
" Bagaimana dengan kuliah mu?" Tanya Sean dia sengaja pura-pura tidak tahu kalau Bella sekarang adalah seorang dokter.
" Lumayan, mungkin sebentar lagi aku akan selesai." Kata Bella menjawab pertanyaan Sean. Dia sengaja berbohong agar tidak ada yang tahu kalau dia adalah dokter muda.
" Aku dengar, kau akan menjadi calon dokter muda! Kau sangat hebat di usiamu yang masih muda sudah mendapatkan gelar dokter, Meskipun kau tinggal dengan keluarga Glover yang kejam kepadamu. Kau tetap bisa melanjutkan pendidikan mu." Kata Sean. Karena Bella menutupi tentang dirinya kini Sean pun mengikuti kebohongan Bella. Biarkan nanti Bella sendri yang membuka rahasianya.
Tentu saja Sean sengaja mengorek informasi dari Bella. Dia ingin Bella mengatakan rahasianya tanpa dia sadari.
" Kau terlalu memuji ku! Aku di bantu oleh guru SMA ku. Dan berjalan lancar karena aku mendapatkan beasiswa." Bella sangat bersyukur, Tanpa bantuan gurunya dia tidak seperti ini sekarang. Bella tidak akan melupakan gurunya yang telah mengantarkan nya menjadi seorang dokter.
" Apa kau bahagia dengan hidupmu?" Tanya Sean. Entah apa yang membuat dia bertanya seperti itu kepada Bella.
" Entahlah, aku juga bingung. Kadang aku merasa sangat bersyukur karena bisa kuat sampai sekarang. Tapi disisi lain aku juga merasa lemah, karena tidak memiliki seseorang yang bisa mendengarkan keluh kesah ku, menjadi tempat ku bersandar dan memberiku pelukan hangat ketika aku lelah dengan aktivitas ku."
Itulah Bella, selama hidup selama 23 tahun tidak ada seseorang yang benar-benar mengerti dengan dirinya. Bella sering putus asa dengan kehidupannya. Seorang ibu yang di kenal sangat penyayang dan mendengar keluh kesah anaknya serta memberikan pelukan hangat kepada anaknya ketika mengalami kesulitan. Tetapi Bella tidak merasakan itu pada keluarganya bahkan dia diperlakukan tidak adil. Namun Bella tidak pernah melupakan visi dan misinya menjadi orang terkaya dan terhormat.
" Kau bisa bersandar kepada ku dan menceritakan keluh kesah mu. Aku yakin kau bisa mengandalkan ku." meskipun ini aneh dan terlalu cepat. Tapi Sean merasa yakin kalau dia adalah orang yang selama ini Bella inginkan.
Sean yang sudah tahu kisah hidup Bella tidak semanis dengan kisah anak perempuan lainnya, membuat dia merasa kasihan kepada Bella tanpa dia menyadari kalau dia mulai jatuh cinta.
" Kau jangan bercanda seperti itu kepada ku!" Kata Bella, dia tidak percaya. Sifat Sean yang acuh kepada wanita lain selain mamanya tidak mungkin dia melakukan hal itu.
" Aku serius! Bahkan sangat serius. Aku sudah tahu bagaimana keluarga Glover memperlakukanmu sangat kejam, dan itu membuat ku mengingat kisah hidup mama di masa lalu." Sean yang merasa nyaman berada di dekat Bella, tidak keberatan menceritakan kisah hidup mamanya di masa lalu. Meskipun mereka baru kenal beberapa bulan yang lalu.
" Apa maksud mu?" Tanya Bella penasaran. Dia selama ini melihat mama mertuanya begitu lembut dan sangat penyayang memiliki kisah hidup yang sama sepertinya.
__ADS_1
" Kakek dan nenek dari pihak mama sangat kejam. Bahkan mereka memperlakukan mama seperti pelayan, dan melukai fisik dan mentalnya lalu di jual kepada papa untuk di jadikan alat pembayar hutang." Kata Sean. Dia tidak pernah mempertanyakan hal ini kepada orangtuanya karena tidak ingin melukai hati mamanya.
" Apa kau sedang bercanda?" Tanya Bella. Bukannya dia tidak percaya tapi dia hanya terkejut karena kisah hidup mama mertuanya lebih kejam dari dirinya.
" Apa aku akan mendapatkan keuntungan jika berbohong kepadamu?" Kata Sean berusaha meyakinkan Bella.
" Iya, Tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau mama memiliki kisah hidup yang lebih buruk dariku." Kini Bella mulai percaya.
