Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-182 Makan Malam


__ADS_3

Sebelum jam 7, Jack dan Ara sudah bersiap-siap akan pergi ketempat resto yang Rebecca janjikan.


Jack berdiri menatap istrinya, wanita itu tidak banyak bicara, dia sangat faham bagaimana perasaan istrinya. Istrinya itu bukan tipe wanita yang suka berteriak-teriak mencak-mencak pada suaminya, meskipun tahu kalau suaminya sedang digoda wanita lain dan krisis kepercayaan timbul dalam dirinya.


Dari sikapnya saja Jack bisa menilai seperti apa istrinya. Dia tidak pernah meragukan cinta istrinya padanya maka diapun harus menjaga cinta itu jangan sampai istrinya berubah menjadi benci padanya.


Cobaan dalam pernikahannya, awal kelahiran bayinya dan awal masa depannya, cita-citanya untuk tinggal di Paris bersama anak istrinya tidak semulus yang dibayangkannya, tapi dia harus bertahan dan mempertahankan pernikahan mereka, jangan sampai retak karena ada gangguan dari pihak luar.


Ara sekali lagi merapihkan gaunnya lalu menoleh pada Jack yang sedari tadi menatapnya.


“Apa ada yang salah dengan penampilanku?” tanya Ara.


Jack mendekati istrinya.


“Tidak, aku hanya tidak suka kau lebih pendiam,” ucap Jack.


Ara membalas tatapan suaminya.


“Pendiam?” tanya Ara.


“Karena aku tahu kalau kau berubah pendiam, artinya kau sedang terluka, kau kecewa,” jawab Jack.


Ara tersenyum mendengar perkataan suaminya.


“Aku malah merasa takut kalau kau bersikap begini,” ucap Jack, meraih tangannya Ara.


“Aku takut sikap diammu membuatku jauh darimu. Aku ingin selalu bahagia bersamamu, bersama putra kita,” kata Jack lagi, lalu memeluk Ara.


Tidak ada yang Ara ucapkan, dia hanya tersenyum saja pada suaminya, sungguh sikapnya ini membuat Jack ketar ketir. Sepertinya dia lebih suka istrinya marah-marah berteriak, jadi dia tahu apa yang diinginkan istrinya.


“Ayo kita berangkat!” ajak Jack. Ara hanya mengangguk saja.


Setelah mereka mencium Galand dan menitipkannya pada Bibi, merekapun berangkat menuju resto yang disebutkan Rebecca.


Di resto itu Rebecca sudah tiba dan menempati kursi yang agak terpisah dari yang lain, dia memang memilih yang agak terpencil karena dia ingin berduaan dengan Jendral tampan itu.


Seperti biasa pakaian yang digunakannya gaun yang sangat indah dan cantik ditubuhnya. Sikapnya yang percaya diri membuatnya terlihat sangat anggun.


Di bolak baliknya ponsel yang ada di mejanya itu, jamnya sudah menunjukkan lebih dari pukul 7, tapi Jack belum dating juga, membuatnya gelisah, apakah pria itu akan datang atau tidak. Masa sih pria itu tidak takut dengan ancamannya yang akan mengganggu istrinya?


Rebecca kembali melihat riasannya, dia takut ada yang kurang meski sudah berdandan maksimal juga, dia takut tidak berhasil merayu Jack.


“Silahkan Tuan!”  terdengar suara seorang pelayan mengantarkan tamunya kearahnya.


Rebecca segera menyimpan cermin kecilnya kedalam tasnya dan menoleh kearah yang datang. Wajahnya langsung berubah masam saat melihat siapa yang datang.


Jendral itu datang bersama istrinya. Sebenarnya dia merasa kaget tapi dia mencoba untuk bersikap tenang dan percaya diri, merasa yakin kalau dia lebih unggul dari Ara.


“Jendral, aku sudah cukup lama menunggumu,” kata Rebecca sambil berdiri.


Matanya melirik pada Ara, juga kearah tangan Ara yang bergandengan tangan dengan Jack, membuatnya merasa cemburu.


“Sepertinya kau lupa kalau aku mengundangmu saja, bukan dengan orang lain,” kata Rebecca.


“Dia bukan orang lain, dia istriku, Ibu dari anakku, namanya Arasi Mayang,” ucap Jack.


Jack berbicara dalam bahasa Inggris karena Rebeccapun bukan orang perancis, meskipun dia bisa bahasa Perancis, tapi karena istrinya belum pandai bahasa Perancis, Jack bicara dalam bahasa Inggris supaya Ara faham apa yang mereka bicarakan.


Rebecca pun terdiam, dia sangat malas ternyata Jack datang dengan istrinya, gagal sudah untuk merayunya.


“Silahkan duduk, tapi aku hanya memesan 2 minuman. Kalau kau mau kau bisa pesan sendiri,” kata Rebecca, menoleh pada Ara, lalu duduk dikursinya.

__ADS_1


“Tidak perlu, nanti kita pesan sendiri,” ujar Jack.


Jack menggeserkan kursi untuk Ara.


“Ayo sayang duduklah,” ucap Jack.


“Terimakasih,” jawab Ara, sambil duduk dikursi itu, barulah Jack duduk disampingnya.


Rebecca cemberut saja, apa maksudnya Jendral itu membawa istrinya segala? Batinnya.


“Sayang, apa kau mau memesan minuman atau makanan?” tanya Jack, menoleh pada Ara, tangannya menggenggam tangan Ara.


