Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-95 Kebetulan yang sangat kebetulan


__ADS_3

Mobil yang ditumpangi Jack dan Ara meninggalkan rumah mewahnya Jack. Pak Beni duduk di depan bersama supir, sedangkan Ara dan Jack duduk dibelakang berdua. Pria itu duduk bersandar dengan santainya, melihat keluar jendela begitu juga dengan Ara.


“Jack sebenarnya kau ingin mengajakku kemana?” tanya Ara, menoleh pada Jack yang duduk di sebelahnya. Jackpun menoleh pada Ara.


Mendapat tatapan dari Jack, Ara buru-buru memalingkan  wajahnya kembali melihat keluar jendela. Dia teringat lagi dengan kelupaannya malah memandikan Jack.


Kalau ternyata Jack masih juga tidak jujur padanya kalau dia sudah sembuh, apa dia akan memandikan Jack terus? Jendral itu pasti akan mengukumnya kalau setiap mandi bagian pribadinya dibangunkan terus dengan siulannya. Ara langsung menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, membayangkan Jack akan memarahinya dan menghukumnya.


Setiap kali melihat sikap istrinya yang seperti itu membuat Jack merasa geli. Ara hampir berteriak saat tiba-tiba tangan Jack menariknya duduk lebih dekat dengannya. Mulailah jantung Ara berdebar kencang dan gugup.


“Kau tiba-tiba mengajakku pergi, apa kita sedang kencan?” tanya Ara dan langsung menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.


Kenapa akhir-akhir ini dia selalu salah bicara dan bertindak? Ingat Ara, ingat, pria yang disampingmu bukan Jack yang depresi lagi, dia seorang Jendral, disaat banyak orang yang begitu segan dan menghormatinya, kenapa kau malah SKSD? Sok kenal sok dekat? Tapi Jack kan suamiku, batin Ara bertanya dan menjawab sendiri. Bibirnya langsung mengerucut.


Diapun menoleh pada Jack dan terkejut saat pria itu ternyata sedang menatapnya. Wuih bikin salah tingkah saja, kenapa pula Jack menatapnya begitu. Apa dia tidak tahu kalu tatapannya itu selalu membuatnya gugup?


Sampai di perempatan jalan, sebuah mobil masuk ke jalur utama dan melaju dibelakang mobil yang ditumpangi Jack. Jack yang sudah terbiasa dan terlatih instingnya melirik kearah spion, dia tahu ada mobil bewarna hitam mengikutinya, tapi dia bersikap santai saja.


Cukup lama perjalanan ke tempat yang dituju. Ternyata mobilnya Jack masuk ke sebuah super mall di ibukota.


“Wah kau mengajakku belanja? Kita akan membeli apa? Kau tahu kan uangku menipis, aku tidak bekerja lagi di kantorku sejak kita menikah. Uangmu juga dipegang oleh ibumu, aku juga ke Paris dengan uangku, sepertinya kita harus berhemat Jack.” ucap Ara, membuat Jack terkejut dan tersadar sesuatu. Diapun menoleh dan menatap Ara.


“Aku tidak mungkin bekerja di kantor lagi, nanti tidak ada yang menjagamu. Aku tahu semua kebutuhanku tersedia di rumahmu, tapi aku juga butuh uang. Jadi mungkin aku akan menjual sebagian perhiasan yang kau berikan waktu melamarku untuk modalku bukan usaha, tapi aku belum tahu usaha apa, aku tidak pandai dalam bisnis,” ucap Ara.


Hati Jack merasa miris mendengarnya, dia memiliki segalanya dan istrinya berencana untuk membuka usaha karena tidak punya uang? Itupun istrinya tidak tahu mau usaha apa.


“Tidak!” ucap Jack tiba-tiba, membuat Ara terkejut dan menoleh pada Jack.


“Tidak, kau tidak mengijinkan aku berbisnis?” tanya Ara.


“Tidak,” ulang Jack.


“Sayang, aku memiliki banyak uang, kau tidak perlu melakukan apapun, kau hanya cukup menemaniku saja,” batin Jack, tidak terucap dari mulutnya.


