
" Tuan benar, Dokter. Kita harus menerimanya dan mungkin di masa depan rumah sakit itu bisa menjadi lapangan pekerjaan untuk anak-anak panti yang sedang sekolah kedokteran." Kali ini Marcel sangat bersemangat hingga lupa mengunci mulutnya.
" Anak panti?" Ini kejutan lainnya, dan Sean meminta penjelasan dari istrinya.
Sebelum menjawab pertanyaan suaminya, Bella memutuskan untuk menghentikan diskusinya dengan Marsel.
" Baiklah, kau bisa kembali keruangan mu. Kita akan membahasnya dengan anggota lainnya." Bella memijat keningnya. Dia benar-benar lupa bahwa Marcel terkadang suka mana yang rahasia dan tidak.
" Oke." Tidak merasa bersalah. Marsel sengaja mengucapkan itu, agar kebaikan Bella di ketahui oleh banyak orang dan itu bisa menjadi contoh untuk mereka.
Setelah Marcel keluar, Sean mendekati istrinya.
" Aku sering melakukan amal ke beberapa pantai asuhan yang ada di ibukota." Pada akhirnya Bella harus mengatakan pada Sean, cepat atau lambat.
" Begitukah? Aku sangat tidak menduga kalau istri ku memiliki hati yang besar hingga menjadi penyokong panti asuhan." Sean sangat bangga pada istrinya.
" Tidak banyak, jadi jangan memberitahu orang lain tentang ini."
" Oke." Maka, Sean memutuskan untuk membantu istrinya dengan meningkatkan jumlah sumbangan ke panti asuhan atas nama sang istri.
" Apa ada sesuatu yang terjadi?" Bella mengalihkan pembicaraan.
" Tidak, kenapa kau bertanya seperti itu?"
" Tiba-tiba kau datang ke klinik, jadi aku pikir ada seseorang yang buruk terjadi."
" Aku hanya ingin menjemputnya istri ku, apa itu salah?"
" Tidak, hanya saja ini pertama kalinya."
" Di masa depan, aku akan sering melakukannya." Sebenarnya Sean tidak berencana untuk menjemput istrinya. Hanya saja, perasaannya akhir-akhir ini tidak enak.
Seperti akan ada pria yang ingin merebut istrinya. Sebagai jaga-jaga dia memutuskan untuk mengawasi sang istri lebih ketat agar tidak ada pria lain yang mengganggu hubungan mereka.
Buka Sean tidak percaya pada istrinya. Tetapi dia tidak suka mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan jika melihat ada seorang pria yang mengejar cinta istrinya. itu sangat menggangu dan Sean pencemburu tingkat atas.
" Oke."
" Kau tidak keberatan?"
" Kenapa harus keberatan?" Lagi pula orang-orang sudah tahu hubungan mereka. Jadi tidak masalah jika menikmati dimanjakan oleh suaminya.
" Mungkin karena aku terlalu posesif dan itu membuat mu tidak nyaman."
__ADS_1
" Tidak masalah, lagi pula aku juga tidak suka jika ada wanita yang mendekati mu dan berniat merayu mu." Sean tersenyum cerah mendengar ucapan istrinya. pada akhirnya keduanya memiliki kesamaan sembilan puluh sembilan persen dan satu persennya untuk Bella karena dia tidak se posesif Sean.
" Besok, kita pergi villa di tengah hutan." Sebenarnya Sean ingin membawa istrinya hari ini , namun cuaca tidak mendukung ditambah lagi ini. Sudah sangat sore. Demi keselamatan mereka, Sean harus menundanya.
" Oke." Bella tidak menyadari kalau dia akan menyesali keputusannya hari ini.
***
" Jadi, siapa kau?" Setelah wanita itu bangun. Li Wei mengintrogasi wanita yang mirip dengan Bella.
Bukan tanpa alasan Li Wei bertanya seperti itu, anak buahnya memberikan informasi kalau Bella hari ini di jemput oleh suaminya. Jadi, tidak mungkin wanita itu membelah diri menjadi dua dalam waktu yang singkat.
" Bukan urusan mu." Wanita itu memiliki suara yang mirip dengan Bella. Namun intonasinya sangat berbeda.
" Hei, tidak bisakah kau memberi jawaban pada orang yang menyelamatkan mu? Kau hampir mati jika aku tidak membawa mu ke apartemen ku."
" Aku tidak pernah meminta mu untuk membantu ku."
" Astaga! Kau sangat menyebalkan." Li Wei kehabisan kata-kata, biasanya dia yang membuat orang kesal. Namun, sekarang Tuhan seperti memberikan balasan dengan mempertemukannya pada wanita sedingin itu.
***
" Apa semuanya sudah di antar?"
" Sudah, tuan. Anda dan nyonya tinggal berangkat."
" Baik, Tuan."
Sean puas dengan pengaturan Jhon. Hari ini perjalanan honeymoon akan di mulai. Sayang sekali ada sedikit kendala, namun Sean tidak akan protes dengan sang istri.
" Apa kau yakin tidak ingin naik mobil?" Ini kendalanya. Bella meminta berjalan kaki kali ini tanpa bantuan tranportasi. Mereka harus berjalan kaki menuju ke villa.
