
Tiba di rumah sakit, Sean langsung masuk kekamar istrinya. Dia langsung menyuruh sang adik untuk pulang, bahkan dia tidak mengucapkan terimakasih.
" Kau bisa pulang sekarang." Kata Sean kepada Adrian.
Mendengar ucapan kakaknya, Adrian kesal. Bagaimana bisa Sean langsung menyuruhnya pulang selarut ini.
" Kau ini, benar-benar tidak punya perasaan, kak. Aku akan mengadukan mu ke mama karena mengusir ku, Dia pasti akan memarahi mu." Meski sudah dewasa, Adrian masih seperti bocah remaja di hadapan kakaknya.
Melihat adiknya yang bertele-tele, Sean memerintahkan Jhon untuk mengantar sang adik agar Adrian berhenti memberikan bicara. " Jhon, antar tuan kedua kerumah tanpa lecet."
Merasa ini sudah larut malam, rasanya dia sudah tidak sabar lagi untuk memeluk istrinya. Di tambah lagi dengan kekesalannya dengan keluarga William dan David, hanya dengan memeluk istrinya Sean bisa merasa tenang.
Inilah Sean yang sekarang, semakin hari cintanya kepada sang istri semakin bertambah. Meninggalkan istrinya walau hanya sebentar sudah merasa rindu, bahkan sekarang pelukan istrinya bagaikan obat tidur untuk Sean.
" Baik, Tuan." Jawab Jhon dan mem persilahkan Adrian untuk jalan duluan.
" Baiklah, aku akan mengadukan mu dengan kakak ipar, bahwa kakak telah mengusirku. Kita lihat nanti apakah Kakak bisa menyelamatkan diri dari kemarahan kakak ipar?" Kini Adrian sudah tahu, kalau kelemahan sang kakak adalah kakak ipar setelah mamanya.
" Iya, kau bisa adukan itu besok. Sekarang kau pulang, aku mau istirahat." Kata Sean tanpa membiarkan adiknya berlama-lama.
Adrian yang mendengar ucapan kakaknya hanya bernafas kasar, dan keluar dari kamar kakak iparnya. Sebagai orang dewasa dia juga paham dengan kata-kata sang kakak, meski keluar dengan menghentakkan kakinya, itu tidak membuat sang kakak marah bahkan Sean melihat adiknya seperti bocah remaja yang ngambek.
Setelah kepergian sang adik dengan Jhon. Kini Sean pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum menemani sang istri tidur dan memeluknya.
Ketika tubuhnya yang separuh lumpuh, kini sangat nyaman ketika memeluk sang istri. Namun, Sean mulai merasa kalau seharusnya dia mengobati kelumpuhannya agar bisa lebih menjaga sang istri, melindunginya kapan saja.
Namun, dia harus membalaskan dengannya dulu dengan wanita itu, lalu mencari Dokter untuk mengobati lumpuhnya.
Karena dia tidak bisa melihat wanita yang di cintainya memilih laki-laki lain selain dirinya. Bahkan dia juga takut jika sang istri mudah tergoda dengan laki-laki seperti Alex. Namun, bukan hanya itu saja, Sean berharap bisa jalan bersama sang istri tanpa kursi roda, kemana-mana bergandengan tangan dan leluasa untuk berbicara.
membayangkan menggendong sang istri dengan punggungnya dan berbincang dengan hal yang sepele. Membuat motivasi Sean untuk jalan semakin kuat.
__ADS_1
Melihat sang istri yang tertidur pulas membuat Sean tidak sabar untuk menyentuh istrinya. " Selamat malam istri ku." Kata Sean lalu mencium kening dan bibir mungil sang istri. Kini dia sudah menenggelamkan pelukannya kepada sang istri, membuat keduanya jatuh kedalam mimpi dan nyaman.
***
Melihat sang istri sudah membuka mata, Sean sangat bahagia melihat wajah polos sang istri ketika bangun.
" Selamat pagi sayang ku." Kata Sean penuh semangat.
" Pagi." Jawab Bella singkat.
Meski terlihat gugup dan suaranya kecil, namun bagi Sean itu sangat manis, membuat Sean semakin jatuh cinta.
" Bagaimana keadaan tangan mu, apa sudah membaik?" Tanya Sean kepada sang istri.
" Iya, aku sudah sembuh. Apa kita bisa pulang sekarang?"
" Nanti, sayang. kalau dokter sudah mengizinkan mu pulang."
Sean yang melihat ekspresi istrinya, membuat dia gemas, dan memberikan kecupan ringan kepada istrinya. Namun, entah kenapa rasa hausnya membuat dia semakin dalam mencium sang istri.
Sedangkan Bella hanya terdiam. Namun tidak marah kepada Sean karena dia sudah mendengar ucapan cinta dari suaminya.
