Menikah Dengan Tuan Ares

Menikah Dengan Tuan Ares
Ciuman Penyelamat


__ADS_3

“ Tuan nampaknya mereka juga baru pergi dari sini, kelihatan dari bekas ban mobil di jalan masih baru ” lapor Gavrill setelah memeriksa sekitar markas yang di tinggalkan oleh pencuri itu.


“ Baguslah kita harus secepatnya mengejar ” jawab Ares.


“ Tapi Tuan ada sesuatu yang membuat saya bingung, ada dua jalan yang di lalui mobil. Saya takut ini merupakan trik pengalihan mereka. Saat kita mengejar ke arah yang salah maka kita akan kehilangan mereka Tuan ” jelas Gavrill lagi.


“ Kau bersama anak buah kita mengejar ke arah sini, di lihat dari bekasnya nampaknya ada beberapa mobil yang melewati jalan ini tadi. Aku akan pergi ke jalan yang lain ” perintah Ares setelah melihat perbedaan kedua jalanan itu.


“ Tidak mungkin Tuan, kalau Anda pergi sendiri itu sangat berbahaya. Kita tidak tahu pasti ancaman yang ada di sana ” protes Gavrill


“ Tidak ada waktu perdebatan, laksanakan perintah secepatnya ” Ares segera pergi memisahkan diri dari Gavrill dan pasukan mereka, dia berkendara sendiri.


“ Semuanya ikuti aku kita melakukan pengejaran dari jalur ini! ” teriak Gavrill memberi perintah kepada anak buahnya.


Semoga tidak terjadi apa-apa pada Anda Tuan, batin Gavrill.


Ares terus mengendarai mobil itu tetapi masih belum ada bangunan yang di temuinya sepanjang jalan. Untuk melihat detail lainnya sangat sulit karena daerah hutan dan hari sudah malam.


Dritt!!


Suara ban mobil Ares yang berderit karena di rem tiba-tiba.


“ Sial!! Ternyata ini jalan buntu! ” kesal Ares karena sepertinya jalan yang diikutinya hanyalah peralihan.


Ares segera bergegas ingin masuk ke mobil, dibukanya pintu mobil. Tapi samar-samar dia merasa seperti mendengar suara langkah kaki dari balik semak-semak.


Ares tidak jadi masuk ke mobil, dia mulai masuk ke dalam semak di hutan itu. Langkah kaki itu semakin terdengar di tambah dengan suara dedaunan kering. Ares semakin nyakin ada seseorang di sana. Dia melangkah cepat namun tetap siaga.


“ Apa ini suaranya melemah? ” ucap Ares ketika langkah kaki itu tak terdengar lagi. Dia terus berjalan ke depan, sedikit terkejut ketika sepertinya dia melihat sosok seseorang yang berjalan pelan di balik satu pohon besar di sana.


Ketika dengan cepat Ares berjalan ke arah pohon itu, di balik pohon itu nampak seorang wanita yang telah tergeletak lemah.


Ares semakin mendekat untuk memastikan siapa wanita itu.


“ Lyra!! ” serunya saat jelas terlihat olehnya wajah wanita itu.


“ Lyra! Lyra!! ” panggil Ares berusaha menyadarkan Lyra, tapi tak berhasil karena Lyra hanya meracau tak jelas dengan pandangan mata sayu.


Segera Ares mengangkat tubuh Lyra, menyandarkan Lyra yang pingsan ke pohon.


“ Sialan!! Berani sekali mereka melakukan ini padamu, aku akan membunuh mereka semua! ” emosi Ares benar-benar memuncak melihat keadaan Lyra yang lemah dan penuh darah.


“ Mereka datang! ” tukas Ares ketika dia mulai mendengar teriakan dan serbuan langkah kaki yang datang ke arah mereka.

__ADS_1


“ Tenanglah, tunggu sebentar aku akan menghabisi mereka ” ucap Ares di depan wajah Lyra lalu dia segera bersiap-siap untuk melawan para penjahat itu.


“ Itu dia! Wanita itu ada di sini! ” teriak salah seorang penjahat yang telah melihat Lyra dan Ares. Segera kawanannya berdatangan.


“ Habisi saja dia, lalu bahwa wanita itu! ” perintah penjahat itu.


Belum sempat mereka mendekat Ares sudah melayangkan serangan terlebih dahulu.


Bugh!! Brak!! bugh!! bruk!!


Suara pukulan Ares cukup terdengar, dia menghajar habis para preman itu. Dengan kekuatan seperti ini tidak ada apa-apanya bagi Ares.


“ Aku akan membunuh kalian semua. Berani sekali kalian menyentuhnya! ” Ares berteriak meluapkan emosinya di dalam setiap pukulan dan tendangan. Sekarang semua penjahat itu telah terkapar.


Dada Ares naik turun, dia menghampiri Lyra. Lalu mengendong wanita itu meninggalkan kawanan penjahat tersebut. Ares berjalan menuju mobilnya.


“ Sialan! aku harus melakukan sesuatu dengan luka ini untuk menghentikan darahnya ” ucap Ares, setelah menyadari darah yang terus mengalir dari luka di paha Lyra.


Sesampainya di mobil dia membaringkan Lyra di kursi mobil setelah mengatur posisi kursi menjadi mode berbaring. Untuk saat ini Ares merasa para penjahat itu belum mengejar mereka, setidaknya masih ada kesempatan untuk memberikan pertolongan pertama pada Lyra.


