
Saat pagi hari, keluarga bibi Zu sudah berada di rumah Sean. Bella akhirnya bertemu dengan bibi Zu, suami dan putranya.
Kedua pria tersebut memiliki rupa yang baik, putra bibi Zu yang bernama Oscar Lawalata Wilde memiliki wajah yang tampan dengan aura yang rendah hati sehingga orang yang melihatnya merasa adem.
Sedangkan suami Zubir Jaeden yang bernama Sofian Wilde tidak bisa menahan haru karena akhirnya, keluarga mereka bisa keluar dari situasi yang sangat buruk.
Tinggal di atap yang kapan saja bisa runtuh, bahkan terkadang makan pun sulit. Kini buah dari kesabaran dan keikhlasan mereka, akhirnya dibalas oleh Tuhan dengan cara yang sangat luar biasa. Dia berjanji akan melayani keluarga Sean dengan baik.
" Perkenalkan ini suami saya bernama Sofian Wilde dan ini putra saya bernama Oscar Lawalata Wilde." Karena sudah resmi menjadi pelayan, bibi Zu tahu bagaimana berbicara layaknya pelayan dan tuannya.
Bella sangat senang melihat mereka. Namun, matanya tidak bisa berbohong ingin berkenalan dengan putra bibi Zu.
" Hai, namaku Bella Anderson dan ini suamiku Sean Anderson yang tegas dan berwibawa." Perkenalan Bella membuat orang tersenyum, dan Sean tidak keberatan. Bahkan dia hanya mengelus lembut rambut sang istri pertanda dia sangat mencintainya.
" Mulai hari ini kalian bisa bekerja. Untuk makanan dan pakaian minta pada pelayan, sedangkan gaji kalian itu tergantung kinerja kalian."
" Baik, Tuan." Kata paman Sofian.
Oscar, remaja tampan yang dari tadi hanya diam dan merasa senang karena dia tidak akan lagi mengalami kelaparan dan kedinginan ketika musim salju, seperti pada musim-musim sebelumnya.
Rumah mewah ini akan memberikan kehangatan pada keluarganya. Dia juga tidak perlu mengkhawatirkan kedua orangtuanya jika pergi bekerja saat musim salju.
" Apa aku bisa mengusap kepala mu?" Ucapan Bella membuat semua orang terkejut sedangkan tidak dengan Sean yang cemburu.
" Tentu, Nyonya." Meskipun takut, Oscar tetap menuruti permintaan Bella.
" Jangan memanggilku nyonya, kau bisa memanggilku kakak. Dari dulu aku ingin punya adik." Bella sangat senang bisa mengusap kepala Oscar.
Sebenarnya, Bella pernah bermimpi memilki seorang adik. Entah itu perempuan atau laki-laki itu sama saja, tapi itu sangat mustahil. Namun melihat putra bibi Zu membuatnya merasa kalau Oscar cocok jadi adiknya.
Bukan dia tidak menganggap Adrian sebagai adiknya, tapi mereka memiliki umur yang sama. Jadi, bagi Bella. Adrian lebih pantas jika sebagai teman daripada sebagai adik.
" Aku tidak pantas mendapatkan keistimewaan itu, nyonya." Tentu saja Oscar senang memiliki kakak perempuan seperti Bella. Tapi, melihat wajah dingin seorang pria yang duduk di kursi roda membuatnya sadar.
karena ditolak, Bella berubah menjadi kekanak-kanakan. Dia mengadu pada suaminya seperti anak kecil yang tidak mau di beri mainan.
" Apa aku tidak boleh punya adik laki-laki? Aku ingin adik seperti Oscar! Bisakah kau membantuku membujuknya?"
__ADS_1
Entah apa yang dipikirkan Bella, bahkan dia tidak menyadari kalau suaminya sedang cemburu. Tetapi kecemburuan Sean mulai menghilang saat dia tahu kalau sang istri hanya menginginkan seorang adik laki-laki.
" Oscar, kau harus menjadi adik laki-laki untuk istri ku. Dia sudah lama menjadi anak satu-satunya. Jadi, dia ingin memilki adik laki-laki seperti mu." Mendengar ucapan sean. Oscar langsung menyetujui permintaan Bella.
Para pelayan hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakukan sang nyonya. Namun, mereka mulai paham kalau sang nyonya merasa tidak bahagia ketika remaja.
Saat Oscar resmi menjadi adik laki-lakinya, Bella akan mengajak Oscar ke universitas. Kali ini, Sean ikut. Karena dia ingin mengajak istrinya kekantor.
Setelah berada di dalam mobil, Robby yang menjadi supir mereka dan Oscar duduk disampingnya. Sean dan Bella duduk di belakang.
Sean sengaja membawa sang istri ke sisinya, dan mengupaskan jeruk untuknya. Andaikan Adrian ada mungkin dia akan merasa tidak adil.
" Apa itu enak?" Tanya Sean pada istrinya yang antusias memakan jeruk yang di berikan oleh bibi Zu.
