
Lyra tengah memasak santai untuk makan malamnya, setelah pulang dari kantor tadi. Dia segera mandi lalu memasak.
Saat ini Lyra hanya mengenakan tank top tali satu yang sedikit longgar dan celana hotpants sepaha, dengan rambut yang dicepol ke atas. Untuk cuaca yang lumayan panas hari itu sampai malam pakaian itu memang cocok.
Ting tong ting tong!!
“ Siapa yang bertamu malam hari seperti ini ” guman Lyra.
Bel kembali berbunyi.
“ Tunggu sebentar!! ” seru Lyra keras dari dapur, dia mengangkat masakan yang dimasaknya dari kompor dan menyajikannya di piring. Setelahnya dia bergegas menuju pintu.
Lyra membukakan pintu dan segera mengetahui siapa yang datang ke rumah itu.
“ Adhisti?! ” tanya Lyra sedikit terkejut.
“ Hehheh Hi Lyra ” ucap Adhisti dengan senyum canggung.
“ Ada apa? kau datang sendiri? masuklah ” ajak Lyra namun dia tetap melihat keluar sebentar.
“ Kakak juga datang, mungkin sedang memarkirkan mobil ” jawab Adhisti santai sambil berhambur masuk ke dalam.
Mendengar itu terpaksa Lyra menunggu kedatangan sosok Ares. Benar saja setelah beberapa saat Ares datang dan mereka sama-sama masuk ke dalam rumah.
Dan seperti biasa tanpa rasa canggung kedua bersaudara itu, langsung duduk dengan santainya di sofa. Malah Lyra yang kadang merasa canggung. Lyra juga berusaha setenang mungkin menjaga agar hubungannya dengan mereka tidak memburuk seperti sebelumnya.
“ Hmmm aromanya lezat sekali ” tukas Adhisti.
“ Aku baru selesai memasak apakah kamu mau? ” tawar Lyra pada Adhisti.
“ Tentu saja ” dengan girang Adhisti mengikuti Lyra menuju dapur. Sebelum itu Lyra berhenti sejenak.
“ Tuan apakah Anda tidak ingin makan? ” tanya Lyra pada Ares.
Walaupun tidak menjawab pria itu segera menyusul ke dapur, sepertinya itu artinya jawabannya Ya.
“ Duduklah ” ucap Lyra dengan cekatan dia menyajikan nasi dan tumis daging asam manis buatannya, lalu memberikannya kepada Ares dan Adhisti, kemudian dia duduk setelah membuat untuk dirinya sendiri.
“ Ini pasti enak sekali, aromanya saja sangat menggoda.. ” ucap Adhisti.
“ Cobalah ”
Dengan semangat Adhisti mulai menyuapkan makanan itu ke mulutnya.
“ Oh my god!! ini makanan terlezat!! ” puji Adhisti.
Lyra sedikit salah tingkah akan pujian itu.
“ Itu terlalu berlebihan ” sangkalnya.
“ Ini memang enak ” ucap Ares pada Lyra.
Lyra semakin salah tingkah, diraihnya gelas air minum lalu meminum seteguk.
“ Baguslah jika rasanya enak ” syukur Lyra kemudian.
__ADS_1
“ Apa nama masakan ini, Ly? ” tanya Adhisti dengan mulut yang penuh makanan.
“ Tumis daging asam manis ”
“ Woww kapan-kapan aku juga akan memasaknya, pasti rasanya akan lezat sekali ”
Sontak Ares dan Lyra menghentikan gerakannya, sesaat mereka saling melirik.
Jangan percaya dia yang terburuk dalam memasak, batin Ares mengkode dengan tatapannya.
Aku harap dia tidak pernah berkata akan memasak, balas Lyra.
“ Ada apa? apa ada yang salah? ” tanya Adhisti ketika melihat kedua orang itu terdiam dan saling melirik.
“ Ehh tidak, kalo terus mempelajarinya pasti kau akan bisa memasaknya ” ucap Lyra.
Adhisti mengangguk-anggukkan kepalanya.
Setelah acara makan yang menyenangkan, mereka duduk di sofa. Berbeda dengan Adhisti dan Ares, Lyra lanjut memakan buah anggur sambil ikut menyaksikan acara TV.
“ Apa Adhisti dan Tuan Ares akan menginap? ” tanya Lyra karena jika kedua bersaudara ini sudah bertingkah begini, tentunya akan sulit menyuruh mereka pulang.
“ Iya, bolehkan Lyra? ” jawab Adhisti dengan nada membujuk.
Seperti kalau aku menolak kalian akan pulang, tentunya tetap menginap juga.
Tidak punya pilihan Lyra mengangguk saja.
“ Yeahh!! ” sorak Adhisti.
“ Iya, Ly. Karena Adhisti yang memaksa ingin bermalam disini, terpaksa aku harus mengantarnya. Kalau pulang aku merasa terlalu lelah untuk menyetir ” jelas Ares.
