
โ Eughhhh โ terdengar lenguhan panjang Lyra, dia mengusap matanya.
โ Ini sangat nyaman, sudah lama aku tidak tidur senyenyak ini โ ucapnya sambil mengusap ranjang, seakan enggan bangun dari sana. Sepertinya pindah ke sini bukanlah hal yang buruk, karena Lyra dapat tidur dengan nyaman di dalam kamar. Perlahan Lyra duduk, di liriknya jam menunjukkan pukul 8 pagi. Hari ini adalah akhir pekan, jadi Lyra tidak kuliah.
Lyra mengambil hpnya, dia mulai membaca pesan yang masuk, cuma ada beberapa dari grup jurusannya, dan lainnya dari Shera. Setelah itu dia beranjak ingin pergi mandi.
Ting tong ting tong ๐ถ
Lyra menyisihkan rambut dari telinganya.
โ Aku tidak salah dengarkan? bel tadi bunyi? โ tanya entah pada siapa. Ketika suara itu kembali terdengar dengan malas, Lyra segera keluar kamar menuju pintu.
โ Pagi โ sapa Adhisti dengan senyuman dari balik pintu yang baru dibuka Lyra.
Lyra mengangkat bahunya pertanda ia menanyakan perihal kedatangan Adhisti.
โ Aku datang membawa beberapa keperluan dapur โ
โ Sebenarnya itu tidak perlu, aku bisa melakukannya nanti โ ucap Lyra yang terkesan dingin.
โ Hehhehe tidak apa-apa, ayo masuk aku akan bantu kau menyusunnya โ Adhisti tertawa canggung.
Dengan pasrah Lyra mempersilakan Adhisti masuk. Dia mulai membantu mengeluarkan barang-barang yang dibawa oleh Adhisti. Dan itu memang semua keperluan dapur yang tidak ada di rumah itu, mulai dari sayur, buah, bumbu-bumbu dan lainnya.
โ Terima kasih karena telah membantuku โ ucap Lyra, setidaknya dia harus mengucapkan itu.
โ Tidak perlu di pikirkan, ini akhir pekan aku bisa membantumu. Apa kau sudah sarapan? โ
โ Belum, tapi sungguh itu tidak perlu โ
Adhisti menghela napas pelan, mendengar penolakan Lyra.
โ Aku sangat menyesal, hubungan kita benar-benar sangat canggung sekarang, tapi aku juga tidak mungkin memaksamu bisa menganggapku sahabatmu seperti dulu aku sudah banyak menyakitimu โ
Adhisti mengingat kembali bagaimana dulu dia dan Lyra adalah seorang sahabat, dia bebas bercerita, bercanda, dan bepergian dengan Lyra. Tapi sekarang sangat jelas Lyra menjaga jarak darinya.
โ Hmmm begini Adhisti, aku tidak bisa kembali seperti dulu lagi, bukan karena aku membencimu atau menyimpan dendam. Hanya saja aku tidak ingin kecewa lagi. Aku harap kau bisa mengerti โ jawab Lyra, sebenarnya dia juga tidak tega harus bersifat acuh pada Adhisti, tapi dia juga tidak bisa mengharapkan hubungannya dengan Adhisti kembali seperti dulu.
โ Ya aku mengerti maaf, tapi bisakah setidaknya kita bergaul seperti kakak dan adik ipar, aku tidak apa-apa kau tidak ingin aku jadi sahabatmu. Hanya saja aku ingin kau merasa tidak terganggu dekat denganku, dengan menganggap aku adik ipar โ
โ Itu bahkan lebih tidak bisa aku lakukan Adhisti, kau sendiri tahu bagaimana hubunganku dengan kakakmu โ
โ Tidak apa-apa sungguh, ini tidak berkaitan dengan kakak, anggap aku adik iparmu karena memang kau menikah dengan kakakku, dengan begitu kau tidak perlu merasa canggung berdekatan denganku โ
Lyra berdiam sejenak, dia mencoba menimang-nimang perkataan Adhisti.
โ Aku akan berusaha, tapi tidak perlu memaksakan diri karena merasa bersalah. Aku benar-benar sedang berusaha menerima keadaan saat ini โ ucap Lyra.
โ Terima kasih aku senang mendengarnya โ ekspresi bahagia mulai terpancar dari wajah Adhisti, dia benar-benar berniat berbaikan dengan Lyra, dan ini merupakan suatu kemajuan.
Lyra hanya mengangguk, lalu dia mulai mengambil beberapa potong roti menyiapkan sarapan.
โ Kau akan memakan roti untuk sarapan? โ tanya Adhisti.
โ Iya, kau juga mau akan aku buatkan roti panggang โ
โ Tidak aku sudah sarapan di rumah tadi, tapi apa roti saja sudah cukup โ
โ Aku sedikit malas untuk memasak karena agak mual, mungkin nanti saja โ jawab Lyra karena memang dia merasa sedikit mual.
