
Ketika Li Wei sibuk mencari tanaman herbal untuk sang pujaan hati. Maka Chelsea yang berkunjung di rumah Bella merasa ada sesuatu yang kurang namun masih belum bisa menemukan alasannya.
Bella yang melihat hal tersebut tersenyum kecil. Dia tahu apa yang kakak perempuannya pikirkan, dan tidak berencana menggoda karena masih ingin mengamati hubungan antara gurunya dan kakak perempuannya.
" kenapa akhir-akhir ini Sean tidak menemani mu di rumah?" Sebenarnya Bella lah yang memaksa Chelsea datang dengan alasan kesepian.
" Sebenarnya aku yang memaksa pergi, kak"
" Apa kalian sedang bertengkar? Atau dia membuat mu tidak senang?"
" Tidak, kak. Hubungan kami baik-baik saja, tapi entah kenapa aku merasa bosan saat melihat wajahnya. Jadi, aku memintanya pergi." Ini perubahan yang tiba-tiba terjadi pada Bella.
Sekarang moodnya mudah berubah. terkadang dia akan sangat manja pada sang suami, dan kadang juga tidak ingin melihat suaminya.
" Jangan berbohong katakan padaku. Apa dia membuatmu tidak senang? Atau dia memiliki wanita simpanan di luar?"
" Tidak, kak. Kami baik-baik saja. Dia bahkan hampir menangis setiap memintanya pergi bekerja.'
" Lalu, kenapa kau tidak pergi bekerja?"
" Entahlah, aku merasa selalu ingin muntah setiap kali mencium bau rumah sakit."
" Apa kau sudah periksa kondisi mu? Mungkin saja kau mengalami masalah gangguan pencernaan atau penciuman."
" Aku baik-baik saja, ini terjadi pada saat Mauk rumah sakit. Jika dirumah, makan ku juga banyak. Tidak ada tanda-tanda bahwa aku sedang sakit."
" Hidup mu sangat rumit." Chelsea menyerah dan itu membuat Bella tersenyum kecil.
Saat keduanya melanjutkan pembicaraannya. Tiba-tiba Chelsea merasa ada sesuatu yang aneh dalam tubuhnya dan mendengar suara teriakan cemas Bella lalu pandangannya mulai gelap.
Sean yang tidak tahan di usir oleh istrinya, memutuskan pulang. Dia akan tetap di rumah meski sang istri memintanya pergi.
Namun saat memasuki rumah. dia mendengar suara teriakan sang istri dan itu membuatnya cemas, tanpa membuang waktu dia berlari masuk keruang tamu.
Terlihat jelas darah di dress milik istrinya. Entah kenapa akhir-akhir ini Bella suka memakai dress dan itu membuat Sean semakin mencintainya.
" Ada pa, sayang? Dimana kau terluka?" karena terlalu cemas, Sean tidak melihat Chelsea yang terbaring diatas sofa yang tidak sadarkan diri dengan darah yang keluar dari sudut bibir dan hidungnya.
" Kak Chelsea mengeluarkan banyak darah" Sean dapat bernafas lega, namun itu hanya sebentar saat melihat kondisi Chelsea. Dia ikut cemas dan segera meminta Jhon untuk membawa tubuh Chelsea ke mobil untuk di bawa kerumah sakit.
Dalam perjalanan Bella terus berusaha menyadarkan kakaknya, namun semuanya gagal. Dia juga memeriksa denyut nadi, dan tangisnya semakin menyayat hati ketika mengetahui denyut nadi sang kakak melemah.
" Tenanglah, sayang. Chelsea akan baik-baik saja. Jangan menangis, itu akan membuat kondisi mu menjadi buruk."
__ADS_1
" B-bagaimana bisa aku tenang, denyut nadi kak Chelsea mulai melemah."
" Dia akan baik-baik saja, percaya padaku." meskipun Sean juga cemas, dia terus berusaha tetap tenang agar sang istri tidak semakin emosional. " Jhon, percepat laju kendaraan kita harus segera tiba di rumah sakit."
" Baik, tuan."
Sesampainya dirumah sakit, para perawat yang sudah di hubungi terlebih dahulu sudah menunggu di pintu masuk.
Bella yang tidak suka bau rumah sakit terpaksa masuk. Dia juga yang menjadi Dokter penanggung jawab Chelsea pemeriksaan kakaknya.
Menahan rasa mualnya, Bella memeriksa setiap inci bahkan melakukan Rontgen pada tubuh kakaknya. Namun dia tidak menemukan hal yang aneh, dan itu membuatnya semakin cemas.
" Tidak ada tanda-tanda pasien mengalami keracunan atau penyakit kronis, Dok. Bagaimana bisa kita mengetahui penyebab darah itu keluar? Bahkan warnanya semakin menakutkan." Dokter yang bekerja sama dengan Bella semakin cemas.
