
" Apa kau sudah menemukan keberadaan mereka?" Tanya Sean pada adiknya.
" Sudah, kak. Dan kita juga mendapatkan bantuan dari Negara C."
" Itu pasti pekerjaan Li Wei."
" Ya, tapi ada juga kelompok baru yang masuk membantu kita."
" Aku tahu, abaikan saja mereka. Jangan provokasi mereka." Sean paham betul siapa kelompok yang di maksud adiknya.
" Baik, bagaimana dengan kedua wanita itu?"
" Berakhir mengenaskan, apa kau sudah membersihkan Amanda?" Tentu saja Sean tahu tentang kedatangan Amanda ke kediaman keluarga Anderson.
" Ya, dia memohon kepadaku. Namun dia pikir siapa dirinya, berani-beraninya dia meniru kakak ipar ku. Benar-benar menjengkelkan."
" Baguslah, dan Clara?"
" Dia sibuk dengan suami tuanya."
" Aku benar-benar ingin memberinya pelajaran karena berani mengganggu istri ku."
" Tenang saja, dia tidak akan memili kesempatan seperti itu lagi dimasa depan." Adrian sangat yakin dengan kata-katanya. " Lalu, kapan kita akan menghancurkan kelompok itu?"
" Malam ini kita akan melenyapkan Anggita terlemah mereka."
" Bukankah, itu seakan-akan memberikan peringatan pada ikan untuk lebih berhati-hati?"
" Tidak akan, kita akan melakukan penyerangan secara diam-diam. Lalu menggantikan mereka dengan orang-orang kita sebagai alat untuk mencari tahu rencana besar mereka."
" Itu ide yang sangat bagus, kak."
Suasana menjadi hening sejenak, keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing. Hingga Adrian tidak sengaja melihat mark yang hampir saj jatuh pingsan ditengah lapangan panah.
" Sepertinya Chelsea benar-benar menyiksa adik laki-lakinya." ada rasa kasihan pada Mark. Namun dia juga tidak akan membantu karena Mark memang harus memperbaiki kondisi tubuhnya.
" Dia harus melatih dirinya atau akan menjadi bumerang untuk kita semua saat peperangan itu terjadi."
" Benar, dia terlalu lemah untuk seorang pria."
" Ayo, kita turun. Ini sudah terima dan istri ku pasti kepanasan."
" Kau mulai berlebihan, kak." meskipun begitu, Adrian tetap mengikuti kakaknya menuju lapangan panah.
***
__ADS_1
Mark benar-benar sudah tidak sanggup. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. pakaiannya basah, keningnya penuh dengan keringat dan bibitnya mulai pucat.
Chelsea yang melihat hal tersebut sama sekali tidak terusik. Ini baru permulaan dan bahkan Chelsea tidak pernah melakukan pelatihan yang mudah seperti Mark dimasa lalu.
" Kak, biarkan aku hidup. Aku benar-benar akan mati sebentar lagi." ini kalimat yang kesekian kali Mark ucapkan pada kedua kakak perempuannya.
Awalnya Bella melihat itu masih kurang, namun melihat wajah Mark yang sudah pucat . Dia memutuskan menghentikan pelatihan hari ini.
" Kau boleh berhenti, dan lakukan beberapa putaran besok pagi." ucap Bella pada sang adik.
" Kak." Mark ingin protes.
" Aku akan mengatur pola makan dan istirahat mu. Mulai besok kau harus rajin berolahraga." Chelsea tidak bersuara. Dia mendukung semua keputusan Bella. " kami mencintai mu, dan semua yang kami lakukan semata-mata demi kebaikan mu.
" Ya." Mark masih ingat kisah pengeroyokan di masa lalu dan dia tahu kalau Bella dan Chelsea ingin dia kuat.
Sean yang akhirnya sudah tiba langsung mengajak sang istri masuk kedalam rumah.
" Apa semuanya sudah selesai?"
" Hmm, ya. Apa suami ku sudah lapar?" Bella menikmati pelayanan suaminya yang menghapus keringat yang ada di keningnya. Dengan sapu tangan.
" Belum, tapi kau harus makan agar calon anak-anak kita tumbuh dengan baik."
Karena sudah ditentukan, maka semua setuju untuk makan siang bersama.
