Menikahi CEO Cacat

Menikahi CEO Cacat
Terasa Rumit


__ADS_3

Hari ini, tiba-tiba saja Bella mendapat undangan tak terduga dari Brian. Sean yang tahu apa tujuan Brian mengundang istrinya memutuskan ikut serta dan meninggalkan pekerjaannya demi menemani sang istri.


Sean harus berada di sisi Istrinya agar bisa menenangkannya kalau sang istri enggan mengakui mereka.


Bagaimanapun, di mata Sean apapun nanti tindakan yang di ambil oleh istrinya adalah benar.


Trauma psikologis pasti akan mempersulit semuanya. Namun, mungkin juga Tuhan memberikan Bella hati yang besar dan bisa memaafkan Brian. Maka Sean dengan senang hati akan mendukung istrinya.


Saat sampai di kediaman Brian. Bella merasa aneh melihat sikap Mark dan Brian yang sangat antusias menunggu kedatangannya. Biasanya hanya Ara yang yang antusias dan mereka biasa mengabaikannya.


" Di mana Ara?" Hari ini Ara dan Brenda tidak terlihat.


" Ara dan kakak ipar sedang pergi keluar." Mark menjawab sebelum Brian berhasil membuka suara.


" Lalu, apa yang ingin kalian sampaikan pada ku?" Karena Ara tidak ada, maka Brian dan mark pasti ada urusan dengannya.


Brian yang mendengar pertanyaan adiknya tidak terkejut. Kejeniusan adiknya tidak diragukan lagi sehingga dia segera paham apa tujuan mereka mengundangnya kerumah.


Mark menatap Bella sangat lama. Tidak pernah di dalam mimpinya memilki seorang kakak perempuan yang secantik dan sehebat Bella. Namanya terkenal di seluruh ibukota dan bahkan Negara, kehebatannya tidak perlu di pertanyakan.


Kalau dulu, dia akan malu setiap kali mengingat Amanda kakak perempuannya, arah mendengar nada penuh hinaan tentang keterlambatan Amanda di bidang pendidikan.


Tapi sekarang, dia tidak keberatan berteriak di sepanjang jalan kalau dia memiliki Kakak perempuan.


Selain karena dia hebat, Mark menyukainya karena dia berprikemanusiaan. Berbeda jauh dengan Amanda yang tidak pernah benar-benar menganggapnya adik, bahkan tega membela musuh dan membiarkannya mati di tangan orang lain.


Kata-kata Amanda beberapa Minggu lalu, masih Mark ingat dengan jelas dan jika ada kesempatan di masa depan untuk balas dendam. Maka dia tidak akan keberatan melakukanya.


" Kau kakak perempuan ku!"


Bella hanya tertawa mendengarnya. Dia belum paham dengan makna ucapan Mark.


" Kenapa kau masih sangat ingin menjadi adik laki-laki ku? Bukankah kau memiliki kakak perempuan yang sangat di manja oleh kedua orang tua mu?"


Hati Brian sakit mendengar ucapan adik perempuannya. Ayah dan ibunya bahkan tidak repot-repot mencari tahu apakah anak yang mereka buang masih hidup atau tidak.


Mereka juga tidak pernah berusaha untuk memperbaiki kesalahpahaman di masa lalu.


" Kau benar-benar kakak perempuan ku dan tidak ada yang lain." Mark hampir saja menangis ketika melihat bahwa Bella tidak mempercayai ucapannya. Dia terlalu memaksa kehendak atas pengakuannya dan lupa bahwa kakak perempuannya pernah hidup menderita.


Bella terkejut melihat ekspresi sedih Mark dan tekad kuatnya ketika mengatakan bahwa dia adalah kakak perempuannya.


" Baiklah, aku akan menjadi kakak perempuan mu." Ada rasa tidak enak setelahnya. Dan masih belum bisa melihat keseriusan Mark.

__ADS_1


" Tidak! Kau benar-benar kakak perempuan ku. Bukan sebagai kakak angkat, tetapi kakak ku yang sebenarnya!" Sekarang Mark tidak bisa menahan air matanya.


Sean menjadi tidak suka karena Mark berani meninggikan suaranya pada sang istri. Sedangkan Brian berusaha menenangkan adik laki-lakinya, karena dia tahu apa yang di rasakan adik laki-lakinya.


" Mark benar, kau kakak perempuannya dan kau adik perempuan ku. Kita keluarga."


Kini Bella langsung paham dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Mark hingga emosional saat mengatakan bahwa dia kakak perempuannya.


Hanya saja, Bella tidak terlalu peduli dengan hubungan mereka. Bagaimanapun Bella sudah lama melupakan arti keluarga dan tidak ingin menjalin apapun pada keluarga kandungnya. Cukup hanya keluarga Anderson yang akan dia jaga.


" Lalu." Ucapan Bella membuat Brian takut. Bella tidak lagi memperdulikan arti keluarga yang sebenarnya.


" Apa kau sangat membenci kami?"


" Tidak, untuk apa aku membenci kalian?"


" Lalu, kenapa kau seolah tidak perduli saat mendengar hubungan kita yang sebenarnya?"


" Aku tidak marah, tidak membenci dan tidak merindukan keluarga."


Penjelasan Bella membuat Mark sedih. Dia bahkan tidak berhasil membuat kakaknya mengakui atau menerima hubungan mereka.


" Apa tidak ada kesempatan kedua? Tidak untuk keluarga William. Tapi, hanya aku dan Mark."


" Aku pembawa sial, kalian akan terkena sial jika kalian memiliki hubungan saudara denganku." Bella baru ingat perkataan Clara dan alasan kedua orangtuanya membuangnya kerumah keluarga Glover.


