Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-109 Tn.Ferdi menghasut Ny.Imelda


__ADS_3

Di rumah sakit.


“Hari ini aku akan pulang dulu. Aku juga akan berkemas. Aku sudah menelpon Bastian untuk berkemas,” kata Ny.Inez pada suaminya.


Tn.Ferdi diam, kalau dia pindah rumah, semakin memalukan saja, semua relasi- relasinya tahunya itu rumah tempat tinggalnya. Lagipula kalau pindah rumah, dia tidak akan tahu gerak-geriknya Jack dan melancarkan aksi balas dendamnya.


“Tidak bisakah kau bicara dengan anakmu supaya kita tidak pindah sekarang?” tanya Tn.Ferdi.


“Jack marah padaku, dia sudah mengusirku, aku harus bicara apa lagi padanya?” Ny. Inez, balik bertanya.


“Katakan saja  kita pindah kalau aku sudah sembuh, kita juga masih harus mencari rumah baru,” jawab Tn.Ferdi.


“Itu bukan alasan, kita punya cukup uang untuk membeli rumah dengan cepat,” kata Ny. Inez.


Dia juga bukan tidak tahu konsekuensi keluar dari rumah itu. Dia tidak bisa membeli rumah semewah yang ditempati sekarang. Dia akan diejek teman-temannya kalau pindah ke rumah yang lebih kecil meskipun masih tergolong rumah mewah. Tapi dia tidak mau terus bertengkar dengan Jack.


“Hubungan kita dengan Jack juga sudah tidak baik, dia tidak akan membiarkan kita tinggal dirumah itu,” kata Ny. Inez.


“Kau ulur saja waktunya , menunggu aku sembuh baru kita pindah,” ujar Tn.Ferdi.


“Sakitmu akan lama, pengobatan patah tulang membutuhkan waktu,” kata Ny. Inez.


Tn. Ferdi tidak menjawab, memang itu yang dia inginkan, tinggal lebih lama dirumahnya Jack.


Dalam benaknnya, selama tinggal di rumahnya Jack, akan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mencari celah supaya Jack yang keluar dari rumah itu atau kalau mungkin meninggalkan rumah itu untuk selama-lamanya.


“Baiklah aku akan bicara dengannya, kita pindah jika kau sembuh,” kata Ny. Inez, akhirnya menurut, membuat Tn.Ferdi tersenyum, wanita itu gampang sekali dimanfaatkannya.


Terdengar suara ketukan dipintu. Ny.Inez dan Tn.Ferdi menoleh kearah pintu. Masuklah Ny.Imelda keruangan itu.


“Aku mencarimu ke kantormu dan ternyata kau dirawat disini, apa yang terjadi?” tanya Ny. Imelda pada Tn.Ferdi lalu pada Ny.Inez. Dia langsung mendekati tempat tidur pasien.


“Orang kantor bilang Jack memukulimu!” kata Ny.Imelda lagi, sambil menatap Tn.Ferdi.


“Anak gila itu hampir membunuhku!” ujar Tn.Ferdi, sambil meringis menahan sakit ditubuhnya.


“Kenapa itu bisa terjadi?” tanya Ny.Imelda.


“Jack mengambil alih perusahaan juga mengusir kami dari rumah,” jawa Ny.Inez.


“Apa? Perusahaan diambil alih Jack, kalian diusir dari rumah? Hah, sangat memalukan! Jadi kalian miskin sekarang?” ejek Ny.Imelda.


“Aku tidak miskin!” elak Ny.Inez. Dia tidak suka Ny.Imelda merendahkannya.


“Tapi tetap saja kalian tidak sekaya saat memegang perusahaannya Constantine,” kilah Ny.Imelda.


“Itu semua gara-gara kau!” tuduh Tn.Ferdi dengan nada tinggi.


“Kenapa aku yang disalahkan? Kau gila?” maki Ny.Imelda, matanya melotot pada Tn.Ferdi.


“Gadis itu sangat bodoh! Tidak bisa merayu Jack, tidak bisa membuat Jack meninggalkan wanita itu! Jadinya begini! Wanita itu yang akan mendapat semua kekayaannya Jack,” umpat Tn.Ferdi.


“Jangan menyalahkan putriku! Kalau Jack tidak tertarik pada Arum ya mau bagaimana lagi?” keluh Ny.Imelda.


“Aku sudah susah payah mencarikan gadis yang mirip dengan Arum untuk memisahkan mereka! Usahaku jadi sia-sia!” gerutu Tn.Ferdi.


