Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-169 Mencari Ibu Hamil


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian…


Hari ini di gedung itu terlihat sangat ramai. Di halaman parkir sudah penuh oleh tamu undangan. Keceriaan terpancar di wajah setiap orang yang hadir. Terutama yang menjadi raja dan ratu hari ini.


Jack tampak kebingungan. Di dalam gedung yang begitu ramai oleh tamau undangan, dia tidak menemukan istrinya. Wajahnya terlihat pucat saking khawatirnya dengan keberadaan istrinya.


“Istriku, kau dimana? Apa kau tidak tahu kalau aku menghawatirkanmu?” keluhnya.


Matanya tidak henti mencari ke kanan dan ke kiri. Dia bingung harus mencari kemana lagi? Sepertinya dia sudah dari tadi memutari gedung tapi tidak terlihat istrinya itu.


“Jack! Kau kenapa?” tanya seseorang dibelakang Jack.


Pria itu langsung menoleh, ternyata Ny.Imelda.


“Istriku, kemana dia? Kenapa dia tidak ada disini? Aku sudah mencarinya kemana-mana, sungguh sangat mengkhawatirkan,” jawab Jack.


“Ara tidak ada? Kemana dia? Dia tidak mungkin diculikkan?” tanya Ny.Imelda langsung saja berfikir buruk.


“Diculik? Siapa yang akan menculiknya? Sepertinya aku tidak punya urusan dengan siapapun,” jawab Jack, merasa bingung.


“Kau benar, pria jahat itu sudah meninggal, tidak mungkin hidup lagi dan membuat onar,” ucap Ny.Imelda.


Jack menoleh kearah pelaminan. Disana ada adiknya yang menjadi pengantin pria hari ini berdiri berdampingan dengan Arum, sebagai pengantin wanitanya. Ada haru dihatinya, akhirnya pernikahan adiknya terlaksana tidak membutuhkan waktu yang lama. Ibunya juga terlihat disana menemani mempelai.


“Aku akan bantu mencarinya, kita berpencar! Coba kau cari keluar gedung, disana juga kan banyak tamu-tamu yang outdoor juga, mungkin disana,” kata Ny.Imelda.


“Tadi aku juga sudah kesana tapi tidak ada,” jawab Jack.


“Coba cari lagi, aku menjadi khawatir ini,” ucap Ny.Imelda.


Baru juga akan melangkahkan kakinya, datang Bu Amril dengan membawa piring kecia berisi makanan kecil, mulutnya tampa penuh oleh makanan.


“Kau lihat putriku? Kenapa dari tadi aku tidak melihat putriku?” tanya Bu Amril.


“Aku juga sedang mencarinya!” jawab Jack.


“Apa? Ara menghilang?” tanya Bu Amril, langsung menoleh pada Jack.


“Kau ini bagaimana? Kenapa kau tidak menjaga putriku? Bagaimana kalau putriku di culik?” Bu Amril langsung marah-marah pada Jack.


“Tadi aku bicara dengan temanku dulu sebentar ternyata malah menghilang!” jawab Jack, dia meringis dipukul lengannya oleh Bu Amril.


“Kau ini! Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengan putrikut?” bentak Bu Amril, dia langsung saja teriak-teriak, sambil membawa piring itu mencari-cari Ara.


“Putriku, kau dimana?” serunya, membuat semua orang memperhatikannya.


Ny.Imelda menoleh pada Jack yang kebingungan melihat sikap ibu mertuanya itu.


“Ayo kita cari berpencar!” kata Ny.Imelda.


Jack tidak bicara lagi, di mencoba mencari keruangan lain dari gedung itu.


Jack merasa heran kemana istrinya itu? Diapun menuju meja-meja yang penuh dengan makanan, sepertinya ruangan tempat menyiapkan makanan.


Asalnya dia tidak memperhtikan apapun yang ruangan itu yang pintunya terbuka, tapi dia merasa melihat sesuatu, diapun mundur lagi dan ternyata ..


Jack melihat sosok yang duduk dikursi disamping meja panjang yang diatasnya dipenuhi panci-panci yang berisi makanan. Dia membelalakkan matanya karena terkejut.


“Apa yang kau lakukan disini?” tanyanya pada sosok wanita dengan perutnya yang sudah besar, sedang makan semangkuk eskrim ditangannya.

__ADS_1


Ara menoleh kearah suara, saat melihat suaminya berdiri dipintu, dia langsung tersnyum. Tapi yang diajaknya tersenyum malah cemberut.


“Aku mencairmu kemana-mana! Kau membuat semua orang khawatir!” bentak Jack, langsung marah-marah. Apa istrinya tidak tahu bagaimana khawatirnya dia? Belum perutnya yang hamil besar, kalau terjadi apa-apa bagaimana? Istrinya main hilang-hilang saja!


Mendapat bentakan seperti itu dari suaminya, mata Ara langsung berkaca-kaca.


“Apa salahku? Kenapa kau membentakku?” teriak Ara dan langsung terisak.


“Kau membuat semua orang panic, aku mencarimu kemana-mana!” kata Jack dengan kesal.


“Ibumu malah memarahiku dan memukulku! Kau malah enak-enakan disini!” maki Jack lagi.


Mendengar suaminya marah-marah, Ara langsung saja menangis dan menyimpan mangkuk itu di meja yang penuh dengan makanan dalam mangkuk mangkuk besar itu.


“Aku cuma makan es krim!” teriak Ara, lalu dia bangun sambil menahan berat perutnya dan keluar dari ruangan itu, melewati Jack.


