
“ Akhirnya bisa pulang ke rumah! ” seru Lyra bahagia ketika dia turun dari mobil dengan menggunakan tongkat siku.
“ Berjalan dengan perlahan ” ucap Ares begitu melihat Lyra yang berjalan semangat walaupun harus dengan tongkat.
Lyra dengan cepat tiba di depan pintu dan segera dia membuka pintu.
Dorrr!!!
“ Suprise!! ”
Suara ledakan pita dan teriakan Adhisti menyambut kedatangan Lyra.
“ Wow! aku benar-benar kaget! ” girang Lyra
“ Selamat datang! selamat atas kepulangannya dari rumah sakit! Welcome Home! ”
“ Terima kasih ”
Lyra berjalan ke arah Adhisti.
“ Ayo ikut denganku aku akan tunjukkan sesuatu! ” ajak Adhisti bersemangat
Lyra mengikuti Adhisti dengan pasrah.
“ Wah! Kau menyiapkan semua ini! Oh astaga Terima kasih ” ucap Lyra kagum, begitu mendapati meja makan yang penuh dengan berbagai jenis makanan dan di sana juga ada sebuah kue tart yang lumayan besar dengan tulisan selamat datang di atasnya.
“ Untunglah kalau kamu senang ” balas Adhisti sambil memeluk Lyra sebentar.
“ Ayo cepat duduk di sini! Kamu ratunya hari ini! ” lanjut Adhisti
“ Iya, sebaiknya kita tunggu Tuan Ares dan Gavrill datang ” ucap Lyra setelah dia duduk.
“ Kita mengadakan pesta makan! ” seru Gavrill begitu dia tiba di sana bersama Ares
“ Ini semua untuk merayakan kepulangan Lyra, jadi kakak dan Gavrill ayo segera duduk ” perintah Adhisti
“ Baiklah ” jawab Ares di duduk di sebelah Lyra, dan Gavrill di kursi sebelah Adhisti.
“ Aku sangat bersemangat untuk memasak makanan hari ini-
“ Ini masakanmu?! ” tanya Ares menyela perkataan Adhisti
Lyra dan Gavrill juga tak kala terkejut mendengar bahwa Adhisti yang memasak semua masakan itu.
“ Dengar dulu, kak. Awalnya sih aku mau masak tapi karena kalian memberi kabarnya tiba-tiba terpaksa aku pesan saja makanannya biar sempat. Tapi tenang saja lain kali aku janji pasti akan memasak untuk kalian ” tekad Adhisti
“ Ohh untunglah kalau begitu ” syukur Gavrill
“ Untung apa maksudmu? ” tanya Adhisti tajam pada Gavrill
“ Eh maksudku untunglah masih sempat memesan makanan.. iya memesan makanan maksudku ” jawabnya gugup
“ Oh kupikir ada apa tadi ” ucap Adhisti. Lalu dia sedikit berdiri menyalakan lilin diatas kue tart mengarahkan kue itu ke depan Lyra.
“ Berdoalah lalu tiup lilinnya, Ly ” lanjutnya
“ Hmm.. menurutku itu tidak perlu Istirahat, akukan bukan sedang ulang tahun ” tolak Lyra canggung
“ Tidak apa-apa, ayo tiup saja ”
__ADS_1
“ Ya sudah ”
Lyra menutup matanya berdoa dan setelahnya dengan cepat Lyra meniup lilin itu.
“ Yeayy!! bersulang untuk Lyra! ” ucap Adhisti sambil mengangkat gelasnya.
Mereka mengikuti tindakan Adhisti dan bersulang bersama. Lalu mereka masing-masing melanjutkan mengambil makanan yang ingin dimakan, dan mulai sibuk memakan makanannya masing-masing.
“ Ini enak sekali! ” puji Gavrill
“ Iyakan, restoran itu memang cukup terkenal aku nyakin mereka punya juru masak terbaik. Kalau kamu suka lain kali aku akan memasak untukmu ” tutur Adhisti bangga
“ Uhuk.. ”
Gavrill sampai terbatuk mendengar perkataan Adhisti.
“ Tidak perlu Nona malah merepotkan Anda ” tolaknya cepat
“ Tenang saja, Gav. Aku tidak merasa direpotkan sekalian aku ingin melatih kemampuan memasakku juga ” jelas Adhisti
Bukan Anda yang repot, tapi aku yang kerepotan dengan penderitaan harus merasakan makanan yang rasanya tidak enak, batin Gavrill.
Tapi dengan terpaksa dia membalas dengan senyuman pada Adhisti. Lyra melirik ke arah Gavrill dan tertawa kecil.
* * *
Ares membantu Lyra berbaring di ranjang, karena sekarang sudah jam 11 malam. Dan Lyra juga sudah mengantuk. Ares menarik selimut ke menutupi badan Lyra.
