Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-176 Kesetiaan yang di ragukan


__ADS_3

Ara menatap suaminya itu, hatinya begitu sakit, ternyata suaminya menjalin hubungan dengan wanita lain dibelakangnya. Katanya dia hanya hampir tergoda tapi kenyataannya mereka melewatkan malam bersama. Ara menahan tangis yang rasanya ingin meledak saat itu juga.


Terdengar kasak kusuk lagi  dibelakang Ara.


 “Apa wanita itu bukan wanita baik-baik?  Pernah semalaman dengan Jendral Jack Delmar, sekarang dengan Tn.Ignasius yang tua!” kata Ny.Oliver.


“Sepertinya wanita itu menyukai Jendral Jack, kau lihat dia berani menempelkan jarinya


dibibirnya Jendral Jack Delmar, padahal ada istrinya disini!” ujar yang lainnya.


“Kalau aku sudah kujambak wanita itu!”


“Bukankah Jendral Jack itu baru menikah? Resepsi di Paris juga belum kan?”


Yang berbisik-bisik itu kembali terdengar. Semakin terasa menusuk-nusuk jantungnya. Merasa tidak dihargai didepan orang banyak, padahal ini pertama kalinya Jack membawanya hadir dilingkungannya. Rasa bangga diawal datang hilang sudah berganti dengan kekecewaan.


Jack menatap Ara dengan bingung, dia merasa sangat bersalah melihat istrinya menatapnya seperti itu. Sungguh dia tidak pernah berniat untuk menyakiti istrinya. Dia juga kesal kenapa wanita itu ada disini dan berbicara seperti itu di depan orang banyak.


Ara menatap suami yang hanya menatapnya dengan bingung. Kebahagiaan yang dirasanya setelah berkumpul kembali dengan Jack, hilang begitu saja. Kini rasa perih yang ada dalam hatinya.


“Maaf Nyonya, aku mau ke toilet dulu” ucap Ara pada wanita-wanita itu. Lalu buru- buru pergi meninggakann ruangan itu, bahkan Ara semakin mempercepat jalannya jangan sampai tangisnya tumpah di lihat orang.


Jack terdiam sesaat, dia juga masih shock dengan kejadian tadi, dimana membuat sebagian orang menatapnya apalagi para ibu-ibu itu. Jack pun segera mengikuti langkahnya Ara.


Ara setengah berlari saat melihat ada petunjuk jalan menuju toilet. Airmatanya sungguh tidak bisa tertahankan.


Rasa sakit itu kembali menjalar dihatinya, berbulan-bulan menunggu kepulangan Jack begitu merindukannya, disaat dia menunggu rasanya masih terasa penderitaan itu rasa rindu yang tidak lepas dari hatinya.  Merindukan suaminya pulang dengan selamat dan tetap setia padanya, ternyata semua itu tidak terjadi.


Jack tidak menepati dua janji padanya, tidak satupun janjinya yang ditepatinya. Dia sangat kecewa.


Ara masuk ke toilet itu, dan dia terkejut karena mendapati wanita itu ada disana sedang merapihkan riasannya. Ara tidak menyapanya, dia langsung masuk kedalam salah satu ruang toilet.


Terdengar wanita ini menyalakan kran air, lalu suara kran itu menghilang.

__ADS_1


Jack mencari-cari arah toilet wanita, dia hanya menyusul istrinya, dia tidak ingin istrinya marah dan pulang sendiri dalam keadaan seperti itu, dia sangat mengkhawatirkan istrinya.


Dilihatnya lorong menuju toilet wanita, diapun menuju ke arah sana. Dia ragu masuk ke toilet itu karena itu toilet wanita, diapun hanya berhenti dilorong menuju pintu toilet wanita itu.


Kemudian dilihatnya pintu toilet itu terbuka, Jack menoleh dan berharap Ara yang muncul tapi dia terkejut saat yang ada di hadapannya adalah Rebecca.


“Jendral Jack Delmar! Sedang apa kau disini? Tidak ada siapa-siapa disini! Kau benar-benar mengikutiku?” tanya Rebecca berlebihan.


Tentu saja Ara yang ada disalah satu toilet itu merasa terkejut mendengar wanita itu memanggil suaminya, diapun membuka pintu toilet perlahan lalu berjalan menuju pintu keluar toilet wanita, dan menginntip apa yang terjadi di lorong. Dilihatnya wanita itu menghampiri Jack.


“Aku sedang mencari istriku!” jawab  Jack, dengan ketus. Dia kesal sekali pada wanita ini.


“Kau tidak perlu berbohong! Tidak ada siapa-siapa di toilet hanya aku saja,” kata Rebecca. Berjalan semakin dekat.


“Menjauh dariku! Menyingkir!” kata Jack.


Tapi Rebecca malah semakin mendekat membuat Jack mundur. Dia tidak mungkin mendorong wanita itu, dadanya begitu terbuka, dia tidak mau tangannya menyentuh tubuh wanita itu. Dia juga tidak mungkin memukul wanita, jadi dia hanya bisa menghindar dan mundur.


