
Saat diluar, Bella tiba-tiba menabrak seseorang yang sudah lama tidak dilihat namun juga tidak ingin dia lihat.
Johan, bos mafia yang beberapa bulan lalu di bereskan oleh Bella. Ternyata datang ke club malam dan tidak sengaja bertemu dengan Bella.
Satu pihak senang, namun pihak lain tidak terlalu ingin membuang waktu terlalu lama.
" Kita bertemu lagi, nona Bella."
Berusaha mengabaikan, Tara memilih pergi namun Johan tidak mengizinkannya. Bagaimana bisa dia melepaskan kesempatan untuk mendekati wanita dari musuhnya. Belum lagi, wanita itu sudah menarik perhatiannya.
" Tolong minggir!"
" Bukankah kita harus berbicara sebentar, nona? Bagaimanapun kita memiliki beberapa hal yang belum selesai."
" Aku bahkan tidak mengenalmu. Lalu, kapan kita memiliki beberapa hal yang kau maksud?"
Johan tertawa mendengar ucapan Bella yang acuh. Hal yang membuat Johan semakin tertarik pada Bella.
" Baiklah, sepertinya hanya aku yang mengagumi dan mengenal nona Bella. Dan hanya aku yang merasa bahwa kita pernah memiliki urusan di masa lalu."
" Bagus, jika kau sadar." Lalu, Bella pergi membawa Mark yang tidak di beri kesempatan untuk membela sang kakak.
Ketika di parkiran. Kelompok yang menjaga Bella, mendekat. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi tanpa Bella sadari.
" Nyonya, ada beberapa orang yang mengikuti anda dan merekam semua aktivitas anda selama di dalam. Sepertinya mereka berniat membuat cerita yang salah tentang anda. Apa anda ingin kami mengurus mereka?"
" Tidak, biarkan saja. Bukankah itu bagus. Aku akan segera menjadi artis terkenal." Bella tahu siapa dalangnya, dan dia senang atas pekerjaan orang tersebut.
Jadi, dia tidak perlu berpikir keras bagaimana cara membuat mereka malu.
" Baik, nyonya."
" Minta rekaman cctv di club dan kirimkan ke pada ku. Jika mereka menolak, hancurkan saja tempat ini."
" Akan kami laksanakan." Mereka semakin kagum pada ketegasan Bella. " Lalu, bagaimana dengan pria tadi, nyonya? Apa anda ingin kami membereskannya?"
" Abaikan saja, dia terlalu merepotkan dan membuang waktu."
***
Sesampainya di rumah sakit. Alex dengan wajah yang penuh luka akhirnya menemukan ruang rawat sang istri.
Meskipun sedikit takut dan malu. Alex ingin menyelesaikan semuanya dan mengajak Reva membuka lembaran baru. Dia terlalu percaya diri.
Reva yang kebetulan belum tidur dan masih menatap langit-langit ruangan terkejut saat melihat kehadiran Alex. Pria yang beberapa bulan ini banyak menorehkan luka, namun anehnya masih dia cintai.
Kening Reva sedikit berkerut ketika melihat penampilan Alex yang babak belur. Ada sedikit ke khawatiran, namun juga senang karena akhirnya ada yang berani memberi pria itu pukulan.
Dia masih belum menyadari bahwa sahabatnya lah pelaku utama atas penampilan mengenaskan sang suami.
" B-bagaimana keadaan mu?" Alex sangat gugup. Hampir saja dia ingin lari karena mendapati sang istri menatapnya tajam.
__ADS_1
" Seperti yang kau lihat. Jika tidak ada hal yang lain, kau bisa pergi. Aku ingin istirahat dan tenang saja, aku tidak memberitahu siapapun tentang kondisi ku." Meskipun ada rasa senang karena Alex mulai perduli, namun Reva masih enggan melihat pria itu saat ini.
" Apa boleh aku menemani mu?" Syukurlah dia bisa menguasai dirinya kembali.
" Sepertinya ada sesuatu yang salah dari mu. Rencana apa lagi kali ini?" Ink kejutan yang tidak pernah Reva duga. Alex berubah jadi aneh di matanya. Pria yang biasanya acuh dan menatap benci padanya tiba-tiba berubah perhatian.