" Ya, tapi kenapa kita harus kehutan? Bukankah kau mengatakan anak seharusnya kita kerumah sakit." Bella berpikir tentang bayi tabung, bukan bayi dari proses yang normal. Dia juga lupa kalau suaminya pria yang normal.
" Kenapa harus kerumah sakit?" Dan Sean masih tidak tahu apa yang sejak awal istrinya sebut tentang bayi.
" Tidak, apa-apa. Ayo pergi." Entah kenapa Bella tidak enak melihat ekspresi suaminya yang tidak senang ketika dia menyangkut pautkan anak dengan rumah sakit.
Dan pada akhirnya, mereka berdua memutuskan pergi ke dalam hutan dengan jalan kaki.
" Kenapa kita harus jalan kaki?" Sean tidak keberatan. Tetapi dia penasaran dengan apa yang ingin di rencanakan istrinya.
" Aku ingin menikmati momen jalan-jalan di tengah hutan bersama suamiku, pasti menyenangkan." Senyum Sean mengembang. Jadi itu alasan istrinya. Maka dia akan membuat istrinya mengingat momen manis honeymoon mereka.
__ADS_1
Perjalanan sangat menyenangkan, beberapa jam sekali mereka berhenti untuk beristirahat.
Bella juga tidak pernah lupa memetik bunga setiap yang dia temui di pinggir jalan, begitu juga buah-buahan yang sengaja Sean tanam. Namun berkesan alami tanpa ada pukul buatan.
Bunga-bunga di hutan juga mulai bermekaran, begitu juga tanaman liar seperti buah ceri dan apel mulai berubah.
" Mau?" Bella memetik beberapa buah apel dan ceri saat di perjalanan. Apel itu rasanya sangat manis dan airnya cukup banyak.
Saat melihat bagaimana cara istrinya mengunyah dan melihat bibir istrinya yang basah membuat sisi rakus Sean terbangun.
" Gigit untuk mu lebih dulu." Dengan paruh Bella melakukannya. Tidak melihat ekspresi licik di suaminya.
Setelah mengigit apel tersebut. Bella memberikan buah apel tersebut. Dia berpikir kalau suaminya akan mengambil buah tersebut. Namun pikirannya salah.
Tiba-tiba saja Sean mengambil potongan yang ada di mulut istrinya lalu mengunyahnya seolah itu bukan hal yang menjijikkan. Bella terpana, dia menatap lama suaminya dengan mulut yang terbuka.
Ini adegan yang tidak pernah Sean lakukan selama ini padanya. Jika hanya ciuman bibir, mungkin mereka sering melakukannya dan Bella sudah terbiasa. Namun ini, membuat detak jantung Bella meningkat.
Sean yang melihat wajah istrinya yang memerah menjadi senang. Dia seperti seekor kelinci putih yang menggemaskan yang baru mengalami hal yang tak terduga dari serigala yang berwajah baik namun berhati iblis.
" Kenapa kau tidak menggigitnya sendiri. Masih ada beberapa di tas ku."
" Aku ingin memakan potongan yang istri ku sendiri yang pilih."
" Dasar tidak tahu malu." Sean tertawa bahagia sedang Bella mengalihkan wajah agar pria itu tidak melihat wajah merahnya.
Perjalanan kembali di lanjutkan, ini sudah memasuki siang hari namun keduanya tidak merasa lapar. Mungkin karena apel manis tadi.
" Apa yang sedang kau buat?" Sean penasaran dengan karangan bunga-bunga liar yang bermekaran di akhir musim dingin yang Bella bawa.
" Diam lah, aku sedang berkonsentrasi membuat mahkota." Tidak ada nada kesal. Bella sudah melupakan kelakuan tidak tahu malu suaminya tadi.
" Oke."
" Oh ya, sepertinya kau sering melakukan perjalanan seperti ini. Apa kau pernah melakukan kemah atau sejenisnya?"
" Tidak, aku tidak punya waktu untuk hal seperti itu."
" Lalu? Kau tidak terlihat lelah sedikit pun. Kita berhenti karena aku yang memintanya." Bella penasaran, sejak awal Sean sangat santai seolah hal ini sangat kecil baginya. Sedangkan Bella yang pernah melakukannya di masa lalu tidak sehebat dia.
" Di masa lalu, setiap anggota keluarga Anderson yang menjadi penerus keluarga harus menjalani pelatihan di hutan. Kami harus bertahan hidup di tempat hewan buas serta pelatihan yang kami terima tidak seperti pelatihan militer." Ini kejutan tak terduga untuk Bella, dia berpikir kalau keluarga Anderson sudah terlahir hidup enak tanpa adanya pelatihan atau semacamnya.
Ternyata, menjadi kaya juga tidak seindah yang Bella bayangkan.
__ADS_1
" Jangan berpikir bahwa kami yang terlahir dengan sendok emas tidak mengalami momen hidup dan mati. Mungkin jika di suruh memilih saat itu, aku akan memilih di dilahirkan di keluarga yang sederhana."
Sean ingat bagaimana penderitaannya di masa lalu ketika dia menjalani serangkaian pelatihan yang sangat mengerikan.