
Dua tahun kemudian…
Ara sedang berada di ruang makan, mengaduk-aduk susu yang sedang diseduhnya.
Nyonya, semua perlengkapan sudah disiapkan dalam ransel,” kata Bibi.
“Iya Bi, terimakasih,” jawab Ara.
“Jack!” panggil Ara, kepalanya miring melihat ke ruang keluarga, tapi yang dipanggilnya tidak terdengar ada disana.
Diapun membawa gelasnya yang berisi susu menuju ruang keluarga, dengan langkah yang pelan, sambil satu tangannya memegang perutnya yang besar.
“Jack!” panggilnya.
“Gal!” panggilnya pada Putranya.
“Kalian kemana sih?” tanya Ara, matanya mengedar kesekeliling ruangan yang ternyata sepi.
“Mereka kemana?” gumamnya, sambil menyimpan gelas di meja, lalu duduk di sofa.
Ara langsung berteriak kaget saat disamping sofa muncul anak kecil dengan membawa pistol mainan yang menyala dan berbunyi berisik, ditodongkan padanya.
“Dor! Ibu kena!” teriaknya.
Kepala kecil yang muncul di samping sofa itu mengagetkan Ara, bukan karena teriakan dan suara mainan itu yang berisik, tapi wajah anak itu dicoret-coret beberapa garis dengan spidol hitam dan memakai help tentara berwarna hijau.
“Jaaaack! Apa yang kau lakukan pada anakmu? Kau mengotorinya!” teriak Ara.
“Dor! Kau mati Jendral!” teriak Jack, tiba-tiba muncul di dibalik sofa yang lain, menodongan senjata mainannya yang tidak kalah berisik kearah Galand.
“Dor!Dor! Ayah yang kena!” teriak Galand, balas menembak ayahnya.
Mereka berdua tembak-tembakan sambil sesekali bersembunyi dibalik sofa, Ara langsung memegang kepalanya.
“Kalian membuatku pusing! Tiap hari kalian main perang-perangan. Apa semua prajurit itu harus berperang?” keluh Ara, sambil menyandarkan punggungnya ke sofa.
“Dor Ibu mati!” teriak Galand, menembakkan senjatanya pada Ibunya.
“Tidak, sayang, Ibu masih hidup!” kata Ara. Dia merasa sangat lelah hari ini.
“Dor adik mati!” teriak Galand lagi, senjata itu pindah mengarah ke perutnya Ara.
“Apa kau tidak sayang pada adikmu? Kau menembak Ibu dan adikmu,” keluh Ara, menatap putranya sambil memberengut.
Putranya itu berdiri menatap Ibunya.
Tiba-tiba Jack munncul dan langsung memeluk Galand, membawanya berguling-guling di karpet ruang keluarga itu.
“Tertangkap!” teriaknya. Galand malah tertawa tawa bercanda dengan ayahnya.
Ara memperhatikan mereka berdua.
“Kenapa kalian selalu berisik?” keluh Ara.
Jack menoleh pada istrinya yang memberengut lalu menghentikan bercanda dengan putranya. Dia merapihkan helm hijau yang berjatuhan tadi, miliknya dan milik putranya.
Jack tersenyum melihat istrinya menempelkan kepalanya ke kursi itu.
“Ibumu sudah kau tembak?” tanyanya pada Galand.
“Sudah sama Adik!” jawab Galand.
“Kau memang pintar!” ucap Jack, sembil mencium putranya itu.
Ara memberengut melihat tingkah mereka berdua. Jack mengangkat tubuh kecilnya Galand dibawa menghampiri Ara, duduk samping istrinya yang menatapnya.
“Kau sudah minum susunya?” tanya Jack.
“Belum,” jawab Ara.
Galand turun dari pangkuan ayahnya, kaki kecilnya melangkah mengambil lagi senjata mainannya yang tergeletak di karpet.
