
" Selamat pagi, sayang." Ini ucapan manis yang selalu Reva dengar dari sang suami. Mereka memang berada dirumah yang sama namun, kamar yang berbeda.
Kehamilan Reva sudah memasuki usia sembilan bulan, membuat Alex harus memutuskan bekerja dari rumah. Dia tidak ingin kehilangan momen atau menjadi orang terakhir yang tahu bahwa puteranya akan lahir.
" Apa kau tidak memiliki pekerjaan? Kenapa kau selalu mengganggu ku?" Meskipun Reva mulai memaafkan Alex. tapi tetap saja rasa egonya sebagai wanita masih terlalu kuat, sehingga perkataan ketus sudah biasa dia lakukan.
" Sayang, jangan marah seperti itu? Bagaimana jika putra kita mendengarnya? Dia pasti sangat sedih karena ayahnya selalu diperlakukan dingin oleh ibunya."
" Siapa yang peduli pada mu!"
" Jangan berteriak, sayang. itu tidak baik untuk kesehatan mu dan putra kita."
Reva benar-benar tidak menyangka bahwa suaminya bisa berubah menjadi tidak tahu malu dan menjengkelkan, namun bisa membuat jantungnya berdetak sangat kencang.
" Ada apa? kenapa kedua pipi mu memerah? Apa sudah saatnya putra kita lahir?" Akhir-akhir ini Alex sering melihat kedua pipi istrinya merona. Jika itu hari yang normal dan hubungan mereka yang harmonis, mungkin Alex akan senang karena karena istrinya menyukai kata-kata manisnya.
Sayangnya, mereka sudah lama dalam masa perang dingin dan kehamilan istrinya sudah memasuki usia yang tua. Hal yang buruk bisa saja tiba-tiba terjadi.
" Tidak ada, aku hanya kepanasan." Reva sangat bersyukur atas kesalahpahaman suaminya. Jika saja Alex tahu bahwa dia sedang malu, mungkin Alex akan membawanya kerumah mereka.
Namun, Reva belum siap berada dalam satu atap yang sama dan hanya tinggal berdua dengan Alex.
" Apa AC-nya tidak berfungsi? Kenapa istri ku kepanasan sedangkan aku merasa ini dingin?"
Kesal pada kepolosan yang dibuat-buat suaminya, Reva melempar bantal ke wajah sang suami. Karena tidak siap, bantal itu akhirnya mengenai wajah Alex.
Alex tidak marah, malah dia senang karena istrinya mulai lunak terhadapnya. Setidaknya, hubungan mereka mulai membaik.
" Istri ku mulai nakal." Gemas dengan tindakan Reva. Alex memberikan kecupan kecil di wajah sang istri. Hal yang beberapa kali mereka lakukan jika sang istri ingin di manja.
Itu sebenarnya, tidak murni keinginan Reva. Ada putra mereka yang seperti ikut campur didalamnya.
" Berhenti, itu sangat menggelikan."
Kedua orangtua Reva yang melihat tindakan menantu dan putri mereka hanya tersenyum kecil.
__ADS_1
Sejak pulang dari rumah sakit beberapa bulan yang lalu. Di tambah oleh kehadiran Alex yang seperti wabah, sebelum di izinkan tinggal di rumah itu. Baik ayah maupun ibu Reva memutuskan untuk tidak ikut campur dalam rumah tangga mereka.
" Tidak akan, aku akan meneruskannya." Bukannya menghentikan, Alex semakin memeluk erat istrinya. merasa bahwa tidak ada penolakan, Alex hampir menangis haru. Hal yang sejak lama dia inginkan terjadi juga.
Bisa memeluk istrinya, dia sangat bersyukur. Wanita yang tidak pernah menyerah atas rumah tangga mereka dan sabar menunggu perubahan dari sisinya. Alex bersumpah akan menjaga Reva serta anak-anaknya di masa depan.
***
" Apa sudah lebih baik?"
" Hmm, terimakasih, sayang."
" Jangan berterima kasih ini kewajiban ku sebagai seorang suami."
Akhir-akhir ini Bella merasa tubuhnya mudah lelah. Beruntung Sean selalu ada disisinya sehingga dia bisa merasa tidak terlalu di persulit oleh rasa lelahnya.