“ Baiklah tidurlah ” ucapnya
“ Iya terima kasih Tuan ” balas Lyra
“ Begini, Ly. Aku ingin menyarankan sesuatu ” tutur Ares
“ Bagaimana kalau kamu berhenti memanggilku dengan sebutan Tuan, karena nantinya kalau anak kita lahir tidak mungkin dia harus mendengar Ibunya memanggil Tuan pada Ayahnya ” jelas Ares lambat
“ Hmmm...-
Aku harus jawab apa, lalu harus aku panggil dengan sebutan apa, guman Lyra dalam hati.
“ Tidak harus sekarang, pelan-pelan saja nanti juga kamu terbiasa ” ucap Ares
“ Hmm.. aku harus memanggil dengan sebutan apa? ” tanya Lyra malu-malu
“ Apa saja panggilan yang biasa diucapkan orang lain pada suaminya atau kamu juga bisa memanggil namaku ” beritahu Ares
“ Nama Anda? ”
*Ehh.. bukan ide yang bagus memanggil seseorang yang lebih Tua walaupun suami sendiri dengan namanya langsung... lalu sebutan untuk suami.. hmm suamiku
Ahh.. memalukan tidak jangan itu*
Wajah Lyra seketika memerah ketika dia membayangkan harus memanggil Ares dengan sebutan suamiku.
Pikirkan panggilan lain..hmm..istri biasanya memanggil suaminya sayang ah! tidak bisa! Kau bodoh Lyra! Kau berpikir untuk memanggilnya sayang!, rutuk Lyra tak henti-henti
“ Kalau begitu aku pergi, kamu tidurlah ” ucap Ares meninggalkan Lyra yang sibuk dengan pikirannya.
“ Bagaimana aku bisa tidur sekarang! Setelah Anda mengatakan itu! ” rutuk Lyra sambil menendang-nendangkan satu kakinya ke udara.
__ADS_1
* * *
Lyra terbangun dengan bengkakkan mata yang mencolok, semalaman dia tidak bisa tidur memikirkan harus memanggil Ares dengan sebutan apa.
Dengan malas dia meraih tongkatnya dan berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dia keluar kamar untuk sarapan.
Sekarang sudah setengah sembilan, dia pasti sudah pergi ke kantor jadi aku tidak perlu bertemu dengannya pagi ini, girang Lyra dalam hati.
“ Pagi ” sapanya pada Adhisti yang sedang duduk memakan roti di meja.
“ Pagi ayo sarapan ” balas Lyra
“ Iya ” jawab Lyra, dia mengambil susu hamilnya setelah itu dia menuju meja makan. Dan segera memakan roti yang telah diberi selai.
“ Bergegaslah sedikit Adhisti bukankah kamu mau diantar ”
Tunggu aku tidak salahkan... itu suara
Lyra menoleh ke arah ruang keluarga sumber suara tadi.
Matanya melotot tak percaya penglihatannya.
Tuan Ares?!
“ Isti kenapa Tuan Ares masih di sini? ” tanyanya pelan pada Adhisti
“ Hari ini kakak ada pertemuan di luar, karena pertemuannya dekat dengan kampus dan masih ada waktu. Aku minta berangkat bersama ” jawab Adhisti
Lyra tidak bisa berkata-kata lagi, terpaksa dia harus masa bodoh dan kembali melanjutkan sarapannya.
“ Kalau begitu aku akan pergi mengambil tasku ya ” ucap Adhisti meninggalkan Lyra di sana.
Tetap tenang usahakan untuk tidak bicara dulu dengannya saat ini, ucap Lyra dalam hati menenangkan diri.
“ Ayo kak, kita berangkat ” ajak Adhisti pada Ares
Aku mohon tidak perlu berpamitan. Langsung pergi saja tolong jangan menyapaku
“ Ly, aku pergi dulu ya ” ucap Adhisti
“ Iya hati-hati ” jawab Lyra tanpa melihat mereka.
Dia tidak menyapaku untunglah
“ Lyra kami pergi ya, sebaiknya tetaplah di rumah ” ucap Ares berpamitan pada Lyra
Lyra seketika terkejut, hingga tanpa sadar dia sampai berdiri lalu dengan cepat memasukkan semua roti yang ada di tangannya ke dalam mulut.
“ Hmm.. ” gumannya dengan mulut yang penuh roti.
Ares menatap bingung ke arahnya, begitu juga Adhisti. Tapi mereka tetap melanjutkan langkahnya.
“ Uhuk.. uhuk ” Lyra terbatuk-batuk mengunyah roti yang memenuhi mulutnya.
“ Haa.. hampir mati aku ” ucapnya tenang setelah minum susu untuk meredakan batuknya.
“ Aku tidak tahu lagi harus bagaimana untuk menghindarinya. Akh! aku belum bisa menentukan panggilan baru untuknya! ” rutuk Lyra
“**Jadi katakan padaku ketika kamu melihat ke dalam mataku, dapatkah kamu berbagi semua rasa sakit dan saat-saat bahagia? Karena aku akan mencintaimu selama sisa hidupku."-Pink
__ADS_1
Mohon bantuannya teman-teman agar novel ini lebih banyak dibaca oleh para penggemar novel 😀**
Mystorios_Writer 🥂🥂