__ADS_1
Jack menggeser duduknya lebih dekat ke tubuhnya Ara. Tangannya langsung memeluknya, merubah posisi Ara jadi menyandar ke tubuhnya.
“Perutmu terlihat sangat besar!” kata Jack, mengusap perut istrinya.
“Katanya memang suka begitu itu, kalau kehamilan kedua biasanya perut lebih besar,” jawab Ara.
“Apa benar begitu?” tanya Jack.
“Sepertinya memang begitu?” tanya Ara.
Tangan Ara menumpang diatas tangannya Jack. Merasakan pelukan suaminya yang terasa hangat memeluknya, matanya melihat Galand sekarang main mobil mobilan.
“Kau apakan wajahnya sampai begitu?” tanya Ara, melihat wajah anak kecil itu yang dicoreng warna hitam.
Jack malah tertawa.
“Dia sangat lucu kan?” uapnya.
“Lucu, dia sangat mirip denganmu, aku harap bayiku sekarang mirip denganku,” ucap Ara.
“Sepertinya kau akan kecewa sayang, dia akan mirip denganku lagi,” ucap Jack sambil tersenyum, menoleh pada istrinya yang mencibir, diapun mencium pipi istrinya yang tembem.
“Aku senang melihatmu, melihat Galand tumbuh sehat,” ucap Jack.
Ara mengangkat wajahnya menatap Jack.
“Aku senang dua tahun ini hidup kita terasa sangat damai,” kata Ara.
“Iya, aku juga bahagia,” ucap Jack.
“Jack!” panggil Ara, tiba-tiba.
“Kenapa?” tanya Jack, menatap istrinya.
“Jack!” panggil Ara lagi,
“Iya kenapa?” tanya Jack, menundukkan kepalanya melihat istrinya yang sedang memegang perutnya juga pinggangnya.
Ara bangun dari bersandarnya, wajahnya langsung pucat saja.
Jack menatapnya, meskipun ini Ara melahirkan yang keduaa, tapi tetap saja dia merasa gugup dan bingung mendengar perkataan istrinya.
“Kau akan melahirakn?” tanya Jack.
“Sepertinya begitu, aduh, aduh, Jack!” teriak Ara sambil memegang perutnya.
“Mana yang sakit?” tanya Jack mendadak bingung, tangannya ikut mengusap-usap perutnya Ara.
“Jangan mengusap-usap perutku, bawa aku ke Dokter!” seru Ara lalu meringis kesakitan. Tangannya memegang kursi menahan sakit yang disekitar pinggangnya.
“Iya iya aku siapkan mobilnya!” ucap Jack , dia menjadi linglung begitu, diapun segera bangun dan berterika-teriak memanggil supir dan Bibi.
“Apa apa Tuan?” tanya Bibi.
“Jaga Galand, kita ke rumah sakit, Nyonya mau melahirkan!” jawab Jack, lalu berlari ke belakang, sedangkan Bibi menghampiri Ara.
“Nyonya, apa ada tanda-tanda mau melahirkan?” tanya Bibi.
“Iya Bi, perutku terasa sakit. Tolong jaga Galand,” jawab Ara.
“Baik Nyonya,” jawab Bibi.
“Perlengakapn untuk melahirkan bawa ke mobil,” kata Ara lagi sambil menahan sakit.
“Baik Nyonya!” jawab Bibi, lalu pergi terburu-buru naik ke atas mengambil ransel untuk dimasukkan ke mobil.
Jack datang menghampiri Ara, dilihatnya wajah istrinya memucat dan berkeringat.
“Ayo sayang!” ajaknya membantu Ara bangun dari duduknya, lalu memapahnya keluar dari ruangan itu. Bibi mengikuti sambil menggendong Galand dan supir membawakan ransel perlengkapan untuk melahirkan.
Lagi-lagi Jack merasa sangat gugup dan bingung, mendadak jadi orang yang linglung, pelupa, serba salah dan ceroboh, saking paniknya melihat istrinya akan melahirkan.