" Tidak ada rencana apapun. Aku hanya ingin menemani istri dan anak ku."
Kini Reva mulai salah paham. Dia memang tidak memberitahu siapapun tentang kehamilannya. Dia saja baru mengetahuinya tadi siang ketika pelayan membawanya kerumah sakit.
Jadi, suaminya berubah baik karena anak dalam kandungannya, bukan karena dia mulai mencintainya dan menyesali perbuatannya.
Benar-benar salah paham yang akan membuat Alex jatuh bangun untuk mendapatkan kembali cinta istrinya.
" Pergilah, aku tidak ingin melihat mu."
" Apa kau membenci ku?" Sekuat tenaga, Alex menahan diri untuk tidak menangisi kebodohannya. Kini dia mulai takut jika cinta Reva tidak lagi tersisa untuknya.
Alex tahu jika Reva mencintainya, dia bisa melihat hal itu setelah beberapa minggu tinggal dengan wanita tersebut. Hanya saja, kemarahan Alex pada keluarganya masih ada sehingga dia juga menyalahkan Reva.
" Ya!" Tidak, Reva bohong. Dia sadar jika Alex tidak sepenuhnya salah. kalau saja dia mendekati pria itu dengan cara yang lembut dan tidak langsung menyetujui pernikahan yang di ajukan kedua keluarga mereka, mungkin saja rumah tangga mereka akan harmonis.
Tapi Reva juga tidak bisa mengatakan kalau dia baik-baik saja, dia senang melihat bahwa pria itu akhirnya menatap kearahnya. Egonya mengatakan bahwa dia harus memberi pelajaran pada pria yang telah menyakitinya namun juga berhasil membuatnya menjadi calon ibu.
Sejenak Reva mengelus perut datarnya. Dia mencintai anak itu, dia sudah lam menantikannya dan berjanji akan menjaganya bahkan jika Alex menolak kehadirannya atau bahkan mengabaikannya.
Alex juga melihat, dia akhirnya menjadi seorang ayah. Hanya saja, dia tidak memikirkan konsekuensi dari perbuatannya selama ini.
" Maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku salah dan aku bodoh karena sudah menyia-nyiakan wanita sebaik diri mu." Ini kalimat yang sangat sulit Alex ucapkan, namun juga merasa damai setelah mengucapkannya.
Reva terpana, dia tidak menduga bahwa pukulan itu membuat Alex, si pria yang penuh gengsi bisa meminta maaf bahkan menyesali perbuatannya.
Sepertinya dia harus mengucapkan terimakasih pada sang pelaku.
" Sepertinya otak mu mengalami benturan. Pergilah, jangan menjadi gila di depanku." Melihat bahwa istrinya tidak percaya, Alex memutuskan mendekati istrinya.
" Apa salah jika pria seperti ku ingin memperbaiki dan mengejar cinta istri ku?"
" Tidak, tapi kau salah orang." Reva tidak ingin mempercayainya. Dia takut terluka dan ini hanya jebakan Alex untuk balas dendam selanjutnya.
" Tidak bisakah aku memperbaiki semuanya? Aku benar-benar tulus, aku sedang tidak menjebak mu atau apapun hal buruk yang kau pikirkan." Seharusnya Alex sadar jika perubahannya yang mendadak tidak mudah di terima oleh Reva.
Belum lagi dia sudah sangat melukai wanita itu.
" Bahkan jika kau tidak ingin menjebak ku, kau pasti melakukannya untuk mengambil paksa anak ku. Ini pasti rencana mu dan wanita selingkuhan mu." Tuduhan Reva membuat Alex sedih, ternyata dia sudah sangat buruk. Bahkan permintaan maafnya di anggap sebagai jebakan.
" Aku benar-benar tulus. Aku ingin memperbaiki rumah tangga kita dan tidak ada hubungannya dengan anak kita."
Perut Reva sakit kembali. Dia panik dan Alex ikut panik.
" Ada apa? Apa perut mu sakit? Aku akan memanggil Dokter! Bertahanlah." Dalam kepanikan Alex masih bisa menguasai dirinya.
__ADS_1
Pria itu melupakan tombol panggil yang ada di dekat ranjang istrinya. Dia bahkan menarik Dokter yang tidak sengaja di temuinya.