“Kita harus realistis, kita harus punya penghasilan Jack, jadi aku memang harus memikirkan untuk berbisnis,” kata Ara, lalu kembali melihat ke jendela.


Tidak, Jack tidak mau istrinya bersusah payah begini. Dia harus bicara pada Pak beni untu mengurus ATM buat Ara dan memberikannya uang yang cukup. Jangan sampai Ara harus bekerja susah payah untuk mencari uang.


Pak Beni masuk ke mall itu diikuti oleh Jack dan Ara. Yang biasanya Ara yang memegang tangan Jack, kini sebaliknya, Jack yang meraih tangannya Ara, menuntunnya. Hanya sebuah pegangan tangan saja, rasanya dag dig dug tidak karuan, Ara merasakan kokohnya jemari Jendral tampan itu berada diantara jarinya.


Ara tidak tahu Pak Beni mau mengajak mereka kemana, entah inisiatif Pak Beni atau memang keinginannya Jack.


Saat mereka masuk ke mall, orang-orang yang mengikuti merekapun berjalan tidak jauh dari mereka mengikuti kemanapun arah Jack pergi.

__ADS_1


Sampailah mereka di lantai yang khusus menjual perhiasan. Ara tertegun melihat perhiasan-perhiasan cantik itu. Ini adalah Super Mall dan disini menjual barang- barang dengan kualitas yang bagus dan tentu saja harganya yang sangat mahal. Sebuah cincin kecil saja harganya sangat fantastic.


Jack tampak mengendurkan langkahnya, seakan memberikan jeda pada Ara untuk melihat-lihat, seperti biasa pria itu tidak banyak bicara. Meskipun Jack tahu kalau Ara sudah tahu dia sudah sembuh, dibiarkannya istrinya terus berfikir menunggu dia berkata jujur.


“Bukankah cincin itu bagus?” gumam Ara, sambil merentangkaan tangannya yang bercincin pernikahannya dari Jack.


Jack semakin merasa sedih saja, dia hanya bisa memberikan satu cincin special buat Ara, cincin pernikahan.


Tiba-tiba Jack menarik tangan Ara kearah etalase yang lain. Ara hanya mengikutinya, dia ingat Jack yang mengajaknya jalan-jalan, kira-kira Jendral ini mau ngapain ke toko perhiasan?


Pak Beni tampak menjauh seakan memberikan waktu pada Jack untuk berdua dengan Ara.


Jack melihat etalase itu, seorang pelayan toko menghampirinya dan menanyakan keperluannya.


Ara menoleh pada Jack, dia tidak tahu Jack mau membeli apa.Tadi dia melihat cincin malah ditarik oleh Jack.


Tangan Jack menunjuk pada sebuah kalung. Ara mengikuti arah telunjuknya Jack, ternyata sebuah kalung yang indah. Dia langung tersenyum, sepertinya Jack akan membeli kalung tapi tidak tahu untuk siapa.


Pelayan toko itu mengambil kalung yang ditunjuk oleh Jack. Jack menerimanya dan melihatnya lalu menoleh pada Ara.


“Kau akan membelikanku kalung?” tanya Ara, spontan tangannya menyentuh dadanya yang polos. Dia ingat tadi Jack menyentuh leher dan dadanya, rupanya Jack ingin membelikannya kalung.


“Kau suka kalung itu? Apa kalung itu buatku?” tanya Ara pada Jack.


“Aku tidak akan memilih, aku akan senang apapun yang kau pilihkan untukku,” ucap Ara membuat Jack kembali melihat kearahnya.


Mendengar ucapan istrinya membuat Jack sangat terharu. Tangannya langsung merentangkan kalung itu ke depan Ara.


“Kau akan memakaikan kalung itu? Bagaimana kalau harganya mahal? Apa kau tidak menanyakannya dulu?” tanya Ara, membuat Jack memberengut, kenapa istrinya masih memikirkan nominal uang? Apa Ara tidak tahu dia bisa membeli semua perhiasan disini? Keluh Jack dalam hati.


Melihat wajah Jack yang memberengut membuat Ara tersenyum.


“Ya baiklah, kau boleh memakaikannya,” ucap Ara, kedua tangannya mengangkat rambutnya.