__ADS_1
“Ibu sakit!” kata Galand, menatap Ibunya yang terus-terusan meringis dan dipeluk ayahnya.
“Iya sayang, adik bayi mau lahir,” jawab Bibi.
Ara tersenyum menatap putranya itu, yang sedang dilap wajahnya dengan tisu basah oleh Bibi.
Mobilpun melaju menuju rumah sakit bersalin.
****
“Temani aku Jack,” kata Ara saat dia dibawa perawat masuk ke ruang bersalin.
“Ya aku akan menemanimu,” jawab Jack, lalu menoleh pada Bibi.
“Jaga Galand,” kata Jack.
“Iya Tuan,” jawab Bibi.
Jack segera masuk ke ruang bersalin.
Ini bukan yang pertama Jack menghampiri Ara, ini adalah yang kedua istrinya akan melahirkan buah cinta mereka. Tetap saja dia merasa gelisah, dia khawatir terjadi apa-apa pada bayi juga istrinya.
Ara memegang tangan Jack dengan kuat, menahan sakit yang terus saja dirasanya akibat dorongan bayi yang akan keluar.
“Sabar sayang, kau yang tenang,” ucap Jack, padahal dia sendiri begitu gelisah.
Dokter dan asisten Dokter sudah berkumpul untuk membantu Araa bersalin. Selama persalinan, Jack hanya bisa melihat dan berdoa supaya istri dan bayinya selamat.
Bagaimana dia tidak begitu menyayangi istrinya, dua kali mendampingi istrinya melahirkan, dua kali dia melihat istrinya berjuang bertaruh nyawa untuk melahirkan sosok yang akan meneruskan keturunananya.
Berkali-kali Jack mencium kening istrinya dan terus memberinya semangat untuk dapat melahirkan dengan selamat.
Sepertinya melahirkan yang kedua kali ini lebih mudah dari yang pertama. Selaang satu jam kemudian bayi mungil yang cantik pun lahir.
“Bayinya perempuan, selamat ya Nyonya, Tuan. Bayi yang sangat cantik,” kata Dokter.
Ara dan Jack tersenyum senang dan merasa lega bayi mereka sudah lahir.
“Terimakasih Dokter,” ucap Ara dan Jack.
Jack menoleh pada Ara.
“Selamat sayang, bayi kita sudah lahir, dia sangat cantik sepertimu,” ucap Jack.
“Iya, terimakasih kau sudah menemaniku melahirkan,” kata Ara menatap suaminya.
“Aku akan selalu menjagamu dan anak-anak kita,” kata Jack, sambil mencium keningnya Ara.
“Siapa nama bayinya?” tanya Dokter, sambil memberikan bayi pada asistennya, sedangkan Dokter melakukan perawatan selanjutnya untuk ibu melahirkan.
Ara menoleh pada Jack.
“Jack siapa nama bayinya?” tanya Ara.
Jack langsung diam.
“Kenapa kau diam?” tanya Ara.
“Aku lupa menyiapkan nama!” jawab Jack.
“Aah kenapa aku begitu lagi?” keluh Ara.
“Aku lupa! Sebentar Dokter, aku akan mencari dulu di internet,” kata Jack pada Dokter yang tersenyum saja.
Jack menoleh pada Ara yang cemberut.
“Yang menyiapkan nama kaan tugasmu, kenapa kau lupa lagi,” ucap Ara.
“Kau yang tenang, aku akan keluar dulu, aku mau cari dulu di internet, kau sabar ya,” kata Jack sambil mencium pipi istrinya, lalu diapun keluar ruangan.
Ara menatap kepergian suaminya itu sambil memberengut, kenapa suaminya selalu lupa menyiapkan nama untuk anak-anak mereka? Padahal sudah disepakati, Jack yang akan menyiapkan nama.
__ADS_1
*****