Menikahi CEO Cacat

Menikahi CEO Cacat
Benih cinta Sean


__ADS_3

Hari ini Bella cepat pulang dari kliniknya. Setelah tiba di mansion Sean, dia meminta bibi Sarah untuk menyiapkan cemilan kripik kentang. setelah itu dia ke kamarnya dan segera mandi agar lelahnya berkurang dan lebih segar setelah bekerja seharian.


Bella yang sudah selesai dengan aktivitasnya di dalam kamar pergi ke dapur dan mengambil cemilan yang dia pesan dari bibi Sarah.


Tanpa sepengetahuannya, Sean juga kembali dari kantor lebih awal. Dia tidak langsung kekamarnya dan singgah di ruang tamu untuk beristirahat sejenak, karena kondisi fisiknya sedikit lemah akibat terlalu sibuk dengan pekerjaannya di kantor.


Sean yang melihat Bella dengan cemilan ditangannya, menegur Bella. " apa makanan itu enak?" Tanya Sean.


Langkah Bella terhenti, keripik kentang yang dia makan jatuh kelantai Karena terkejut, dia juga hampir menjatuhkan keripiknya karena mendengar suara Sean yang tanpa dia sadari kehadirannya.


Tingkah laku Bella membuat Sean tertawa kecil karena melihat Bella yang terkejut, baginya itu sangat lucu. Entah kenapa, Sean merasa Bella sangat menarik apalagi dengan ekspresi wajahnya yang lucu ketika dia sedang kaget.


" Kau sudah kembali?" Setelah Bella mengambil kripik kentang yang jatuh ke lantai dan membuangnya di tempat sampah yang ada di ruangan. kemudian Bella ikut duduk di sofa berhadapan dengan Sean yang masih duduk di kursi rodanya.


Tidak ada rasa canggung, Bella yang berhadapan dengan Sean merasa biasa-biasa saja. Hanya sedikit terkejut dengan kehadiran Sean yang tidak dia sadari.


" Iya, apa makanan itu sangat enak?"


" Tentu, kalau tidak enak mana mau aku makan dan menyuruh bibi membelikan stok yang banyak. Apa kau mau mencobanya?" Sebenarnya Bella sangat enggan berbagi dengan Sean, tapi dia sadar kalau dia hanya numpang tinggal di rumah Sean. Jadi dia harus menghargai tuan rumah.


" Tidak, untuk mu saja, aku melihat kau sangat menyukai nya. Bahkan kelihatannya kau enggan berbagi dengan ku." Sekarang Sean mulai nyaman berbicara dengan Bella.


Bella hanya tertawa kecil. Dan melanjutkan makan keripik kentangnya. Sedangkan Sean yang melihat cara makan Bella, membuatnya merasa ada yang aneh dengan perasaannya yang baru dia sadari ketika melihat bibir mungil istrinya yang alami tanpa polesan lipstik atau pelembab.


" Kau seharusnya mengurangi cemilan seperti itu, dan memakan buah-buahan saja. Itu akan lebih baik bagi kesehatan mu."


" Iya, Terimakasih. Aku akan melakukannya." Bella tidak keberatan dengan kata-kata Sean. Karena sekarang Bella sudah menganggap Sean adalah temannya.


" Apa kau tidak keberatan? Aku telah mengatur pola makan mu." Sean sedikit terkejut karena Bella biasa-biasa saja dan tidak merasa keberatan.

__ADS_1


" Aku tidak merasa keberatan. karena untuk membeli buah-buahan itu kan pakai uang mu.


Dan selama tidak menguras kekayaan ku maka aku akan baik-baik saja." Sean yang mendengar ucapan Bella tersenyum kecil. Dia mengingat kata-kata Adrian kalau Bella mempunyai visi dan misi menjadi wanita terkaya.


" Apa kau merasa kurang dengan uang bulanan mu?" Kata Sean kepada Bella.


" Tidak, bahkan itu sangat banyak. Meskipun aku sangat suka dengan uang dan menjadi wanita terkaya, tapi aku juga tidak mau kalau harus menguras harta mu." Bella tidak mungkin memanfaatkan Sean. Menikahi Sean saja dia sudah bersyukur.


" Padahal aku bisa memberi mu sedikit harta ku jika kau mau?"


" Itulah, kenapa aku tidak Mau serakah. Uang bulanan ku saja sudah banyak. Tapi, seandainya kau pelit. Aku akan membuat mu miskin dalam sekejap." Kata Bella sedikit bercanda.


