
Adhisti menegakkan kepalanya dengan sulit energinya benar-benar habis.
Cahayanya yang masuk dari celah-celah jendela di ruangan itu tidak terlihat lagi, pertanda hari sudah malam. Namun, tidak sedikit pun ada pencahayaan di ruangan itu. Adhisti ditinggalkan sendiri di sana.
“ Kapan Kakak akan datang menolongku? ” lirihnya lemah.
Dia kembali mengingat tentang Ibunya.
Flashback
“ Aku tidak mau tahu! Kalian harus tinggal disini! Tidak boleh ada siapapun yang mengetahui bahwa kau adalah istriku!! ” bentak Ayahnya keras sembari mendorong Ibunya.
Adhisti yang menyaksikan hal itu hanya dapat menangis di dalam pelukan Ares kakaknya.
“ Sayang...aku tidak mau berpisah darimu. Kamu juga akan tinggal disinikan? Iyakan? ” Ibunya bersimpuh sambil memeluk kaki Ayahnya.
“ Aku tidak akan tinggal di sini!! Kalau kau tidak ingin aku ceraikan maka ikuti perintahku!! ” dengan cepat pria itu menyingkirkan istrinya itu dari kakinya dan meninggalkan rumah itu.
“ Sayang!! Aku akan tinggal disini! Ta-tapi aku tidak mau bercerai!! ”
Ibunya menangis meronta-ronta memohon kepada pria yang tidak layak untuk menerima itu semua.
“ Ma..ayo kita pergi dari sini. Untuk apa kita mengharapkan pria itu. Dia sudah mengkhianati kita ” ucap Ares menghampiri Ibunya.
“ Tidak!! Papamu tidak pernah mengkhianatiku! Tidak! Jangan pernah berkata tidak sopan kepada Papamu!! ”
“ Dia sudah menikah dengan perempuan lain!! Sekarang perempuan itu sedang hamil!! ”
Plakk!!!
Dengan teganya Ibunya menampar Ares.
“ Itu semua bohong!! ” bentak Mamanya.
Adhisti menghampiri Kakaknya.
“ Ma, maafkan Kakak...hiks.. hiks.. maafkan Kakak, Ma ” Adhisti memohon pada Ibunya untuk tidak memukul Kakaknya lagi.
Semenjak hari itu tidak sekalipun Ayahnya menginjakkan kaki di rumah itu. Ibunya mengikuti segala perintah suaminya untuk tidak menunjukkan diri kepada publik dan hidup terkurung di sana. Keadaan Ibunya semakin memburuk dia menderita depresi parah hingga kesehariannya hanya dihabiskan menunggu pria yang tidak peduli padanya.
Pada awalnya Ares dan Adhisti selalu membujuk Ibunya untuk melupakan pria itu dan memulai hidup baru, tapi mereka hanya akan mendapat amukan dari Ibunya.
__ADS_1
Lama-kelamaan Ibunya benar-benar berada di titik depresinya hingga melupakan bahwa dia sudah memiliki dua orang anak. Yang diingat olehnya adalah saat dia dengan semangatnya menunggu kunjungan kekasihnya, yang tak lain adalah ayah mereka.
Saat dia berharap pria itu kembali padanya dengan semua rasa cinta yang membutakannya, dia harus menderita depresi hingga akhirnya meninggal.
Flashback Off
“ Apa pantas kami disalahkan untuk itu, Ma? Harusnya Mama memilih melupakan pria itu maka kita pasti bisa hidup tenang. Kami tidak akan kehilangan kasih sayang seorang Ibu seperti ini. ” keluh Adhisti sambil menangis.
Ingin sekali rasanya mengeluarkan semua perasaannya selama ini.
“ Mengapa kami juga harus menderita? Bukan salah kami Mama harus pergi seperti itu. Kami juga menderita, Ma. Kami juga menderita!! Akhhh!!! ” pekiknya keras tak dapat menerima semua itu.
Di saat mereka harus tersiksa karena Ibunya yang melupakan mereka. Mereka juga harus disalahkan untuk itu semua.
Apa mereka punya kesempatan untuk memilih harus dilahirkan oleh siapa? Hingga Jack menganggap kelahiran merekalah yang membuat Ibunya menderita.
Author izin promosi novel baru karya Author. Novel ini menceritakan tentang kisah hidup Shera, yang tak lain adalah sahabat Lyra.
Semoga readers berkenan mampir ☺
* * *
Gavrill tak menjawab namun dia sudah sangat siap.
“ Aku mohon kalian harus tetap berhati-hati ” ucap Lyra risau tidak mungkin dia menghalangi mereka untuk pergi.