Ares mengangkat rok Lyra sampai menunjukkan pahanya, Ares terkejut melihat luka itu di sana masih tertancam semacam ranting pohon. Itu alasan mengapa darahnya terus mengalir.


Ares mulai bergerak untuk mencabut ranting itu.


“ Sakit sekali... hentikan ” racau Lyra lagi begitu Ares kembali menyentuh lukanya.


“ Jangan bersuara, Ly. Para penculik itu akan lebih mudah menemukan kita ” ucapnya berusaha menenangkan Lyra, di lapnya keringat yang mengucur di dahi Lyra.


“ Tubuhmu dingin sekali ” Ares mulai semakin gelisah merasakan suhu tubuh Lyra yang menurun drastis.


Ares memasukkan tangan kirinya ke dalam mulut Lyra agar Lyra tak bersuara.


“ Gigit tanganku, tahan sebentar ” ucapnya.


Lalu dia mulai mengeluarkan ranting itu, perlahan dan mulai tercabut. Dia merasakan tangannya yang di gigit Lyra.


“ Aww... sakit sekali.. ” kembali Lyra mengeluarkan suara kali ini sedikit lebih keras. Dia menepis tangan Ares yang menutup mulutnya.


“ Ly, tunggu sebentar ” Ares berusaha menenangkan Lyra, terpaksa Ares berhenti.


“ Sakit... itu sakit.. hentikan tolong ”


Lyra malah terus meracau, Ares kebingungan mencari cara membuatnya diam.

__ADS_1


“ Maafkan aku ” ucapnya lalu dia menarik tengkuk Lyra cepat menutup mulut wanita itu dengan mulutnya. Lalu dia menggerakkan tangannya yang satu lagi untuk mencabut ranting itu.


Semakin Lyra berusaha melepaskan ciuman itu dan ingin berteriak kesakitan. Maka semakin kuat Ares memperdalam ciumannya, dan terus menahan tengkuk Lyra.


Ares melepaskan ciuman mereka perlahan.


“ Sudah berakhir, tenanglah ” ucapnya tepat di depan wajah Lyra. Dengan cepat Ares mengikat luka Lyra dengan sapu tangan, lalu dia melajukan mobilnya.


Sesekali masih terdengar suara racauan dari Lyra, namun tak ada waktu lagi Ares menyadari para penjahat itu sudah kembali mengejar. Nampak dari sebuah mobil yang mengejar mereka di belakang.


“ Gavrill segera menuju kemari, Lyra sudah ketemu. Sekarang para penjahat itu mengejar, aku tidak punya waktu lagi.” ucap Ares di telepon.


“ Baik Tuan ” jawab Gavrill cepat lalu dia segera menuju lokasi Ares.


“ Aku akan segera membawamu dari tempat terkutuk ini, tahanlah sebentar ” ucap Ares sambil memperhatikan gadis itu. Dia mengusap sudut bibirnya yang berdarah, Lyra sempat menggigitnya tadi.


Di depan mereka Ares melihat cahaya mobil yang menuju ke arah mereka, setelah semakin dekat dia tahu itu mobil yang dipakai Gavrill. Dia menghentikan mobilnya begitu juga Gavrill.


“ Urus mereka jangan biarkan satu pun lolos, sebagian ikuti aku. ” perintah Ares dari mobil setelah menurunkan sedikit kaca mobilnya.


* * *


“ Cepatlah King jangan biarkan mereka lolos! ” keluh Robert pada Aslan, karena begitu kesalnya dia mereka tiba di markas penculik itu tapi mereka sudah kabur.


Aslan tak menjawab tapi dia melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Sampai mereka tiba di sebuah rumah tua. Aslan turun dari mobilnya, begitu juga Robert mereka berjalan menuju rumah itu.


“ Tunggu mereka semua telah tertangkap! ” seru Robert tak percaya melihat kawanan penjahat itu terikat, dengan tubuh yang nyaris hancur. Dan di sekelilingnya dapat mereka lihat para pria yang menghajar habis para penjahat itu.


Tak lama Gavrill keluar dari dalam rumah tua itu.


“ Apa yang terjadi di sini? ” tanya Aslan pada Gavrill.


“ Seperti yang Anda lihat sepertinya kalian terlambat, dan lagi sebelum bergerak usahakan Anda sudah punya rencana. Membuat para penjahat itu kabur benar-benar merepotkan ” ucap Gavrill sinis.


“ Bocah sombong! ” kesal Robert


“ Lalu bagaimana Lyra? ” tanya Aslan tak menghiraukan ejekan Gavrill.


“ Nona Lyra sudah aman ” jawabnya singkat. Gavrill memberi kode kepada anak buahnya untuk segera pergi dari sini, dan membawa semua penjahat itu. Dia melajukan mobilnya meninggalkan Aslan dan Robert dengan rasa penasaran dan kecewa mereka.


“ Sebenarnya siapa dia? Pasukannya dua kali lipat lebih banyak dari anak buah kita, dan semuanya nampak terlatih ” ucap Robert bingung dengan bagaimana sepertinya mereka tidak dibutuhkan di sana.


"**Kehidupan yang tidak diuji tidak layak untuk dijalani." - Socrates

__ADS_1


Mystorios_Writer 🪐🪐**


__ADS_2