Menikahi CEO Cacat

Menikahi CEO Cacat
Akhirnya Bisa Berjalan


__ADS_3

" Jangan percaya apa pun yang dikatakan wanita itu tentang Bos, nyonya."


" Hmm." Bella sudah dalam mood yang tidak baik sehingga dia tidak terlalu merespon.


Ini pertama kalinya dia merasakan hal yang aneh seperti itu. Bahkan, dia bertanya-tanya apa yang terjadi padanya.


Kemarahannya sangat berbeda saat orang-orang menghinanya dan juga kemarahannya pada keluarga Glover.


Hal tersebut lebih membingungkan sekaligus merepotkan bagi Bella.


Sedangkan Sean, yang sudah tahu kedatangan Tara menjadi kesal. Dia benar-benar kehilangan kesabaran pada keluarga Xavier. Apa mereka pikir dia bisa di ganggu? Sepertinya mereka sudah lama menikmati hidup santai sehingga mereka melakukan hal yang membuat Sean tidak senang.


Ketika pintu terbuka, Sean yang berpikir itu perkejaan Tara langsung mengusir tanpa melihat kearah tamu.


" Keluar!" Ucap Sean, dia tidak tahu kalau itu istrinya. Sedangkan Bella yang dalam mood tidak baik menjadi semakin jengkel.


" Huh..!" Suara Bella menyadarkan Sean bahwa dia salah mengusir orang. Dan melihat pintu sudah tertutup cukup keras.


Khawatir kalau istrinya akan marah, Sean segera mengejar istrinya.


Telapak tangannya yang besar dang hangat menggenggam tangan Bella yang kecil. Bella terkejut, matanya melebar ketika melihat bahwa suaminya sudah bisa berjalan. Meskipun belum sepenuhnya normal.


" Kau sud-" Tanpa membuang waktu dan tidak ingin banyak orang tahu kalau dia sudah bisa berjalan. Sean menarik lembut istrinya masuk kedalam ruangan kerjanya.


Sean mengunci rapat pintunya. Lalu membawa istrinya duduk di sofa dan langsung memeluknya dengan erat. Dia sangat merindukan wanita itu, rencananya dia akan pulang setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan. Tapi siapa yang tahu kalau istrinya akan datang keperusahaan.


" Aku sangat merindukan mu, sayang." Sean menghirup aroma manis tubuh istrinya. Belum menyadari kalau Bella sekarang moodnya sedang tidak baik.


" Ada apa? Siapa yang berani menyinggung istri ku." Sean baru menyadari kalau ekspresi wajah istrinya berubah dingin.


" Bukan siapa-siapa."


" Apa kau marah karena aku tidak memberitahu mu tentang kesembuhan kaki ku?" Sebenarnya Sean juga tidak ingin merahasiakan ini pada istrinya.


Dia baru kalau dirinya bisa berjalan tanpa bantuan siapapun tadi pagi, ketika dia tidak sengaja menumpahkan kopi panas yang akan melukai tangannya jika dia tidak menghindar.


Sean tidak menyangka kalau sikap refleks tubuhnya mengejutkannya. Hal ini juga yang membuatnya ingin cepat pulang dan memberitahu istrinya.


" Kau terlalu banyak berpikir."


" Maaf, aku tidak akan melakukannya lain kali."


kemarahan Bella bukan karena kesembuhan Sean. Bagaimanapun dia sudah merasakan kalau kali Sean sudah normal. Dia marah karena Tara terdengar cukup akrab dengan suaminya.


Itu tidak bisa di biarkan. Sean miliknya, bahkan jika dia belum bisa membalas cintanya. Tidak ada yang berhak atau boleh memimpikan suaminya.


" Kau membawakan ku makan siang? ini pasti enak. Apa kau yang memasak untuk ku?" Sean hanya merayu istrinya. Namun, siapa yang menduga kalau itu memang masakan sang istri.

__ADS_1


" Hmm, di bantu kepala chef."