โ Kalau begitu biarkan aku memasak โ
โ Memasak? โ tanya Lyra heran, karena sepengetahuannya Adhisti sama sekali tidak bisa memasak.
โ Aku mulai belajar akhir-akhir ini, kau bisa memakan roti sebagai pengganjal sementara aku memasak โ
โ Baiklah, kau nyakinkan โ jawab Lyra ragu
โ Tentu โ balas Adhisti antusias.
Dia bisakan? Sudahlah lihat nanti saja, pikir Lyra. Dia mulai memasukkan roti ke mesin pemanggang. Lyra memperhatikan Adhisti yang mulai mencuci beberapa bawang dan cabe.
โ Aku akan membuatkan nasi goreng โ ucap Adhisti sambil dia sibuk mencuci.
__ADS_1
โ Ohh โ
Nasi goreng tidak terlalu sulit dibuat, tentu saja dia bisa membuatnya.
Lyra mengeluarkan roti dari pemanggang, dia mulai sibuk mengoleskan selai di atasnya.
Prang!!
โ Astaga!! โ pekik Lyra terkejut.
โ Hehhehe maaf aku tidak sengaja menjatuhkannya โ ucap Adhisti sambil mengambil wajan yang terjatuh.
โ Hufttt โ Lyra membuang napas perlahan meredakan keterkejutannya. Dia mulai memperhatikan betapa kacaunya Adhisti, bawang yang di irisnya terlempar ke beberapa tempat karena tampaknya dia tidak bisa menggunakan pisau itu.
โ Bukan seperti itu, kau harus hati-hati tanganmu bisa teriris โ Lyra mendekat ingin membantu Adhisti, tapi belum menyentuh pisau tapi dia malah merasa ingin muntah mencium aroma bawang.
โ Menjauhlah Ly, kau merasa mualkan โ ucap Adhisti melihat Lyra yang nampak menahan muntah.
Lyra mengganguk, dia tidak punya pilihan selain menjauh.
โ Aku akan duduk di sofa, kalau kau kesulitan tidak apa-apa tidak usah di teruskan โ
Adhisti kembali fokus dengan kegiatannya, Lyra memilih duduk di sofa karena aroma bumbu-bumbu membuatnya mual. Dia menikmati memakan roti yang disiapkannya tadi.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang menuju ke arah ruang tengah, dimana Lyra berada.
โ Halo Nona Anda sedang sarapan โ sapa Gavrill pada Lyra yang saat itu menunjukkan ekspresi bingung akan kedatangan dia dan Ares.
โ Bagaimana kalian bisa masuk? โ tanyanya.
โ Dari pintu depan โ jawab Ares.
โ Maksudku kalian masuk tanpa izin, ohh tentu saja aku belum mengganti kode pintu โ nada mengejek yang ditujukan pada dirinya sendiri.
โ Dan jelas itu tidak di izinkan, kode akses pintu tidak boleh di ganti โ
โ Apa menurut Anda rumah ini tempat persinggahan? โ tanya Lyra sinis.
โ Tidak โ jawab Ares tenang.
โ Kakak! โ seru Adhisti terkejut melihat Ares.
โ Isti untuk apa kau datang ke sini? โ
โ Aku membantu Lyra โ
โ Ohh โ
Ares lalu duduk di sofa di depan Lyra. Gavrill hanya berdiri saja.
โ Kau tidak menawarkan minuman "
โ Untuk apa di tawarkan anggap saja rumah sendiri โ ucap Lyra kesal.
โ Baguslah kalau begitu, jadi aku bisa tinggal dengan nyaman โ
Bukan begitu maksudku, kau tidak tahu itu kata-kata sindiran.
Beberapa lama mereka hening, Lyra juga berusaha tidak mempedulikan, dia menyibukkan diri dengan ponselnya.
โ Nasi goreng nya sudah jadi! โ seru Adhisti sambil membawa sepiring nasi goreng di tangannya.
โ Ini silakan di nikmati โ dia menyodorkan nasi goreng itu pada Lyra.
โ Hem baiklah makasih โ sejujurnya Lyra tidak terlalu nyakin bagaimana rasa nasi goreng itu.
โ Ta-tapi aku akan memakannya sebentar lagi, mualku masih sedikit terasa โ ucapnya sambil tersenyum canggung pada Adhisti.
โ Okay tidak apa-apa, aku juga membuatkan untuk kakak dan Gavrill. Tunggu aku ambilkan โ
Apa?! aku tidak mau masakan Adhisti adalah yang terburuk di dunia, ucap Ares dalam hati, dia mulai gelisah. Dengan cepat Adhisti datang dengan dua piring nasi goreng.