Perkataan Tn.Ferdi membuat Ny.Imelda terkejut.


“Hei hei tunggu! Apa maksudmu bilang begitu? Mirip Arum? Kenapa mirip Arum? Dia memang Arum! Dia putriku!” kata Ny.Imelda.


“Bukan!” jawab Tn.Ferdi membuat Ny.Imelda semakin kaget lagi.

__ADS_1


“Apa maksudmu bukan?” tanya Ny.Imelda, menatap Tn.Ferdi dengan hati yang gelisah.


“Dia bukan Arum, dia hanya kebetulan mirip saja!” kata Tn.Ferdi, tanpa rasa bersalah.


“Kau! Apa maksudmu bilang begitu? Kau membawa gadis itu menemuiku katamu dia putriku, kita juga tes DNA di rumah sakit dan dia memang putriku!” teriak Ny. Imelda mulai histeris.


“Aku membohongimu! Aku memalsukan hasil tes itu!” jawab Tn.Ferdi.


Mendengar itu tentu saja membuat Ny.Imelda marah.


“Kau keterlaluan! Kau mempermainkanku!” teriak Ny.Imelda, lalu tanpa ragu-ragu lagi memukuli Tn.Ferdi.


Tn.Ferdi langsung berterial-teriak kesakitan. Ny.Inez menahan tangan Ny.Imelda.


“Kau katerlaluan! Kau membohongiku?  Ternyata gadis itu bukan Arum!” teriaknya lagi.


“Imelda hentikan! Maafkan suamiku!” kata Ny.Inez, terus menghalangi Ny.Imelda yang akan menyerang suaminya.


“Suamimu benar-benar keterlaluan! Aku sudah merasa senang karena Arum masih hidup, ternyata semua itu bohong? Kenapa kau melakukan itu?” tanya Ny.Imelda lalu menangis.


“Aku fikir Jack akan tertarik pada Arum dan meninggalkan wanita itu, ternyata tidak,“ jawab Tn.Ferdi.


“Kau keterlaluan!” teriak Ny.Imelda lagi, lalu kembali akan memukul Tn.Ferdi, tapi Ny. Inez kembali menghalanginya, menarik Ny.Imelda duduk dikursi.


Ny. Imelda terus menangis dan terduduk di kursi itu.


“Kenapa kau tega padaku? Jadi kau membohongiku? Jadi gadis itu bukan Arum?” ucapnya disela tangisnya.


Ny.Inez duduk disamping Ny.Imelda dan memegang bahunya.


“Aku minta maaf atas kelakuan suamiku,” kata Ny.Inez.


Ny. Inez hanya bisa menatapnya dengan sedih.


“Aku minta maaf atas semua yang telah terjadi,” kata Ny Inez.


“Setelah Jack membuat putriku tenggelam, sekarang suamimu mempermainkanku!” keluh Ny.Imelda.


“Tidak perlu terlalu menyalahkanku! Kalau gadis itu bisa memikat Jack, kau sendiri yang akan


beruntung! Jack sangat kaya,” kata Tn.Ferdi.


“Aku tidak mau semua itu! Aku ingin putriku kembali!” teriak Ny.Imelda lalu menangis lagi.


“Putrimu itu sudah meninggal! Seharusnya kau membalas dendam pada anak gila itu! Hancurkan dia!” kata Tn.Ferdi malah menghasut Ny.Imelda.


Ny.Imelda menatap Ny.Inez.


“Putramu! Putramu yang gila itu sudah melenyapkan putriku!” teriaknya, kembali histeris lalu menangis lagi meratapi Arum.


Ny. Inezpun terdiam, dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, semua sudah terjadi.


"Aku tidak tahu harus bilang apa, semua sudah terjadi," kata Ny. Inez, kemudian.


 “Putramu! Seharusnya Jack membayar semua ini! Aku tidak terima dia hidup tenang di muka bumi ini!” kata Ny.Imelda.


Tn.Ferdi tersenyum senang, rupanya hasutannya sudah berhasil.


“Kau benar, jangan biarkan hidupnya tenang!” hasut Tn.Ferdi.


“Putriku huu…putriku…” Ny.Imelda kembali meratapi Arum.

__ADS_1


Ny.Inez menggeser duduknya supaya lebih dekat lalu memeluk temannya itu.


“Tolong maafkan putraku,” ujar Ny.Inez.


“Tidak, aku tidak akan membiarkan anakmu hidup bahagia! Aku membencinya!” kata Ny.Imelda, sambil mendorong tubuhnya Ny .Inez.