Tangan Jack mendekatkan kalung ke lehernya Ara dan mulai memasangkannya. Dipasangkan kalung oleh Jack kembali membuat dada Ara bergemuruh. Jack itu suaminya tapi kenapa setiap Jack bersikap manis padanya rasanya dia tidak pernah bisa tenang.


Jack memutar tubuhnya ke belakang Ara, untuk mengaitkan pengait kalung, tiba-tiba tangannya terhenti saat melihat tahi lalat dibagian bawah rambutnya Ara yang diangkat.


Bayangan lebih dari 20 tahun yang lalu muncul dibenaknya. Saat itu dia pulang dari Paris, bersama kedua orangtuanya berkunjung kerumahnya Ny.Imelda.


Jack kecil waktu itu berlari-lari memasuki halaman rumah dengan membawa sebuah kantong ditangannya.


“Arum, Arum!“ panggilnya sambil berlari menuju pintu rumah, saat Ny. Imelda dan Arum muncul dipintu itu.

__ADS_1


Ny.Imelda menyambut mereka dengan ramah,  dan mempersilakan orangtua Jack masuk. Sedangkan Jack langsung menarik tangan Arum kecil untuk duduk di kursi yang ada di teras.


“Aku membawakan oleh-oleh dari Paris, Ayah mengajakku ke pantai yang indah, aku berenang disana,” kata Jack.


“Benarkah?” tanya Arum kecil dengan semangatnya.


“Ayo lihat sini, kau pasti suka!” ucap Jack, sambil mengeluarkan sesuatu dari kantong itu. Arum tampak antusias untuk melihatnya.


“Apa itu?” tanya Arum, melihat sebuah kantong kecil lagi dari tangan Jack.


Jack mengeluarkan isi dari kantong kecil itu, ternyata isinya sebuah kalung kerang kerangan dari pantai.


“Baguskan? Apa kau suka?” tanya Jack


Arum mengangguk-angguk sambil tersenyum senang.


“Aku pakaikan ya,” ucap Jack.


Arum kembali mengangguk dan langsung mengangat rambutnya yang panjang.


Jack kecil memakaikan kalung kerang-kerang itu dilehernya Arum. Dia melihat tahi lalat di bagian belakang rambut seperti yang dia lihat sekarang di tengkuknya Ara.


Tangan Jack gemetaran mengingat hal itu, melihat tahi lalat itu membuatnya mengingatkannya pada Arum kecil. Tidak mungkin istrinya adalah Arum. Arum sudah meninggal. Meskipun ada Arum di rumah Ny. Imelda tidak membuatnya yakin itu benar-benar Arum kecilnya.


Istrinya tidak mungkin Arum, banyak orang memiliki tahi lalat ditempat yang sama dibagian tubuhnya. Mata Jack langsung saja memerah berkaca-kaca, ada sesak dalam hatinya mengingat dia tidak bisa menyelamatkan Arum yang terbawa arus laut.


Setelah memasangkan kalung itu, dilihatnya Ara bercermin dikaca yang ada di atas etalase itu melihat kalung indah yang ada di lehernya.


“Kalung ini sangat bagus, aku suka,” ucap Ara, sambil menoleh pada Jack yang sedang menatapnya.


“Baguskan Jack?” tanya Ara, dan dia terkejut saat melihat Jack memandangnya dengan mata yang memerah. Ada apa dengan Jack?


Tangan pria itu mengusap pipinya Ara.


“Bagus,” ucap Jack.


Ara langsung tersenyum meskipun dengan hati yang bingung, apakah Jack sedang bersedih?


Jack kembali mengusap rambutnya Ara, dia mencintai wanita ini. Mungkin awalnya dia menikahinya karena merasa Ara memiliik mata yang mengingatkannya pada Arum, selanjutnya, apakah Ara itu Arum atau bukan itu tidak penting, Jack hanya mencintainya saja.


Jack menoleh pada Pak Beni yang segera menghampiri pelayan toko. Pak Beni juga agak terkejut melihat perubahan di wajahnya Jack, apakah Tuannya sedang bersedih?


***********

__ADS_1


__ADS_2