Aku memaksa untuk ikut. Hei kakak yang memaksa mengajakku kemari!! Astaga aku dimanfaatkan, geram Adhisti dalam hati.
Dia menatap Ares dengan tatapan kesal, tapi setelah Ares balas menatap seakan menyuruhnya diam. Terpaksa dia mengalah.
“ Ly, biar aku sapa keponakanku dulu ” ucap Adhisti tiba-tiba dan dengan segera dia mengelus perut Lyra.
Lyra sedikit terkejut, tapi tak bisa menolak perlakuan Adhisti.
“ Hi ponakan Aunty, bagaimana kabarmu? Kamu sehat? ” Adhisti seakan berbicara dengan perut Lyra, dengan tangan yang mengelus perutnya, menggambarkan jelas perut Lyra yang mulai terlihat membesar sedikit dibalik bajunya.
Adhisti terus mengoceh dan sesekali mentoel-toel perut Lyra. Menimbulkan rasa geli bagi Lyra, sehingga kadang dia tertawa geli.
Dengan iseng Adhisti menoleh ke arah Ares, menjulurkan lidahnya sedikit. Seakan mengejek Ares karena tidak bisa menyentuh Lyra seperti dia. Berusaha membuat Ares cemburu sebagai balasan karena memanfaatkannya tadi.
Ares menggeram dalam hati, jelas saja dia sangat iri, dan ingin melakukan itu juga. Sebenarnya Lyra menyadari itu, dia tahu ketika dilihatnya bagaimana tatapan berharap dari Ares ketika melihat yang dilakukan Adhisti.
“ Sudah ya, Isti. Rasanya geli sekali ” ucap Lyra karena semakin lama memang itu cukup geli.
Adhisti paham lalu dia kembali duduk tenang, dan kembali fokus pada acara TV di depannya. Lyra merasa risih ketika Ares tetap terus menatapnya, dengan tatapan seakan bertanya kenapa dia tidak bisa menyentuh perut Lyra juga, tapi Lyra berusaha mengabaikan hal itu.
* * *
Sudah setengah jam mereka menonton, perlahan Adhisti mulai menguap.
__ADS_1
“ Aku akan tidur, selamat malam ” ucapnya meninggalkan Lyra dan Ares berdua di sana.
Untuk beberapa saat mereka berdua hanya diam.
“ Kamu masih belum mengantuk, Ly? ” tanya Ares memecah keheningan.
“ Eh Ya? oh maksudku iya aku juga sudah mengantuk ” jawabnya sedikit kacau karena gugup.
“ Kalau begitu tidurlah, tidak baik juga tidur terlalu larut ”
“ Ya baiklah, aku akan pergi ke kamar. Hmm... selamat malam Tuan ”
“ Selamat malam ” balas Ares.
Lyra melangkah perlahan, sebenarnya ada yang mengganjal dihatinya sedari tadi tapi ragu untuk mengatakannya pada Ares.
Setelah beberapa langkah, dia berbalik ke arah ke belakang lagi.
“ Tuan ”
“ Ada apa? ”
“ Ehm begini.... Anda boleh menyentuh perutku ketika aku tidur ” ucap Lyra cepat.
“ Ya? ” Ares terkejut dan bingung.
“ Maksudku karena trauma aku tidak bisa membiarkan Tuan menyentuh kulit, jika aku tertidur maka Anda dapat menyentuh perutku saat itu ” jelas Lyra ragu-ragu tanpa berani menatap Ares.
“ Benarkah? ”
Lyra mengangguk pelan.
“ Bayinya juga butuh berkomunikasi sejak awal dengan ayahnya, aku tidak ingin bersikap egois ”
Ares benar-benar senang saat itu.
“ Terima kasih, Ly. Aku sangat senang ” tuturnya bahagia.
“ Ta-tapi berjanjilah Anda hanya akan menyentuh perut, dan tidak macam-macam ” tekan Lyra.
“ aku berjanji tidak akan melakukan hal yang aneh dan melewati batas ”
“ Baiklah ” ucap Lyra lalu dia melangkah cepat meninggalkan Ares.
Ares meremas kuat bantal sofa, meredam rasa bahagianya. Hampir saja dia melompat sangking senangnya.
Aku harus bisa menjaga janjiku, ini bukan hanya sebuah izin tapi kepercayaan. Lyra mulai percaya padaku, batin Ares.
“ Oh ini suatu kemajuan, tapi juga cobaan besar. Bagaimana aku mengendalikan diriku jika dia secantik itu ” rutuk Ares juga.
"**Bahagia itu sederhana, sesederhana kamu mengucapkan bahagia."-Anonim
Kalo bahagianya Author cukup dengan komentar penyemangat dan like dari teman-teman Readers tersayang 💛
Mystorios_Writer🥂🥂**
__ADS_1