra berbalik membelakangi arah pintu itu. Melihat itu Ares segera sadar bahwa wanita itu belum tidur.


“ Kenapa belum tidur ini sudah subuh ” ujar Ares, lalu menghampiri Lyra dan membenarkan selimut di tubuh Lyra.


Lyra hanya menatap Ares dengan diam. Ares duduk di sisi ranjang dan mengelus pelan rambut Lyra.


“ Kamu marah? ” tanya Ares.


“ Aku tidak marah ” lirih Lyra.


“ Lalu kenapa belum tidur? Aku minta maaf telah membuatmu merasa khawatir ”

__ADS_1


“ Apa kejadian ini berkaitan dengan penculikan waktu itu? Para penjahat itu menyerang Anda karena mereka menargetkan aku, lalu Tuan harus terlibat dengan semua ini ” ujar Lyra dengan rasa bersalah.


“ Itu tidak berkaitan, masalahnya terjadi tidak ada kaitannya denganmu ” Ares lalu berbaring di samping Lyra dan menarik wanita itu kedepakannya.


“ Nanti lengan Anda sakit ” tutur Lyra khawatir.


“ Lukanya di sebelah sini. Kemarilah tidak sakit sama sekali ” Ares membenamkan kepala Lyra ke dadanya dan merangkul pundak wanita itu.


Lyra perlahan menelusupkan tangannya dan memeluk Ares.


“ Aku tidak bisa menjanjikan kejadian seperti ini tidak pernah terulang lagi. Karena begitu banyak bahaya yang berada di sekitarku. Aku hanya berusaha akan tetap kembali kepadamu ” tutur Ares sambil mengecup pelan kepala Lyra.


“ Sangat menakutkan membayangkan terjadi sesuatu yang lebih buruk dari pada ini ” balas Lyra.


“ Aku harap kamu tidak menangis dan bertahan sedikit lagi. Jika hal itu terjadi lagi ” ucap Ares.


“ Aku mohon jangan mengatakan itu, bagaimana aku menghadapi semuanya jika Anda pergi. Aku mohon ” lirih Lyra tidak dapat menerima jika pria itu mengatakan dia harus bersiap untuk kemungkinan terburuk dan itu terdengar seperti sebuah perpisahan.


“ Entahlah kita tidak dapat menebak apa yang akan terjadi ke depannya ” jawab Ares.


“ Baiklah tidak masalah jika Anda kembali dengan luka kecil atau berlumuran darah sekali pun. Tetapi jangan pernah meninggalkan aku. Jangan pernah tidak kembali padaku. Bagaimana dengan Adhisti, aku dan...anak kita ” tutur Lyra.


Lyra memeluk Ares dengan erat tak ingin kehilangan pria itu.


“ Aku merasa sangat jahat harus membuatmu mengalami semua ini. ” Ares membalas pelukan Lyra dan menurunkan wajahnya sedikit mengecupi kening Lyra.


“ Tuan memang sangat jahat. Jadi berbuat baiklah sedikit jangan tinggalkan aku ” guman Lyra pelan menatap manik tajam Ares.


Ares tidak bisa berkata apa pun lagi, dia hanya dapat memeluk Lyra dengan erat.


Jika dulu dia tidak pernah goyah untuk pergi dan menghadapi berbagai pertarungan dengan musuhnya. Tanpa rasa takut sama sekali, bahkan tak peduli dengan nyawanya.


Saat itu yang ada padanya hanya gelora untuk membalas dendam terhadap siapa pun yang berani mengusiknya.


Tapi hari ini dia sadar sesuatu, ada satu orang yang membuatnya takut jika harus meninggalkannya. Dia begitu takut harus kehilangan Lyra dan bagaimana nanti wanita itu jika dia meninggalkan Lyra sendiri.


Lyra seakan sebuah harapan dan masa depan baginya.


Di balik semua itu, ada musuh yang sangat sulit bagi Ares. Jack bukanlah lawan biasa yang dapat dia basmi dengan mudah.


“ **Terkadang sebuah tragedi dapat merebut semuanya dari kita ”-Anonim


Mystorios_Writer 🍿🍿**

__ADS_1


__ADS_2