Menikahi CEO Cacat

Menikahi CEO Cacat
Pertengkaran Hebat


__ADS_3

Seperti yang Li Wei duga tentang hubungannya dengan Chelsea setelah ciuman itu terjadi. Chelsea terlihat menjauh, membuat Li Wei sedih dan ingin memperbaiki semuanya. Tidak masalah, jika Chelsea hanya ingin berteman dengannya. Namun, ketika dia mengingat ide temannya, Li Wei memutuskan untuk mencobanya.


Ketika Li Wei keluar dari kamar, dia bisa melihat dengan jelas sosok Chelsea yang sedang membawa ransel yang Li Wei yakini sebagai tempat pakaian Chelsea.


" Kemana kau akan pergi?!" Ada nada marah saat melihat Chelsea yang lebih memilih untuk pergi menjauhinya daripada memperbaiki hubungan mereka. Kini dia mulai mempertanyakan keputusannya untuk membuat ruang diantara mereka.


" Bukan urusan mu. Lagi pula, aku tidak punya hak untuk tinggal disini, dan hutang di antara kita sudah lunas." Chelsea yang masih belum bisa memastikan perasaanya setelah tragedi ciuman pertamanya yang di renggut paksa oleh Li Wei memutuskan menjauhi pria itu. Tidak menduga bahwa keputusannya ini akan membuatnya menjadi orang yang linglung.


" Tidak, aku tidak akan membiarkan mu pergi! Kau masih berhutang banyak hal pada ku, termasuk saat aku menyelamatkan hidup mu dari racun itu." Di bawah kemarahannya Li Wei mengungkit bantuannya pada Chelsea. padahal jelas-jelas dia yang memaksa membantu wanita itu.


" Apa maksud mu?!" Chelsea juga terbawa emosi setelah mendengar ucapan Li Wei.


" Kau harus membayar bantuan ku di masa lalu dengan hidup mu!" Sebenarnya, Li Wei sangat menyesal setelah mengatakan hal tersebut.


" Ternyata aku salah menilai mu! Ku pikir kau pria yang baik tapi kenyataannya kau pria brengsek."


Karena sudah terlanjur bertengkar, Li Wei yang takut kehilangan Chelsea langsung membawanya untuk masuk kembali kekamarnya dan mengunci pintu kamar dari luar.


Chelsea yang diperlakukan kasar oleh Li Wei, entah kenapa dia merasa kecewa. Seolah Li Wei adalah seorang kekasih yang sedang menyakiti hatinya. Padahal sebelumnya Chelsea terkenal mati rasa, tidak memiliki emosi pada manusia lain kecuali Bella, adik perempuannya.


Setelah mengunci pintu kamar Chelsea. Li Wei memutuskan keluar dari apartemen untuk menenangkan dirinya.


Jangan berpikir Li Wei akan pergi ke bar saat frustasi. Dia tidak akan menjadikan tempat itu sebagai tempat untuk menenangkan diri karena akan ada masalah baru kalau sampai dia ada disana.


Duduk di kursi taman yang ada di bawah pohon. Li Wei menyaksikan daun-daun berwarna orange yang mulai berjatuhan. Sepertinya musim gugur sudah mulai datang.


" Kau sangat bodoh Li Wei." pria itu mencaci maki dirinya sendiri.


Ini kali pertama dia merasa sedih, kecewa dan takut kehilangan dalam satu waktu yang bersamaan. Chelsea seperti racun sekaligus obat untuknya.


Saat sedang sibuk melihat daun yang sedang berguguran. Tiba-tiba saja ponsel yang ada di kantongnya berdering. Ketika melihat siapa yang menghubunginya, Li Wei langsung mengangkatnya.


" Bagaimana? Apa dia sudah menunjukkan tanda-tanda bergantung pada mu?"


" Tidak, kami bahkan bertengkar dan dia ingin pergi dari apartemen ku." Li Wei menjadi sedih ketika mengingat pertengkarannya tadi dengan Chelsea.


" Lalu, apa kau mengizinkannya pergi."

__ADS_1


" Tidak, aku bahkan menguncinya di kamar."


" Kau gila?"


" Aku tahu. Aku benar-benar takut kehilangannya." Li Wei tidak membela dirinya karena dia juga setuju dengan perkataan temannya.


" Apa kau ingin berhenti mengambil resiko?"


