
Ketika Bella sibuk dengan penyembuhan suaminya dan rencana balas dendam Daniel. Maka Li Wei sedang menatap bosan pada laut yang tak kunjung habis dan daratan yang belum terlihat sampai sekarang.
Pria itu bahkan membuat anak buahnya menjadi sasaran kebosanannya. Misalnya, dia memukul mereka hingga setengah koma lalu mengobati.
Sudah biasa dan mereka tidak merasa takut sama sekali. Hanya saja mereka kadang ingin mencari tuan yang baru, untuk mengubah kehidupan yang sial di mata mereka.
Saat Li Wei sedang asik dengan air laut. Tiba-tiba saja seseorang berpakaian serba hitam dengan topi dan pistol ditangannya muncul dari bawah air.
Pakaiannya yang basah membuat Li Wei tahu kalau dia adalah seorang wanita.
" Siapa kau?" Li Wei terkejut dan wanita berpakaian serba hitam tersebut menutup mulut Li Wei dengan kedua telapak tangannya yang kecil.
Aroma samar darah yang tercium dari tubuh wanita itu. Namun, ketika Li Wei melihat jelas wajahnya. Ini seperti melihat Bella namun dalam versi yang misterius.
Bola mata, ekspresi dan cara dia menatap semuanya sama. Tidak ada yang membedakan, hanya saja auranya lebih dingin dari Bella yang dia kenal.
" Bella" wanita itu langsung menatap Li Wei ketika mendengar nama yang dia sebutkan.
Seolah-olah dia mengenal Bella dengan baik. Atau jangan-jangan itu Bella yang Li Wei kenal, namun menyamar seperti sebagai anggota seorang mafia.
" Di mana kamar mu?" suaranya mirip namun jauh lebih dingin.
" Untuk apa?"
" Tunjukkan saja, atau kau ingin mati mengenaskan bersama ku."
" Baik." Meskipun dia bisa melumpuhkan wanita yang dia curigai sebagai Bella. Namun, Li Wei memutuskan mengikuti apa rencananya. Dan ingin melihat apa yang terjadi selanjutnya.
Kini mereka menuju ke kamar pribadi Li Wei. para bawahannya yang hendak menyerang langsung berhenti ketika melihat peringatan dari tuan mereka.
Saat sampai di kamar Li Wei. Wanita misterius itu langsung membuka pakaiannya dan memperlihatkan pakaian yang menutupi area tertentu wanita. Li Wei tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana bentuknya karena karena ada kain yang mengikat bagian atasnya hingga seperti seorang pria.
Namun, dia sangat mengagumi kulit wanita misterius itu yang sama halusnya dengan kulit Bella yang dia kenal.
" Kau terluka, biarkan aku mengobati mu." kata Li Wei yang melihat luka wanita itu.
" Tidak, biarkan aku menanganinya sendiri. Berikan aku kemeja hitam." Seolah-olah luka-luka itu tidak terlalu penting baginya. Bahkan dia tidak memperlihatkan ekspresi kesakitan.
" Biarkan aku mengobati luka mu, aku seorang Dokter. Dan aku merasa buruk jika membiarkan seorang yang terluka tanpa di obati."
" Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh pakaian hitam. Jika bisa, berikan aku penutup wajah dan pistol yang lebih canggih."
" Baik, tapi aku harus mengobati mu dan kau mendapatkan apa yang kau inginkan."
__ADS_1
" Kau seperti wanita, menjengkelkan dan sangat cerewet."
" Ya atau tidak." Meski yakin itu Bella. Tapi dia juga merasa kalau ada yang tidak beres.
" Oke, cepat. Aku harus pergi."
Li Wei segera mengobati luka-luka yang ada di tubuh wanita misterius itu. Setelah melihat dengan jelas kulit putih itu sudah mengalami banyak hal yang mengerikan.
Ada bekas luka tembak, garis panjang yang lebar dan acak. Seperti bekas pedang atau cambuk.
sangat mengerikan, Li Wei yang sudah hidup enak sejak kecil bergidik ngeri.
Setelah selesai, wanita misterius itu memakai kemeja yang diberikan oleh Li Wei serta penutup wajah.
Lalu, dia keluar dari kamar dengan cepat dan melompat kelaut seolah lautan bukan sesuatu yang mematikan.
Li Wei tercengang. Dia menatap kagum pada wanita itu, Tidak ada ekspresi putus asa atau terpaksa melompat. Semua seolah sudah sering dia lakukan.
Tida berapa lama, Li Wei melihat sebuah kapal yang lebih kecil dari miliknya. Melewati dengan tergesa-gesa seperti sedang mengejar sesuatu.
