
Shireen yang disiksa oleh Sean dengan berbagai macam metode masih tetap bungkam, dia lebih memilih mati daripada memberitahu. Setidaknya kematiannya bisa memberikan efek penasaran pada mereka.
" Sudah. Hentikan, nak. Dia bisa mati." Rosalina menghentikan Sean.
" Bukankah ini dia inginkan? Aku akan melakukannya, Bu."
" Lalu melewatkan kesempatan mendapatkan informasi tentang kecelakaan mu dan hubungannya dengan bella?"
" Aku akan mencari tahu sendiri. Dia sudah menantang ku barusan, maka aku akan mewujudkannya." Shireen mengatakan bahwa dia merasa hebat, maka Sean akan melakukannya. dia memang harus Mejadi hebat dan mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa memikirkan konsekuensinya.
Shireen yang mendengar ucapan Sean menjadi panik, tentu saja dia tidak ingin mati. Dendamnya pada Rosalina belum terbayar, dia juga belum mendapatkan Julian. Shireen tidak ingin mati sekarang.
" Cukup! Aku akan memberitahu mu."
" Katakan!" Jangan berpikir bahwa Sean tidak tahu rencana buruk Shireen. Dia hanya ingin mendengarnya, lalu setelahnya hanya tuhan yang tahu kehidupan Shire selanjutnya.
" Dia membunuh orang suruhan ku. Aku tahu kau masih hidup saat kecelakaan itu, lalu rencana ku akan gagal kalau aku membiarkan mu hidup. Namun, semuanya gagal akibat wanita itu."
Perkataan Shireen di percaya oleh Sean dan kedua orangtuanya. Ternyata, sejak awal Tuhan sudah mempertemukannya dengan Bella namun dia tidak menyadarinya hingga Shireen sendiri yang mengatakannya.
" Menantu ku menyelamatkan putra ku." Gumaman Rosalina di dengar oleh setiap orang.
Sejujurnya, Sean sendiri pun tidak mengingat peristiwa itu secara jelas. Hanya dalam ingatannya, sebuah mobil besar melaju kearahnya lalu semuanya hitam dalam hitungan detik.
" Seharusnya aku juga membunuh gadis sialan itu! Tapi siapa yang tahu bahwa dia juga memiliki pendukung kegelapan."
Setiap perkataan yang di ucapkan Shireen selalu saja membuat Sean dan kedua orangtuanya terkejut. Apa mereka yang tidak mengenal Bella dengan baik atau Bella yang sengaja menyembunyikannya dengan sangat rapi sehingga tidak ada satu orang pun yang mengetahuinya.
" Aku harus pergi. Ayah dan ibu bisa mengurus wanita itu." Lalu, Sean meninggalkan kedua orangtuanya dan bergegas kembali kerumah untuk bertemu dengan sang istri. Ada banyak pertanyaan dalam benaknya dan hanya Bella yang dapat menjawabnya.
***
Saat para pengawal sedang mengelilingi Bella, untuk meminta di ajari ilmu memanah. Sean akhirnya tiba dirumah dan mencari keberadaan sang istri.
Ketika melihat para pengawalnya mengelilingi sang istri, Sean menjadi kesal dan dia menarik istrinya kedalam pelukannya lalu dia membawa sang istri masuk kekamarnya. meninggalkan para pengawal yang masih tercengang atas tindakan posesif Sean.
" Apa sudah selesai?" Bella bertanya pada Sean sambil duduk diatas tempat tidur. Dia menatap sang suami yang tengah melepaskan jas kerjanya dan membuka beberapa kancing bajunya.
" Hmm, aku ingin bertanya pada mu."
__ADS_1
" Silahkan, kenapa kau kelihatan seperti meminta izin pada ku saat bertanya?"
" Bukan seperti itu, hanya saja ini sedikit sensitif. Akh takut menyinggung perasaan mu."
" Tidak ada hal yang sensitif atau sampai menyinggung perasaan di antara hubungan suami dan istri."
" Baiklah." Sean menatap Bella lama. Membuat wanita itu heran atas perilaku sang suami. " Apa kau pernah menyelamatkan seorang pria yang mengalami kecelakaan, enam tahun yang lalu?"
Bella terkejut, dia bahkan sudah melupakan kejadian menyelamatkan seseorang di masa lalu. kalau saja Sean tidak bertanya.
" Kenapa kau bertanya tentang hal sudah lama?"
" Jadi benar, bahwa kau pernah menyelamatkan seorang pria yang mengalami kecelakaan.?" Bukannya menjawab, Sean malah bertanya kembali.
" Sebenarnya, tidak sepenuhnya membantu. Saat itu aku juga terkena tembakan ketika menghentikan penyerangan yang dilakukan oleh beberapa kelompok pria terhadap korban kecelakaan."