Ny.Imelda menoleh pada Tn.Ferdi.


“Bagaimana dengan gadis itu, apa dia tahu kalau aku bukan Ibu kandungnya?” tanya Ny. Imelda.


“Dia tidak tahu,” jawab Tn.Ferdi.


“Bagaimana ini? Aku merawat anak yang bukan anak kandungku sendiri? Bagaimana aku mengusirnya? Aku tidak mau dia ada dirumahku jika dia bukan Arum,” keluh Ny.Imelda.


“Makanya biar pengorbananmu tidak sia-sia, kau bisa memanfatkannya untuk menghancuran Jack,” kata Tn.Ferdi.


Ny.Imelda diam. Ny.Inez menoleh pada Tn.Ferdi.


“Kenapa kau membuat semuanya jadi runyam?” tanya Ny. Inez.


“Jack yang bersalah dengan semua ini! Selama hidupnya Imelda tidak tenang dan bersedih karena kehilangan Arum.  Sekarang Jack sudah sembuh, jangan biarkan dia bahagia dengan kesembuhannya!” kata Tn.Ferdi.


“Apa? Jack sudah sembuh?” tanya Ny. Imelda.


“Iya, dia sudah sembuh!” jawab Tn.Ferdi.


“Jadi Jack sudah sembuh!” gumam Ny.Imeda.


“Iya, makanya dia mengambil alih perusahaan dan mengusir kami dari rumah itu!” jawab Tn.Ferdi.


Ny.Imeldapun diam.


“Jangan biarkan Jack senang dengan kesembuhannya! Kau harus membalaskan sakit hatimu! Kau kehilangan Arum untuk selamanya, kau juga yang harus mengambil kebahagiaan Jack untuk selamanya! Ini tidak adil untuk Arum!” kata Tn.Ferdi, semakin menghasut Ny.Imelda.


“Stop! Bisakah kalian tidak membicarakan hal ini?” seru Ny.Inez.


“Bagaimana aku bisa melupakan hal ini? Seumur hidupku aku kehilangan putri kecilku! Apa kau tidak lihat? Putriku menderita dilautan! Dia tenggelam! Dia tenggelam! Ini tidak adil untuk putriku!”ratap Ny.Imelda kembali menangis.


Ny. Inezpun diam. Bukan dia tidak mengerti, dia tidak mau semakin banyak keonaran dirumahnya. Selama ini dia sudah tidak memperdulikan Jack saat di RSJ karena dia menurut pada suaminya. Tapi sekarang, apakah Jack juga harus hidup menderita dengan pembalasan dendam yang tidak pernah usai?


“Kau kenapa?” tanya Tn.Ferdi pada istrinya.


“Kau kasihan pada anak gila itu? Ini yang aku takutkan dengan kemunculan anak itu, kau mulai peduli padanya!” gerutu Tn.Ferdi.


Ny.Inez tidak menjawab. Hati kecilnya tetap tidak bisa dipungkiri kalau Jack adalah putra kandungnya, dia yang melahirkannya, meskipun dia juga tidak memperdulikannya saat di RSJ. Selain karena alasan suaminya, dia juga malu punya anak gila, dia ingin menyembunyikan kondisi Jack dari semua orang.


Ny.Imelda menatap Ny,Inez.


“Aku tidak bisa membiarkan Jack hidup tenang dengan kesembuhannya,” kata Ny. Imelda.


“Imelda, tolong maafkan Jack, dia sudah lama menderita di RSJ, kejadian ini sudah berlalu sekian lama, bisakah kita lupakan saja,” pinta Ny.Inez.


“Aku tidak bisa memaafkannya! Aku merindukan putriku! Aku fikir gadis itu adalah benar-benar Arum, aku merindukan putriku!” keluh Ny.Imelda, kembali terisak.


Tn.Ferdi yang melihat Imelda seperti itu tampak tersenyum, sepertinya hasutannya berhasil. Meskipun dia berbaring di rumah sakit ini, tapi ada tangan-tangan lain yang akan menghancurkan Jack, dia tinggal menonton saja.


Ny.Inez menoleh pada suaminya, kenapa suaminya malah membuat semuanya semakin runyam, kenapa malah mengungkit luka lama dan membuat masalah baru? Apakah dia akan diam saja melihat semua ini?


Tn.Ferdi tidak memperdulikan tatapan istrinya yang tidak setuju dengan perbuatannya. Yang ada dibenaknya, dia harus menghabisi Jack. Segera.


********

__ADS_1


__ADS_2