Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-190 Keluarga Kecil Bahagia ( END )


__ADS_3

Seorang wanita yang usianya mungkin tidak beda jauh dari Ara keluar dari pintu belakang rumah.


“Bu, tehnya sudah siap!” serunya.


Bu Paula menoleh pada menantunya itu lalu kepada Ara.


“Silahkan Nyonya, tehnya sudah siap,” kata Bu Paula.


“Iya, terimakasih,” jawab Ara lalu berteriak pada Jack.


“Jack! Tehnya nanti keburu dingin!” teriak Ara.


“Kemarilah!” balas Jack melambaikan tangannya.


Ara menoleh pada Bu Paula yang tersenyum padanya.


“Aku akan menemui suamiku dulu diatas,” ucap Ara.


“Iya, cepatlah turun nanti tehnya keburu dingin,” kata Bu Paula.


Ara segera melangkahkan  kakinya menaiki bukit. Dia terlihat berkeringat karena ternyata menaiki bukit sangatlah melelahkan.


“Jack seharusnya kau turun, bukan menyuruhku menaiki bukit, ini sangat melelahkan!” seru Ara, nafasnya terengah-engah kelelahan, menatap Jack sambil memegang lututnya.


Jack malah tertawa, tangannya mengulur pada istrinya yang langsung menerima tangannya.


 “Duduklah, pemandangan disini sangat Indah” kata Jak.


Ara segera duduk disamping Jack. Pria itu langsung menghapus keringat dia kening istrinya dengan tangannya.


“Sebenarnya aku ingin menggendongmu, tapi aku khawatir kalau anak-anak ditinggalkan disini,” ujar Jack, kemudian membetulkan letak duduknya menghadap kedepan sambil memeluk bahunya Ara.


“Kau lihat disana?” tanya Jack menunjukkan tangannya ke lembah.


“Kau benar dari sini terlihat pemandangannya sangat indah, aku jadi ingin punya tempat seperti ini,” ucap Ara sumringah.


“Iya, anginnya juga sejuk,” ucap Jack.


“Iya,” jawab Ara, tersenyum lebar, bunga-bunga yang terhampar di lembah itu sangat cantik berwarna-warni diantara daunnya yang menghijau.


“Cantik, bukan?” tanya Jack, sambil menoleh pada istrinya yang terlihat senang, dia sangat bahagia melihat istrinya tersenyum seperti itu. Sebuah ciuman mendarat dipipinya Ara.


“Sangat cocok untuk masa masa tua, jauh dari kebisingan kota, benar kan? Pemdangan disini sangat indah,” ucap Ara, menoleh pada Jack yang baru saja menciumnya, kini menatapnya.


“Kenapa?” tanya Ara.


“Pemandangannya kurang indah? Menurutku sangat indah, apa ada yang salah?” tanya Ara lagi, keheranan.


“Tidak ada yang salah, tapi ada yang lebih indah dari pamandangan itu,” jawab Jack.


“Hem? Masa sih? Apa itu?” tanya Ara kebingungan.


“Kau,” jawab Jack.


“Aku? Aku apa hubungannya dengan bukit dan lembah? Hemm kau berfikir macam-macam?” tanya Ara, sambil mencubit pipi suaminya.


“Indahnya pemandangan dimanapun tidak seindah menatap wajahmu,” jawab Jack, membuat Ara terkejut dan wajahnya memerah, pria ini pasti sengaja ingin merayunya, membuat hatinya berbunga-bunga saja.


“Kau pemandangan terindah buatku, aku tidak bisa berpaling darimu,” ucapnya lagi. Kedua tangannya mengusap rambut dan pipinya Ara yang sudah memerah semakin merah karena malu.


“Kau membuatku merasa terbang Jack,” kata Ara.


“Aku bicara sejujurnya, selama kau ada sisiku, hari-hariku terasa sangat menyenangkan,” ujar Jack.

__ADS_1


“Sudahlah jangan membuatku kegeeran, aku tidak secantik itu, bahkan aku kadang telat mandi,” ucap Ara diakhiri tawa. Jack pun ikut tersenyum.


“Kalau kau tidak cantik kita tidak akan punya Galand dan Rubiena, juga anak-anak lainnya,” kata Jack.


“Kau semakin membuat hatiku berbunga-bunga saja,” ucap Ara, kembali tertawa.


Jack kembali mencium pipi istrinya, kemudian menarik tubuh Ara lebih dekat lalu mencium rambutnya.


 Ara bersandar ke bahunya Jack. Sedangkan tangan pria itu memeluk pinggangnya.


Pandangan mereka beralih pada putra da putri mereka, terutama Rubiena yang begitu bersemangat ingin memegang kupu-kupu, tapi Galand dengan isengnya terus mengganggu kupu-kupu yang akhirnya terbang lagi.


Mereka juga tampak terkejut saat melihat Rubeina terjatuh tapi anak kecil itu tidak menangis, kembali bangun da berlari-lari lagi mengejar kupu-kupunya, lagi-lagi Galand membuat kupu-kupu yang hinggap dibunga itu jadi pergi lagi, membuat Rubiena harus mengejar lagi kupu-kupu yang lain yang hinggap dibunga.


“Ah kenapa Galand usil begitu, masa di mengganggu kupu-kupunya terus,” keluh Ara.


Jack malah tertawa mendengarnya.


“Itu artinya Galand pintar, sayang pada adiknya. Kalau Rubiena menangkap kupu-kupu, tangannya akan gatal,” ucap Jack.


“Kau benar, kupu-kupu itu bisa membuat gatal,” ujar Ara.