" Iya, aku juga tidak pernah menduga kalau mama mengalami hal seperti itu di masa lalu. Karena papa sangat mencintai dan memanjakan mama membuat mama tidak lagi merasakan momok menyeramkan. Dan papa bisa menjadi obat untuk hati mama yang terluka."
Bella setuju dengan perkataan Sean, kalau mama mertuanya beruntung bisa menikahi pria seperti papa mertuanya. Yang tampan, kaya, dan bertanggung jawab.
" Apa kau merasa kasihan pada ku?" Tanya Bella, dia merasa kalau sean mengasihaninya.
" Iya, tapi aku tidak pernah membandingkan mu dengan mama atau memperlakukan kalian setara. Kau adalah istri ku, tanggung jawab ku. Jadi seharusnya aku melakukan hal ini pada istri ku." Sekarang Sean mulai menekankan kepada Bella bahwa dia istrinya dan sampai kapan pun akan seperti itu sampai maut memisahkan.
" Apa kau membenciku?" Tanya sean.
" Tidak, kenapa aku harus membenci mu?" Tanya Bella balik karena dia tidak menyangka, pertanyaan Sean seperti itu.
" karena aku pria yang cacat dan kau harus menikah dengan pria memalukan seperti diri ku." Karena rasa tidak percaya diri, Sean mengatakan itu kepada Bella.
" Kau terlalu merendahkan diri. Di mata ku, kau seperti pria lain yang normal. bahkan sekarang kita duduk di sofa dan bercerita. Bagi orang mungkin melihat mu cacat. Tapi bagiku kau pria yang normal.
Kata-kata Bella mungkin terdengar sederhana, tapi bagi Sean itu sangat bermakna. Sekarang dia sudah merasa aneh, jantungnya berdetak lebih cepat. Dia seperti anak remaja yang baru pertama kali jatuh cinta.
__ADS_1
" Kalau begitu, apakah kau keberatan jika hidup dengan ku dalam waktu yang lama?" Tanya Sean. Dia harus pelan-pelan agar dia bisa menyampaikan perasaannya tanpa membuat Bella tersinggung.
" Kenapa kau ingin hidup dengan ku dalam waktu yang lama? Tanya Bella tanpa menjawab pertanyaan Sean. Sekarang dia merasa kalau Sean sangat aneh.
" Jika aku mengatakan kalau aku nyaman hidup bersama mu apa kau keberatan? Atau kau menganggap ku pria yang aneh?.
" Tapi yang aku tahu, kau tidak suka dengan wanita asing. Walaupun aku istri mu tapi sebelumnya aku hanyalah wanita asing yang di pilih mama untuk menikah dengan mu."
" Iya, tapi sekarang bagiku kau adalah istri ku! aku tahu kau adalah wanita yang dingin dan tidak suka berdekatan dengan pria. Tapi lihatlah, kau baik-baik saja duduk di samping ku."
Bella yang mendengar ucapan Sean, hanya diam. Dia mulai menyadari kalau dia sekarang hampir sama dengan Sean.
" Bagaimana kalau kita memulainya dengan pertemanan?" Tanya Sean, yang melihat Bella hanya diam
" Teman?"
" Iya, teman. Kita bisa menghabiskan waktu bersama ketika senggang. Jalan-jalan bersama, berbicara bahkan bisa pergi ke rumah hutan ku." Sean yang tahu kalau istrinya sangat suka dengan alam, dia akan memanfaatkan segala cara untuk mendapatkan hati Bella.
" Rumah hutan?" Cintanya kepada alam, membuat dia senang.
" Iya, rumah hutan. Aku memiliki rumah hutan yang tidak jauh dari sini. Aku sering kesana kalau lagi bosan di mansion. Di sana pemandangan nya sangat indah, ada sungai dan ikan-ikan yang bisa ditangkap untuk di bakar."
Bella yang mendengarkan cerita Sean sangat tertarik. " Apa kau akan mengajakku kesana jika aku berteman dengan mu?"
" Tentu, dan kita juga bisa menginap di sana jika kau punya waktu libur, aku yakin kau tidak akan menyesal."
__ADS_1
" Baiklah, sekarang kita berteman." Bella mengulur kan jari kelingking nya. " Kau harus mengaitkan jari kelingking mu jika kita berteman." Jari kelingking Bella sangat imut sehingga Sean merasa jarinya sangat besar.
" Janji pertemanan." Kata Sean dan mengaitkan jari kelingking nya. Walau ini sangat kekanak-kanakan tapi Sean sama sekali tidak keberatan.