Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
​CH-101 Kenapa selalu lupa?


__ADS_3

Lagi-lagi panas matahari menyilaukan pandangannya Ara. Hari sudah siang. Lagi-lagi dia bangun kesiangan. Dia merasa heran, sejak menikah dengan Jack dan tidak bekerja lagi, dia selalu bangun siang.


Matanya langsung tertuju pada meja disamping tempat tidur, bunga dari Jack, senyum langsung menghiasi bibirnya. Diapun cepat-cepat turun dan segera mengambil bunga itu. Tangannya mengambil kartu ucapan dan segera dibacanya.


Isinya ternyata sama.


“Untuk istriku, aku mencintaimu, suamimu,” ucap Ara, lalu mengerucutkan bibirnya.


“Bukankah Jack itu sudah sembuh? Kenapa dia menulis kata tidak ada tambahan lagi? Masih juga pendek-pendek. Harusnya ada puisi ke, kata-kata mutiara, kan lebih romantis,” gerutu Ara, lalu dia kembali tersenyum dan mencium bunganya.


“Aku juga mencintaimu, suamiku,” gumannya lagi.


Mata Ara langsung mengedar mencari Jack, dikamarnya sepi. Diapun segera ke balkon kamar mencari Jack di kolam renang. Ternyata Jack tidak ada, kemana dia?


Terdengar suara ketukan dipintu beberapa kali. Ara segera pergi ke pintu kamarnya lalu membukanya. Pak Beni sudah berdiri disana menatapnya yang masih memegang bunga.


“Ada apa? Aku tidak tahu Jack kemana, aku bangun sudah tidak ada,” kata Ara.


“Tuan ada diruang kerja,” jawab Pak Beni.


“Kalau tahu, kenapa kasini?” tanya Ara.


Pak Beni memberikan sebuah amplop putih berlogo.


“Apa itu?” tanya Ara.


“Ini ATM buat nyonya. Kemarin Tuan meminta saya membuatkannya,” jawab Pak Beni.


Ara menerima amplop itu.


“Jack meminta Pak Beni membuatkan ATM untukku?” tanya Ara.


“Iya, disana sudah ada sejumlah saldo, selanjutnya Nyonya akan menerima uang bulanan dari Tuan,” jawab Pak Beni.


Ara menatap amplop itu, ada perasaan haru dihatinya. Selama menikah dengan Jack apa yang dimiliki suaminya dikuasai keluarga suaminya. Bahkan dia tidak pernah mendapatkan uang sepeserpun dari suaminya. Meskipun semua kebutuhannya sudah tercukupi dirumah ini.


“Nyonya sudah bisa langsung menggunakannya. Kalau Nyonya mencari Tuan, Tuan ada diruang kerjanya,” kata Pak Beni, lalu mohon diri, tanpa menunggu Ara bicara lagi, dia meninggalkan tempat itu.


Ara kembali menatap amlop itu, lalu diapun keluar dari kamarnya, menuju ruang kerjanya Jack.


Diketuknya pintu beberapa kali.


“Masuk,” terdengar suara suaminya dari dalam.


Ara membuka pintu itu dengan perlahan. Dilihatnya suaminya sedang menunduk menuliskan sesuatu diatas meja.


“Jack!” panggil Ara.


Jack yang sedang menulis itu mengangkat wajahnya melihat siapa yang datang. Istrinya muncul dengan wajahnya yang pucat, rambut acak-acakan dan tentunya belum mandi, terlihat sekali kalau baru bangun tidur.  Istrinya itu menatapnya dengan membawa buket bunga dan sebuah amplop.


“Kau sudah bangun?” tanya Jack.


“Kau meminta Pak Beni membuatkan ATM untukku?” tanya Ara sambil mengacungkan amplop itu.


“Iya, kau bisa menggunakannya,” jawab Jack.


“Terimakasih Jack, tapi…” ucap Ara terpotong.


“Itu sudah menjadi tanggung jawabku. Selama ini ibuku yang memegang kekayaanku,” kata Jack.


“Aku tidak mau punya masalah dengan ibumu, sudahlah yang penting kita hidup tidak kekurangan,” ujar Ara.


“Tidak, aku belum mengambil surat kuasa dari ibuku. ATM itu dariku, sebagai suami aku harus memberi nafkah istriku. Kau bisa melakukan apapun dengan uang itu, terserah kau mau apa, kecuali satu,” ucap Jack.


“Kecuali apa?” tanya Ara, menatap Jack.


“Aku tidak mau melihatmu capek-capek mencari uang. Uangku sudah cukup untuk kebutuhan kita dan anak-anak nanti,” jawab Jack.


