Menikahi CEO Cacat

Menikahi CEO Cacat
Kebetulan


__ADS_3

" Berikan anak itu kepada ku." Kata sang pengasuh, dia harus mengambil anak itu untuk membawa jauh dan menyelesaikan tugasnya karena dia tidak mau nyawanya jadi taruhan.


" Tidak, aku tidak mau. Dia jahat." Anak kecil itu berteriak dan tidak mau melepaskan pelukannya dari Bella. Semua orang yang ada disekitarnya sangat membenci pengasuh yang sangat kasar.


Semua orang merasa kalau pengasuhnya benar-benar kejam dan selalu melakukan hal-hal yang mengerikan sehingga anak kecil itu ketakutan.


Melihat semua orang yang memperhatikannya menatap benci. Dia menurunkan emosinya dan berusaha mengambil anak itu.


" Nona, anda tidak bisa mengatakan hal seperti itu tentang saya. Tuan Brian dan nyonya Brenda pasti akan salah paham." Pengasuh itu mulai berkata lembut karena takut wajah aslinya di ketahui oleh Brian.


" Tida, aku tidak mau bersamanya. Kakak, tolong bawa aku." Kata anak itu sambil menangis di pelukan Bella, membuat Bella ikut sedih.


" Baiklah, Kakak akan membawa mu pulang. Apa kau tahu dimana rumah mu?" Bella tidak tega melihat anak kecil itu ketakutan.


" iya, kak." kata anak kecil itu.


" Kalau begitu, dimana supir pribadi keluarga mu?"


" Dia menyuruh paman supir pergi." Kata anak itu dan menunjuk pengasuhnya.


Bella semakin membenci pengasuh itu. Perbuatannya sangat kejam melebihi seorang ibu tiri dalam versi dia.


" Robby, bisakah kau mengantar kita pulang kerumah anak kecil ini?" Tanya Bella.


Hal yang Robby selalu mengagumi sang nyonya, karena Bella selalu meminta pendapatnya dan tidak bersifat arogan kepada bawahannya.


" Tentu, Nyonya. Dan bagaimana anda ingin kami mengurus wanita itu? Tanya Robby kepada Bella yang menunggu perintah sang nyonya untuk memberikan pelajaran kepada wanita muda itu.


" Abaikan saja. Dia bukan urusan kita, tidak perlu membuang waktu untuk mengurusnya."


" Sesuai keinginan anda, Nyonya."


Kini Bella dan semua para pengawal meninggalkan lokasi. Para pengguna jalan yang mengelilingi mereka juga mulai bubar dan meninggalkan sang pengasuh yang menatap kosong pada sosok Bella yang mulai menghilang.


Di dalam mobil Bella mulai mengajak berbicara anak perempuan kecil itu karena menarik perhatiannya. Pipinya yang sangat chubby dan matanya yang berwarna coklat, ingin rasanya Bella mencubit pelan pipi lembut itu.


" Siapa nama mu?" Tanya Bella.


" Arabella Regan William. Ayah dan ibu memanggil ku Ara." Suaranya yang lembut dan wangi susu yang ada ditubuhnya membuat Bella ingin memiliki satu seperti Arabella..


" Nama yang bagus, kau bisa memanggil ku Kakak Bella."


" Bella dan Arabella, Nama kita punya kesamaan."


Robby yang mendengar dan melihat percakapan mereka ikut gemas kepada anak kecil itu. Dia bahkan tidak melewatkan kesempatan merekam mereka dan mengirimnya nanti kepada tuan Sean agar tuannya termotivasi untuk mendapatkan anak secepat mungkin dari nyonya Bella.


" Iya, yah. Nama kita ada kesamaan." Kata Bella dan tersenyum lembut kepada anak kecil itu.

__ADS_1


Perjalan cukup menyenangkan. Hingga mereka tiba di kediaman Brian. Penjaga yang melihat mobil mewah masuk kerumah tuannya memperhatikan mobil mewah yang hanya di miliki kalangan tertentu.


" Paman, biarkan mobil kakak Bella masuk." Mendengar perintah nona kecil mereka, akhirnya penjaga membuka kan pintu gerbang lalu mobil Bella masuk kedalam rumah mewah yang hampir sama dengan rumah milik suaminya.


Pengurus rumah tangga yang kebetulan mendengar nona Ara pulang langsung membuka pintu rumah lalu terkejut melihat siapa yang mengantar.


" Nona, dimana pengasuh anda." Kata pengurus rumah tangga karena dia khawatir.


" Paman, aku ingin bertemu Ayah dan Ibu." Tanpa menjawab pertanyaan yang di berikan. Wajah Ara kembali sedih sehingga pengurus rumah tangga langsung paham jika ada sesuatu yang tidak beres dengan nona mudanya.


" Baik." Kata paman pengurus rumah tangga.


" Ayo, kak. Kita masuk." Ara mengajak Bella masuk.


" Mungkin sebaiknya kakak langsung pergi saja. Kau bisa masuk, sayang." Kata Bella karena dia merasa tidak nyaman berada di rumah mewah tersebut.


" Ayo, kak. Ayah dan ibu ku baik." Suara dan wajah Ara yang masih sedih membuat Bella kasihan dan memutuskan ikut masuk kerumah Ara sedangkan Robby hanya menunggu diluar.


Setelah masuk perasaan Bella semakin tidak nyaman. Entah apa yang membuat dia merasa aneh dalam rumah ini. Tapi dia tidak memperdulikan perasaanya dan tidak ingin mencari tahu.