โ Makanlah โ
__ADS_1
โ Baik terima kasih Nona, sudah merepotkan Anda โ jawab Gavrill senang karena dia juga diberikan nasi goreng itu. Ares masih terdiam, dia melirik nasi goreng itu dengan perasaan takut, dilihatnya Gavrill yang perlahan mulai menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya.
Dengan tanpa prasangka, Gavrill mengunyah nasi goreng itu.
โ Uhuk!! โ Gavrill terbatuk sambil menahan tidak memuntahkan nasi goreng dari mulutnya.
Sudah ku duga ini akan terjadi, batin Ares.
Mata Gavrill membulat sempurna merasakan nasi goreng yang masuk ke mulutnya itu.
Makanan apa ini? ini yang terburuk di dunia, rasanya seperti sayuran busuk, aroma bawangnya. Sangat asin dan aku mau muntah aku benar-benar akan muntah.
โ Ada apa Gavrill? โ tanya Adhisti heran melihat reaksi Gavrill.
โ Nona nasi goreng ini-
Belum sempat Gavrill menyelesaikan ucapannya, lengannya sudah di tahan oleh Ares.
โ Jangan pernah mengatakan bahwa masakannya tidak enak, atau hidupmu tidak akan aman โ bisiknya pada Gavrill.
Ares mengingat kembali bagaimana ketika dia bilang bahwa masakan Adhisti sangat tidak enak, betapa mengamuknya dia. Gavrill akhirnya mengurungkan niatnya.
โ Nasi gorengnya enak โ ucap Gavrill sambil dia berusaha menelan yang ada di mulutnya.
โ A-aku akan ke toilet sebentar โ
Gavrill lalu segera pergi dari sana, menyelamatkan dirinya.
โ Aneh sekali dengan si Gavrill itu, ya sudah kakak makanlah โ tutur Adhisti tanpa rasa bersalah.
Astaga bagaimana ini? cepat pikirkan ide.
โ Aaaw perut kakak tiba-tiba sakit aww kenapa bisa begini โ Ares berpura-pura sakit perut untuk menghindari nasi goreng buatan Adhisti.
โ Sakit perut? tiba-tiba sekali bagaimana ini? โ Adhisti panik dan langsung percaya dengan sandiwara Ares.
โ Tidak tahu tapi tiba-tiba sakit sekali awww โ ringis Ares lagi.
Lyra yang ada di situ juga kebingungan harus apa, dia juga tidak tahu bahwa Ares hanya berpura-pura. Dia mondar-mandir sebentar, lalu dengan cepat dia mengambil sesuatu dari laci.
โ Kemarikan tangan Anda โ ucapnya pada Ares.
Ares kebingungan tapi dia tetap menyodorkan tangannya.
Tukk!
โ Awww apa yang kau lakukan โ pekik Ares.
โ Menusuk jari tangan dengan jarum adalah cara mengobati sakit perut โ jelas Lyra. Dia lalu menekan jari telunjuk Ares yang di tusuknya hingga darahnya menetes.
โ Da-darah โ
Lyra dan Ares lalu melirik ke arah Adhisti. Lalu tiba-tiba Adhisti ambruk ke sofa, dia terduduk lemas.
โ Ada apa? โ Lyra segera menghampiri Adhisti, dia menatap bingung ke arah Ares, seakan meminta jawaban apa yang terjadi pada adiknya.
Dada Adhisti naik turun, jantungnya berdegup keras, keringat mulai mengucur dari tubuhnya. Wajahnya juga seketika berubah pucat.
โ Adhisti kau kenapa? โ Lyra sangat khawatir, dia menggenggam jemari Adhisti yang terasa dingin.
โ A-aku mengidap hemophopia โ guman Adhisti.
โ Astaga aku tidak tahu maaf, apa yang harus dilakukan? โ
โ Tidak apa-apa istirahat sebentar, aku akan normal kembali โ jawab Adhisti.
Lyra lalu merangkul Adhisti untuk menenangkannya, dia mengelus lembut punggung Adhisti.
โ Kalau keadaannya seperti ini, bukan aku yang butuh dirawat, tapi kalian โ ucap Lyra, bagaimana pun dia tentu khawatir melihat Adhisti seperti itu, di tambah Ares yang juga sakit perut.
Ares menatap Lyra dengan intens, dia memperhatikan bagaimana tulus dan lembutnya Lyra menenangkan Adhisti. Dia terkejut ketika Lyra menusuk jarinya dengan jarum, tentunya dia sudah tahu dengan phobia Adhisti, tapi kejadian itu tidak di sengaja. Adhisti memang jika mengalami phobianya, akan kembali tenang setelah beberapa saat, tanpa perlu penanganan lebih lanjut.
Dia gadis yang baik, ucap Ares dalam hati.
__ADS_1
"**Mencintai tidak cukup dengan tidak melukai yang dicintai, tapi juga harus sabar saat dilukai yang dicinta."-Anonim.
Mystorios_Writer ๐**