Tanpa menjawab, Bella langsung menyuapi jeruk yan sudah bersih ke mulut suaminya. Kedua pria yang berbeda usia itu, tidak sengaja melihat perlakuan Bella dan melihat wajah bahagia Sean. Hanya memalingkan wajahnya dan fokus ke depan.
Ini sangat menyiksa bagi seseorang yang tidak memiliki pasangan.
" Ini sangat manis, sayang. Apalagi ini dari tangan istriku." Bella hanya tertawa mendengar ucapan Sean yang dibuat-buat.
Sedangkan Robby yang mendengarnya seperti ingin keluar dari mobil. Karena harus melihat adegan romantis nyonya dan tuannya.
" Tuan, sepertinya ada sesuatu yang di sembunyikan nyonya dari anda." Kata Robby.
" Apa itu?"
" Aku dengar nyonya akan di wisuda. Tapi aku tidak tahu dia akan diwisuda dala program apa! Bagaimanapun dia sudah menjadi Dokter. Jadi tidak mungkin kalau itu untuk wisuda S1."
Tiba-tiba Sean menjadi penasaran. Tetapi dia tidak terlalu terkejut, mengingat Bella yang berusaha menyembunyikan identitasnya dari keluarga Glover. Mungkin, Bella punya alasan sendiri.
" Tidak perlu ikut campur, jika memang seperti yang kau pikirkan. Cepat atau lambat pasti dia akan memberitahu ku. Semua orang punya rahasia masing-masing dan kita tidak berhak memaksanya."
" Anda bena, Tuan. Maafkan saya."
" Tidak masalah."
Sebenarnya, saat menyuruh Jhon menyelidiki identitas Bella. Dia tidak menyuruhnya untuk menyelidiki pendidikan Bella.
__ADS_1
Bagaimanapun, Bella berhasil menyembunyikan identitasnya dari semua orang, sehingga program kuliah pun dia sengaja menyembunyikannya.
Andai dia tahu sebentar lagi dia akan dikejutkan oleh berita spektakuler dari sang istri. Mungkin, dia akan menyesal karena tidak menyuruh Jhon menyelidiki tentang pendidikan istrinya.
Bella membutuhkan satu jam di dalam kampus. Dia hanya keluar sendiri karena Oscar di tahan oleh dosen karena kecerdasannya yang hampir sama dengan Bella. Meskipun Bella masih jauh diatas.
" Kita akan ke perusahaan ku dulu. Apa kau keberatan?" Tanya Sena pada sang istri yang sudah duduk di sampingnya.
" Tidak."
Kini mobil mulai melaju kearah perusahaan Sean. Hari ini, permintaan para karyawannya beberapa bulan lalu untuk membawa sang istri ke perusahaan akan segera terlaksana.
Setibanya di perusahaan suaminya, semua mata tertuju pada Bella. Dia yang tanpa beban atau rasa malu, dia mendorong kursi roda suaminya dengan ekspresi yang santai.
Bella bersikap ramah karena ini adalah daerah kekuasaan suaminya. Akan sangat buruk jika para karyawan mengolok-olok istri CEO mereka yang sombong.
Tidak ada satupun kekurangan yang mereka dapatkan.
Wajahnya yang cantik, tidak ada tatapan sombong seperti kebanyakan wanita yang telah menikah dengan pria kaya.
" Perusahaan mu sangat besar." Bella sangat takjub dengan bangunan perusahaan Sean. Bahkan karyawannya sangat sopan dan tidak memandang rendah pada Bella.
Berkaca dari masa lalu, setiap ada teman bisnis dari keluarga Glover. Mereka pasti selalu memandang rendah pada Bella ketika melihatnya.
" Ini juga milikmu."
" Tidak, aku tidak pantas semua ini." Meski ini diberikan pada Bella, dia tidak akan berani mengambilnya.
" Jadi, kau tidak ingin?" Wajah Sean berubah sedih setelah di tolak oleh sang istri.
" Buka seperti itu." Sekarang Bella menjadi tidak enak melihat ekspresi wajah sang suami.
" Lalu apa? Apa perusahaan ku terlalu kecil? Aku akan membuatnya semakin besar agar kau bersedia mengambilnya.
" Bukan seperti itu. Berikan saja pada anak... Ya pada anak kita." Bella hanya asal bicara. Tapi Sean yang mendengarnya sangat bahagia
Dia benar-benar sangat menantikan hal itu terjadi, memilki beberapa anak dari istrinya. Membayangkannya saja membuat Sean bahagia.
__ADS_1
" Baik, kita berikan pada anak kita." Bella tidak terlalu fokus pada ucapan suaminya, dia hanya memikirkan gadis kecil yang pernah dia selamatkan.
Entah bagaimana kabarnya? Anak gadis itu sangat menggemaskan. Sehingga Bella ingin memiliki satu anak perempuan seperti itu.