Mark yang kehilangan banyak energi langsung kelaparan saat melihat makanan yang ada di atas meja. Tanpa permisi, dia langsung melahapnya seolah dia tidak pernah makan selama tiga hari.
Setelah makan siang, Chelsea pamit pergi karena ada satu urusan. Sedang Kam Adrian masih memiliki tinggal karena ingin mengganggu Mark yang penuh dengan keluhan. Dan Sean sudah membawa sang istri kekamar.
***
Malam hari seperti yang dikatakan Sean tadi siang. Dia dan Adrian mulai melakukan penyerangan di markas kecil yang tidak jauh dari keramaian kota.
Kelompok itu, terutama pria yang Mejadi dalang dibalik semua rencana gilanya itu.emang sengaja membuat beberapa tempat persembunyian agar tidak menarik perhatian.
Dan sekarang Sean menargetkan kelompok pemasok bahan kimia, senjata dan perangkat lunak komputer.
Sebenarnya mereka bukan kelompok yang lemah, namun dalam organisasi tersebut mereka yang paling terendah.
Melihat suasana gedung yang tidak ramai, Sean masih setia berdiri sambil mengawasi di balik pohon.
Kebetulan kegelapan malam dapat menyembunyikan tubuhnya yang sengaja mengenakan pakaian serba hitam.
" Apa semuanya sudah di siapkan?" Sean akhirnya buka suara stelah hening selama satu jam.
__ADS_1
" sudah kak, kita hanya menunggu perintah dari mu."
" Baik, kau tetap disini sambil mengawasi sekitar dan kami akan masuk. ingat untuk memberitahu ku kalau ada kelompok baru yang datang."
" Tidak, aku Mau ikut."
" Jangan keras kepala."
" Aku tetap akan ikut, aku ingin melatih otot-otot ku yang kaku ini, kak." sebentar Adrian lebih takut kakaknya terluka. Dia tidak mau hal buruk terjadi pada Sean meskipun dia tahu bahwa sang kakak pasti akan. Melindungi dirinya sendiri.
" Baik, biarkan beberapa orang tinggal disini untuk mengawasi sekitar."
" Oke."
Pukul satu malam, saat suasana menjadi sangat sepi. Sean dan kelompoknya bergerak, mereka menyusup masuk kedalam gedung tanpa menimbulkan suara yang akan menarik perhatian.
beberapa penjaga diberi tembakan bius lalu di bawa pergi oleh bawahan Sean ke markas mereka. bagaimanapun dia membutuhkan kesaksian dari mereka tentang rencana yang pria itu buat.
" Siapa kalian?!"
Sean dan kelompoknya akhirnya masuk kedalam gedung. Mereka dipertemukan dengan pria yang di duga sebagai ketua dari kelompok lemah tersebut.
" Ada berapa?" Sean masih bisa bertanya pada Adrian padahal mereka sudah ketahuan saat menyusup.
" Hanya tinggal delapan orang, kak."
" Kalau begitu, ayo cepat bereskan mereka. Jangan bunuh pria itu, kita membutuhkan dia untuk melancarkan rencana kita."
" Sesuai perintah, kakak."
Lalu, Sean dan adrian membawa kelompok masuk untuk menyerang. Pada akhirnya beberapa pukulan tidak bisa terelakkan.
Sebenarnya, Sean bisa saja menang dalam hitungan detik. Namun, setelan ingat sebuah ide. Dia memutuskan membiarkan lawannya menyentuh kulitnya hingga biru. Lalu Sean menjatuhkan pria itu setelah puas.
" Apa sudah selesai?'
" Ya, apa rencana kakak pada pria ini?" Adrian bertanya pada Sean tentang pria yang di duga ketua kelompok lemah ini.
" Mencuci otaknya, lalu membiarkan dia menjadi pelindung kelompok kita."
Meskipun terdengar sangat kejam, tapi Adrian percaya itu lebih baik daripada harus mati dengan sia-sia.
Setelah menyelesaikan tugas masing-masing. Sean sangat bersemangat untuk pulang karena dia akan segera bertemu dengan istri tercinta.
Adrian yang melihat tingkah sang kakak yang seperti anak berusia sepuluh tahun yang akan bertemu dengan ibunya, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ternyata menikah bisa merubah kepribadian seseorang.
__ADS_1