Kepanikannya dan pemaksaan yang Alex lakukan membuat para Dokter dan perawat ikut cemas. Mereka takut terjadi sesuatu pada putri satu-satunya keluarga Wilson. Hidup mereka tidak akan baik-baik saja jika hal itu terjadi.
Setelah melakukan pengecekan berulang-ulang akibat paksaan Alex. Dokter akhirnya selesai, keringatnya bercucuran, dia sangat takut tadi. Namun, sekarang kesal karena pria yang berdiri di hadapannya.
Apa semua pria kaya, akan menjadi sangat arogan ketika jatuh cinta? Dokter itu kesal pada tindakan Alex yang menyeret dan memaksanya memeriksa Reva berulang kali meskipun sebenarnya kondisi wanita itu tidak terlalu mengkhawatirkan.
" Bagaimana kondisi istri ku? Cepat katakan! Apa sesuatu terjadi padanya dan anakku?"
" Nyonya dalam kondisi yang sedikit buruk, tuan. Kandungannya cukup rentan dan saya sarankan untuk menjauhkannya dari hal-hal yang akan membuat emosinya tidak terkendali."
Sekarang Alex paham, dia penyebab istrinya sakit dan anak mereka bahkan sedang terancam.
" Siapkan vitamin terbaik untuk istri ku dan anakku. Berapapun harganya, aku akan membelinya."
" Baik, tuan."
Kepergian Dokter membuat ruangan hening.
Reva yang sudah melihat kesungguhan dan penyesalan Alex tidak tahu harus merespon seperti apa.
" Aku tidak akan memaksa mu memaafkan ku sekarang, aku akan menunggumu. Mari kita perbaiki, meskipun aku belum sepenuhnya bisa mencintai mu. Tapi, aku berjanji akan melakukan tugas ku sebagai suami dan ayah yang baik untuk kalian."
" Apa semudah itu? Sebenarnya apa yang sudah terjadi padamu hingga kau mengucapkan hal-hal aneh seperti sekarang?"
" Seseorang sudah menyadarkan ku tentang betapa bodoh dan brengseknya aku."
Ruangan kembali hening. Di satu sisi, Reva senang karena akhirnya impiannya mendapatkan cinta Alex terwujud. Namun, disisi lain dia masih marah dan tidak bisa melupakan perbuatan pria itu padanya.
" Aku akan pulang kerumah ayah dan ibu. Aku tidak ingin tinggal di rumah itu lagi." Ya, Reva ingin memberi pelajaran pada Alex dan menguji apakah pria itu benar-benar tulus mengatakan bahwa dia ingin memperbaiki hubungan mereka.
" Baik, aku akan ikut kemanapun kau tinggal."
" Itu tidak perlu, bukankah bagus jika aku sudah tidak tinggal disana. Kau bisa membawa para wanita mu sepuasnya." Reva kembali menyindir Alex.
" Aku tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. Aku berjanji."
Melihat Alex sangat keras kepala. Reva mengabaikannya, dia juga mulai mengantuk dan tidak lama tertidur.
Alex yang di tinggal tidur oleh istrinya, akhirnya bisa tenang.
" Terimakasih, jika bukan karena mu. Aku pasti sudah kehilangan mereka." Alex mulai merasa bahwa cintanya pada Bella sudah habis, hanya tinggal rasa kagum dan tidak ada keinginan merebutnya dari Sean.
" Tuan, biarkan kami mengobati luka anda." Pengawal Alex, akhirnya bersuara. Beberapa pria memang di tugaskan menjaga pria itu, namun saat di club mereka tidak di perbolehkan untuk mengikutinya.
Setelah mendengar kabar bahwa tuannya babak belur. Mereka berencana mengejar pelaku, namun setelah mengetahui siapa dan apa tujuannya. Mereka memutuskan tidak melakukan apapun.
" Hmm, jual rumah itu dan cari bangunan lain yang lebih baik." Karena rumah mereka mengandung banyak kesedihan untuk sang istri. Alex memutuskan untuk pindah dan mencari tempat baru dengan suasana baru agar di masa depan, ketika istrinya sudah memaafkannya. Mereka bisa hidup bahagia di dalamnya bersama anak-anak mereka.
" Baik, tuan."
__ADS_1