“Bukannya kita tidak akan lama, Galand menunggu di rumah,” jawab Ara.


“Iya kau benar,” jawab Jack, lalu dia menoleh pada Rebecca.


“Aku langsung saja, kenapa aku membawa istriku kemari,” kata Jack, menatap Rebecca.


Wanita itu balas menatapnya dan tersenyum, dia sangat senang melihat wajah tampannya Jack.


“Aku minta kau jangan pernah menggangguku lagi,” kata Jack.


Rebecca langsung tertawa.


“Kau bicara begitu karena kau takut pada istrimu?” tanya Rebecca, melirik pada Ara dan tersenyum sinis.


“Iya, aku takut pada istriku,” jawab Jack.


Rebecca langsung tertawa mendengarnya.


“Apa yang kau takutkan? Aku sangat heran ,” ucap Rebecca.


“Aku takut apa yang aku lakukan menyakiti istriku, makanya aku membawanya kesini, aku tidak mau diam-diam menyembunyikan masalah ini dan menimbulkan salah faham,” kata Jack.


“Menyembunyikan? Tentu saja kau menyembunyikan ketertarikanmu padaku kan?” ucapnya sambil tersenyum.


“Tidak ada yang aku sembunyikan pada istriku,” kata Jack.


Rebecca menoleh pada Ara.


“Apa kau percaya pada suamimu?” tanya Rebecca.


“Tentu saja aku lebih percaya suamiku daripada perkataanmu,” jawab Ara.


Rebecca tertawa lagi.


“Kau memang wanita bodoh mau saja dibohongi,” ucapnya.


“Jaga bicaramu, jangan menghina istriku!” bentak Jack.


Rebecca menoleh pada Jack.


“Apa aku salah bicara? Jelas jelas kau tertarik padaku,” kata Rebecca.


“Tidak, apa yang kau miliki ada pada istriku, buat apa kau tertarik padamu,” ujar Jack.


Rebecca tertawa lagi, diapun menoleh pada Ara.


“Jendral tampan ini pintar sekali berbohong,” ucap Rebecca.


Jack menoleh pada pelayan dan berbicara dalam bahasa Perancis.

__ADS_1


Rebecca tampak mengerutkan keningnya siapa yang dipanggil oleh Jack ini?


Ara menatap suaminya tidak mengerti, Jack menolah padanya dan tersenyum sambil mengusap pipi istrinya.


Rebecca semakin sebal saja melihat sikap manis Jack pada istrinya, padahal sudah jalas -jelas dia lebih cantik, meliriknyapun tidak.


Datang dua orang pria  yang langsung duduk bergabung dengan mereka.


“Mereka siapa?” tanya Rebecca keheranan.


“Ini pengacaraku, mereka yang akan mengurus pengaduanku karena kau sudah mengganguku dan mencemarkan nama baikku,” kata Jack.


Tentu saja Rebecca terkejut mendengarnya.


“Kau mau memasukanku ke penjara?” tanyanya dengan marah.


“Tentu saja, aku merasa terganggu dengan perilakumu, nanti pengacaraku akan menjelaskan apa saja pasal pasal yang bisa dijatuhkan padamu,” kata Jack.


Rebecca langsung menoleh pada Jack.


“Kau! Kau keterlaluan! Kau melaporkanku?” bentak Rebecca.


“Iya, karena perilakumu meresahkan dan aku tidak mau kehidupanku dengan istriku terganggu,” jawab Jack.


“Nona, apa kita bisa mulai membacakan pasal-pasalnya?” tanya Pengacara Jack itu.


“Diam kau!” bentak Rebecca, wajahnya langsung merah padam.


Ara hanya terdiam, dia kaget, dia tidak menyangka kalau Jack melaporkan Rebecca dan bisa terkena pasal.


“Kau sudah mengganggu pejabat Negara, berbuat tidak menyenangkan, mencemarkan nama baik,” kata Jack.


“Kau keterlaluan! Aku hanya menginginkanmu Jendral, aku mencintaimu,” kata Rebecca.


“Tapi aku tidak mencintaimu. Kau tidak bisa memaksaku, aku tidak suka!” kata Jack.


“Kau menyakitiku Jendral, aku sangat mencintaimu, kau tidak menghargai pengorbananku sampai bisa ke Paris,” kata Rebecca.


Jack menatap waniat itu.


“Kau bilang kau mencintaiku?” tanya Jack.


“Sangat mencintaimu, bahkan aku yakin cintaku padamu melebihi istrimu!” jawab Rebecca.


“Kau membandingkan cintamu dengan cinta istriku? Seharusnya kau tanya kenapa aku begitu mencintai istriku?” kata Jack.


“Kenapa? Dia tidak lebih cantik dariku!” kata Rebecca.


“Karena istriku sangat mencintaiku,” jawab Jack.


“Aku juga mencintaimu, Jendral!” kata Rebecca.


“Tidak , cintamu kalah jauh dari cinta istriku padaku,” kata Jack.


“Apa benar begitu? Kau lihat pengorbananku, aku terpaksa menemani pria tua supaya bisa ke Paris,” kata Rebecca.


Jack menatap Rebecca.


“Apa kau akan mengatakan mencintaiku jika aku seorang pria yang gila? Depresi?” tanya Jack.


Tentu saja Rebecca terkejut mendengarnya.

__ADS_1


*******


__ADS_2