Menikahi Tuan Depresi

Menikahi Tuan Depresi
CH-69 Pertunangan Bastian dan Kinan


__ADS_3

Gedung itu sudah ramai dengan tamu dan anggota keluarganya Kinan maupun keluarganya Bastian, beberapa relasi undangan dari Tn.Ferdi juga terlihat hadir.


Semua mata tertuju pada tamu utama yang datang, Bastian dengan keluarganya. Tapi sorot mata mereka malah tertarik pada Jack, pria itu memang berbeda dengan tamu-tamu yang ada. Meskipun Bastian adik satu Ibu dengan Jack, tapi mereka tidak mirip, karena Jack lebih mirip ayahnya, Tn. Constantine Delmar yang berkebangsaan Perancis.


Tubuh tinggi tegapnya Jack dengan wajah tampan dan mata yang kebiruannya begitu mempesona setiap mata yang memandangnya terutama wanita yang sudah memiliki pasangan juga yang masih gadis yang hadir di gedung itu, mereka menatapnya tidak berkedip dan mendadak ingin tebar pesona memperlihatkan kecantikan mereka. Tidak terbayangkan jika Jack menggunakan pakaian militernya semakin membuat pria itu semakin gagah.


Melihat reaksi mata dan decak kagum itu membuat Ara menjadi suntuk, bibirnya langsung mengerucut memberengut. Hari ini adalah pertunangannya Bastian dan Kinan tapi kenapa mata-mata wanita itu malah tertuju pada Jack, semakin membuatnya merasa cemburu saja.


Tangan Ara tidak lepas memeluk tangannya Jack, seakan menunjukkan kalau dia adalah pemilik pria tampan disampingnya itu.


Jack melirik sekilas tangan istrinya yang memeluknya lebih erat. Saat melihat raut wajahnya yang cemberut membuat Jack menahan senyum, terlihat sekali istrinya merasa kesal.


“Kau lihat? Wanita-wanita itu malah menatapmu saja. Apa mereka tidak melihat aku sedang menggandeng tanganmu, artinya kau adalah milikku, kenapa mereka masih menatapmu saja,” keluh Ara.


Mendengar omelannya Ara membuat Jack ingin tertawa saja, apa istrinya sekarang sedang cemburu? Apa dia tidak tahu, mau secantik apapun gadis yang lain, dimatanya istrinyalah yang paling cantik. Meskipun ada bidadari turun dari kahyangan, tetap istrinya yang paling cantik.


Tidak terkecuali dengan Kinan. Dia juga terkesima dengan ketampannnya Jack, apalagi dia tahu Jack memiliki banyak kekayaan. Bastian juga tampan tapi kalau dibandingkan dengan Jack, kakak gilanya itu lebih tampan dan mempesona.


Melihat Ara begitu lengket memeluk tangan Jack, membuat hati Kinan sebal, ada rasa iri dalam hatinya. Kalau dia menikah dengan Bastian, kekayaan yang dimilikinya tidak akan sebanyak yang dimiliki Ara karena bersuamikan Jack.


Para relasi yang melihat kehadiran Jackpun sempat menghampiri dan menyapanya. Ara merasa tenang, untung saja Jack sudah minum obat jadi Jack bersikap tenang dan normal-normal saja meskipun tidak mengucapkan kata-kata apapun.


Acarapun dimulai. Para hadirin tampak sangat terkejut saat keluarga Tn.Ferdi memberikan hadiah lamaran untuk Kinan sebuah rumah mewah dan perhiasan satu koper. Decak kagum terdengar di seantero ruangan.


 “Aku tidak menyangka kau benar-benar mengabulkan permintaanku,” ucap Kinan, berisik pada Bastian, saat mereka sudah memasangkan cincin tunangan mereka.


“Tentu saja, aku tidak bisa menolak apapun yang kau inginkan,” kata Bastian, sambil mencium pipinya Kinan, gadis cantik pujaan hatinya.


“Aku tidak tahu kau memiliki kekayaan sebanyak itu, apa kau berhasil memintanya pada kakakmu?” bisik Kinan di telinga Bastian, sambil memeluk pinggangnya Bastian dengan manja.


