
Sean menitipkan istrinya kepada Reva. Lalu dia pergi bersama Jhon menuju sebuah ruangan khusus tempat dia melakukan diskusi dengan Jhon atau anak buahnya. Tempat itu berada di ruang bawah Tanah khusus parkir rumah sakit miliknya.
" Bagaimana, kau sudah tahu siapa dalang dari pelaku penculikan ini?."
" Iya, Tuan. Dia adalah tuan David, dia adalah pimpinan baru dari perusahaan JB Group. Alasannya, dia ingin memberi pelajaran kepada anda karena sudah merebut tender proyek pembangunan yang ada di kota A." Jelas Jhon kepada Sean.
Sean yang mendengar penjelasan John hanya tertawa licik. Bagaimana bisa pria ingusan itu berpikir dia merebut tender darinya? Apa dia berfikir, memenangkan tender itu sangat mudah? Sean bahkan bekerja siang dan malam agar para investor mau bekerja sama dengannya. Lalu ada pria bau kencur yang bersikap arogan kepada nya.
" Beri dia pelajaran." Perintah Sean kepada Jhon.
" Baik, sebenarnya ada berita tentang nyonya Tuan." Jhon yang mendapatkan informasi dari bawahnya tidak ingin menunda untuk memberi tahu tuannya, meskipun dia masih ragu karena dia tahu sifat tuannya seperti.
" Berita apa?"
" Nyonya Bella bukan keluarga kandung dari keluarga Glover, Tuan."
Ucapan Jhon membuat Sean terdiam. Entahlah, dia tidak tahu respon apa yang akan dia berikan.
Melihat karakteristik istrinya berbeda dari keluarga Glover dari awal. Sean tidak heran lagi kalau Bella bukan keluarga kandung Glover.
" Kalau begitu, siapa keluarga kandung istri ku? Kau tidak akan berani memberiku informasi ini jika kau tidak punya bukti yang kuat." Sean tahu Jhon tidak akan memberikan informasi asal-asalan.
" iya, Tuan. Keluarga kandung nyonya Bella adalah Keluarga William. Dan alasan kenapa nyonya Bella ada di keluarga Glover membuat ku tidak bisa memahami apa yang ada di pikiran keluarga Wiliam."
Jhon sangat marah ketika tahu kalau Bella dibuang oleh keluarga kandungnya dengan alasan yang tidak masuk akal. Dan rasanya dia ingin membunuh peramal itu.
Sekarang sudah di era modern, kenapa mereka masih percaya dengan hal-hal aneh. Sedangkan ini menyangkut darah dagingnya sendiri. Bahkan setiap anak tidak ingin dilahirkan dalam keadaan buruk.
" Lalu, apa alasan mereka memberikan putrinya kepada keluarga Glover?" Tanya Sean, penasaran.
" Mereka percaya kepada peramal kalau nyonya Bella adalah putri pembawa sial. Setelah penipu berkedok peramal itu, memberitahu tahu tentang kelahiran nyonya Bella."
Sean yang mendengarnya juga sangat marah. dia yang tidak percaya dengan Tuhan tidak sebodoh itu apalagi harus percaya dengan ucapan peramal.
Namun, bagi Sean itu sangat bagus karena dia bisa mengungkapkan alasan konyol keluarga William ketika mereka menyesali perbuatan mereka di masa depan.
" Lalu, apa kau tahu rencana keluarga Glover?" Sean tahu kalau keluarga itu tidak akan diam begitu saja, mereka sangat ingin menghancurkan kehidupan istrinya.
" Iya, Tuan. Sebenarnya putri mereka ingin menyebarkan kalau nyonya Bella bukan keluarga kandung Glover dan memberitahu nyonya Bella tentang semua identitasnya. Namun, tuan Antonio melarangnya karena keluarga William sudah membayar mereka dengan sangat mahal."
__ADS_1
Mendengar ucapan Jhon membuat Sean sangat membenci keluarga Glover yang serakah itu. Lagi-lagi istrinya diperdagangkan, ingin rasanya Sean membuat keluarga Glover menjadi miskin dan menjadi rakyat jelata.
" Kalau begitu, kau harus membuat mereka diam. Jika mereka berani menyebarkan tentang identitas istri ku, kau harus menghilangkan suara mereka dan jika perlu kau potong lidah mereka. Aku tidak suka melihat istri ku sedih." Meskipun Sean tidak tahu apakah Bella akan sedih jika mengetahui identitasnya. Namun, sebisa mungkin dia akan meminimalisir kesedihan istrinya di masa depan.
" Baik tuan.'
" Kau bisa pergi sekarang." Perintah Sean kepada Jhon.
Namun, Jhon tidak bergerak sama sekali apalagi meninggalkan tuannya. Sean yang melihatnya mengernyitkan dahinya.
" Apa masih ada informasi yang ingin kau sampaikan?" Tanya Sean yang bingung melihat Jhon yang hanya diam.
