
Kini Bella hanya terdiam dan tidak berani bertatapan dengan suaminya setelah mendengar pernyataan cinta dan panggilan sayang yang di ucapkan oleh Sean.
Sementara pengawal Sean sudah ada di depan kamar Bella, membawa makan siang mereka.
" Tuan, kami membawakan makanan untuk anda dan nyonya." Suara pengawal sedikit berteriak karena berada di depan pintu
" Bawa masuk." Kata Sean.
Pengawal membawa masuk dan meletakkan diatas meja yang sudah di sediakan di depan Bella.
Setelah pengawal pergi. Sean menyiapkan makanan yang ada di atas meja dan membantu istrinya makan. Dia tidak ingin Istrinya kesulitan saat makan, karena mengingat tangan kanan istrinya yang terluka.
" Ayo, sayang. Buka mulut mu?" Kata Sean yang ingin menyuapi istrinya.
" Kau tidak perlu repot, biar aku yang makan sendiri. Lagipula luka ku tidak terlalu parah, jadi aku bisa menggerakkannya." Meski agak sulit menggerakkan tangannya, namun dia merasa tidak enak karena merepotkan suaminya.
" Iya, aku tahu. Tapi istri ku sekarang sedang sakit jadi aku ingin merawatnya, apa kau keberatan." Sean sangat memanjakan istrinya bahkan ini tidak pernah ada dalam dirinya. Cintanya yang begitu dalam membuat dia benar-benar berubah ketika bersama dengan Bella. Sikap dingin dan arogannya hilang ketika berada di dekat istrinya.
Namun Bella begitu terkesan mendengar ucapan suaminya. Ada rasa haru karena selama hidupnya baru kali ini dia merasa disuapin dengan orang yang terlihat tulus.
Kini Bella hanya pasrah dan mengikuti perintah suaminya.
Makan siang ini sangat berbeda, mereka makan dengan satu meja yang kecil. makan makanan yang sama, bahkan dengan satu sendok yang sama.
Setalah makan siang kini Sean menyuruh istrinya istirahat. Sedangkan Bella hanya menurut seperti kucing peliharaan yang sangat di manjakan oleh tuannya. Sekarang Bella tertidur di pelukan suaminya.
Tiba-tiba suara pintu terbuka pelan. Karena tidak ingin mengganggu istirahat kakak iparnya setelah di beritahu oleh pengawal yang ada di depan pintu kamar.
" Apa kakak ipar ku baik-baik saja." Tanya Adrian yang khawatir ketika mendengar kalau kakak iparnya mengalami musibah hari ini.
" Dia baik-baik saja, lukanya tidak terlalu serius. Apa mama dan papa tahu soal ini?" Tanya Sean, karena dia tidak ingin jika orang tuanya tahu dan membuat mereka merasa bersalah karena bersangkutan dengan perusahaannya. Apalagi sang mama yang sangat menyayangi menantunya.
" Tidak, Aku tidak memberi tahu mama. Aku tidak ingin dia memarahi dirinya sendiri jika dia tahu menantu kesayangannya terluka karena urusan bisnis keluarga kita."
" Baiklah. Apa kau malam ini tidak ada pekerjaan?" Tanya Sean kepada adiknya. Dia ingin memberikan pelajaran kepada orang yang melukai istrinya malam ini.
" Tidak, Ada Apa? " Meski Adrian sudah menduga kalau kakaknya ingin menitipkan istrinya.
" Aku ingin malam ini kau temani kakak ipar mu."
__ADS_1
" Baiklah, aku akan menjaganya. Kau jangan khawatir bahkan seekor nyamuk tidak akan berani menyentuhnya." Tentu saja Adrian mau. Karena dia tahu kalau sang kakak akan membuat perhitungan kepada orang yang melukai kakak iparnya.
" Aku akan memberikan proyek di kota B untuk kau tangani."
Wajah Adrian kini semakin cerah karena mendapatkan proyek yang dari kakaknya. Meski dia tidak memintanya dengan senang hati dia menerimanya. Jika dia bisa menyelesaikan proyek itu, Adrian ingin meminta ayahnya untuk memberikan dia cuti untu liburan.
" Ok, terimakasih. Kak."
Tidak lama Bella bangun. Adrian yang melihat Kakak iparnya. " Kakak Ipar, apa kau baik-baik saja." Tanya Adrian yang sudah duduk di sofa dekat tempat tidur Bella.
Sedangkan Sean berada di kursi rodanya di depan sofa sedikit berhadapan dengan Adrian.
" Iya, Kapan kau datang?" Tanya Bella, karena dia tidak menyadari kedatangan Adrian.
" Tadi, namun belum lama." kata Adrian.
Merasa perbincangan mereka bertiga sudah cukup lama. Sean menyuruh pengawalnya untuk membawakan mereka makan malam dari rumah Sean karena merasa makanan dari rumah lebih sehat.