" Ya, aku tidak masalah kalau kami hanya menjadi teman dan aku bisa menyimpan perasaan ku sendirian."


" Kau jauh lebih gila sekarang?"


" Itu karena aku takut, dan aku benar-benar mencintainya, hingga aku merasa akan mati kalau sampai aku tidak bisa melihatnya di sekitar ku."


Sesaat, keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Sang teman tahu kalau ini cinta pertama Li Wei sehingga pria itu akan sulit melupakannya. Cinta pertama yang benar-benar pria itu perjuangkan, bukan seperti cintanya pada Bella yang hanya sekedar kagum.


" Aku menyarankan mu untuk melanjutkan ide ini." Entah kenapa, tiba-tiba saja teman Li Wei meminta pria itu melanjutkan rencana mereka.


" Apa kau gila? Ini saja sudah membuat ku sangat frustasi, dan aku malah meminta ku melanjutkannya!" Li Wei benar-benar tidak habis pikir dengan ide temannya.


" Percaya pada ku, kau akan berhasil dan wanita itu pasti menjadi milik mu."


" Kau bisa memotong kepala ku!"


Mendengar perkataan temannya yang mempertaruhkan kepalanya demi meyakinkan untuk melanjutkan idenya. Itu bukan hal yang bisa dijadikan candaan, dan entah kenapa rasa percaya diri Li Wei seketika muncul kembali.


" Oke, aku akan melakukannya."


" Itu, baru temanku. Akh juga meramalkan kalau wanita itu akan menyadarinya dan kembali kepada mu sebelum dua Minggu berlalu." Kini pria itu menjanjikan waktu yang lebih cepat pada Li Wei.


" Kau sudah seperti peramal, jangan buat aku terlalu banyak berharap."


" Percaya pada ku, teman. Aku tidak pernah salah dalam meramal."


" Baik. Kalau begitu, apa yang harus aku lakukan?"


" Bebaskan dia. biarkan dia pergi dari apartemen mu, dan jangan pernah muncul dihadapannya."

__ADS_1


" Apa kau memintaku bunuh diri?"


" Baiklah, aku tidak mempertimbangkan cinta buta mu. Kau bisa mengawasinya dari jarak jauh, tapi jangan sampai dia mengetahuinya."


" Kau memintaku menjadi seorang penguntit?"


" Tepat, lakukan saja apa yang kukatakan dan semua misi mu untuk mendapatkannya akan berhasil. Tapi kau gagal, kau bisa pulang dan aku akan menyerahkan kepala ku kepada mu."


" Baiklah, aku akan melakukannya."


" Bagus."


***


" Di luar dingin, kenapa kau tida memakai pakaian tebal?" Sean yang baru saja pulang dari kantor langsung menyusul sang istri. ketika pelayan mengatakan bahwa Nyonya mereka sedang duduk di taman belakang rumah Sean.


Karena semua dah musim gugur, maka cuaca sore aka. Dingin mengingat banyak angin yang akan menggugurkan daun-daun diatas pohon.


" Aku tidak merasa dingin." Bella tersenyum kecil, ketika merasakan sebuah jaket hangat disematkan di pundaknya oleh sang suami.


Sean memberikan kecupan di kening istrinya, memeluk tubuh hangat sang istri. Takut kalau istrinya akan kedinginan. " Tidak baik untuk wanita hamil, ibu pasti akan marah pada ku jika aku tidak memperhatikan kondisi istri dan calon anakku."


" Suami ku sangat cerewet akhir-akhir ini." Bella menggoda Sean yang semakin posesif setelah mengetahui kehamilannya.


" Aku tidak keberatan di sebut cerewet. Semua yang kulakukan hanya untuk istri ku."


Keduanya tersenyum bersamaan. Sore ini terasa sangat indah karena mereka bisa melihat daun-daun berwarna orange berjatuhan.


" Bagaimana pekerjaan kantor?"


" Seperti biasa, tidak ada yang istimewa karena yang istimewa sudah ku miliki di rumah."


" Sepertinya suamiku habis makan madu sebelum pulang."


" Bahkan rasa madu tidak bisa mengalahkan rasa manis yang diberikan istri ku setiap kali aku kembali ke rumah."


" Kau semakin ahli dalam kata-kata manis."

__ADS_1


" Aku hanya tidak ingin kau merasa bosan atau menganggap aku suami yang kaku serta membosankan."


__ADS_2