“ Tenang saja, Ly. Semuanya pasti baik-baik saja. Jangan pernah pergi dari rumah, setidaknya sampai keadaan aman ” Ares mengecup pelan dahi Lyra, lalu segera pergi dari sana bersama dengan Gavrill.
Lyra hanya dapat berdoa semoga mereka pulang dengan selamat bersama Adhisti juga.
Ares menatap jalanan tanpa sedikit pun berpaling, baginya saat ini serasa sebuah medan tempur dimana dia tidak dapat mundur dan hanya dapat terus maju dan membinasakan musuhnya.
Jack.
Seorang pria tua seumuran dengan Ibunya, merupakan musuh besar Ares. Pria yang memutuskan untuk menetapkan Ares sebagai musuh yang harus dibantainya.
Alasan balas dendam yang tak masuk akal. Sudah beberapa kali Jack mencoba membunuh Ares dan Adhisti, namun senantiasa gagal.
Masih segar diingatan Ares, saat bibi pengasuh Adhisti harus meninggalkan sambil memeluk Adhisti untuk menghalangi tusukan dari pisau Jack.
__ADS_1
Itu yang menjadi penyebab trauma dan phobia Adhisti terhadap darah. Apakah selama ini Ares tidak coba untuk membalas pria itu?
Tentu saja tidak baginya rasa ingin menghabisi Jack sama besarnya dengan pria itu. Tapi Jack bukanlah orang sembarangan dia adalah mafia terbesar. Menjalani hidup di dunia gelap seperti itu membuatnya seakan mustahil untuk dibunuh. Malah sebaliknya dia yang dapat membunuh orang lain dengan mudah tanpa terjerat hukum.
“ Semua persiapan sudah siapkan? ” tanya Ares lagi memastikan apakah semua sudah berjalan sesuai rencana yang di rancangnya.
“ Sudah Tuan ” jawab Gavrill pasti.
“ Yang utama adalah keselamatan Adhisti, bagaimana pun keadaan di sana nanti kau harus berhasil membawa Adhisti pergi dari sana ”
Tubuh Gavrill menegang mendengar semua kata-kata Ares yang ditekankan padanya. Nampaknya ini benar-benar akan menjadi akhir dari pertempuran yang selama ini tidak ada habisnya.
Yang diragukannya sekarang adalah apakah nanti Bosnya itu akan berhasil sehingga tidak ada lagi ancaman untuk mereka. Atau sebaliknya?
“ Setelah mengantar Nona Adhisti pulang aku akan segera datang Tuan ” ucap Gavrill berharap semoga dia tidak akan terlambat nantinya.
Ares hanya diam tak menjawab dan tetap fokus.
Sampai akhirnya mereka tiba di sebuah rumah tua. Rumah itu cukup terawat namun nuansa kuno tidak lekat dari bangunan itu.
Namun siapa yang dapat menduga rumah tua yang tak seberapa besar itu adalah singgasana sang mafia terbesar.
Selalu pria bernama Jack itu hanya tinggal di rumah itu tapi tidak satu pun musuhnya yang berhasil membunuhnya.
Ares melangkah pasti memasuki pekarangan rumah itu, cahaya yang menerangi halaman rumah tidak terlalu terang. Tidak ada satu pun penjaga di sana. Yang membuat Ares dan Gavrill seolah berada di tempat yang aman tanpa ancaman.
Belum sempat Ares menyentuh gagang pintu, pintu itu segera terbuka dan seorang pria tua berdiri di sana seolah menyambut kedatangan mereka karena telah menunggu sebelumnya.
“ Tidak ku sangka masih ada yang mau bertamu..mengunjungi pria tua ini ” lirih pria itu lemah sesuai dengan usia dan penampilannya.
Ares dan Gavrill menatap tajam pria itu tak sekali pun mengendorkan pertahanan diri karena yang dihadapannya bukanlah pria tua yang patut untuk dikasihani.
* * *
“ Nona ”
Lyra terlonjak kaget mendengar panggilan itu.
“ Tara?! Kenapa kamu bisa ada di sini?! ” tanya Lyra tak percaya melihat keberadaan Tara, seharusnya gadis itu berada di panti. Bagaimana dia bisa masuk melewati semua penjaga yang ada di rumah itu?
Bantu follow IG aku ya teman-teman @Mystorios_Writer, nanti langsung aku follback kok😊
__ADS_1
“ **Hari ini memang sulit, tetapi pasti ada sesuatu untuk disyukuri ”-Anonim.
Mystorios_Writer 🍒🍒**