
Merasa sudah lama meninggalkan perusahaan ayahnya, kini Reva memutuskan untuk pamit. Ketika menutup pintu ruangan sahabatnya, Reva kaget melihat Sean.
" Apa kau tidak keberatan jika kita bicara sebentar?" Tanya Sean kepada Reva.
" iya." jawab Reva. Mereka kini berjalan ke ujung lorong di tempat yang sedikit sepi.
" Terimakasih." Kata Sean sangat senang karena sahabat Istrinya bisa memahami apa yang dia rasakan saat ini.
mendengar ucapan Sean membuat Reva terkejut karena seorang CEO yang di kenal kejam bisa mengatakan terimakasih.
" Aku hanya ingin membantu sahabatku, Tuan." Jawab Reva seadanya.
" Panggil namaku saja, bagaimana pun kau sahabat istriku jadi aku akan memperlakukan mu dengan baik."
" Baik." Meski Reva tahu hubungan baik dengan Sean akan menguntungkan perusahaan ayahnya. Namun Reva tidak akan memanfaatkan hubungan persahabatannya dengan Bella, untuk mendapatkan keuntungan dari keluarga Anderson.
" Aku sangat menghargai kebaikan anda."
" Terimakasih, tapi aku melakukan ini untuk sahabat saya. Saya hanya ingin, anda bisa membahagiakan Bella dengan cinta yang tulus dan memperlakukan Bella dengan baik."
" Tentu, aku pasti akan membahagiakan istri ku."
" Kalau begitu, saya senang mendengarnya. Saya pamit."
mendengar ucapan Reva, kini dia mempersilahkan sahabat Istrinya untuk pergi. Dan dia juga pergi ke kamar inap istrinya.
Sementara Bella masih duduk dan sandar dari kepala tempat tidurnya. Fasilitas kamar Bella seperti di rumah sendiri karena ruangan VVIP.
Kini Sean sudah ada di kamar istrinya." Bagaimana keadaan mu?" Tanya Sean yang melihat istrinya sedang duduk.
" Sudah baik, Apakah aku bisa pulang?" Bella yang merasa tidak enak dengan Sean karena fasilitas yang di berikan kepadanya pasti sangat mahal. Namun lukanya hanya luka ringan bagi Bella.
Sean yang mendengar pertanyaan istrinya, kini naik keatas kasur dan duduk di samping istrinya. " Tidak bisa. Kau harus menginap, agar lukamu bisa di pantau."
Tentu saja, Sean tidak akan membiarkan istrinya pulang karena dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepada istrinya. Meski dia tahu kalau bella adalah seorang dokter.
" Tapi aku merasa baik sekarang, bahkan luka ku hanya luka ringan."
" Apa kau tidak nyaman di sini?" Merasa sudah memberikan fasilitas yang terbaik untuk istri nya kini Sean akan memindahkan kerumah sakit lain jika Bella tidak suka dengan rumah sakit ini.
" Tidak, aku sangat nyaman. Tapi aku merasa ini sangat merepotkan untukmu, ini kamar VVIP pasti kau membayarnya mahal."
" Hanya karena itu kau ingin pulang? Kau tahu uang bisa di cari tapi keselamatan dan kesehatan mu itu yang sangat penting bagiku." Hanya seorang Sean yang bisa menganggap kalau uang itu adalah hal yang paling gampang.
__ADS_1
Mendengar ucapan Sean, merasa kalau apa yang dikatakan sahabatnya itu sangat benar. Bahkan sekarang jantungnya berdetak lebih kencang. Kini Bella hanya terdiam, tidak menyangka kalau Sean akan mengatakan kalau dia sangat berharga bagi dirinya.
Sementara Sean menarik selimut untuk menutupi kaki istrinya sampai ke pinggang karena dia tidak ingin Istrinya kedinginan.
Bella yang merasakan perhatian Sean yang kecil namun bagi Bella itu sangat manis membuat dirinya semakin tidak nyaman dengan jantungnya yang semakin berdetak kencang.
" Apa kau mau makan?" Melihat istrinya yang hanya diam. mengira kalau Bella sedang lapar.
" Tid-" Kata Bella tidak sampai karena mendengar perutnya yang keroncongan.
Sean yang mendengar perut istrinya, hanya tertawa kecil dan semakin gemas dengan tingkah istrinya.
" Aku tadi sudah memesan makan siang untuk kita, tapi jika kau merasa sangat lapar. Aku akan memesan makanan dari rumah sakit."
" Tidak perlu, aku akan menunggu." jawab Bella singkat karena pipinya sudah seperti kepiting rebus menahan malu.
Sean yang melihat wajah merona dari istrinya sangat gemas dan mencubit kedua pipi istrinya.