" Anak-anak ayah harus menjaga ibu dan jangan selalu membuat ibu sering lelah." Sean mengelus perut sang istri sambil membisikkan kata-kata yang biasa membuat Bella sering merasa geli sekaligus terharu.
Tidak semua pria bersedia menjadi seperti Sean. Hal itu membuat Bella selalu bersyukur kepada Tuhan karena mempertemukannya dengan sosok suami sebaik Sean.
" Baik, ada sekretaris ku yang membantu."
" Tidak melakukan perjalanan bisnis di luar Negeri lagi?"
" Tidak, aku akan tetap disini sampai anak kita lahir."
" Tapi itu masih sangat lama, sayang." Bella mengelus lembut rambut hitam suaminya.
Sean yang sedang memposisikan diri didepan kandungan istrinya merasa nyaman. Bebannya saat bekerja tadi hilang begitu saja.
" aku tidak peduli. Aku ingin selalu ada disamping istri dan calon anak-anak ku."
Bella tertawa kecil, dia tahu kalau suaminya akan mengatakan hal seperti itu.
Suara kamar seketika hening, Bella masih sibuk mengelus rambut suaminya. Sedangkan Sean memberikan kecupan ringan di perut buncit sang istri.
__ADS_1
" Kapan mereka akan mulai menendang perut ibunya?" Tiba-tiba saja Sean bertanya. Dia ingin merasakan tendangan pertama dari calon bayi-bayi mereka.
" Entahlah, Dokter mengatakan bahwa mereka akan mulai menendang diusia kandungan memasuki 25 Minggu karena ini kehamilan pertama ku."
" Hmm, semoga saja aku yang pertama merasakannya setelah ibunya sendiri."
" Kenapa suami ku sangat ingin merasakannya?"
" Setelah membaca buku tentang kehamilan dan bertanya banyak hal pada ibu, aku benar-benar ingin merasakannya. Pasti sangat menyenangkan karena itu sapaan pertama calon bayi-bayi kita."
Memang Sean lebih siap dibanding tuan Julian. Dia bahkan membaca buku tentang kehamilan hingga buku menjadi seorang ayah yang baik dan bertanya banyak hal pada sang ibu.
" Sepertinya suamiku jauh lebih siap daripada diri ku."
" Aku harus menjadi contoh yang baik untuk calon anak-anak kita, sayang. Bagaimanapun, aku kepala keluarga sekaligus pemimpin dirumah ini. Aku ingin mereka menjadikan ku idola sehingga mereka tumbuh dengan baik dan tidak lemah."
Bella setuju, dia juga berencana mendidik calon anak-anak mereka menjadi kuat. Tidak bergantung pada orang lain, terutama pada kedua orangtua mereka.
" Ayo, kita sama-sama belajar."
Sean mengangkat kepalanya, lalu menatap wajah cantik sang istri.
" Ya." Lalu Sean memberikan kecupan ringa dibibir istrinya. Awalnya dia hanya ingin sekedar memberikan sebuah kecupan namun siapa yang menduga bahwa dia menginginkannya lebih.
Sebenarnya, Sean sudah lama tidak merasakan kehangatan tubuh sang istri. Bukannya Bella tidak ingin melayaninya, tapi memang dirinya yang tidak tega. Takut melukai sang istri dan calon bayi-bayi mereka, meskipun Dokter mengatakan bahwa dia bisa melakukannya asalkan bertindak lembut.
" Apa boleh?" Sepertinya, malam ini Sean tidak bisa lagi menahannya.
" Tentu." Bella tahu bagaiman perjuangan suaminya setiap kali dia ingin namun harus menahannya demi calon bayi-bayi mereka. Meskipun sebenarnya tidak ada larangan dari Dokter.
" Terimakasih, sayang." Sean segera memulai, dia melakukannya sangat lembut hingga Bella benar-benar terbuai dan merasa bahwa sentuhan malam ini seperti sebuah mimpi indah yang panjang.
Bukan hanya lembut, Sean beberapa kali akan mengelus perut buncit sang istri yang tida di tutupi apapun. Sentuhan itu membuat Bella semakin nyaman, hingga mereka mencapai puncaknya. Dan tidak lupa Sean memberikan kecupan pada perut sang istri sebelum membantu istrinya memakai baju.
" Terimakasih, sayang."
__ADS_1
" Hmm." Bella terlalu lelah untuk menjawab ucapan suaminya.