Menikahi CEO Cacat

Menikahi CEO Cacat
Terlalu polos


__ADS_3

Kini Bella sudah sampai di rumah sakit ternama di negaranya. Rumah sakit ini adalah milik keluarga Anderson. Jadi Jhon tidak terlalu sulit untuk mengurus administrasinya.


Sementara Bella sudah selesai dioperasi ringan. Tidak membutuhkan waktu lama, sekarang dia sudah berada di ruangan VVIP.


Berita Bella yang terkena tembakan sampai di telinga Sean. Tanpa membuang waktu dia langsung pergi meninggalkan perusahaannya dengan wajah yang sangat marah.


Para karyawan yang melihat wajah Sean, tidak berani mengeluarkan suara. Bahkan mereka hanya menunduk ketika Sean lewat didepan mereka.


Kini Sean sudah berada di rumah sakit. Sedangkan Jhon berada di depan kamar VVIP yang di tempati Bella sambil memikirkan bagaimana cara dia menjelaskan kejadian hari ini.


Jhon tidak akan membela dirinya, dia pasrah jika tuannya mengamuk kepadanya. Meskipun niat Bella baik tapi itu tetap kesalahan John karena tidak menyadari pergerakan musuhnya.


Jhon yang melihat wajah marah tuannya berusaha tetap menyapanya " Tuan." Sapa Jhon dengan suara yang berat.


" Kau membuat ku kecewa Jhon." suara yang tegas dan dingin membuat para bawahan Jhon ketakutan. Namun tidak dengan Jhon dia pasrah jika Jhon marah kepada nya.


" Maaf, tuan." Jhon tidak akan mengelak atau membela dirinya dengan menjelaskan alasan Bella mengorbankan dirinya.


" Aku ak-." Sean yang sementara berbicara. seorang Perawat keluar dari ruangan Bella


" Tuan Sean, Nyonya Bella meminta anda masuk." Kata perawat itu.


Jhon dan pengawal bawahannya bisa bernafas lebih lega sedikit, setidaknya sekarang mereka tidak mendengar amukan dari tuannya. Dan sekali lagi mereka sangat berterima kasih kepada nyonya Bella.


" Tunggu hukuman kalian." Sean menjalankan kursi rodanya masuk kedalam kamar istrinya. Wajah Sean berubah menjadi seratus delapan puluh derajat, wajah yang tadi sangar kini menjadi sendu karena ke khawatirannya kepada sang istri.


" Bagaimana keadaan mu? Kenapa kau mengorbankan diri mu?" Tanya Sean, dengan suara yang penuh kekhawatiran.


Bella yang mendengar itu sangat tersentuh, selama ini jika dia terluka tidak ada yang peduli padanya bahkan tidak mempertanyakan keadaannya.

__ADS_1


" Aku hanya tidak ingin kalau orang yang menyelamatkan ku mati karena menyelamat diri ku." Sebisa mungkin Bella terlihat ceria agar Sean tidak terlalu khawatir dengan lukanya.


" Iya, tapi tidak sampai melukai mu juga." Ada nada cemburu didalam perkataan Sean.


Bella yang terlalu polos, mengira kalau Sean hanya khawatir. Itupun membuat dia bertanya-tanya kenapa Sean sangat khawatir kepadanya padahal pernikahan mereka didasari dari surat perjanjian pernikahan.


" Aku pun akan melakukan hal yang sama kepada mu dan keluarga Anderson." Perkataan Bella semakin membuat Sean cemburu. Bagaimana bis Bella menyamakan dia dengan para pengawalnya.


Sean yang malang. Bahkan kekhawatirannya tidak bisa membuat Bella sadar kalau sean sudah jatuh cinta kepada dirinya.


" Kau tidak boleh melakukan itu lagi, apalagi sampai kau terluka seperti ini. Aku masih bisa menjaga mereka dan kau adalah tanggung jawab ku. Melihat mu tergores sedikit saja sudah membuatku ingin membunuh mereka yang telah melukai mu. Jadi jangan pernah kau mengulangi nya lagi." Karena sudah tidak tahan lagi dengan kepolosan istrinya, akhirnya dia mengungkapkan kekhawatirannya secara terang-terangan.