Ara masih mengintip di celah pintu itu. Hatinya semakin sedih saja melihat kalau mereka memang saling kenal.


Ara semakin sedih saja, ternyata memang benar Jack pernah bermalam dengan wanita itu dan wanita itu terpikat oleh Jack sampai mencarinya ke Paris. Hati Ara terasa begitu sakit membayangkan suaminya bermalam bersama wanita itu dan pastinya mereka tidak mungkin cuma ngobrol saja, bahkan Jack bilang hampir tergoda, itu bohong, Jack memang menyukainya. Dia bisa melihat betapa cantiknya wanita itu, semua pria begitu terpesona dengan kecantikannya.


Airmata kembali menetes dipipinya Ara.


Jack menatap wanita itu, dia agak memalingkan mukanya karena dada itu sebagian jelas terlihat membuat mata laki-laki tidak akan berkedip melihatnya yang dihiasi oleh sebuah kalung yang indah.


“Kau ini bicara apa? Kita tidak ada hubungan apa-apa, buat apa kau berharap bertemu denganku?“tanya Jack.


Rebecca menatap Jack.


“Aku menyukaimu, aku tertarik padamu dan aku tahu kau juga tertarik padaku, aku ingin melanjutkan malam itu,” ucap Rebecca, blak-blakan, bahkan dia mulai berjalan mendekat.


Jack benar-benar kesal, dia tidak mau istrinya melihat semua ini lebih jauh, apa dia harus memukul wanita ini?

__ADS_1


Tapi belum juga Jack bicara lagi, pintu toilet itu terbuka. Jack  terkejut melihat Ara keluar dari pintu itu dan terburu-buru pergi melewatinya tanpa sepatah katapun.


Jack tidak menghiraukan Rebecca, dia segera berlari mengejar Ara yang berlari meningggalkan toilet itu. Rebecca mengerutkan keningnya. Apa wanita itu istrinya Jack? Dia sama sekali tidak memperhatikan ada orang di toilet tadi. Tapi ah dia tidak peduli.


Ara keluar dari gedung itu dengan air mata yang terus menetes dipipinya, hatinya begitu sakit, sangat sakit. Nafasnya terasa sesak, dia sudah tidak bisa menahan tangisnya.


Jack mengejar istrinya keluar gedung tapi tidak ditemukannya, dia hanya melihat sekilas istrinya masuk ke sebuah taxi yang lewat.


Jackpun menatap kepergian istrinya dengan rasa bersalah. Apa lagi wanita itu menatapnya dengan mata yang penuh airmata. Hatinya ikut merasa sakit, dia membuat istrinya menangis lagi.


Jack merasa kesal pada wanita itu, yang sudah membuat istrinya salah faham. Dia mengusap wajahnya dengan putus asa. Dia harus segera minta maaf pada Ara, dia tidak mau semua ini berlarut-larut.


 Akhirnya Jack kembali ke ruangan itu dan berpamitan pada Jendral Ronald.


“Maaf aku tidak bisa ikut acaramu sampai selesai, aku harus pulang duluan,” kata Jack.


“Kemana istrimu?” tanya Jendral Ronald.


“Ada di mobil, dia mendadak kurang enak badan,” jawab Jack, berbogong.


“Jangan katakan ini karena Rebecca! Kau tidak ada hubungan dengan Rebecca kan? Tadi hanya leluconnya Rebecca saja kan?” tanya Jendral Ronald keheranan.


“Bukan, bukan itu, istriku sedang tidak fit,” ucap Jack, fikirannya benar-benar kacau, dia harus menyusul istrinya.


“Baiklah, semoga istrimu cepat sembuh!” kata Ronald.


Setelah berpamitan pada beberapa orang penting, Jack segera keluar dari ruangan itu. Dia bukannya tidak tahu kalau Rebecca melihatnya terus. Dia tidak peduli dengan wanita itu.


Jendral Ronald kembali bergabung dengan tamu-tamunya.


“Kenapa Jendarl Jack Delmar?” tanya Rebecca.


“Istrinya kurang sehat, mungkin kelelahan, dia kan belum lama melahirkan,” jawab Jendral Ronald.

__ADS_1


Rebecca tidak bicara lagi, ternyata benar ada istri Jack tadi, ternyata Jack juga baru punya bayi. Beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya. Selain Jack itu Jendral tampan yang kaya raya, dia juga sangat setia pada istrinya. Memangnya secantikapa sih istrinya sampai Jendral itu begitu setia? Lihat saja sekarang Jendral itu pulang lebih dulu, seperti seorang pangeran yang sedang jatuh cinta, mengejar putrinya yang sedang merajuk. Banyak pertanyaan muncul di benaknya Rebecca. Membuatnya semakin penasaran dengan sosok istrinya Jack.


**********


__ADS_2