Li Wei yakin, kalau mereka mengejar wanita misterius itu.
***
Sebenarnya, alasan naik ke kapal Li Wei karena dia ingin menghirup udara setelah cukup lama berenang di laut. Tentang pakaian, karena pakaiannya sudah robek. Apa salahnya mengganti dengan pakaian yang baru. Dan dia merasa pakaian baru itu lebih ringan sehingga pergerakannya lebih mudah.
***
" Sayang, aku mendengar jika sahabat mu akan menikah dengan pria yang bernama Alex." Bella menghentikan sejenak pergerakan tangannya yang akan memasukkan jarum ke dalam kaki Sean. Namun, segera melanjutkannya seolah dia tidak terganggu.
" Apa kau patah hati karena pengejar cintamu akan menikah dengan sahabat mu?" Hari Sean sedikit tidak nyaman ketika mengajukan pertanyaan itu pada Bella.
Sudah tahu, dia akan sakit hati, namun masih saja mencari kematian sendiri.
" Tidak, aku berhenti bukan karena pria itu. Hanya terkejut karen Reva tidak memberi tahu, malah suamiku yang mengatakannya."
Kecewa itu wajar. Bella menganggap Reva adalah sahabatnya, apapun yang Bella rasakan pasti Reva mengetahuinya. kecuali, hal-hal yang memang tidak seharusnya di beritahu.
Namun, Bella yakin kalau sahabatnya punya alasan lain. Sehingga, kecewanya hanya batas tidak di beritahu tentang momen pernikahan. Meskipun dia tidak akan datang.
Bukan berarti, tidak rela Alex menikah. pertama, dia memiliki suami yang sangat posesif. Bahkan bisa cemburu pada hal-hal yang sepele. Dan yang kedua, dia tidak ingin melihat wajah keluarga Alex dengan hati penuh kebencian.
Jadi , daripada membuat keributan. Lebih baik dia tidak datang.
__ADS_1
" Apa kau akan datang jika dia meminta mu?"
" Mungkin, tapi aku merasa dia tidak akan memintaku datang. Itu sama saja mengundang peperangan di acara bahagia sendiri."
" Keluarga pria itu?"
" Ya, mari kita tidak membahas tentang mereka. Aku hanya akan menghubungi Reva untuk memberikan selamat nanti."
" Kau tidak marah atau membencinya?"
" Apa kau pikir jenis persahabatan kami kekanak-kanakan sepeti itu? Pasti dia punya alasan sendiri dan jalan satu-satunya adalah menyelamatkan sahabatnya yang punya suami posesif. Bahkan pada jarum pun bisa cemburu." Bella menggoda Sean. Membuat pria itu tersenyum malu.
Ketika keduanya sedang berbicara, tiba-tiba saja Bella merasakan dadanya nyeri. Hal yang bahkan tidak bisa dia tahan membuat Sean khawatir.
" Ada apa? Kenapa wajah mu pucat? Apa kau kesakitan? Aku akan memanggil Dokter keluarga."
" Tidak, aku baik-baik saja. Tiba-tiba dadaku seperti di hantam dengan sesuatu yang tidak kasat mata. Hal yang baru pertama kali ku rasakan."
" Bagaimana kalau kita memeriksanya di rumah sakit."
" Kita bisa melakukannya besok, hari ini kau lebih membutuhkanku."
" Tapi, aku khawatir."
" Aku merasa tubuhku lebih baik, sekarang mari kita selesaikan akupuntur lalu pergi tidur."
" Oke."
Setelah sesi akupuntur selesai, dan mandi obat-obatan dilakukan pada pagi hari. Sean akhirnya bisa berbaring dengan nyaman di sisi istrinya.
Sebenarnya kakinya sudah mulai merasakan sakit setelah berbulan-bulan mengalami mati rasa.
Itu membuatnya senang dan tidak sabar menunggu hari dimana dia bisa berjalan seperti orang normal.
Sean mulai membayangkan malam pertama mereka.
Melihat Bella yang sudah tertidur nyenyak. Sean menghubungi orang-orang yang mengurus villanya yang ada di tengah hutan.
" Hallo, tuan?"
" Tolong renovasi villa itu. Aku sudah mengirim gambar rancangannya ke komputer mu. Beberapa bulan lagi, aku dan istriku aka menginap di sana."
" Baik, tuan."
__ADS_1
Lalu sambungan telepon terputus, Sean yang bahagia langsung memeluk istrinya. Mencari kehangatan dan mencium aroma manis yang sudah seperti candu di tubuh istrinya.