“Iya Jack, terimakasih,” ucap Ara.


Ara menatap suaminya lalu melihat pada amplop itu, lalu pada Jack lagi, pria itu begitu memanjakannya.


“Kenapa lagi?” tanya Jack.

__ADS_1


“Bisakah nanti kau menambah sedikit kata-kata dikartu yang ada di bungamu ini?” tanya Ara.


Tentu saja Jack terkejut mendengarnya.


“Kata-kata apa?” tanya Jack.


“Kau kan bisa menambahkan puisi atau kata-kata mutiara, itu kan lebih romantis,” jawab Ara.


Tapi sejurus kemudian dia terkejut dan sadar dengan apa yang  diucapkannya. Kenapa dia sangat konyol bicara seperti itu pada Jack, seperti anak ABG saja.


“Puisi? Kata-kata mutiara?” tanya Jack kebingungan.


“Iya, biar tidak monoton,” jawab Ara, mengangguk dengan ragu.


“Baiklah besok aku tuliskan puisinya,” kata Jack, membuat Ara tersenyum tidak menyangka Jack akan merespon keinginannya yang konyol itu.


Jack tampak berfikir keras, kira-kira puisi apa? Selama pendidikannya di militer tidak ada pelajaran membuat puisi atau kata-kata mutiara.


“Jack!” Seru Ara dengan keras, membuat Jack terkaget-kaget, menatap istrinya.


“Kau sudah mandi?” tanya Ara, baru tersadar melihat Jack yang terlihat segar dengan kaos putihnya yang agak ketat membentuk tubuhnya semakin terlihat atletis.


“Iya, seharusnya kau memandikanku tadi,” jawab Jack.


“Kau kan bisa mandi sendiri sekarang,” kata Ara, mencibir.


“Tapi..kenapa kau mandi pagi-pagi sekali? Kau mau kemana?” tanya Ara kemudian.


Mendengar pertanyaan istrinya, Jack memberengut dan melipat kedua tangannya didadanya, menatap istrinya tajam.


Melihat sikap Jack begitu, Ara jadi meringis.


“Kau kenapa? Kau marah padaku? Apa salahku?” tanya Ara.


Jack tidak menjawab, masih menatapnya begitu.


“Salahku apa?” tanya Ara kebingungan.


“Tuan!” Terdengar suara Pak Beni masuk ke keruangan itu dari pintu yang terbuka tadi.


“Kau mau kemana?” tanya Ara, menoleh pada Pak Beni lalu pada Jack.


Pria itu masih bersikap begitu, memberengut, menatapnya tajam dan melipat kedua tangannya.


“Kau ini sangat aneh Jack, kau marah padaku padahal aku tidak punya salah apa-apa,” ucap Ara.


“Tuan, ada berkas yang akan dibawa?” tanya Pak Beni.


“Berkas? Kalian mau kemana membawa berkas?” Tanya Ara yang langsung menutup mulutnya dengan tangan yang memegang amplop itu.


Diapun menoleh pada Jack, wajahnya langsung pucat mendapat tatapan tajam suaminya.


“Kau bekerja hari ini! Aku lupa! Aku belum menyiapkan baju untukmu!” Teriak Ara, lalu dia langsung kabur keluar dari ruang kerja itu.


“Ada apa dengan Nyonya?” tanya Pak Beni keheranan.


“Dia lupa menyiapkan baju kerja suaminya,” jawab Jack, sambil memberikan berkas pada Pak Beni.


Pak Beni hanya tersenyum dan mengambil berkas itu.


Ara benar-benar merasa bersalah, dia lupa kalau semalam Jack sudah mengatakan untuk menyiapkan baju kerjanya, pantas saja Jack memakai kaos, rupanya menunggu dia mendandaninya.


Aduh kenapa sampai lupa? Tugas gampang begini sampai lupa. Semoga saja Jack tidak marah, dia tadi sudah memberengut terus. Tapi Jack mau pakai baju apa ya? Apa seragam dinas? Apa dia akan ke Paris? Ah jangan? Dia tidak mau ditinggalkan sendirian disini.


Ara mencari pakaian dinasnya Jack seperti yang di Paris itu tapi ternyata tidak ada. Setelan jasnya Jack juga tidak banyak, nanti dia akan membelikannya buat Jack.


Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki memasuki ruangan itu. Ara menoleh kearah suara ternyata Jack.


Jack melihat baju yang berserakan dikursi.


“Apa yang kau lakuaan?” tanya Jack.