Jack  menatap mangkuk itu yang berisi eskirm strawberry yang belum habis. Dia menghela nafas, sepertinya dia sudah bersikap terlalu kasar pada istrinya. Padahal dia hanya khawatir saja.


Jack kembali mencari istrinya. Saat menengok ke belakang ternyata tidak ada. Diapun kembali panic dan mencarinya.


Dilihatnya Istrinya berjalan ditaman sambil terisak-isak, Jack segera mengejarnya.


“Sayang, aku minta maaf, aku marah-marah padamu, aku hanya hawatir, aku mencari-carimu tidak ada,” kata Jack, mengikuti langkahnya Ara.


Ara terus terisak sambil mengusap airmatanya.


“Aku hanya makan eskrim itu kenapa kau memarahiku?” taya Ara dengan sedih. Dia merasa tidak bersalah tapi suaminya malah memarahinya.


“Iya aku minta maaf. Maksudku makan eskrimnya didalam, kasihan bayinya, kau juga capek,” kata Jack, memeluk bahu istrinya, tangan kanannya langsung mengusap airmata di pipinya.


Istrinya itu, bagaimana dia tidak khawatir, perutnya sudah sangat besar begini masa masa mendekati melahirkan masih saja keluyuran jauh-jauh hanya karena ingin makan eskrim.


“Kata Dokter kan jangan terlalu banyak makan yang manis manis, nanti bayinya terlalu besar susah keluarnya,” kata Jack.


Ara langsung memberengut lagi.


“Iya ya, jangan marah, aku ambilkan satu mangkuk saja,” kata Jack.


Dia memanggil orang yang ada diruangan itu untuk membuatkan semangkuk eskrim buat Ara.


Setelah mendapatkannya merekapun kembali ke tempat resepsi.


“Kita cari tempat duduk,” kata Jack, sambil matanya mecari-cari kursi yang kosong.


“Nah sayang, disana kursinya kosong!” kata Jack, menunjuk kursi yang kosong, tapi istrinya tidak menjawab.


Diapun menoleh, dilihatnya istrinya sedang meringis memegang pinggang dan perutnya.


“Jack, pinggangku sakit sekali!” kata Ara.


“Sakit? Apa kau akan melahirkan? Kenapa pinggangmu yang sakit? Bayi kita ada diperutmu bukan dipinggang!” ujar Jack bingung.


“Tapi pinggangku ini yang sakit bukan perut!” kata Ara dengan eksal.


“Terus aku harus bagaimana? Ayo kau duduk saja,” tanya Jakc, merangkul bahu istrinya.


“Aduh, pinggang sebelah sini sakit! Seperti ada yang mencubit!” kata Ara lagi.


“Apa kau kan melahirkan?” tanya Jacl mendadak cemas.

__ADS_1


“Sepertinya begitu, sakit sekali…” Ara mulai mengeluh.


“Kita ke rumah sakit sekarang!” seru Jack, tapi Ara diam saja tidak bergerak, wajahnya terlihat pucat.


Jack memberikan mangkuk eskrim pada siapa saja yang dekat dengan tempatnya berdiri.


“Jack! Aku mau melahirkan!” teriak Ara dengan keras, karena sakit yang dirasanya semakin kuat.


Tentu saja teriakannnya membuat semua orang menoleh kearah mereka.


“Ada apa?” tanya seorang tamu.


“Ada yang mau melahirkan!” jawab yang lain.


“Benarkah? Siapa?”


“Itu disana!”


“Jaaaackk sakit sekali! Huhuhu..” Ara masih menangis dan hanya berdiri saja sambil memeluk perutnya.


Jack memeluk bahunya dengan bingung.


“Ada apa? Siapa?”


Semua mata semakin penasaran dengan suara teriakannya.


Bu Amril yang mendengar suara Ara berteriak langsung saja berlari sampai menabrak-nabrak orang yang menghalangi jalannya.


“Sayang! Kau akan melahirkan?” tanyanya, segra menghampiri begitu juga dengan Ny.Imezda.


Bastian dan Arum saling pandang tidak mengerti.


“Jaacck! Sakit sekali,haduuuh!” teriak Ara, meringis kesakitan.


Jack tampak bingung harus bagaimana, dia tidak berpengalaman mengurus wanita yang akan melahirkan.


“Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak tahu, yang mana yang sakit? Ini?” tanya Jack tangannya mengusap-usap perutnya Ara.


“Malah tambah sakit uhuuuu..” Ara masih terus menangis.


Ny.Imelda dan Bu Amril memegangi tangan Ara.


“Jack kenapa kau diam saja? Ayo bawa istrimu ke Rumah sakit!” seru Ny. Imelda.


“Oh iya iya, sayang ayo kita ke Rumah sakit!” ucap Jack dengan bingung.


Dia sangat panik istrinya terus saja menangis mengeluh sakit, dia menuntunnya perlahan.


Suasna tampak tegang, semua tamu ikut-ikutan tegang karena ada yang akan melahirkan. Setelah Ara dan keluarganya meninggalkan ruangan itu barulah acara kembali ramai meski tetap yang dibicarakan seperti kisah kisah wanita yang melahirkan.


*******


Readers, Terpaksa Dinikahi Mafia udah aku up ya.


Tapi ga masuk tema berbagi cinta jadi up biasa aja.


Jangan lupa like dan gift nya..


Yang masih setia terimakasih banyak.

__ADS_1


__ADS_2