Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-67 Hati yang resah


__ADS_3

Di sepanjang jalan Ara banyak diam. Dilihatnya Jack juga hanya melihat keluar jendela. Ara bisa faham kalau Jack pasti memikirkan soal wanita yang bernama Arum itu.


Hati Ara merasa sedih, kenapa dia merasa tersisih jika dibandingkan dengan Arum. Sudah jelas Arum adalah wanita yang sangat penting dalam hidupnya Jack. Bagaimana begitu dalamnya rasa kehilangan Jack sampai membuatnya depresi, sudah jelas kalau rasa sayang Jack begitu besar pada wanita itu.


Apalah artinya dirinya? Jack menikahinya disaat Jack sedang depresi tentu saja rasa cintanya Jack perlu dipertanyakan, entah Jack akan menyayanginya atau tidak jika sembuh nanti apalagi kalau kehadiran Arum akan membuat Jack sembuh. Posisinya dalam hidup Jack semakin tidak berarti.


Ara hanya diam menunduk dengan lesu. Tapi semua ini adalah takdirnya Takdirnya menikahi pria yang depresi yang entah alasan apa membuat pria ini menikahinya.


Jack merasakan kepalanya yang pusing, dia merasa bingung dengan kenyataan yang di hadapinya. Kehadiran wanita yag dipanggil dengan Arum itu sangat mempengaruhi jiwanya. Tentu saja dia berharap Arum akan benar-benar selamat waktu itu. Dia akan senang kalau Arum masih hidup, setidaknya rasa bersalahnya akan berkurang, apalagi kalau Arum tumbuh menjadi wanita yang sehat dan cantik seperti tadi.


Sekilas raut muka wanita itu sedikit mirip dengan Arum tapi tidak terlalu persis karena dia mengenal Arum itu masih kecil dan perubahan Arum menjadi dewasa Jack sama sekali tidak tahu seperti apa.


Di dalam mobil itu terasa hening saja dengan kediaman mereka.


Sampailah mobil Jack memasuki halaman rumah mewah itu. Dari luar tampak begitu ramai beberapa mobil diteras sedang disiapkan oleh masing-masing supir begitu juga dengan pelayan yang sibuk membawa bingkisan bingisan kedalam mobil yang lainnya, membuat Jack juga Ara bertanya-tanya ada acara apa di rumahnya Jack itu?


Saat mereka memasuki rumah itu, bersamaan dengan Ny. Inez menuruni tangga, sudah bersiap-siap untuk pergi.


“Jack, akhirnya kau pulang juga!” kata Ny. Inez.


“Maaf Nyonya, apakah akan ada acara?” tanya Pak Beni.


“Nanti malam akan ada acara pertunangan Bastian dengan Kinan. Sebenarnya Bastian tidak mau kalau Jack ikut, tapi aku fikir selama Jack tidak membuat masalah disana, tidak masalah,” jawab Ny.Inez, lalu menoleh pada Ara.


“Kau, kenapa kau ikut lagi? Apa Ayahmu sudah mengijinkan kembali bersama Jack? Suamiku sedang membuat surat perceraian untuk kalian,” lanjut Ny. Inez, membuat Ara terkejut.


“Aku dan Jack tidak akan bercerai,Nyonya,” ucap Ara.


“Ayahmu sendiri yang memintanya kan?” kata Ny. Inez.


“Ini hanya kesalah fahaman saja, sekarang Ayahku mengerti kalau aku dan Jack tidak bisa dipisahkan,” jawab Ara, padahal Ayahnya belum mengatakan itu tapi dia sudah yakin dengan drama tadi itu sudah berhasil membuat Ayahnya tidak memaksanya lagi berpisah dengan Jack.


Ny.Inez tertawa mendengarnya.


“Tidak bisa dipisahkan?” tanya Ny. Inez.


“Iya,” jawab Ara dengan yakin.