Karena tidak terbiasa, Bella tidak tahu harus membalasnya seperti apa. Namun Sean tidak bermasalah dengan sikap istrinya, dia bahkan lebih memperdalam ciumannya dan menjelajahi setiap rongga yang ada di mulut Istrinya.
Ciuman mereka semakin dalam. Namun, tangan Sean tidak menjelajahi bagian tubuh istrinya karena dia tidak ingin membuat dirinya semakin tersiksa. Dia hanya mengelus rambut sang istri agar semakin nyaman.
merasakan nafas sang istri yang mulai tidak teratur akhirnya Sean menghentikan ciumannya. Melihat bibir sang istri yang sudah memerah membuat Sean harus menahan untuk melanjutkan apa yang sudah dia lakukan.
" Jangan lupa bernafas, sayang." Kata Sean mengejek sang istri.
Mendengar ucapan suaminya, membuat Bella malu dan menyembunyikan wajahnya di dada suaminya. Rasanya sangat nyaman berada di pelukan sang suami.
__ADS_1
Meski Bella di kenal dingin dan sangat cuek, namun perlakuan Sean membuatnya merasa nyaman berada di dekat laki-laki asing. Dari awal menikah Bella sudah berjanji akan menjaga keluarga yang telah menerimanya dengan baik, semua anggota keluarga Anderson sangat menyayanginya sehingga dari awal dia sudah mengganggap Sean sebagai teman. Namun, perlakuan suaminya akhir-akhir ini membuatnya Sangat nyaman. Meski sangat aneh, dia hanya bisa menuruti apa yang dikatakan sang suami.
" Kau sangat menjengkelkan." Kata Bella yang masih dalam pelukan sang suami.
Sean sama sekali tidak marah, bahkan dia tersenyum kecil melihat kelakuan istrinya yang sangat pemalu. Dia hanya mengusap rambut sang istri dan mencium puncak kepalanya.
Bella semakin nyaman di pelukan suaminya hingga muncul pemikiran yang tak terduga. " Apakah kau akan mencari pengganti ku jika aku sudah tiada?" Pertanyaan Bella membuat Sean terperangah.
" Diantara kita tidak akan ada yang mati, dan kita akan menua bersama, sayang." Kata Sean. Membayangkannya saja membuat dia tidak bisa berpikir, bahkan hidupnya tidak akan tenang. Dan bagaimana dia akan hidup baik-baik jika istrinya pergi meninggalkannya.
" Kau tidak menjawab ku."
" Aku sudah menjawabnya, sayang."
" Tidak, bukan itu jawabannya." Bella sudah sedikit kesal.
" Baiklah, dengarkan aku. Aku bahkan tidak ingin hidup lagi jika kau meninggalkan aku! Apalagi mencari pengganti mu, kemungkinan besar aku akan menyusul mu." Kata Sean kepada istrinya.
Jawaban Sean terlihat sangat tulus. Membuat Bella yang tadinya ingin menggoda suaminya merasa terharu.
Sekarang Bella merasa benar-benar sangat dihargai, selama hidupnya dia tidak pernah merasakan hal seperti ini. Bahkan keluarga yang membesarkannya selalu memperlakukannya kejam.
" Tapi, jika aku menjadi jelek dan tidak bisa memberikan mu keturunan. Apa kau akan mencari pengganti ku?." Bella semakin menggoda suaminya, namun Sean tidak merasakan itu.
" Itu lebih tidak mungkin, aku tidak akan meninggalkanmu dengan alasan konyol seperti itu. Kita akan melaluinya bersama meski dunia tidak memperlakukannya dengan adil. Namun, aku akan membuat mu merasa adil meski aku harus menentang dunia." Sean yang sudah tahu semua identitas istrinya, sebisa mungkin Sean akan mengurangi kesedihan istrinya dimasa depan dan selalu menjadi pelindung untuk Bella.
" Kau seperti pria yang sudah beberapa kali jatuh cinta." Kata Bella yang selalu menggoda suaminya. Tapi dia tahu kalau suaminya sangat jujur, dan sangat mencintainya. Jatuh cinta kepada suaminya bukanlah hal yang salah atau akan membuatnya terluka seperti yang di katakan sahabatnya.
" Kau adalah cinta pertamaku dan juga cinta terakhir ku. Aku benar-benar jatuh cinta kepada mu. Meski orang mengatakan aku sangat berlebihan tapi bagi ku itu wajar dan kau berhak mendapatkan itu dariku."
Ucapan Sean membuat Bella hanya terdiam dan tenggelam dalam pelukan sang suami. Bahkan matahari di pagi hari sangat cerah bagi mereka, dan kehangatannya semakin terasa.
__ADS_1