Tidak lama Jhon masuk dan membawa makanan yang di pesan tuannya.
Sedangkan Sean sudah kembali keatas kasur istrinya, seperti biasa hari ini dia akan memanjakan istrinya.
Setelah kepergian Jhon, Sean kembali menyuapi istrinya tanpa peduli jika sang adik ada di ruangan yang sama.
Bella hanya bisa menahan malu karena di perlakukan seperti anak kecil yang sangat di sayangi oleh ibunya.
Melihat pemandangan itu membuat Adrian tidak menyangka jika sang kakak sangat berubah 180 derajat. Namun, dia sangat bersyukur kepada kakak iparnya. Berkat dia sang kakak bisa jatuh cinta.
***
Larut malam, Sean melihat istrinya sudah terlelap kembali. Dia mengecup kening dan bibir istrinya yang mungil. Lalu bangun dan pindah ke kursi rodanya. Sedangkan Adrian yang melihat pemandangan didepannya merasa iri.
Kapan dia akan memiliki kekasih? Dia juga ingin merasakan hal-hal seperti itu.
" Ingat kau harus menjaga kakak ipar mu dengan baik, jangan sampai ada nyamuk yang menggigitnya. Jika aku melihat ada goresan sedikit saja di kulit istriku, aku akan mengambil kembali proyek yang ku berikan tadi."
" Siap, kak."
Kini Sean meninggal kan rumah sakit bersama Jhon dan beberapa pengawalnya.
__ADS_1
" Di mana pria itu sekarang?" Tanya s ab kepada Jhon.
" Dia berada di kediaman keluarga William, sepertinya putri keduanya memiliki hubungan serius dengan tuan David."
" Aku rasa jika penculikan istri ku ada kaitannya dengan putri keluarga William." Dugaan Sean bukannya tidak mendasar, Dia sangat cerdas jika berhadapan dengan pesaing bisnisnya. Dia tahu David tidak akan seberani itu jika tidak ada orang di belakangnya.
" Sepertinya putri keluarga Wiliam tahu jika dia memiliki seorang kakak perempuan." Dugaan Sean semakin menjadi.
" Aku juga berpikir seperti itu, tuan. Bisa saja ada hal yang membuat dia berani menyinggung anda melalui nyonya."
" Selidiki." Perintah Sean kepada Jhon.
" Baik, Tuan."
Sean memerintahkan kepada Jhon dan pengawalnya agar mereka menunggu David keluar dari kediaman William. Dia tidak ingin identitasnya di ketahui oleh putri mereka, karena tidak ingin Istrinya dalam bahaya.
Benar saja mobil David keluar dari kediaman keluarga William pukul satu malam. Sedangkan pengawal yang melihatnya dari kejauhan, pergi menghalangi jalan David.
Di dalam mobil wajah David mulai pucat. Karena terus dipaksa untuk turun, akhirnya dia membuka pintu mobilnya. Dia terkejut karena langsung di tarik oleh Jhon.
Melihat kehadiran Sean wajah David semakin pucat. Dia tahu kalau Sean sangat kejam bahkan dia bisa menghabisi musuhnya jika menyinggungnya walau hanya secuil.
" Tuan Sean. Apa yang ingin anda lakukan kepadaku? Kenapa anda menghalangi jalanku?." Meski sangat pucat, dia berusaha menunjukkan kalau dia pria gagah yang sangat di gemari oleh kaum wanita.
Namun, Sean yang melihat wajah David hanya tertawa meremehkan.
" Aku hanya ingin membalasnya apa yang tuan David lakukan kepada istriku."
" Istri?." Wajah David semakin pucat dan sekarang dia bingung, apakah perempuan yang ingin dia lecehkan adalah istri dari Tuan Sean yang sangat kejam.
" Jhon." Mendengar panggilan tuannya. Tanpa menjawab Jhon langsung melakukan perintah Tuannya.
Kini pukulan demi pukulan yang diberikan Jhon dan beberapa pengawal Sean, membuat David lemah karena tidak bisa melawan beberapa serangan yang di berikan oleh mereka.
Melihat David yang sudah tidak berdaya, dan tidak sampai kehilangan nyawanya. Sean menyuruh Jhon membawa David ke hadapannya. Dia sudah memegang spidol permanen yang berwarna merah.
Kini dia menulis di bagian lengan David. ' Jika ingin menyentuh istri ku kau harus menyiapkan makam yang indah.' Dan melanjutkan nya menulis di jidat David. ' Singa kejam'
Setelah itu, Sean melempar spidolnya dan membiarkan David di pinggir jalan dengan tubuh yang sudah tidak berdaya. Sekarang Sean dan Jhon kembali ke rumah sakit.
__ADS_1