“Aku jadi ingin tahu kalau Jack bertemu dengan Arum siapa yang akan Jack pilih, kua atau Arum? Aku rasa pastilah Arum, jadi kau tidak perlu besar kepala sekarang, jika saat itu tiba kau akan sangat terpuruk,” ucap Ny. Inez.


Tentu saja perkataannya Ny. Inez itu membuat Ara juga Jack terkejut. Lagi-lagi Arum. Jadi benar Arum itu masih hidup?


“Apa maksud Nyonya mempertemukan Jack dengan Arum? Apa Arum masih hidup?” tanya Ara.


Jack ingin bertanya tapi dia hanya bisa diam mendengarkan saja, yang ingin ditanyakannya diwakili oleh Ara.


“Sepertinya begitu, nanti lihat saja,” ucap Ny. Inez, lalu beranjak. Baru juga beberapa langkah dia berbalik lagi menatap Ara.

__ADS_1


“Kau jaga saja jangan sampai Jack berbuat yang aneh-aneh di acara pertunangannya Bastian dengan Kinan!” ucap Ny. Inez.


Ara hanya diam saja, dia juga tidak terlalu ingin ikut jika memang akan membuat Jack tersakiti. Apalagi dengan Ny. Inez akan mempertemukan Jack dengan Arum, hatinya semakin gelisah.


Jack juga gelisah dalam hati, dia semakin penasaran, apa benar Arum yang akan dikenalkan ibunya itu Arum teman kecilnya? Apakah itu Arum yang tadi dilihatnya bersama Ny. Imelda?


Jack menoleh kearah tangga dan dia terkejut saat melihat Ara sudah duluan menaiki tangga. Dia merasa heran, tidak biasanya Ara seperti itu. Biasanya dia akan memeluk tangannya mengajaknya pergi sedangkan ini istrinya itu hanya pergi saja sendiri.


Pak Beni menoleh pada Ara lalu pada Jack.


“Sepertinya Nyonya bersedih mendengar Tuan akan dipertemuan dengan Arum,” ucap Pak Beni.


“Apa benar begitu? Kenapa dia bersedih?” gumam Jack.


“Tentu saja bersedih, Nyonya kan istri Tuan, istri mana yang mau kalau suaminya dipertemukan dengan wanita lain,” ucap Pak Beni.


“Tapi aku kan tidak ada hubungan apa-apa dengan Arum, “ ucap Jack kebingungan.


“Mungkin Nyonya berfikir lain,” ucap Pak Beni.


Jack sejenak terdiam mencermati ucapannya Pak Beni, apa benar Ara bersedih karena dia akan dipertemukan dengan Arum?


Jack segera melangkahkan kakinya menyusul Ara. Benar saja, istrinya itu sedang berdiri diluar balkon kamar, dengan melipat kedua siku tangannya.


Jack berdiri mematung dipintu, menatapnya. Apa benar istrinya sedang marah? Apa yang harus dilakukannya untuk  menghibur Ara? Apakah dia harus berbicara banyak? Apakah berbicara banyak tidak akan membuat Ara merasa curiga kalau dia sudah sembuh?


“Sejak kapan kau berdiri disitu?” tanya Ara, tanpa menghampiri.


Jack hanya menatapnya dan tidak menjawab. Arapun diam, hanya dua hati saja yang berbicara.


Jack mendengar suara Ara yang tidak bersamangat. Benar kata Pak Beni istrinya sedang kecewa.


Ara tidak bicara apa-apa, dia malah masuk ke kamar begitu saja melewati Jack,  membuat Jack semakin yakin kalau Ara sedang kecewa padanya.


Dilihatnya Ara masuk ke kamar mandi. Jack pun segera keluar dari kamar itu. Tidak berapa lama dia kembali masuk ke kamarnya dan melihat istrinya  sedang duduk dipinggir tempat tidur dengan tangan yang sesekali menghapus airmatanya, membuat hatinya merasa kasihan.


Ara menatap kearah pintu yang terbuka, dilihatnya Jack mematung menatapnya. Dia buru-buru manghapus airmatanya agi.