Bella yang mendengar ucapan Sean yang sangat tulus membuat dia sangat terharu dengan perhatian suaminya. Membayangkan ada seorang laki-laki kuat dan sehebat Sean yang akan melindunginya, dia merasa bersyukur kalau Tuhan masih baik padanya.


" Terimakasih." Sean mendengar suara istrinya seperti menahan airmata nya. Dia bisa melihat kalau istrinya sedang terharu.


Kini Sean menarik kepala istrinya dan membenamkan kedalam dadanya. Dia ingin melindungi istrinya, memberikan yang terbaik untuk nya, dan melakukan apa saja agar istrinya bahagia serta membuat Sean sebagai tempat dia pulang.


Bella yang merasa kan pelukan hangat dari suaminya, sangat terharu sampai dia tidak bisa menahan air matanya keluar.


" M-maaf, ini kali pertamanya ada yang baik padaku, aku bukan orang yang cengeng." Bella yang menangis merasa malu kepada Sean, dan dia berniat menjelaskan nya. Sedangkan Sean yang mendengar ucapan istrinya hanya mengelus pundak dan kepala istrinya.


Sean juga merasa bersyukur karena istrinya tidak keberatan dia peluk. Karena kejadian ini hubungan mereka semakin dekat dan Sean sangat tidak sabar menunggu dimana dia bisa memiliki hati dan tubuh istrinya.


" Aku tidak mungkin meledek istri ku meskipun dia cengeng. Lagi pula wanita harus cengeng agar prianya bisa memanjakannya." Sean berusaha untuk menghibur istrinya.


" Kau pasti berbohong. Kebanyakan pria menyukai wanita yang tidak cengeng."


" Tapi aku tidak! Aku menyukai jika kau cengeng, aku bisa melihat air mata dan ingus di hidung mu."

__ADS_1


" Kau mengejekku?" Bella yang merasa gemas dengan suaminya. Mencubit perut sixpack suaminya dan Sean merasa geli, membuat dia mencium puncak kepala istrinya. Bella mengabaikannya karena tangannya sakit akibat terlalu banyak bergerak dan dia meringis kesakitan.


" Maaf, aku tidak ingat kalau tanganmu terluka." Sean meniup niup perban yang ada ditangan Bella, membuat sang istri seperti anak kecil jika di tiup rasa sakitnya akan hilang.


" Sudah, tidak apa-apa." Meski rasa sakitnya masih ada, tapi tidak sesakit tadi.


Sean mengarahkan istrinya untuk baring dan meletakkan kepala istrinya di lengannya. Mereka baring bersama dan tempat tidur Bella cukup untuk mereka berdua.


Sean membuat istrinya senyaman mungkin agar Bella bisa tidur dan istirahat.


" Tuan sahabat nyonya ada di luar."


" Suruh dia masuk." Sean sudah tahu kalau Bella memiliki sahabat, namun dia tidak pernah bertemu langsung dengan sahabat istrinya.


" Baik tuan." Kini Jhon keluar dan menyuruh Reva masuk.


Saat Reva masuk, dia di suguhkan dengan pemandangan yang membuat wanita yang melihatnya akan iri.


Sean yang begitu tampan dan berasal dari keluarga yang kaya raya. Membuat para wanita mengantri untuk manjadi istrinya dan para pengusaha yang mempunyai anak gadis ingin menjodohkan putrinya agar Sean menjadi menantunya.


" Dia sudah tidur, kau bisa datang berkunjung dilain waktu." Sean tidak bermaksud mengusir Reva tapi dia tidak ingin jika tidur istrinya terganggu.


" Tidak apa-apa, Tuan. Saya bisa menunggu Bella bangun." Reva yang khawatir dengan sahabatnya enggan untuk pulang.


" Kalau begitu aku menitipkan istri ku kepada mu." Sean melihat ada kekhawatiran di wajah sahabat Bella, dia juga menghargai persahabatan istrinya sehingga membiarkan Bella untuk menunggu istrinya bangun dan dia bisa pergi untuk membahas tentang penculikan ini bersama Jhon.


" Baik, Tuan."


Sean kini pindah ke kursi rodanya dan menyetel kembali seperti semula dan keluar dari kamar Bella

__ADS_1


__ADS_2