“Tentu saja, kekayaan kakakku buat siapa lagi kalau bukan buatku? Dia hanya pria depresi tidak butuh apa-apa,” ucap Bastian.


Kinan mempererat pelukannya pada Bastian, tapi matanya tertuju pada Ara yang sedang menuju tempat duduk tamu. Memperhatikan pria gila yang banyak uang itu. Pesona pria itu sama sekali tidak memperlihatkan kalau dia depresi.


Kinan benar-benar merasa diatas angin, apa yang diinginkannya benar-benar dipenuhi oleh Bastian, meskipun dia tahu kalau semua itu bukanlah uangnya Bastian melainkan dari kakaknya, dia tidak peduli darimana uang itu yang pasti dia tidak mau kalah oleh Ara. Pria depresi saja bisa memberi hadiah begitu banyak kenapa Bastian yang normal harus kalah dari Jack?


Ara mengajak Jack duduk di sebuah meja kursi. Seperti biasa, Ara selalu membantu Jack untuk makan apapun, sesekali melap mulutnya Jack, dia selalu perhatian dimanapun berada. Meskipun begitu, Jack tidak merasa risih, dibiarkannya apapun yang ingin dilakukan istrinya padanya.


Karena masih banyak saja yang memandang kearah mereka terutama Jack, Ara semakin menunjukkan saja kalau Jack adalah miliknya.

__ADS_1


Melihat betapa mesranya Ara pada Jack, membuat Kinan merasa iri saja. Apalagi menyadari kalau sebenarnya yang kaya adalah Jack, bukan Bastian. Meskipun Jack itu depresi, siapa yang tahu kalau dia depresi? Pria itu terlihat begitu sangat sempurna, pasti tidak ada seorangpun yang berada di ruangan ini mengira kalau Jack depresi kecuali mungkin relasinya Tn.Ferdi yang pernah mengenal Jack.


Dilihatnya Ara sedang pergi ke meja jamuan makan. Kinan melepaskan pelukannya pada Bastian.


“Sayang, kau tunggu sebentar, aku akan menyapa dulu seseorang, sekalian membawakan beberapa makanan kecil buatmu,” ucap Kinan.


“Baiklah, jangan lama-lama,” jawab Bastian.


Kinan segera meninggalkan Bastian yang juga kebetulan dihampiri oleh beberapa temannya.


Ara memilih beberapa makanan kecil yang sangat menggiurkan itu, sudah terbayang kelezatannya hanya dari melihat bentuknya yang menarik. Sepertinya dia akan cepat gemuk kalau terus hadir keacara pesta seperti ini.


“Kau boleh makan sepuasnya, mumpung kau datang kesini! Kau pasti jarang merasakan makanan ini sebelum menikah dengan Jack, meskipun sebenarnya menikahi pria yang depresi sungguh menyedihkan.”


Terdengar suara seorang wanita disampingnya Ara, membuat Ara menoleh kearah suara.


“Kau? Apa maksudmu bicara begitu?” tanya Ara, menatap tajam Kinan.


“Aku hanya berusaha akrab saja, sebentar lagi kita akan menjadi satu keluarga bukan?” jawab Kinan, dengan gayanya yang membuat Ara sebal.


Ara mencoba bersabar, sebenarnya dia tidak suka bicara dengan Kinan. Bastian saja menyebalkan begitu juga calon istrinya, kalau mereka sudah menikah, bisa dipastikan kelakuan Kinan tidak beda jauh dari Bastian.


“Asal kau tahu, hadiah yang Bastian bawa untukmu adalah hasil belas kasih dariku dan suamiku, jadi aku harap kau harus tahu berterimakasih,” ucap Ara dengan tegas.


Kinan tertawa mendengarnya.


“Kau fikir aku tidak tahu? Mana peduli aku uang itu dari mana?” ujar Kinan, lalu mencondongkan tubuhnya lebih dekat pada Ara.