“Jack, kau darimana?” tanya Ara sambil tersenyum, tidak ingin menunjukkan kalau dirinya sedang bersedih, semakin membuat Jack merasa tidak nyaman, lagi-lagi dia membuat Ara merasa sedih.


“Sayang,” ucap Jack, membuat Ara merasa senang mendengarnya.


“Kau memanggilku sayang?” tanya Ara, senyumnya semakin lebar.


Jack merasa senang ucapannya membuat istrinya mulai tersenyum. Jack langsung menghampiri dan berdiri di depan Ara. Dia ingin bicara banyak tapi dia bingung harus berkata apa.


“Aku sedih Jack,” ucap Ara, sambil menengadah menatap Jack, matanya mulai memerah.

__ADS_1


“Aku semakin takut pertemuanmu dengan Arum akan membuatmu sembuh dan kau melupakanku,” ucap Ara dengan butiran airmata mulai menggenang di matanya.


“Sepertinya ibumu punya niat lain dengan mempertemukanmu dengan Arum,” ucap Ara, dia kembali menunduk sedih dan mengusap matanya, jangan sampai airmatanya jatuh.


Tiba-tiba terdengar suara ketukan dipintu. Ara segera bangun dan pergi ke pintu lalu membukanya. Di depannya sudah berdiri seorang pelayan dengan sebuah bucket bunga ditangannya.


“Buat Nyonya,” ucap pelayan itu, memberikan bunga itu.


“Bunga buatku?” tanya Ara keheranan, sambil menerima bunga itu.


“Iya Nyonya,” jawab pelayan itu.


“Terimakasih,“ ucap Ara, pelayan itu mengangguk lalu pergi.


Ara kembali menutup pintunya.


Biasanya Jack yang memberinya bunga, apa itu juga dari Jack? Apalagi bunga itu tanpa kartu nama, membuatnya yakin Jack yang memberinya bunga. Ara membalikkan tubuhnya menghadap Jack yang sedang berdiri sedang menatapnya.


“Apa ini darimu?” tanya Ara.


“Bunga,” ucap Jack, pendek.


“Apa kau ingin menunjukkan kalau kau menyayangiku Jack? “ tanya Ara lagi, berjalan menghampiri Jack.


“Sayang,” ucap Jack.


Ara langsung tersenyum mendengarnya. Meskipun jawaban itu begitu pendek, sudah membuat hatinya merasa lebih baik sekarang.  Ara merasa terharu mendapatkan bunga dari Jack meskipun ini bukan bunga yang pertama tapi ini artinya Jack menyayanginya, pria itu sedang mencoba menghiburnya.


Ara berdiri di depan Jack, pria itu hanya menatapnya datar saja.


“Sayang,” ucap Jack dengan kaku.


Senyum semakin mengembang di bibirnya Ara. Rasa takut kalau Jack akan meningalkannya semakin menjauh, dia yakin meskipun Jack mengatakan cinta padanya saat dia depresi itu adalah rasa cinta yang sebenarnya.


Ara mengulurkan tangannya langsung memeluk tubuh Jack. Merasakan tangan itu memeluk tubuhnya, tangan Jack dengan ragu bergerak balas memeluk punggungnya Ara.


Jack merasa senang usahanya menghibur Ara berhasil. Tadi dia keluar kamar meminta Pak Beni menyiapkan bunga untuk Ara dengan cepat tidak peduli darimana bunga itu, mungkin Pak Beni mengambilnya dari pas bunga yang ada dirumah, yang pasti dengan bunga itu dia bisa menunjukkan sayangnya pada Ara dan berhasil menenangkannya.


********


Readers sedikit dulu ya, maaf aku upnya telat-telat terus. Engga seru lagi, monoton. Maklum emak-emak banyak intermezzo, kemarin si kaka sakit panas udah mendingan, sekarang nyambung yang kecil yang panas sampe 40,  aku tidak focus juga nulisnya sambil nungguin panasnya turun. Asal up aja dulu.


Real time up pkl 02.04 wib dini hari


********


 

__ADS_1


 


__ADS_2