Tangan Sean terhenti, dia menatap haru istrinya karena bersedia memasak untuk pertama kalinya dan itu hanya dia siapkan khusus untuknya.


" Ayo makan! Ini pasti sangat enak. Akh tidak sabar mencicipi masakan istri ku." Dengan riang Sean memberikan bagian Bella dan memasukkan banyak udang di piring istrinya. Dia tahu kalau sang istri suka makanan laut sedangkan dirinya lebih tertarik pada daging.


Ketika keduanya sedang makan dalam damai. Suara Tara akhirnya sampai kelantai milik sean. Wanita itu langsung membuat keributan, seolah perusahaan Sean milik keluarganya. Dan masih berpikir kalau Sean akan tertarik padanya.


" Maaf, nona. Anda tidak bisa masuk keruangan CEO." Terdengar suara sekretaris Sean yang melarang Tara yang seperti memaksa masuk kedalam ruangan Sean.


" Jangan halangi aku! Aku ingin bertemu dengan calon suamiku."


Sekretaris Sean yang mendengar ucapan Tara yang tidak tahu malu hampir muntah. Berani-beraninya dia mengucapkan hal seperti itu. Dan sekertaris Sean mulai panik karena dia tidak ingin sang nyonya terhasut.


Sean yang mendengar keributan tersebut menjadi kesal. Dia harus segera membereskan Tara, atau Istrinya akan salah paham. Lalu rumah tangganya akan hancur.


Dia tahu kalau istrinya sudah mulai mencintainya. Ditambah lagi istrinya baru merasakan cinta, pasti perasaanya akan sangat sensitif dan mudah memakan mentah-mentah hasutan wanita seperti Tara.


" Tunggu disini, aku akan membereskan wanita itu." Sean menggunakan kursi rodanya kembali. Dia harus menyembunyikan kesembuhannya untuk saat ini karena itu akan mengundang banyak masalah.


Bella yang semakin kesal hanya diam. Dia bahkan tidak dalam suasana hati yang baik untuk melanjutkan makan siangnya. Dan akhirnya duduk termenung di sofa.


" Biarkan aku masuk! Aku kekasih masa kecilnya kak Sean. Aku akan memberitahunya kalau kalian memperlakukan aku dengan buruk." Dengan wajah yang tidak tahu malu, Tara malah mengakui hal yang membuat Sean semakin kesal.


Saat sekretaris Sean dan beberapa karyawan yang berusaha menahan Tara. Sean keluar dari ruangannya dan menatap jijik pada wanita itu.


" Ada apa dengan kalian?! Kenapa wanita ini masih ada di perusahaan ku dan membuat keributan di sini."


" Kak, ada apa dengan kaki mu?" Meskipun begitu Tara tidak menyerah untuk mendapatkan hati Sean.


Jika dia berhasil, meskipun Sean lumpuh. Dia tidak akan merasa rugi. Dia juga bisa memiliki beberapa teman pria di belakang Sean. Jika pria itu tidak memberikannya kepuasan.


" Bukan urusan mu."


Sean langsung menghubungi kepolisian


" Di perusahaan ku, ada orang tidak tahu malu menganggu ketertiban perusahaan ku. Minta anggota mu untuk menjemput mereka dan aku tidak akan memaafkan mu jika kalian tidak kompeten dalam memberikan hukuman. Aku Pastikan kau akan membereskan semua barang-barang mu detik selanjutnya."


" Baik." Kepala kepolisian hanya bisa mengikuti instruksi dari Sean yang dikenal tidak berbelas kasih.


Tara dan karyawan lainnya tercengang. meskipun ini kau lebih ringan. Namun, efek untuk keluarga Xavier tidak bisa dh anggap remeh.


" Kak, jangan seperti itu. Aku sudah lama menunggu hari ini! Aku sangat merindukan mu." Sayangnya Tara seperti berbicara dengan udara. Sean sudah pergi meninggalkannya, lalu penjaga Sean membawa paksa kelompok Tara.