“Aku mencari baju dinasmu ternyata tidak ada, apa kau akan pergi lagi ke Paris? Aku tidak mau ditinggal sendirian disini,” jawab Ara, menoleh pada Jack.

__ADS_1


“Tidak ada baju dinas disini, aku juga tidak akan ke Paris,” kata Jack.


“Kau akan bekerja di perusahaan Tn.Ferdi?” tanya Ara, menatap Jack dengan tangan yang memegang stelan jas.


Jack mengangguk. Ara langsung mendekati Jack.


“Aku ikut,” ucap Ara.


“Ikut? Kau diam saja di rumah,” kata Jack.


“Tidak mau, aku tidak mau kau sendirian disana! Aku harus menemanimu!” ujar Ara, bersikeras.


“Kenapa?” tanya Jack.


“Aku  khawatir kejadian dulu terulang lagi, aku tidak mau terjadi apa-apa padamu Jack,” ucap Ara, memegang tangannya Jack. Dia masih ingat bagaimana Jack tiba-tiba tidak focus dan dicemooh semua orang mengatainya gila.


Jack mengusap rambutnya Ara perlahan. Istrinya itu sangat menyayanginya.


“Baiklah kau boleh ikut,” ucap Jack, mengangguk.


Arapun tersenyum.


“Ayo, cepatlah ganti pakaian,” ajak Ara, menarik tangan Jack ke depan cermin.


Dengan semangat dia mengganti pakaian suaminya itu. Seperti biasa pria itu membiarkan tubuhnya menjadi milik istrinya, didandani begini begitu ikut saja.  Dia tidak mau mengganggu kebahagiaan istrinya mengurusnya. Apapun yang dipakaikan istrinya dibiarkan saja.


“Sudah beres,” ucap Ara, tersenyum memandang Jack.


Ara melihat kearah cermin melihat suaminya sudah rapih, tapi kemudian wajahnya berubah pucat dan memegang kedua pipinya.


“Kenapa?” tanya Jack kebingungan.


Ara kembali melihat cermin. Suaminya begitu tampan kenapa istrinya kusut begini? Selain belum mandi, rambutnya juga acak-acakan belum disisir.


“Aku harus mandi!” seru Ara.


Dia akan pergi tapi tangannya dipegang Jack.


“Ada yang kau lupa,” kata Jack.


“Apa?” tanya Ara, menatap Jack, pria itu tidak menjawab. Biasanya Ara akan mencium pipinya jika Jack selesai berpakaian.


“Bukan aku lupa, aku tidak bisa menciummu, aku belum mandi! ”kata Ara, mengerti maksud Jack. Wajahnya semakin merah, lalu mengusap rambutnya biar tidak terlalu kusut.


Jack tidak menjawab, dia malah menarik Ara ke pelukannya, membuat Ara terkejut apalagi pria itu langsung menciumi wajahnya, keningnya, pipinya, hidungnya dan juga mengecup bibirnya.


“Jack!” teriak Ara, menyadari wajahnya habis diciumi pria itu. Kedua tangannya memegang bahunya Jack.


“Aku belum mandi Jack,” ucap Ara dengan lirih, wajahnya sangat merah karena malu dan juga tidak pede.


Jack menatap Ara sambil tersenyum melihat istrinya gelagapan.


“Seharusnya kau menciumku setelah aku mandi,” keluh Ara, sambil mengusap wajahnya.


Jack tambah geli saja melihatnya.


“Cepatlah kau mandi, nanti aku lanjutkan menciummu,” jawab Jack.


“Ah kau ini!” gerutu Ara.


Jack hanya tersenyum menanggapinya. Sejenak  Ara tertegun, Jarang sekali pria itu tersenyum, dan senyumnya Jack itu ternyata sangat manis.


“Cepatlah mandi, aku menunggumu,” ulang Jack, dan tidak sungkan-sungkan lagi kembali mencium bibirnya Ara.


Ara semakin mati kutu, malu setengah mati. Dia belum gosok gigi dan pria itu masih mau menciumnya bukannya menunggu mandi dulu, sungguh malu!


Tanpa bicara lagi, Ara segera pergi meninggalkan ruangan pakaian itu. Jack hanya melihatnya sambil tersenyum. Dia tidak perlu istri yang dipoles secantik apapun, dia cukup istrinya yang apa adanya tapi bisa membuatnya bahagia.


***********


Readers yang masih setia, semoga bab ini nyampenya normal ya, di webku ada keterangan error.


Yang sudah bosan maaf ya, aku masih ingin ngelebay, konfliknya ntar. Yang tidak suka, abaikan.

__ADS_1


*******


__ADS_2