“Setidaknya aku tidak sepertimu, tidak perlu menikahi pria yang memiliki gangguan jiwa,” lanjut Kinan, membuat wajah Ara memerah karena marah.


Ara akan bicara lagi, tapi tidak jadi karena berdatangan tamu-tamu wanita yang menghampiri mereka.


“Kinan selamat ya!” kata salah satu dari mereka sambil memeluk Kinan, begitu juga yang lainnya.


Ara akan beranjak tapi langkahnya terhenti saat salah satu wanita itu menoleh kerahnya.


“Siapa dia? Kau tidak memperkenalkannya pada kami?” tanya wanita itu pada Kinan, masih menatap Ara.


“Oh iya, dia…” jawab Kinan, tangannya menunjuk pada Ara.

__ADS_1


“Bagaimana ya, sebenarnya aku tidak ingin memperkenalkannya pada kalian, tapi ya karena dia sudah datang terpaksa aku perkenalkan,” lanjut Kinan.


“Memang siapa dia?” tanya salah seorang dari mereka.


“Dia istri dari kakaknya Bastian,” jawab Kinan.


“Jadi pria tampan itu kakaknya Bastian? Dan kau istrinya? Kau beruntung sekali memiliki suami setampan itu!” Seru salah seorang lalu menutup mulutnya dengan tangannya.


“Maaf aku memuji suamimu! Jujur saja, suamimu sangat tampan, bahkan paling tampan dari semua pria di ruangan ini,” ucap gadis itu diikuti tawa cekikikan teman-temannya.


Kinan yang mendengar pujian mereka pada Ara merasa kesal. Ini adalah hari pertunangannya, kenapa malah menjadi keberuntungannya Ara yang bersuamikan Jack?


“Jangan terlalu memujinya, kalian tidak tahu saja …” ucap Kinan.


“Tidak tahu apa?” tanya yang lainnya menatap Kinan.


“Meskipun tampan, kakaknya Bastian itu depresi, gila!” jawab Kinan, membuat gadis-gadis itu hampir berteriak saking kagetnya.


“Apa? Gila? Pria setampan itu gila?” tanya salah seorang dengan tidak percaya.


“Iya gila, dia tinggal di RS dari kecil. Jadi tidak perlu membangga-banggakannya, buat apa punya suami tampan kalau gila!” jawab Kinan diakhiri cibiran.


Ara merasa kesal bukan main dengan tingkahnya Kinan. Kenapa gadis itu malah mencoba mempermalukannya?


“Kalau aku sih tidak mau, buat apa suami tampan tapi gila!” ucap yang lain lalu mereka tertawa cekikikan.


Ada sakit hati yang dirasa Ara, cemoohan-cemoohan itu terasa begitu menusuk nusuk, tapi Ara berusaha sabar dan dia harus menyadari cemoohan seperti ini akan terjadi dimanapun dia berada.


“Suamiku tidak gila, dia hanya depresi,” ujar Ara.


“Alah sudah tidak perlu kau tutup-tutupi,” kata Kinan, lalu menoleh pada teman-temannya.


“Teman-teman, Bastian memanggilku, dia mengajak berdansa! Kalian membawa pasangan kan? Ayo berdansa dengan kami!“ seru Kinan, lalu menoleh pada Ara.


“Maaf aku tidak mengajakmu, karena suamimu gila, dia tidak mungkin bisa mengajakmu berdansa, kau cukup melihat kesenangan kami saja,” kata Kinan tersenyum sinis, lalu menoleh lagi pada teman-temannya.


“Ayo!” ajaknya, sambil beranjak, langsung diikuti teman-temannya meninggalkan Ara yang mematung sendirian.


Hati Ara sangat sedih dicemooh seperti itu. Dilihatnya Kinan melantai bersama Bastian juga teman-temannya dengan pasangannya masing-masing. Sedangan dia? Siapa yang akan mengajaknya berdansa? Tidak mungkin dia berdansa dengan Jack. Pria itu tidak bisa mengurus dirinya sendiri, apalagi soal berdansa?

__ADS_1


********


__ADS_2