Melihat warna darah yang mulai menghitam. Tiba-tiba saja Bella teringat sesuatu dan meminta rekannya memasang segala jenis alat pendukung kehidupan. Sedangkan dia harus segera menghubungi gurunya untuk memastikan apakah tebakannya benar atau salah.
Sean yang melihat istrinya keluar dari ruangan Chelsea menjadi khawatir saat melihat wajah sang istri yang sudah sangat pucat.
" Ada apa, sayang? Apa kondisi Chelsea sangat parah?" Sean mengusap puncak kepala Bella untuk memberikan ketenangan.
" Aku tidak yakin dengan tebakan ku, tapi hanya itu alasan kenapa kakak seperti sekarang."
" Apa itu?"
" Baiklah."
Sean memberikan ponselnya pada Bella. Setelah beberapa kali Li Wei tidak menjawab panggilannya. Akhirnya Li Wei menjawab telepon Bella dan itu membuat Bella bernapas lega.
" Halo, guru. Apa kau sedang sibuk?" mendengar suara Bella Li Wei terkejut, dia pikir Sean yang menghubunginya dan ingin berbicara.
" Tidak, ada apa? kenapa suaramu terdengar sangat cemas? Apa sesuatu terjadi pada Chelsea?"
" Ya, apa ada racun tersembunyi di tubuhnya?"
" Dari mana kau tahu?"
" Jadi benar. kenapa guru tidak mengatakannya padaku?"
" Chelsea meminta ku untuk merahasiakannya dari mu. Sekarang katakan apa Chelsea baik-baik saja?"
" Racunnya mulai menyerang sistem kekebalan tubuh kak Chelsea."
" Sialan! Aku sangat membenci racun itu dan orang yang memberikannya." Li Wei terdengar marah dan cemas. " Apa kau ingat tentang pelajaran menekan racun yang ku ajarkan di masa lalu."
__ADS_1
" Ya, guru."
" Lakukan semua yang ku ajarkan pada mu. Aku akan segera kembali."
Lalu, sambungan telepon terputus. Tinggallah Bella yang mulai melemah namun memaksa untuk masuk kembali keruangan kakaknya agar dapat menyelamatkan sang kakak.
***
Beberapa jam sebelum Bella menelfon. Li Wei mulai mencari tanaman herbal di pagi buta. Dia tersenyum bahagia ketika melihat jenis tumbuhan yang sangat penting dan yang dia cari-cari akhirnya mendapatkannya.
" Mari kita kembali, tuan muda."
" Hmm." Li Wei yang tidak sabar kembali ke Negara A, lalu memberitahu Chelsea jika dia mendapatkan tanaman herbal yang selama ini mereka butuhkan untuk mengobati racun yang ada di tubuh wanita tercintanya.
Saat ketiganya berjalan menuju ketitik awal mereka masuk hutan. Li Wei tidak sengaja melihat sesuatu yang berbulu dan berwarna putih namun terhalang oleh rerumputan.
Penasaran dengan benda tersebut. Li Wei memberanikan diri untuk melihat, matanya terbelalak saat melihat anak rubah kecil yang sedang berbaring di sisi ibunya yang sudah mati akibat serangan buas.
" Astaga, si kecil ini sangat malang." Li Wei tiba-tiba teringat pada dirinya tanpa seorang ibu.
" Apa anda ingin membawanya, tuan?"
" Apa tidak menjadi masalah jika aku membawanya? Dia suda tidak memiliki keluarga atau pelindung di hutan ini."
" Tentu saja, tidak masalah. Tuan besar akan membantu anda merawatnya." Tentu saja Li Changyi tidak keberatan mengurus hewan yang berhasil menarik perhatian putra bungsunya.
" Tidak, aku akan membawanya ke Negara A. Nyonya masa depan kalian pasti senang mendapatkan hadiah rubah kecil ini."
" Baik, tuan. Kalau begitu, saya akan membawanya."
" Aku saja, kalian hanya harus menjaga tanaman yang kucari dengan baik."
" Baik, tuan."
Setelah menguburkan ibu rubah. Li Wei dan kedua pengawalnya kembali melanjutkan perjalanan sambil membawa anak rubah yang merasa sangat nyaman di pelukan Li Wei tanpa membuat keributan apapun.
Namun sekali lagi, perjalanan mereka terhenti ketika Li Wei mendapatkan sebuah panggilan. Awalnya dia tidak ingin menjawab panggilan tersebut karena berpikir itu hanya panggilan dari orang-orang yang tidak penting.
Hanya saja, si penelpon tidak berniat menyerah sehingga Li Wei memutuskan mengangkatnya dan terkejut ketika mendengar suara bella.
Tubuhnya segera menegang setelah mendengar berita yang selama ini dia takutkan tentang Chelsea.
Setelah memutuskan sambungan telepon, Li Wei segera berlari menyusuri jalan. Dan kedua pengawalnya ikut berlari saat mereka tahu bahwa sesuatu yang buruk terjadi pada calon nyonya mereka.
__ADS_1