" Tidak, Tuan. Aku hanya menunggu hukuman dari anda." Jhon yang sangat bertanggung jawab dengan tugasnya merasa tidak enak jika tidak menerima hukuman ketika melakukan kesalahan.
" Bukankah istriku sudah menyelamatkan mu?"
" Iya, Tuan. Tapi aku juga melakukan kesalahan karena membuat nyonya terluka dan tidak menyadari pergerakan musuh. Aku tidak akan pergi Tuan, jika anda tidak memberiku hukuman."
Sean sangat tahu kalau tanggungjawab Jhon sangat tinggi, itulah kenapa dia sangat menyukai kerja Jhon. Meskipun hari ini istrinya terluka, dia tidak akan memecat asisten pribadinya.
" Baiklah, aku akan memberi kau hukuman. sekarang kau minta kepala pelayan untuk mencambuk mu." Walau itu hanya hukuman ringan, tapi bagi Jhon sudah membuat rasa bersalah nya sedikit berkurang.
***
" Apa kau sudah bangun." Tanya Reva kepada sahabatnya.
" Hmm." Bella hanya menjawab singkat. karena belum terlalu sadar.
" Kau sangat beruntung." Melihat perlakuan Sean tadi, sebagai wanita dia tahu kalau Sean sangat mencintai sahabat nya.
" Beruntung?" Bella hanya bernyanyi karena tidak tahu kenapa temannya mengatakan hal itu.
" Iya, apa kau tidak merasa kalau suami mu sangat memanjakan mu? Kau ini benar-benar tidak peka."
" Sudahlah, jangan bercanda seperti itu."
" Aku serius!Aku bisa melihat kalau dia benar-benar mencintaimu." Reva sangat antusias menceritakan tentang Sean.
" Tidak mungkin, aku tidak pantas untuknya bahkan aku bisa saja bukan tipe wanitanya." Bella merasa kalau dia tidak pantas untuk di cintai karena orang yang membesarkan dirinya saja membencinya tanpa alasan yang jelas. Bahkan ibunya Alex menghina Bella tanpa tanpa dia tahu kesalahan apa yang pernah dia lakukan.
__ADS_1
Mendengar ucapan sahabatnya membuat dia kesal dan memukul pelan kepala bella. Bahkan sebagai wanita dia sangat iri melihat perlakuan Sean.
Melihat Sean yang begitu memanjakan istrinya dengan memberikan fasilitas terbaik di rumah sakitnya bahkan memberikan ruangan VVIP untuk kenyamanan istrinya.
Meninggalkan perusahaan demi menemani istrinya yang sakit, memberikan pelukan hangat dan memintanya untuk tidak menggangu Bella ketika sedang tidur. Meski baru kali ini dia bertemu dengan Sean, Reva sudah tahu kalau Sean sudah jatuh cinta kepada sahabatnya.
" Kau ini benar-benar tidak merasakannya atau kau yang tidak ingin tahu tentang orang-orang yang ada disekitar mu." Kata Reva dengan suara yang sedikit kesal kepada sahabatnya.
" Kau kan tahu kalau aku tidak percaya dengan cinta."
" Iya, tapi apa kau tidak mau jatuh cinta dan di cintai oleh pria seperti Sean?"
Pertanyaan sahabatnya membuat Bella merasa bingung. Apakah dia bisa mencintai? Dan pantas untuk di cintai? Apakah dia akan bahagia jika dia menggunakan hatinya?
" Aku takut jatuh cinta."
" Kau bahkan belum jatuh cinta tapi sudah takut lebih dulu."
" Tapi itu kan sama! Aku hampir menyukainya."
Reva yang sudah sangat kesal dengan sahabatnya berusaha meyakinkan Bella kalau dia berhak jatuh cinta.
" Saranku, lebih baik kau mencobanya dulu. Apa kau tidak jenuh dengan hidup seperti ini? Apa kau tidak mau merasakan manisnya di manjakan dan sakitnya ketika sedang cemburu?"
Bella hanya terdiam mendengar ucapan sahabatnya. Sedangkan Reva terus meyakinkan sahabatnya.
" Kau harus mencobanya! Aku yakin kali ini jatuh cinta yang kau dapatkan tidak akan melukaimu, kau juga harus percaya kepadanya."
" Aku hanya ingin sendiri." Kata Bella dengan suara memelas.
" Tidak bisa, kau harus mencobanya atau kau akan menyesal karena menyia-nyiakan cinta dari pria seperti Sean."
melihat ketegasan sahabatnya membuat Bella terdiam, dan tidak menyangkal karena dia tahu sahabatnya tidak akan salah menilai seseorang.
" Baiklah aku akan memikirkannya."
" Ini baru sahabatku! Aku hanya ingin kau bahagia dan merasakan cinta yang tulus dari pasanganmu."
Sementara diluar ruangan Sean sudah mendengar percakapan dua sahabat itu, merasa sangat senang karena sahabat istrinya bisa melihat cintanya yang tulus kepada sang istri.
__ADS_1