Beberapa detik kemudian, dia memanggil Jack.


“Jack!” panggail Ara, masih bersandar di bahunya Jack.


“Iya, ada apa?” tanya Jack.


“Ada yang ingin aku sampaikan,”  jawab Ara, merubah posisi duduknya  menjauh dari bahunya Jack dan menatap pria itu.


“Apa?” tanya Jack menatap istrinya dengan penasaran.


“Aku hamil lagi Jack,” jawab Ara.


“Iya,” jawab Ara, mengangguk.


Jack langsung memeluk Ara dan menciumi wajahnya.


“Selamat sayang, aku senang mendengarnya,” kata Jack.


“Tapi aku takut,” ucap Ara.


“Takut  apa?” tanya Jack.


“Aku beberapa kali melahirkan, tubuhku akan terus berubah dan aku jadi jelek,” jawab Ara.


Jack langsung menggelengkan kepalanya.


“Tidak-tidak, jangan berfikir begitu! Kau selalu cantik dimataku, aku senang kau masih mau mengandung anakku,” kata Jack.


“Tapi  setelah ini cukup kan? Empat anak sudah sangat ramai,” ujar Ara dengan lesu.


Melihat wajah istrinya yang lesu, membuat Jack tersenyum.


“Iya sayang, sudah cukup. Aku juga tidak mau membuatmu terlalu lelah,” kata Jack.  Tangannya meraih lehernya Ara, menundukkan sedikit wajahnya dan mencium lembut bibirnya.


“Kau sudah periksa ke Dokter?” tanya Jack, setelah melepaskan ciumannya.


“Iya, kemarin sore, kau belum pulang,” jawab Ara.


“Aku senang mendengarnya,” kata Jack.


Jack kembali memeluk pinggang Ara, sedangkan tangan kanannya mengusap perutnya yang masih rata. Dia sangat bahagia, rumahnya akan semakin ramai dengan kehadiran dua bayi lagi nanti. Dia tidak ingin kesepian lagi seperti dulu.

__ADS_1


“Aku mencintaimu, aku akan menjagamu selama kau hamil, aku akan menjadi suami siaga,” ucap Jack, mengusap-usap perutnya Ara. Istrinya itu kembali bersandar di bahunya.


“Aku akan menjagamu dan bayi kita biar kau ibunya cepat sehat juga bayi-bayi kita sehat,” lanjut Jack.


“Iya,” jawab Ara.


“Kau bicara apa dengan Bu Paula?” tanya Jack.


“Aku bertanya karena dia begitu percaya suaminya meninggalkannya karena bekerja mengurusmu dari kecil,” kata Ara.


“Apa jawabannya?” tanya Jack.


“Jawabannya karena dia memang percaya suaminya akan pulang dan setia,” jawab Ara.


“Apa kau juga berfikir begitu padaku?” tanya Jack.


 Ara bangun dari pelukannya Jack dan kembali menatap suaminya itu yang juga menatapnya.


“Kata Bu Paula, kenapa dia yakin Pak Beni akan pulang? Karena dia yakin Pak Beni mencintainya  anak-anak dan istrinya dan tidak akan merusak kepercayaan istrinya,” jawab Ara.


Jack menatap istrinya itu.


“Begitu juga aku,” ucap Jack.


“Aku tidak akan merusak kepercayaanmu padaku. Aku mencintai anak dan istriku maka aku akan selalu pulang,” jawab Jack.


Mendengarnya membuat Ara terharu, matanya memerah dan berkaca-kaca.


“Aku mencintaimu, Jack,” ucap Ara.


“Aku juga sangat mencintaimu,” jawab Jack.


Menatap wajah yang memerah itu lalu dia mendekatkan wajahnya dan mencium bibirnya Ara dengan lembut, lalu memeluknya lagi, sambil mengusap-usap lengan istrinya.


“Tapi aku merasa..”  Jack tidak melanjutkan bicaranya.


“Merasa apa?” tanya Ara, membuat tubuhnya nyaman dipelukannya Jack, pria itu menyetuh perutnyta lagi dan mengusap-usapnya perlahan.


“Aku merasa bayi kembar kita akan mirip denganku semua,” ucapnya.


“Jack!” protes Ara. Pria itu malah tertawa.


“Masa tidak satupun yang mirip denganku,” keluh Ara.


Jack malah tertawa, dia suka menggoda istrinya. Dipeluknya lagi tubuh itu dan tangannnya tidak berhenti mengusap lembut perutnya Ara. Dia tidak sabar menunggu bayinya lahir.


“Jack!” panggil Ara lagi.


“Apa?” tanya Jack.


“Jangan lupa siapkan nama buat bayi-bayi kita,” jawab Ara.


“Iya, aku tidak akan lupa,” kata Jack sambil mencium rambutnya Arad an memeluknya semakin erat.


“Apa kau bahagia?” tanya Jack, tanpa menoleh.


“Aku bahagia selalu bersamamu dan anak-anak,” jawab Ara.


“Iya, aku juga bahagia bersamamu dan anak-anak,” kata Jack ,kembali mencium rambutnya Ara, sedangkan Ara melingkaran kedua tangannya memeluk tubuhnya Jack.


Merekapun tidak berbicara lagi, hanya memperhatikan Anak-anak mereka, Rubiena masih dengan mencoba menangkap kupu-kupu yang hinggap dibunga, sedangkan Galand mengikuti langkah kaki adiknya untuk menerbangkan kupu-kupu yang akan ditangkap Rubiena.


                                                   THE END

__ADS_1


__ADS_2