Percakapan mereka cukup menyenangkan sehingga para pelayan yang ada di sekitar mereka, ikut senang. Bahkan Jhon yang melihat keakraban Sean dan Bella ikut senang dan dia merasa kalau tuannya sudah mulai tumbuh benih cinta di dalam hatinya.


Bella yang baik dan tidak sombong dengan status nya sebagai istri Sean. Dia sangat di sukai oleh semua penghuni yang ada di mansion Sean. karena tidak pernah menekan atau memarahi bawahan mereka.


Jhon yang melihat Sean kesulitan, enggan membantunya karena dia sering di marahi. Sean selalu menolak jika ingin diberi bantuan oleh Jhon. Meskipun saat ini dia sangat ingin membantu Sean, tapi tanpa perintah Sean dia tidak akan membantunya.


Tara juga ikut mengawasi pergerakan Sean, dia tidak ingin menawarkan bantuan kepada Sean karena dia takut Sean akan tersinggung.


Sean hanya mengalami kelumpuhan di bagian tulang tempurung lutut hingga tungkai kaki. Sedangkan bagian atas lutut sampai kepala, semuanya normal.


Bella yang melihat Sean akan terjatuh. Dia segera menopang tubuh suaminya. Dia tidak peduli jika nanti Sean akan menolak untuk di bantu, yang penting sekarang suaminya tidak jatuh.


" Maaf, aku tidak ingin kau jatuh. Aku tidak berniat melanggar perjanjian kita, aku hanya refleks." Setelah Bella selesai menolong, dia langsung meminta maaf, Sean pun merasa baik-baik saja dan tidak tersinggung.


" Tidak apa-apa. Maaf karena membuat mu kerepotan." Sean yang merasa tubuhnya begitu lemah, hanya merasa bersalah karena merepotkan orang lain, meskipun itu istrinya.


" Kau demam!" Bella merasakan suhu panas di tubuh Sean. Kini dia memperbaiki Posisi Sean agar lebih nyaman. Sekarang Bella tahu kenapa Sean tidak bisa pindah sendiri ke sofa.

__ADS_1


" Tidak apa-apa, ini hanya demam biasa, besok juga sembuh." Kata Sean, merasa baik-baik saja setelah di sentuh oleh Bella.


" Tidak, kau harus minum obat. Tunggu disini aku akan ke kamarku mengambil obat demam." Tanpa menunggu jawaban Sean dia langsung ke kamarnya mengambil obat demam. Bella sengaja membawa beberapa obat kerumahnya untuk jaga-jaga.


Jhon yang melihat tuan Sean, begitu santai ketika di sentuh oleh Bella membuatnya tertawa kecil. " Apa tuan baik-baik saja?"


" Iya, aku baik-baik saja. Jhon tolong cari tahu tentang identitas Bella. Sepertinya dia bukan mahasiswa biasa!" Sebenarnya Sean sudah penasaran dengan Bella sebelum mereka menikah, tapi karena beberapa hal dia lupa untuk mencari tahu tentang Bella.


" Baik tuan." Jawab Jhon singkat.


Bella yang sudah kembali dari kamarnya kini menghampiri Sean dan membawakan beberapa obat demam yang diresepkan olehnya.


Jika mereka tidak mengenal Bella beberapa bulan yang lalu, mungkin mereka akan berfikir kalau Bella adalah seorang dokter bukan mahasiswa.


" Terimakasih karena meresepkan obat demam untuk ku." Sean sengaja mengatakan ' meresepkan' agar kecurigaannya semakin kuat.


" Sama-sama. Kau harus banyak istirahat, jangan terlalu lelah." Secara tidak sengaja Bella memberi tahu tentang identitas.


" Tentu. Apa kau sudah makan?" Tanya Sean kepada istrinya. Tidak terasa waktu sudah menunjukkan setengah tujuh malam, membuat perut Sean keroncongan.


" Belum. Tapi jika kau mau makan, aku akan. menemani mu."


" Baiklah, ayo kita makan malam. Aku juga harus minum obat dan istirahat agar cepat pulih."


" Iya, maaf aku lupa. Ayo kita pergi makan."


Makan malam kali ini terasa sangat berbeda. sean merasa senang karena Bella tidak melihatnya sebagai orang yang cacat. Bahkan biasa-biasa saja seakan-akan Sean adalah orang yang normal.


Sean mengingat kata-kata papanya kalau Bella berbeda dengan Wanita lain, istrinya mempunyai hati yang tulus.

__ADS_1


__ADS_2