" Tidak ada pembawa sial. Jika pun itu ada, aku tidak peduli. Kau adik perempuan ku, dan selamanya akan seperti itu."


Melihat tekad kuat Brian dan kesungguhan saat mengatakan hal tersebut, membuat Bella tersentuh.


Bella juga seorang manusia, anak perempuan dan bodoh karena masih berharap memiliki keluarga yang mencintainya.


Buka berarti dia tidak puas dengan keluarga Anderson. Jujur saja, ketika mengetahui kalau dia bukan keluarga Glover. Hatinya berharap dia bisa bertemu dengan kedua orangtuanya, dan bertanya kenapa mereka membuangnya. Bersedia memaafkannya jika mereka mengakui kesalahannya.


Bukan munafik atau bodoh. Sejak awal Bella memang serakah jika menyangkut tentang kasih sayang. Bella juga menginginkan pelukan hangat dari keluarga yang memiliki hubungan darah yang sama dengannya.


" A-aku, tidak mengerti apa maksud mu?" Bella mulai aneh. Dan Sean yang menyadari hal tersebut langsung merangkul sang istri.


Kisah Bella cukup serius. Dia di buang oleh kedua orangtuanya, lalu mengalami hal yang mengerikan di rumah orang lain bahkan hampir kehilangan nyawa, lalu setelah berhasil bangkit dari kemarahannya pada dunia atas takdirnya yang rumit, kini ada orang yang mengaku kalau mereka adalah keluarganya.


Jika itu Sean, mungkin dia tidak akan memaafkan keluarganya. Tidak repot-repot mendengarkan penjelasan mereka atau memberi waktu untuk bertemu.


" Mereka mengatakan bahwa mereka Keluarga ku! Apa mereka tahu hidup macam apa yang sudah ku alami selama ini? Aku bingung harus bagaimana?" Bella bercerita tentang kegundahan hatinya pada Sean.

__ADS_1


" Apapun pilihan mu aku akan mendukung mu dan jangan pernah takut untuk menyesal." Meskipun Brian dan Mark tidak bersalah. Tapi tetap saja keduanya sudah terlambat untuk mengobati luka yang tidak terlihat oleh mata, namun berakibat fatal yang Bella dapatkan dari keegoisan kedua orang tua mereka.


" Aku masih bingung." Keyakinannya tentang keluarga di masa lalu mulai goyah. Setelah mendengar penjelasan Brian dan melihat ekspresi sedih mark.


Dia dapat merasakan bahwa keduanya tulus padanya, menganggapnya keluarga tanpa memandang apa yang dia miliki sekarang.


Tidak ada salahnya mencoba, membuka hati dan mungkin rasa traumanya tentang keluarga bisa pulih.


Keluarga yang Bella yakini adalah yang berhubungan darah dengannya. Keluarga Anderson tidak termasuk dalam hal tersebut.


Sekali lagi, bukan berarti keluarga Anderson tidak penting. Mereka penting namun dalam konteks umum, bukan dalam seperti hubungan keluarga dekat.


" Maka, kita akan kembali dan mereka bisa menunggu keputusan mu." Ada rasa tidak suka. Namun Brian paham bahwa apa yang Sean putuskan mungkin itu yang di butuhkan adik perempuannya.


" Benar, kami akan menunggu keputusan mu. Jangan terburu-buru, tapi percayalah bahwa aku selalu merindukan adik perempuan ku yang sangat aku nantikan di masa lalu, dan sampai sekarang pun aku selalu menantikan kepulangan mu."


" Meskipun aku ingin memeluk mu sebagai kakak perempuan ku. Tapi aku juga akan menunggu kakak perempuan mengambil keputusan. Semoga kakak tida mengecewakan aku dan kakak laki-laki." Mark akhirnya tenang dan bisa mengambil keputusan yang bijaksana.


Memaksa akan menghancurkan segalanya. Dan dia tidak ingin kakak perempuannya malah membencinya.


Pada akhirnya, Sean membawa Bella yang masih terdiam bahkan sampai mereka tiba dirumah.


Ketika sudah tidak ada orang luar lagi selain pelayan. Sean bangun dari kursi rodanya lalu menggendong sang istri yang masih terlihat linglung.


Sean belum mengumumkan tentang kesembuhannya ke publik karena masih ada beberapa hal yang berguna ketika orang-orang masih menganggapnya lumpuh.


Hingga makan malam selesai pun, Bella masih terlihat linglung sehingga Sean sedikit menyesali keputusannya karena membiarkan Brian mengungkapkan hubungan mereka.


"Sayang, ada apa?" Bella yang sedang duduk di meja rias tidak merespon sama sekali, membuat Sean harus menghampiri istrinya.


Dengan terampil, Sean mengangkat istrinya dan membantunya berbaring diatas kasur lalu menutupi tubuh mereka dengan selimut.


" Abaikan saja mereka, aku akan membantumu tidak lagi bertemu dengan mereka." Sean takut penyakit psikologis Bella kambuh lagi, meskipun tidak di provokasi.


Bella memeluk erat tubuh Sean, dia merasa nyaman dengan pria itu.


" Aku tidak menduga kalau hal-hal yang ku anggap tidak penting, malah sangat terasa rumit untukku." akhirnya Bella bersuara.


" Bagian mana yang membuat mu merasa rumit?"


" Hubungan kami tidak munafik, disisi lai aku senang ada keluarga ku yang mengharapkan ku kembali. Namun, disisi lain aku marah karena mereka baru menemukanku setelah berhasil keluar dari keluarga Glover. Ini terasa tidak adil untukku."


Sean mengecup kening istrinya lalu menepuk lembut punggung wanitanya untuk memberikan ketenangan.

__ADS_1


__ADS_2