" Kau tertembak? Dimana? beritahu aku sekarang juga."
" Ada apa denganmu? Kenapa kau tiba-tiba terlihat sangat emosional saat berbicara tentang kecelakaan enam tahun yang lalu." Bella belum menyadari, apa makna dibalik sikap Sean dan apa hubungannya dengan pria itu pada kejadian kecelakaan enam tahun yang lalu.
" Tunjukkan saja bekas tembakan itu, aku ingin melihatnya." Tentu saja Sean sangat ingin menyentuh bekas luka tembakan sang istri saat menyelamatkan hidupnya. Tidak terbayangkan bagaimana Sean berhutang nyawa pada sang istri.
" Sudah tidak terlalu terlihat, karena obat yang di berikan guru."
Meskipun penasaran dan bertanya-tanya, Bella tetap mengikuti permintaan Sean. Membuka bajunya lalu memperlihatkan bekas operasi akibat luka tembakan enam tahun yang lalu.
Jari-jarinya yang gemetar menyentuh bekas luka tembakan sang istri, lalu memberikan kecupan disana. Hal yang membuat Bella terkejut dan semakin bertanya-tanya.
" Maaf kan aku."
" Kenapa kau harus minta maaf? Lagi pula aku mendapatkan luka ini karena menyelamatkan orang lain."
" Sebenarnya, pria yang kau selamatkan hidupnya adalah aku."
" Hah!" Bella terkejut, dia menatap Sean dengan sangat serius. masih berpikir bahwa sang suami sedang bercanda.
" Aku juga tidak tahu bahwa ada rencana pembunuhan setelah kecelakaan. Wanita itu telah memberitahu ku dan aku benar-benar terkejut saat tahu bahwa kau adalah adalah penolong ku."
Setelah mendengar penjelasan singkat Sean, Bella akhirnya bisa menangkap informasi penting lalu tertawa kecil setelah menyadari bahwa sejak awal memang dia ditakdirkan untuk bersama. Namun dalam momen yang tidak terduga.
__ADS_1
" Jadi itu kau? Aku benar-benar tidak tahu. Bagaimanapun setelah terkena tembakan, aku berusaha melenyapkan yang terakhir lalu terjatuh pingsan. beruntung guru dan di Negara ini jadi nyawaku bisa tertolong."
" Ya, sepertinya memang Tuhan sudah membuat takdir kita bersama. Kau milikku dan hanya seperti itu selamanya." Sean memeluk sang istri lalu memberikan banyak kecupan di wajah sang istri.
Bella hanya tersenyum kecil, sepertinya memang dia hanya bisa menjadi milik Sean.
" Tapi, aku masih penasaran dengan satu hal?"
" Apa itu?"
" Wanita itu m mengatakan bahwa kau juga memiliki pendukung kuat yang menjagamu dari kegelapan, apa itu benar?"
Untuk sesaat, Bella terdiam. Dia bingung harus memberikan jawaban seperti apa tentang hal itu.
" Apa dia pria yang mencintai mu atau kelompok Li Wei?" Entah kenapa Sean cemburu saat membayangkan sosok yang melindungi sang istri, apalagi pria itu mencintai istrinya di masa lalu.
" Tidak, aku dan dengannya tidak memiliki hubungan yang seperti itu. Hanya saja aku dan dengannya memiliki hubungan khusus yang sedikit tidak masuk akal."
" Katakan dengan jelas, sayang! Jangan membuatku menduga-duga." Sean gemas sendiri dengan kata-kata ambigu Bella.
" Dia memang seorang pria, tapi hubungan kami lebih mirip ayah dan anak. aku pernah menyelamatkan putranya lalu dia mengangkat ku sebagai putrinya setelah aku menolak niat baiknya yang menjodohkan aku dengan putranya."
" Kau menolak putranya?"
" Ya."
" Kenapa? Apa itu pria yang sudah menikah dengan sahabat mu?"
" Tidak, aku memang tidak ingin memiliki ikatan yang rumit seperti itu di masa lalu."
" Lalu, kenapa kau menerima lamaran ibu?"
" Karena aku ingin pergi dari keluarga Glover."
" Bukankah pria itu juga bisa melakukannya? Lagi pula kau bisa hidup mandiri dengan kemampuan mu."
" Sejujurnya, aku juga sering menanyakan hal itu pada diri ku sendiri. Tapi sekarang aku sudah mendapatkan jawabannya."
" Apa?"
__ADS_1
" Seperti yang dikatakan suamiku tadi, kau dan aku sudah ditakdirkan untuk bersama. Lalu bagaimana bisa aku pergi dengan pria lain."
" Benar, kita memang sudah ditakdirkan untuk bersama." Sean kembali memeluk istrinya. Berulang kali mengucapkan terimakasih pada Tuhan karena sudah mempertemukannya dengan wanita sehebat Bella.