Hari ini dipermalukan, dan besok keluarga Xavier akan mengalami rasa malu sekaligus hinaan dari para netizen. Mengingat kisah cinta Sean dan Bella sudah tersiar ke seluruh penjuru kota.


***

__ADS_1


" Maaf, aku tida bermaksud melupakan mu. Hanya saja."


" Aku paham. Jangan merasa tidak enak seperti itu, seolah-olah persahabatan kita hanya sebua nama."


" Aku benar-benar menyesal." Reva menangis mendengar ucapan Bella. Dia menyesal karena tidak memberi tahu sahabatnya tentang hari bahagianya.


Sebenarnya ini semua terjadi, karena desakan dari keluarga Lemos, terutama ibu Alex. Ibu mertuanya menggarisbawahi bahwa Bella tidak diperbolehkan hadir dalam acara mereka.


Karena tidak bis menentang Reva hanya bisa mengikuti keinginan ibu mertuanya. Meskipun pada akhirnya dia tidak merasa bahagia setelah pernikahan berlangsung.


Alex mengabaikannya, walau keluarga Lemos sangat mencintainya. Dia juga harus menyakiti sahabatnya, dan kini perasaanya menjadi tidak enak.


Seharusnya dia tidak mendengarkan ucapan nyonya Lemos.


" Sudahlah, aku baik-baik saja. Lagi pula aku tidak bisa datang ke acara seperti itu, ibu mertua mu akan membuat keributan dan keluarga mu akan malu."


" Aku tidak peduli! Dia benar-benar wanita kejam. Kau bahkan sudah menjadi nyonya Sean, namun dia masih memasang wajah sombong dan berpikir bahwa kau masih mencintai putranya." Di bandingkan cintanya pada Alex. Reva masih memilih sahabatnya.


Dia menerima perjodohan itu, karena tidak ingin ayah dan ibunya kecewa. Di tambah lagi dia tidak memiliki kekasih, maka dia memutuskan menerima dengan senang hati karena cintanya pada Alex masih ada.


Meskipun pada akhirnya dia sadar, kalau cinta Alex pada Bella tidak bisa dianggap remeh.


" Aku tidak pernah mencintainya." Bella menggarisbawahi kata-kata tersebut.


" Maaf, aku salah mengucapkannya."


" Apa dia menyakiti mu?" Bella memutuskan mengalihkan pembicaraan.


" Tidak, hanya memberikan bahu dingin kepadaku."


" Apa kau akan terus bertahan?"


" Ya, bagaimanapun ini semua sudah terjadi. Aku hanya bisa berharap suatu hari nanti aku bisa menggantikan posisi mu di hatinya."


" Kau wanita paling aneh." Bella merasa Reva sangat aneh karena bersedia menikahi pria yang mencintai sahabatnya sendiri.


" Tidak ada pilihan. semua orang punya takdirnya masing-masing. Kau sudah menderita di masa lalu dan Tuhan membayarnya dengan pernikahan yang sempurna. Sedangkan aku terlahir dengan sendok emas, Tuhan memberikan ku ujian pada pernikahanku. Semuanya sudah memiliki porsinya masing-masing."


" Senang mendengar kalau sahabat ku semakin dewasa."


" Kau yang mengajari ku."


keduanya tertawa, sudah lama rasanya Bella tidak mendengar suara tawa Reva.


Sebelum ini, Reva seolah sengaja menghindarinya. Mungkin karena masih bimbang atau karena desakan kedua keluarga, ditambah lagi dia harus menyelesaikan pendidikannya. Reva merasa terguncang.


" Jika pria itu memperlakukanmu dengan buruk, katakan pada ku. Aku pasti akan membuatnya menyesal."

__ADS_1


" Siap! Sesuai keinginan Bu Dokter yang paling cantik."


" Bagus, jika kau sadar kalau aku cantik." Sekali lagi, keduanya tertawa. Dan tanpa Bella sadari. Suaminya sudah berdiri di belakangnya sambil tersenyum mendengar tawa bahagia istrinya.


__ADS_2