Dengan patuh dia duduk disamping Ara dan salah satu pelayan memanggil tuan dan nyonya mereka.


Tidak lama, Brian yang tidak pergi kekantor nya turun bersama Brenda istrinya.


Sesaat Brian merasa familiar dengan wajah Bella tapi dia tidak tahu dimana dia pernah melihatnya. Bahkan dia merasa dekat dengan gadis muda yang duduk disamping putri nya.


" Sayang, ada apa? Dimana pengasuh mu? Dan kenapa kau menangis?" Brenda langsung memeluk putrinya.


" Aku benci dengan kakak pengasuh dia hampir membuat Ara tertabrak mobil." Seketika Brian dan Brenda terkejut mendengar ucapan anaknya yang hampir saja kehilangan nyawa.


" Kurang ajar! Beraninya dia." Tentu saja Brian Sangat marah.


" Tapi ayah, Ara bertemu dengan kakak yang cantik. Dia yang menyelamatkan Ara dan nama kami hampir sama." Ara sangat pintar sehingga dia bisa berbicara cukup banyak dan paham tentang kejahatan pengasuhnya.


" Terimakasih karena sudah bersedia menyelamatkan nyawa putri kami." Brenda menatap Bella. Dia merasa kalau Bella sedikit mirip dengan suaminya.


" Siapa nama mu?" Tanya Brian kepada Bella.


" Isabella Anderson, Tuan." Karena dia sudah menikah dengan Sean. Dia harus mengubah nama belakang nya menjadi Anderson karena Sean terus memaksa sehingga dia harus mengubahnya. Mengingat suaminya sangat posesif padanya.


Seketika Brian terkejut mendengar nama depan Bella. Dia dulu yang memberikan nama itu kepada adik perempuannya. Bahkan dia memberikan kalung berbentuk huruf B untuk nama panggilan adik perempuannya.


" Kau istri tuan Sean?" Tanya Brenda yang melihat suaminya tiba-tiba terdiam. Sehingga dia harus mencairkan suasana.


" Iya, nyonya." Kata Bella singkat


" Benar-benar dunia sangat sempit. Baru beberapa hari yang lalu Adik ipar ku membuat masalah dengan mu. Kini kau yang menyelamatkan putri ku, aku merasa sangat malu." Kata Brenda

__ADS_1


" Aku juga benar-benar tidak tahu kalau nona yang ada di rumah sakit itu adalah adik ipar anda, nyonya." Sebenarnya dia sangat terkejut mengetahui hal itu. Tapi dia merasa kalau Brenda tidak seperti itu.


" Iya, dan perkenalkan. Nama saya Brenda Leone Thomas. Istri anak pertama dari keluarga William, kau bisa memanggil ku Brenda." Entah kenapa Brenda sangat menyukai Bella. Meski terlihat dingin, tapi dia sangat mudah diajak berkomunikasi.


" Namaku Isabella, anda bisa memanggilku Bella."


" Baiklah." Kata Brenda dengan senyuman yang lembut.


" Ayah, ibu. Bolehkan kalau kakak Bella sering datang kerumah kita?"


" Tentu, Tapi coba dulu sayang. Apakah kakak Bella tidak keberatan sering datang kemari." Kata Brenda kepada putrinya.


Ara langsung menatap penuh harap pada Bella.


" Mungkin cukup sulit karena aku sudah menikah. Tapi bagaimana kalau Ara yang datang kerumah kakak?" Mengingat suaminya yang sangat posesif, dia tidak mungkin bisa leluasa untuk keluar tanpa izin dari suaminya.


" Apa boleh, ibu?" Tanya Ara pada ibunya.


" Tentu, sayang. Nanti ibu yang antar yah."


" Terimakasih, ibu." Brenda dan Bella tersenyum melihat Ara yang sangat bersemangat.


Merasa sudah lama di rumah Ara. Bella akhirnya berpamitan untuk pergi.


" Baiklah, Ara. kakak pamit pulang dulu yah. Nyonya dan Tuan Brian saya pamit pulang." Kata Bella.


" iya, kakak Bella, hati-hati."


" Iya, nanti lain waktu. Aku akan membawa Ara bertamu di rumah mu." Kata Brenda pada Bella.


Entah kenapa saat dia mendengar nama asli Bella, Brian terdiam dan tidak tahu harus bicara apa. Bahkan dia hanya diam sampai Bella meninggalkan rumahnya.


" Ada apa? Sejak kau mendengar namanya, kau hanya diam." Brenda yang dari tadi memperhatikan suaminya memutuskan untuk bertanya.


" Nama itu sama dengan nama pemberianku pada adik perempuan pertama ku."


" Benarkah? Tapi jika dilihat dekat. Kau dan dia cukup mirip." Kata Brenda dia juga merasa kalau suaminya punya kemiripan dengan bella.


" Apakah begitu?"


" Iya, atau jangan-jangan. Dia adalah adik perempuan mu yang selama ini kau cari."


" Entahlah, tapi ada baiknya kalau kita mulai menyelidiki identitas aslinya dulu." Kata Brian.


" Aku setuju, lagi pula aku mulai curiga dengan alasan Amanda menyinggung Bella." Brenda berfikir kalau Amanda melakukan ini karena dia tahu kalau dia saudara Bella.


" Hmm, sepertinya aku sudah banyak ketinggalan informasi."

__ADS_1


__ADS_2