Bella yang merasakan tangan suaminya yang dingin membuat dia merasa kalau perasaanya dulu kepada Alex sangat berbeda dari apa yang sekarang dia rasakan. Bahkan begitu nyaman.
" Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini?"
" Kau kan istriku, tapi apa kau keberatan?" Meski Bella adalah istrinya tapi dia tidak akan memaksa jika itu membuat dia tidak nyaman.
Bukannya menjawab Sean malah bertanya ulang. " Apa kau keberatan?"
" Tidak, tapi aku merasa tidak pan-" Bella lagi-lagi tidak melanjutkan ucapannya karena Sean menutup bibir Bella dengan jarinya.
" jika kau tidak keberatan, itu artinya aku tidak akan menghentikannya. Aku juga seorang pria yang tidak sempurna. Dan kau tahu, hanya kau wanita asing yang pantas aku perlakukan seperti ini."
Kini Bella hanya diam. Tidak tahu harus mengucapkan apa, bahkan dia bingung dan juga merasa senang.
" Kau tidak perlu memaksa perasaanmu, aku tidak keberatan bahkan aku akan menunggu sampai kau siap." Sambung Sean karena melihat Bella yang hanya diam.
" maksudnya?" Bella kini semakin bingung.
" Baiklah, dengarkan aku! Aku ingin menghapus surat perjanjian pernikahan kita. Dan kau menjadi istriku dalam konteks yang sebenarnya."
Meskipun Bella belum terlalu mengerti dengan ucapan Sean, namun dipikiran dia hanya terlintas jika dia menghapus surat perjanjian pernikahan maka Sean akan lebih sering menyentuhnya bahkan dia akan selalu mendengar permintaan calon cucu dari keluarga Anderson.
" Kenapa harus di hapus?" Tanya Bella kepada Sean yang merasa masih bingung.
Melihat wajah istrinya yang begitu polos membuat Sean tertawa kecil.
__ADS_1
" Aku tidak akan memaksamu, dan aku akan menunggu sampai kau siap menjadi nyonya Sean. Nanti jika kau siap, baru aku hilangkan surat perjanjian itu."
" kau tidak menjawab pertanyaan ku? Kata Bella yang sedikit kesal dan menggembungkan pipinya.
Melihat ekspresi wajah istrinya membuat Sean semakin gemas. Bahkan dia tidak bisa menahan untuk memberikan kecupan kepada istrinya.
Kini Bella hanya terkejut dan matanya membesar karena merasakan bibir dingin suaminya yang menyentuh pipinya.
" Kau." Sambil memukul pelan suaminya karena merasa malu.
Sean memegang tangan istrinya dan mengatakan cinta kepada istrinya. " Aku jatuh cinta kepada mu Bella. Aku memang salah karena melakukan perjanjian pernikahan tanpa mengenalmu dulu. Aku juga minta maaf karena memberikan poin-poin yang mungkin menyakitimu. Kali ini, biarkan aku menunjukkan kepadamu jika aku berbeda dari orang yang selalu menyakitimu. Aku berjanji hanya kau satu-satunya istri ku.
" Tapi ini terlalu cepat."
" Aku tidak akan memaksa dan tetap menunggu mu."
" Tapi aku tidak yakin jika aku akan menerimamu nanti."
" Yang kau lakukan hanya yakin kepada ku dan mempercayai ku. Aku yang akan berusaha meyakinkan mu dan membuktikannya kepada mu. Karena itu tugasku sebagai pria sekaligus suami."
Kini Bella mulai merasakan gejolak yang ada dalam dirinya setelah mendengar ucapan suaminya.
" Tapi aku merasa aneh, bahkan jantungku mulai tidak nyaman setelah mendengar ucapan mu." Meskipun dia dokter yang jenius, namun soal perasaan Bella sangat polos.
" Itu artinya kau juga menerima ku." Kata Sean kepada istrinya untuk meyakinkan perasaan sang istri.
" Begitukah?"
" Iya, kau mau mencobanya?"
" Entahlah, aku takut cinta mu akan menyakitiku."
" Mungkin aku tidak bisa membuat mu tersenyum setiap saat, tapi aku akan berusaha untuk membuktikan kalau aku adalah suami yang terbaik untuk mu, bahkan menjadi suami yang tidak bisa kau lepas."
Bella tersenyum kecil mendengar ucapan suaminya. Meski kata-kata Sean tidak terlalu romantis, namun Bella bisa melihat ketulusan suaminya.
" Baiklah."
" Terimakasih." Kata Sean dengan suara yang begitu senang karena bisa meyakinkan istrinya.
" Iya, tapi aku akan ingat setiap janji yang kau berikan kepada ku.
" Iya, sayang. Aku tidak akan melupakan janjiku.
__ADS_1
"